Belajar Dari Burung Hud-hud
Catatan: Setelah mendapatkan taujih ini diharapkan kader dapat memahami letak (surat) cerita Nabi sulaiman dan Hud hud di Al-Qur'an, memahami peran
qiyadah yang dimainkan Sulaiman dan Jundiyah yang dimainkan burung Hud Hud,
serta kader siap untuk memberikan kontribusinya bagi dakwah
Akhi dan ukhti fillah
Kalau kita membaca Al-Qur'an, kita akan sering
mendapati kisah-kisah yang Allah paparkan. Kisah merupakan salah satu metode
mentarbiyah ummat Islam. Oleh karenanya, kisah-kisah itu tentu bukan sekedar
kisah, di balik itu ada banyak kandungan hikmah dan pelajarannya bagi ummat
Islam.
Di antara kisah yang ditayangkan dalam Al-Qur'an adalah
kisah burung Hud-hud dengan nabi Sulaiman a.s. Seekor burung yang melakukan
kerja dakwah tanpa menunggu perintah terlebih dahulu. Ia mengintai aktivitas
suatu kaum yang dengan sebab kabar itulah, segolongan umat mendapat hidayah
Allah dan masuk Islam. Allah berfirman,
وَتَفَقَّدَ
الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لاَ أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ.
لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَاباً شَدِيداً أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي
بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ. فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ
بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَأٍ بِنَبَأٍ يَقِينٍ. إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً
تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ
“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata,
"Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar
akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya
kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang." Maka
tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, "Aku telah
mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari
negeri
Tindakan burung Hud-hud janganlah dijadikan dalil untuk tasayyub
(lepas kontrol), tetapi harus dipahami dengan positif bahwa yang dilakukan
burung Hud-hud merupakan tindakan memanfaatkan furshah untuk menjalankan
misi dakwah. Dakwah yang diawali dengan mengetahui keadaan spiritual mereka.
Burung Hu-hud tidak keluar dari tujuan jamaah dan
sarananya, juga tidak melanggar prinsip-prinsip umum atau mengabaikan perintah
lainnya yang lebih utama. Tetapi kisah tersebut menunjukkan bahwa pada diri
prajurit terebut terdapat ciri yaqzhah (selalu sadar akan misi), diqqah
(teliti) dalam beramal dan semangat untuk menyadarkan kaum. Juga
menunjukkan bahwa pada diri pemimpin terdapat sifat atau sikap kontrol,
ketegasan pemimpin dan penyelesaian persoalan anggotanya, sekecil apapun
persoalan itu dan dilakukan oleh anggota serendah apapun jenjangnya.
Kecerdasan dan kecemerlangan berfikir burung Hud-hud
tersebut telah ia manfaatkan untuk mengambil kesempatan untuk mencari berita
dan kabar suatu kaum karena ia berkeinginan untuk menyampaikan risalah Islam
kepada mereka, mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah diserta dengan tindakan
yang bijak, presentasi yang gemilang serta keberanian dalam mengemukakan uzur.
Kisah ini banyak mengandung pelajaran untuk para da'i
maupun para masul atau murabbi, di antaranya:
1.
Seorang dai tentu lebih
mulia dari seekor burung Hud-hud yang memiliki inisiatif positif dan
mencari-cari kebaikan. Seorang dai lagi mukmin lebih terpanggil untuk
berinisiatif dan melakukan perbuatan baik tanpa harus menunggu perintah.
2.
Memandang kepada para
pemimpin dakwah bahwa tidak seluruh rencana dan program dapat dikerjakan dan
dapat dimutaba'ahi, karena itu pengarahan terhadap semua perintah dan kebijakan
adalah lebih diutamakan. Kita dapat menyimak bahwa Nabi Sulaiman a.s. yang
dikuatkan dengan wahyu Allah dan ditundukkan untuknya jin dan burung-burung
tidak mampu mengetahui semua perkara dan tidak mampu menyerap semua informasi.
Karenanya ia memerlukan sedikit informasi dari burung yang kecil yang secara
positif merupakan masukan besar bagi dakwah.
3.
