Tafsir Surah An-Nazi'at
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang.
وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًا ۙ ١
1. Demi (Malaikat-Malaikat)
yang mencabut (nyawa) dengan keras,
وَالنّٰشِطٰتِ نَشْطًا ۙ ٢
2. dan (Malaikat-Malaikat)
yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut,
وَالسّٰبِحٰتِ سَبْحًا ۙ ٣
3. dan (Malaikat-Malaikat)
yang turun dari langit dengan cepat,
فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًا ۙ ٤
4. dan (Malaikat-Malaikat)
yang mendahului dengan kencang,
فَالْمُدَبِّرٰتِ أَمْرًا ۢ ٥
5. dan (Malaikat-Malaikat)
yang mengatur urusan (dunia).*1
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ ۙ ٦
6. (Sesungguhnya kamu akan
dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam,
تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ ۗ ٧
7. tiupan pertama itu akan
diiringi oleh tiupan kedua.
قُلُوْبٌ يَّوْمَئِذٍ وَّاجِفَةٌ ۙ ٨
8. Hati manusia pada waktu itu
akan sangat takut,
اَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ ۢ ٩
9. Pandangannya tunduk.
يَقُوْلُوْنَ ءَئِنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِي
الْحَافِرَةِ ۗ ١٠
10. (Orang-orang kafir)
berkata: "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan ke kehidupan
semula? *2
ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً ۗ ١١
11. Apakah (akan dibangkitkan
juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?"
قَالُوْا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ ۢ ١٢
12. Mereka berkara:
"Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan."
فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌ ۙ ١٣
13. Sesungguhnya pengembalian
itu hanya dengan satu kali tiupan saja,
فَاِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ ۗ ١٤
14. maka dengan serta merta
mereka hidup kembali di permukaan bumi.
هَلْ اَتٰكَ حَدِيْثُ مُوسٰى ۢ ١٥
15. Sudahkah sampai kepadamu
(ya Muhammad) kisah Musa?
اِذْ نَادٰهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ ١٦
16. Tatkala Rabb-nya
memanggilnya di lembah suci yaitu lembah Thuwa.
اِذْهَبْ إِلٰى فِرْعَوْنَ إِنَّهٗ طَغٰىۖ ١٧
17. "Pergilah kamu kepada
Firaun, sesungguhnya dia telah melampui batas.
فَقُلْ هَلْ لَّكَ إِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰى ۙ ١٨
18. dan katakanlah (kepada
Fir'aun): 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan),
وَاَهْدِيَكَ إِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰى ١٩
19. dan kamu akan kupimpin ke
jalan Rabb-mu, agar kamu takut kepada-Nya?'"
فَاَرٰهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰى ٢٠
20. Lalu Musa memperlihatkan
kepadanya mukjizat yang besar.
فَكَذَّبَ وَعَصٰى ٢١
21. Tetapi Fir'aun mendustakan
dan mendurhakai.
ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰى ٢٢
22. Kemudian dia berpaling
seraya berusaha menentang (Musa).
فَحَشَرَ فَنَادٰى ٢٣
23. Maka dia mengumpulkan
(para pembesar-pembesarnya), lalu berseru memanggil kaumnya.
فَقَالَ اَنَا رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۗ ٢٤
24. Seraya berkata: 'Akulah
tuhanmu yang paling tinggi.'
فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ
٢٥
25. Maka Allah mengadzabnya
dengan adzab di akhirat dan di dunia.
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَخْشٰى ٢٦
26. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat pelajaran bagi orang orang yang takut (kepada Rabb-nya).
ءَاَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَآءُ ۚ بَنٰهَا
٢٧
27. Apakah kamu yang lebih
sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telaj membangunnya,
رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰهَا ٢٨
28. Dia meninggikan
bangunannya lalu menyempurnakan,
وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحٰهَاۗ ٢٩
29. dan dia menjadikan
malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang,
وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰهَآ ٣٠
30. dan bumi sesudah itu
dihamparkan-Nya.
اَخْرَجَ مِنْهَا مَآءَهَا وَمَرْعٰهَا ٣١
31. Ia memancarkan daripadanya
mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
وَالْجِبَالَ أَرْسٰهَا ٣٢
32. dan gunung-gunung
dipancangkan-Nya dengan teguh,
مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ ۗ ٣٣
33. (semua itu) untuk
kesenanganmu dan untuk binatang binatang ternakmu.
فَاِذَا جَآءَتِ الطَّآمَّةُ الْكُبْرٰى ٣٤
34. Maka apabila malapetaka
yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang.
يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰى ٣٥
35. Pada hari (ketika) manusia
teringat apa yang telah dikerkakannya,
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى ٣٦
36. dan diperlihatkan Neraka
dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.
