Sigap Memenuhi Panggilan Dakwah Dan Jihad
Catatan:
Setelah mendapatkan taujih ini diharapkan kader dapat memahami kemuliaan dakwah dan dai, Mengetahui nass tentang serta sejarah sahabat
tentang segera memenuhi panggian dakwah dan jihad Mengetahui tercelanya menunda
atau tidak memenuhi panggilan dakwah dan jihad serta berusaha untuk segera memenuhi panggilan
dakwah dan jihad
Ikhwati
fillah….
Marlah i
kita tadabburi ayat berikut ini....
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ
وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ
يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ ٢٤
“Hai orang-orang yang
beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu
kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah
bahwasesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya
kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. ” (Q.S. Al-Anfaal: 24).
Ikhwah
dan akhwat fillah….
Dakwah dan
jihad adalah dua kata yang selamanya harus ada dan terpatri dalam diri seorang
muslim yang menghendaki al-manzilah al- ‘ulya (kedudukan tinggi) di sisi
Allah SWT. Setiap mukmin yang memahami dan menghayati
hakikat kehidupan pasti akan menempuh jalan kebahagiaan abadi disisi Allah SWT.
Ia akan mendekat, berlari,
dan terbang menuju keridhaan-Nya “fafirruu ilallaah ”(Q.S.
Adz-Dzaariyaat/51/50). Dan setiap al-akh yang di dalam relung hatinya
terhunjam keyakinan bahwa kematian itu kepastian yang cuma terjadi sekali, maka
ia akan memilih seni kematian yang paling mulia di sisi Allah. Imam Syahid
Hasan Al-Banna rahimahullah mengungkapkan bahwa umat yang dapat memilih
seni kematian dan memahami bagaimana mencapai kematian yang mulia, maka pasti
Allah berikan kepada mereka kemuliaan hidup di dunia dan kenikmatan abadi di
akhirat (Risalah Jihad-Majmu ’ah Rasail Al-Banna).
Akhil
kariim, adakah jalan
yang lebih mulia dan dapat membawa kita menuju puncak
kebahagiaan
selain jalan dakwah yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan yang beliau
nyatakan menjadi jalan pengikutnya? Allahumma laa. Dan adakah kematian
yang lebih terpuji di sisi-Nya yang selalu didambakan oleh hamba-hamba yang
beriman sejak dulu hingga hari kiamat selain mati dalam jihad fii
sabiililllah? Allahumma laa.
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى
بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ
الْمُشْرِكِيْنَ
Katakanlah,
“Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu)
kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk
orang-orang yang musyrik. (Q.S. Yusuf: 108)
Apakah
(orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus
Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan
hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah;
dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang
beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri
mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang
yang mendapat kemenangan. (Q.S. At-Taubah: 19-20)
Ikhwati, tidak ada yang telah membuat usia para sahabat
dan para ulama sekaliber Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam
Ahmad r.a. seolah terus memanjang hingga akhir zaman, kecuali dakwah yang
mereka lakukan. Tidak ada sesuatu yang telah membuat lisan orang-orang mukmin
menyebut dan mendoakan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan
Khalid bin Walid r.a. atau tokoh-tokoh seperti Shalahuddin Al-Ayyubi, Thariq
bin Ziyad, dan Al-Muzhaffar Quthuz selain jihad fii sabilillah. Kehidupan
mereka menjadi amat berarti dan berharga karena mereka sigap menyambut seruan
Allah dan Rasul-Nya.
Namun akhil
kariim, kesigapan itu bukanlah suatu hal yang muncul begitu saja, melainkan
adalah buah keimanan kepada Allah sebagai Pemberi dan Pencipta kehidupan, buah
keimanan yang kokoh kepada hari akhir saat terwujudnya kehidupan dan
kebahagiaan hakiki. Kesigapan itu lahir dari hati yang tidak lalai dari hakikat
ini berkat taufiq dan ri ’ayah rabbaniyah. Oleh sebab itu, Allah
SWT berfirman: “…dan ketahuilah bahwa Allah membentengi antara seseorang
dengan hatinya, dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan
dikumpulkan (di mahsyar).
Maka kita
patut bertanya dan mengevaluasi diri. Seberapa kuatkah hakikat kehidupan abadi
diakhirat telah tertanam dalam hati sehingga kita berhak mendapatkan ri
’ayah rabbaniyyah tersebut yang membuat ruhul istijabah menjadi
karakter dalam diri kita? Seberapa kuat hakikat ini mewarnai atau men-shibghah
(QS 2:138) diri dan perilaku kita sehingga segala resiko duniawi dalam
dakwah dan jihad fi sabililillah menjadi kecil di mata kita? Kekuatan
inilah yang menyebabkan Anas bin An-Nadhr r.a.--paman Anas bin Malik r.a.) memberikan
respon spontan kepada Saad bin Muadz r.a. tatkala pasukan mukmin terdesak oleh musyrikin
di perang Uhud dengan ucapannya: “Ya Saad! Surga…surga… aku mencium baunya
di bawah bukit Uhud. ” Kemudian beliau maju menjemput syahid hingga
jenazahnya tidak dapat dikenali, kecuali oleh saudara perempuannya lewat
jari tangannya (Muttafaq ‘alaih - Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits
No 1317).