Dari kisah tersebut kita
menyaksikan pengecekkan atas keterlambatan burung Hud-hud. Dengan sikap ijabiyah
(positif) yang dikembangkan burung Hud-hud, maka alasannya itu diterima. Di
lain pihak, قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ
كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (النمل:27) (Sulaiman berkata, "Akan kami
lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.)
menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus menerima alasan keterlambatan tersebut
dan membatalkan hukuman yang telah ia janjikan karena alasan burung itu. Alasan
burung Hud-hud tersebut mengandung kemungkinan benar dan dusta. Tetapi
kenyataannya adalah bahwa yang dikabarkan oleh burung hud-hud adalah benar dan
dari kabar itulah nabi Sulaiman a.s. kemudian menyerukan untuk berjihad.
4.
Dari kisah tersebut kita
dapat melihat adanya i’tidzar lil qa'id fi ada'il wajib. Jika kita
jadikan kisah ini sebagai amal ijabi (positif), maka kita akan melihat
bahwa dalam ma’dzirah (pemaafan) dan i’tidzar (menyampaikan
alasan) terdapat sesuatu yang berharga, ketika pengetahuan burung Hud-hud
memberikan manfaat kepada pemimpin, nabi Sulaiman yang mempunyai segala jenis
kekuatan. Bahkan burung Hud-hud tersebut menyampaikan dengan ungkapan naba'
yaqin (berita penting dan besar yang diyakini kebenarannya), suatu jenis
kekuatan yang dimiliki burung Hud-hud ketika menyampaikan alasan
keterlambatannya di harapan kekuasaan nabi Sulaiman yang telah berniat akan
menyiksa dengan siksaan yang pedih atau ia akan menyembelihnya. Suatu kekuatan
yang dimiliki burung Hud-hud yang digunakan secara positif untuk taat kepada
pemimpin, kekuatan ilmu pengetahuan. Sehingga ia selamat dari hukuman berupa
siksaan dan penyembelihan dengan ilmu pengetahuan.
فَمَكَثَ
غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَأٍ
بِنَبَأٍ يَقِينٍ
“Maka tidak lama
kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, "Aku telah mengetahui
sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri
Keberanian burung
Hud-hud untuk berbicara kepada nabi Sulaiman a.s. karena kabar yang dibawa
burung Hud-hud merupakan kabar penting dan nabi Sulaiman a.s. belum mempunyai
kabar tersebut. Kalaulah ia terlambat tanpa ada hal yang akan ia sampaikan,
maka dengan kelemahannya dari segala hal, maka ia tidak akan mampu untuk
berbicara dari lantang di hadapan pemimpinnya.
Akhi dan unkhti
fillah…
Kalaulah bukan
karena ijabiyah burung Hud-hud, maka uzur dan alasan burung Hud-hud pasti tidak
akan diterima, karena loyalitas kita kepada jamaah menuntut kita untuk
melaksanakan amal dan kerja sebaik mungkin dalam kerangka mencapai sasaran yang
telah ditetapkan. Tidak menjadi keharusan seorang da'i atau bawahan atau binaan
atau anggota jamaah melaksanakan perintah saja, tetapi amal dan kerja yang
dilakukan harus ijabi atau memiliki bobot yang memadai untuk tercapainya tujuan
dakwah dan tarbiyah.
5.
Kita sebagai da'i dapat
menyimpulkan sebagai pelajaran buat kita bahwa hudhur (kehadiran) yang
dapat menyelamatkan kita dari uzur kita di hadapan qaid, mas'ul, naqib atau
murabbi adalah hudhur da’wi tarbawi. Sejalan dengan semangat kita untuk
meningkatkan mutu diri dan memperbanyak kader baru dengan segala jenis tajnid
(rekkruitmen), maka kita dituntut untuk selalu hadhir secara da’wiyan
dan tarbawiyan, bukan hanya kehadiran di halaqah atau di usrah atau
di ijtima’. Kita seharusnya selalu hadir dalam segala aktivitas da’wah dan
tarbiyah. Boleh jadi seseorang tidak pernah absen untuk hadir di setiap
pertemuan, akan tetapi keikutsertaannya di setiap aktivitas sangatlah minim atau
ia sendiri tidak ada inisiatif positif untuk melakukan aktivitas da’wah dan
tarbiyah. Karenanya di antara ijabiyah seorang pemimpin, mas'ul, naqib, atau
murabbi adalah memperhatikan dan mengontrol binaannya agar kehadirannya dalam
da’wah dan tarbiyah tidak pernah absen. Karena itu kalaupun ia uzur untuk hadir
di pertemuan karena alasan syar’i, maka tidak serta merta disimpulkan sebagai
ketidakhadirannya dalam da’wah, sebelum dilihat kehadirannya pada aktivitas
da’wah dan tarbiyah lainnya.