فَاَمَّا مَنْ طَغٰى ٣٧
37. Adapun orang yang melampui
batas,
وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا ٣٨
38. dan lebih mengutamakan
kehidupan dunia,
فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ ٣٩
39. maka sesungguhnya
Nerakalah tempat tinggal(nya).
وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ
عَنِ الْهَوٰى ٤٠
40.Dan adapun orang-orang yang
takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ ٤١
41. maka sesungguhnya Surgalah
tempat tinggal(nya).
يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسٰهَاۗ ٤٢
42. (Orang orang kafir)
bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Hari Kebangkitan, kapan terjadinya? *3
فِيْمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرٰهَاۗ ٤٣
43. Siapakah kamu (sehingga)
dapat menyebutkan (waktunya)?
إِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰهَاۗ ٤٤
44. Kepada Rabb-mulah
dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).
إِنَّمَآ أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰهَاۗ ٤٥
45. Kamu hanyalah pemberi
peringatan kepada siapa yang takut kepadanya (Hari Kebangkitan).
كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْآ اِلَّا
عَشِيَّةً أَوْ ضُحٰهَا ٤٦
46. Pada hari mereka melihat Hari kebangkitan
itu, mereka merasa seakan akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (hanya
sebentar saja) di waktu pagi atau sore. *4
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ayat. 1
ۙ غَرْقًا | وَالنّٰزِعٰتِ |
(dengan) keras | demi (malaikat) pencabut (nyawa) |
Ayat 2.
ۙ نَشْطًا | وَالنّٰشِطٰتِ |
(dengan) lemah lembut | demi (malaikat) pencabut (nyawa) |
Ayat 3.
ۙ سَبْحًا | وَالسّٰبِحٰتِ |
(dengan) cepat | demi (malaikat) yang turun dari langit |
Ayat 4.
ۙ سَبْقًا | فَالسّٰبِقٰتِ |
(dengan) kencang | dan (malaikat) yang mendahului |
Ayat 5.
ۘ أَمْرًا | فَالْمُدَبِّرٰتِ |
urusan (dunia) | dan (malaikat) yang mengatur |
Ayat 6.
ۙ يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ |
(kamu akan dibangkitkan) pada hari tiupan pertama mengguncang (alam) |
Ayat 7.
ۗ الرَّادِفَةُ | تَتْبَعُهَا |
(oleh) tiupan kedua | (tiupan) itu diiringi |
Ayat 8.
ۙ وَّاجِفَةٌ | يَّوْمَئِذٍ | قُلُوْبٌ |
merasa sangat takut | (pada) waktu itu | hati manusia |
Ayat 9.
ۘ خَاشِعَةٌ | اَبْصَارُهَا |
tunduk | pandangannya |
Ayat 10.
ۗ فِى الْحَافِرَةِ | لَمَرْدُوْدُوْنَ | ءَئِنَّا | يَقُوْلُوْنَ |
kepada kehidupan yang semula | benar-benar akan dikembalikan | apakah kita | (orang-orang kafir) berkata |
Ayat 11.
ۗ نَّخِرَةً | عِظَامًا | ءَاِذَا كُنَّا |
yang hancur | tulang belulang | apakah (dibangkitkan) bila kita telah menjadi |
Ayat 12.
ۘ خَاسِرَةٌ | كَرَّةٌ | تِلْكَ إِذًا | قَالُوْا |
yang merugikan | (adalah) suatu pengembalian | kalau demikian, hal itu | mereka berkata |
Ayat 13.
ۙ وَّاحِدَةٌ | زَجْرَةٌ | فَاِنَّمَا هِيَ |
sekali (saja) | (dengan) tiupan | maka pengembalian itu hanyalah |
Ayat 14.
ۗ بِالسَّاهِرَةِ | فَاِذَا هُمْ |
hidup kembali di bumi (yang baru) | maka seketika itu, mereka |
Ayat 15.
ۘ حَدِيْثُ مُوسٰى | هَلْ اَتٰكَ |
kisah Musa | sudahkah sampai (kepada)mu (Muhammad) |
Ayat 16.
طُوًىۚ | الْمُقَدَّسِ | بِالْوَادِ | اِذْ نَادٰهُ رَبُّهٗ |
(yaitu) lembah Tuwa | suci | di lembah | ketika Tuhan memanggilnya (Musa) |
Ayat 17.
طَغٰىۖ | إِنَّهٗ | إِلٰى فِرْعَوْنَ | اِذْهَبْ |
telah melampui batas | sesungguhnya dia | kepada Firaun | pergilah engkau |
Ayat 18.
ۙ إِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰى | هَلْ لَّكَ | فَقُلْ |
untuk membersihkan diri (dari kesesatan) | adakah keinginanmu | maka katakanlah |
Ayat 19.