Hal itu
pula yang menjadikan Hanzhalah Sang ‘Ghasiil Al-malaikat’ segera merespon
panggilan jihad, meski ia baru menikmati malam pengantin dan belum sempat mandi
hadats besar. Perhatikan pula respon ‘Umair Ibn Al-Humam r.a. tatkala beliau
mendengar sabda Rasulullah SAW, “Quumuu ilaa jannatin
‘ardhuhas-samaawaatu wal-ardh ” (Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas
langit dan bumi). Beliau mengucapkan kata “bakh-bakh ” (ungkapan takjub
terhadap kebaikan dan pahala) semata-mata karena ingin menjadi penghuni
surga, lalu segera membuang beberapa biji kurma yang
sedang
dikunyahnya sambil berkata, “La-in ana hayiitu hattaa aakula tamaraatii
haadzihii innahaa lahayaatun thawiilah ” (Jika saya hidup sampai selesai
memakan kurma ini, oh betapa lamanya (menanti surga)). Lalu beliau maju hingga
gugur di perang Badar. (H.R. Muslim, dalam Riyadhus
shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits No 1314).
Atau
seperti Imam Al-Banna yang berangkat menunaikan tugas dakwah meskipun anaknya terbaring
sakit. Beliau meyakini bahwa setelah usahanya optimal untuk mengobati putranya,
Allah SWT yang diharapkan ridha-Nya dalam menunaikan tugas dakwahnya, tidak
pernah akan mengecewakan dirinya.
Akhil
‘aziiz, ruhul
istijabah juga muncul karena pemahaman kita tentang qhadhaya ummah (fahmul
qhadaya) dan tanggung jawab (ruhul mas ’uliyyah) kita untuk mencari
solusinya. Orang yang tidak mengetahui bahaya yang mengancam dirinya,
sangat sulit kita harapkan responnya untuk menghindari apalagi
menghilangkan bahaya tersebut. Imam Syahid Hasan Al-Banna bahkan menghendaki
agar setiap al-akh memiliki kepekaan perasaan (daqiiq asy-syu
’uur), bukan sekadar pengetahuan teoritis, tetapi harus menjadi
kepekaan perasaan yang membuatnya tersentuh bahagia dengan kebaikan, dan
terluka
karena keburukan dan kebatilan. Bukankah dakwah adalah upaya kita menegakkan
al-haq dan menghancurkan kebatilan?
Sifat daqiiq
asy-syu ’uur dan ruuhul mas ’uuliyyah berarti mengharuskan kita
untuk selalu berinteraksi dengan qhadhaya ummah dan terus memahaminya
tanpa menunggu orang lain memahamkannya untuk kita. Sifat ini juga seharusnya
membuat respon kita menjadi spontan dan penuh energi sehingga melahirkan
kekuatan dahsyat, betapapun lemahnya kondisi fisik.
Lihatlah,
bagaimana Al-Qur’an menceritakan kemampuan Maryam AS, ibunda Isa AS,
menggoyang
batang pohon kurma sehingga buahnya berjatuhan ketika beliau dalam keadaan
lemah tak berdaya, semata-mata karena rasa tanggung jawabnya akan kelahiran dan
keselamatan putranya yang akan mengemban risalah dakwah? (periksa Q.S. Maryam:
22-25).
Ikhwah
fillah, beban kehidupan dunia yang kita hadapi,
apapun bentuknya, jangan sampai membuat kita kehilangan kepekaan dan kesigapan
memenuhi seruan dakwah dan jihad. Kita patut meneladani mujahidin Palestina
yang tidak pernah mengendor semangat dan aktivitas jihadnya meskipun perjalanan
panjang telah melewati dan terus menanti mereka. Juga, meskipun kesulitan
hidup, bahkan tekanan bertubi-tubi terus menghantam. Yakinlah bahwa kebersamaan
kita dengan Rasulullah SAW, shiddiqin, syuhada, dan shalihin di surga – insya
Allah – ditentukan oleh sejauh mana kita meneladani mereka dalam kesigapan
memenuhi seruan dakwah dan jihad.
Ingatlah
selalu kecaman Allah dan Rasul-Nya terhadap orang-orang munafik yang selalu
mencaricari alasan (tafannun fil ‘udzr) untuk menghindar dari kebutuhan
berdakwah dan berjihad (lihat Q.S. 9/At-Taubah: 94). Tadabburi pula ayat
lainnya di dalam surat At-Taubah, terutama ayat 41-47, yang mengungkapkan kemalasan
dan keengganan mereka agar kita senantiasa terhindar dari sifat-sifat mereka.
Katakanlah,
“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,
dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai
daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. ” Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang fasiq.
(Q.S. At-Taubah: 24). Wallahu a ’lam
Comments
Post a Comment