6.
Untuk para mas'ulin dan
qiyadiyyin juga dapat mengambil beberapa pelajaran yang dapat dicermati dan
diperhatikan dari sikap dan respon Nabi Sulaiman terhadap kerja burung Hud-hud.
Di antara pelajaran yang dapat kita ambil dari sikap Nabi Sulaiman a.s. adalah:
a.
Tafaqqudul amiir lil atba’ (rasa
kehilangan seorang pemimpin terhadap pengikutnya). Seorang mas'ul harus
memperhatikan siapa yang tidak hadir dalam setiap pertemuan dan kegiatan.
Karena perhatiannya terhadap kehadiran binaannya merupakan bagian dari
tanggungjawab yang harus diemban. Nabi Sulaiman a.s. mempertanyakan ketidakhadiran
burung Hud-hud dalam pertemuan itu.
b.
Akhdzul amri bil hazm (sangat
perhatian terhadap perkara). Seorang pemimpin harus memiliki haibah (wibawa)
di hadapan pengikutnya dengan menyatakan sikap tegasnya di hadapan pengikutnya.
c.
Muhasabah (evaluasi).
Seorang mas'ul harus berinisiatif untuk
mengevaluasi proses tarbiyah dan hasil perjalanan tarbiyah yang ia lakukan.
d.
Tabayyunul ‘udzr (klarifikasi
uzur). Mengklarifikasi alasan keuzuran binaan agar penyikapan dan perlakukan
yang akan diambil lebih berdampak positif.
e.
Taqdir kulli udhwin (menghargai
masing-masing anggota). Seperti Sulaiman yang gusar atas ketidakhadiran burung
hud hud. Padahal ia hanyalah seekor burung kecil. Selain burung kecil ini tentu
masih banyak pengikutnya yang lebih besar dan berkualitas. Seperti komentar
Sayyid Quthb, burung hud-hud itu satu ekor dari sekawanan burung hud-hud yang
lain dan dari sekian banyak burung yang menjadi pendukung kerajaannya. Seorang
anggota, betapapun kondisinya harus dihargai sebagai anggota dan tidak boleh
dipandang sebelah mata.
7.
Dengan kerja yang
kelihatannya kecil, hanya sekadar mengetahui keadaan dan kondisi keagamaan
suatu kaum, dapat menghasilkan prestasi besar, yaitu keislaman Ratu dan
rakyatnya, tunduk untuk beribadah kepada Allah bersama nabi Sulaiman a.s.
Akhi dan Ukhti fillah…
Karena itu pula dalam dunia peradaban materi kita melihat
banyak karya dan hasil penemuan besar awalnya dirintis oleh kerja dan inisiatif
satu orang. Hasil kerja seorang ini kemudian didukung dan didanai oleh kelompok
atau negara. Seperti penemuan sepeda, mesin cetak, telegraf, bola lampu dan
lain-lain. Demikan pula dalam
Jadi dengan sikap ijabiyah seorang
dai, akan banyak amal Islam yang dapat dihasilkan seiring dengan hasil yang
gemilang. Di antaranya adalah dengan merasa kurang di hadapan Allah dalam
menjalankan semua kewajiban yang telah dibebankan kepadanya, maka akan muncul
rasa pada diri seorang mukmin untuk berusaha mengerjakan satu kewajiban dengan
sebaik-baiknya dan dengan niat yang lurus. Dengan demikian ia telah mengerti
maksud dari taklif Allah, yaitu agar manusia berusaha memperbaiki amalnya
dengan cara meluruskan niat dan menyesuaikan segala perbuatan dan ibadahnya
sesuai dengan syariat Islam.