ۚ فَتَخْشٰى | إِلٰى رَبِّكَ | وَاَهْدِيَكَ |
agar engkau takut (kepada-Nya) | ke (jalan) Tuhanmu | dan akan kupimpin engkau |
Ayat 20.
ۖ الْكُبْرٰى | الْاٰيَةَ | فَاَرٰىهُ |
yang besar | mukjizat | lalu (Musa) memperlihatkannya |
Ayat 21.
ۖ وَعَصٰى | فَكَذَّبَ |
dan mendurhakai | tetapi dia (Fir'aun) mendustakan |
Ayat 22.
ۖ يَسْعٰى | ثُمَّ اَدْبَرَ |
seraya berusaha menantang | kemudian dia berpaling |
Ayat 23.
ۖ فَنَادٰى | فَحَشَرَ |
lalu memanggil (kaumnya) | kemudian dia mengumpulkan |
Ayat 24.
الْاَعْلٰىۗ | رَبُّكُمُ | اَنَا | فَقَالَ |
yang paling tinggi | tuhanmu | akulah | (seraya) berkata |
Ayat 25.
وَالْاُوْلٰىۗ | نَكَالَ الْاٰخِرَةِ | فَاَخَذَهُ اللّٰهُ |
dan siksaan di dunia | (dengan) azab di akhirat | maka Allah menghukumnya |
Ayat 26.
ؑ يَخْشٰى | لِّمَنْ | لَعِبْرَةً | اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ |
takut (kepada Allah) | bagi orang yang | (terdapat) pelajaran | sungguh, pada yang demikian itu |
Ayat 27.
ۗ بَنٰهَا | ۚ اَمِ السَّمَآءُ | خَلْقًا | أَشَدُّ | ءَاَنْتُمْ |
yang telah Dia bangun | ataukah langit | penciptaannya | yang lebih hebat | apakah kamu |
Ayat 28.
ۙ فَسَوّٰهَا | سَمْكَهَا | رَفَعَ |
lalu menyempurnakannya | bangunannya | Dia telah meninggikan |
Ayat 29.
ۖ ضُحٰهَا | وَأَخْرَجَ | لَيْلَهَا | وَاَغْطَشَ |
siangnya | dan menjadikan (terang) | malamnya | dan Dia menjadikan (gelap gulita) |
Ayat 30.
ۗ دَحٰهَآ | بَعْدَ ذٰلِكَ | وَالْاَرْضَ |
Dia hamparkan | setelah itu | dan bumi |
Ayat 31.
ۖ وَمَرْعٰهَا | مَآءَهَا | مِنْهَا | اَخْرَجَ |
dan (Dia tumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya | mata airnya | darinya | Dia pancarkan |
Ayat 32.
ۙ أَرْسٰهَا | وَالْجِبَالَ |
Dia pancangkan (dengan teguh) | dan gunung-gunung |
Ayat 33.
ۗ وَلِاَنْعَامِكُمْ | لَّكُمْ | مَتَاعًا |
dan untuk hewan-hewan ternakmu | bagimu | (semua itu) untuk kesenangan |
Ayat 34.
ۖ الْكُبْرٰى | الطَّآمَّةُ | فَاِذَا جَآءَتِ |
besar (hari Kiamat) | malapetaka | maka apabila telah datang |
Ayat 35.
ۙ مَا سَعٰى | يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ |
(akan) apa yang telah dikerjakannya | yaitu pada hari (ketika) manusia teringat |
Ayat 36.
لِمَنْ يَّرٰى | وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ |
kepada orang yang melihat | dan neraka diperlihatkan (dengan jelas) |
Ayat 37.
ۖ طَغٰى | فَاَمَّا مَنْ |
melampui batas | maka adapun orang yang |
Ayat 38.
ۙ الدُّنْيَا | الْحَيٰوةَ | وَاٰثَرَ |
dunia | kehidupan | dan lebih mengutamakan |
Ayat 39.
هِيَ الْمَأْوٰىۗ | فَاِنَّ الْجَحِيْمَ |
tempat tinggal(nya) | maka sungguh, nerakalah |
Ayat 40.
مَقَامَ رَبِّهٖ | خَافَ | وَاَمَّا مَنْ |
(kepada) kebesaran Tuhannya | takut | dan adapun orang-orang yang |
ۙ عَنِ الْهَوٰى | النَّفْسَ | وَنَهَى |
dari (keinginan) hawa nafsunya | diri | dan menahan |
Ayat 41.
هِيَ الْمَأْوٰىۗ | فَإِنَّ الْجَنَّةَ |
tempat tinggal(nya) | maka sungguh, surgalah |
Ayat 42.
أَيَّانَ مُرْسٰهَاۗ | عَنِ السَّاعَةِ | يَسْأَلُوْنَكَ |
kapankah terjadinya | tentang hari Kiamat | mereka (kafirin) bertanya kepadamu (Muhammad) |
Ayat 43.