Di antara sikap ijabiyah adalah tidak meremehkan perkara
kecil, karena seringkali sesuatu yang besar menjadi kecil nilainya karena niat
yang kurang ikhlas dan kadang beberapa kalimat akan mendatangkan kebaikan yang
banyak karena niat dan keluar dari hati yang tulus. Pernah seorang ulama
ditanya, “Sampai kapan Anda terus menulis hadits? Lalu ia menjawab, “Mungkin
kalimat yang akan menyelamatkanku masih belum aku tulis.”
Untuk menunjukkan betapa perkara ringan itu tidak boleh
dianggap ringan, Rasulullah saw. menegaskan bahwa banyak perkara ringan atau
sepele, tetapi di sisi Allah mempunyai bobot pahala dan kebaikan bagi yang
melakukannya.
عن
أَبِي ذَرّ قالَ قالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: تَبَسّمُكَ في وَجْهِ
أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُكَ بِالمَعْروفِ
ونهيُكَ عن المُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وإِرْشَادُكَ الرّجُلَ في أَرْضِ الضّلاَلِ لَكَ
صَدَقَةٌ، وبَصَرُكَ لِلرّجُلِ الرّدِيءِ البَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ، وإِمَاطَتُكَ
الْحَجَرَ والشّوْكَ والعَظْمَ عن الطّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ، وإِفْرَاغُكَ مِنْ
دَلْوِكَ في دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَة. (رواه البخاري والترمذي)
Dari Abu Dzar r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw.
bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu, perintahmu
mengerjakan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah sedekah bagimu, kamu
menunjuki orang yang tersesat juga merupakan sedekah bagimu, membantu orang
yang kurang penglihatannya juga merupakan sedekah bagimu, menyingkirkan batu,
duri dan tulang dari jalan juga merupakan sedekah bagimu, kamu menuangkan air
dari timbamu ke timba saudaramu juga merupakan sedekah bagimu.” (H.R.
Bukhari dan Tirmidzi)
Allah juga berfirman dalam surah Az-Zalzalah ayat 7-8,
فَمَنْ
يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
شَرّاً يَرَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun,
niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan
kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.”
(Az-Zalzalah: 7-8)
Bagi dai kata-kata ma’tsur tersebut dapat menjadi
motivator untuk tidak menganggap remeh amal dan aktivitas kecil atau kata-kata
nasihat dalam dakwah. Karena itu janganlah kikir untuk mengajak bicara
keluarganya atau bercakap-cakap dengan anak-anak atau memberikan senyuman
kepada tetangga atau memberi nasihat dan bimbingan kepada teman kerja atau dia
mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Semua itu dapat dilakukan dai jika dirinya
memiliki ijabiyah.
Akhi dan Ukhti fillah…
Dalam konteks amar ma’ruf nahi munkar, kita akan menemukan
Meskipun dengan menjadi ketua RT atau RW kita dapat lebih
maksimal dan efektif untuk membuat perubahan di lingkungan sekitar tempat
tinggal kita, kenapa kita tidak lakukan? Kenapa kita tidak peduli dengan hal
ini, sehingga membiarkan posisi itu dipegang atau berada pada orang yang
pemahaman perubahan islamnya masih minim.
Atau posisi struktural di tempat pekerjaan yang menyebabkan
kita memiliki otoritas terhadap bawahan kita, maka merupakan suatu bekal dan
modal untuk menjadi bagian dari anashir taghyir di tempat tersebut. taghyir
yang mengarah kepada model dan prilaku Islam.
Atau bahkan bagi mereka yang kerap mengadakan perjalanan ke
daerah atau pelosok dan menemukan informasi obyektif, kemudian informasi
tersebut dapat menjadi pintu untuk proyek dakwah yang lebih efektif, maka itu
juga bagian dari ijabiyah yang diperankan oleh seorang dai. Karena di era
dakwah yang sudah terbuka ini keperluan kita akan informasi obyektif terhadap
keadaan dan kondisi suatu daerah atau suatu kelompok orang (segmen tertentu).
Wallahu A'lam
Comments
Post a Comment