مِنْ ذِكْرٰهَاۗ | فِيْمَ أَنْتَ |
perlu menyebutkannya (waktunya) | untuk apa engkau |
Ayat 44.
مُنْتَهٰهَاۗ | إِلٰى رَبِّكَ |
(dikembalikan) kesudahannya | kepada Tuhanmulah |
Ayat 45.
يَّخْشٰهَاۗ | مُنْذِرُ مَنْ | إِنَّمَآ أَنْتَ |
takut kepadanya (hari Kiamat) | pemberi peringatan siapa yang | engkau (Muhammad) hanyalah |
Ayat 46.
لَمْ يَلْبَثُوْآ | يَوْمَ يَرَوْنَهَا | كَاَنَّهُمْ |
mereka tidak tinggal (di dunia) | (pada) hari kerika mereka melihat Kiamat itu | seakan-akan mereka |
أَوْ ضُحٰهَا | اِلَّا عَشِيَّةً |
atau pagi hari | kecuali pada suatu sore |
Pengantar
Surat An Naazi'aat
adalah salah satu contoh dari contoh-contoh
juz ini untuk membangkitkan kesadaran
hati terhadap hakikat akhirat dengan segala hal yang besar dan mengerikan,
keseriusannya, dan orisinalitasnya di dalam ketentuan Ilahi untuk menciptakan dunia manusia. Juga pengaturannya yang
sangat tinggi terhadap tahap-tahap penciptaan dan langkah-langkahnya di muka bumi dan di dalamnya, kemudian di akhirat yang mencerminkan kesudahan
penciptaan ini beserta akibatnya.
Dalam
rangka membangkitkan kesadaran hati terhadap
hakikat akhirat yang sangat besar dan agung
ini, maka ditimbulkanlah kesan kesan yang bermacam-macam pada senar-senar kalbu. Disentuhnya dengan
berbagai macam sentuhan seputar hakikat
yang sangat besar itu, dengan kesan kesan dan sentuhan sentuhan yang sekiranya dapat mengantarkannya kepadanya. Maka, hakikat itu disiapkan agar dapat diterima oleh hati dengan kesadaran
dan penuh perasaan. Jalan ini direntangkan dengan pengantar yang mengandung muatan dalam yang kedalamannya menimbulkan rasa takut dan getaran getaran. Keadaan ini digiring dalam irama musik dan nada yang menggetarkan dan menjadikan nafas kembang kempis, seakan akan nafas terputus karena getaran,
kekagetan, dan rasa takut yang
ditimbulkannya, sebagaimana
tercantum dalam surat An Naazi'aat ayat
1-5.
Setelah
pengantar yang menakutkan dan menggetarkan
hati ini, datanglah pemandangan pertama dari pemandangan pemandangan hari itu. Bayangannya merupakan bayangan pengantar itu dan tabiatnya juga merupakan tabiat pengantar tersebut, seakan akan pengantarnya itu menjadi bingkai dan sampulnya. Lihat surat An Naaz.i'aat ayat 6-14.
Dari suasana yang menakutkan, mendebarkan, menggetarkan, dan membingungkan itu, dibentangkanlah
pemandangan yang berisi puing-puing
orang-orang yang mendustakan ayat
Allah lagi melampaui batas, dalam
mata rantai kisah Nabi Musa bersama Fir'aun.
Maka, dipaparkanlah kisahnya dengan irama
musik yang tenang, lalu dikendurkan sedikit, agar sesuai antara nuansa cerita
dan pemaparannya. Hal ini dapat
dilihat dalam An Naazi'aat ayat 15-26. Dengan demikian, bertemu dan teretaslah jalan menuju hakikat yang sangat besar itu.
Selanjutnya,
pembicaraan berpindah dari paparan sejarah kepada kitab alam semesta yang
terbuka, dan pemandangan pemandangan
alam yang besar, yang menjadi saksi
adanya kekuatan, pengaturan, dan penetapan
Ilahi yang menciptakannya dan menjaga segala
sesuatunya di dunia dan di akhirat. Maka, ditampilkanlah semua ini dalam kalimat-kalimat yang menawan dan
mengesankan, yang serasi dengan permulaan surat dan irama musikalnya sebagaimana terlihat pada surat An Naazi'aat ayat 27-33.
Setelah
memberikan pengantar untuk mendekatkan
kesan dan sentuhan sentuhannya yang mengesankan,
datanglah pemaparan pemandangan
tentang malapetaka yang sangat besar, beserta balasan bagi segala sesuatu yang dikerjakan manusia sewaktu di dunia. Yakni, balasan yang terealisir
pada bagian akhir pemandangan yang
selaras dengan gambaran gambaran dan
bayang-bayangnya seiring dengan
malapetaka yang sangat besar itu, sebagai mana tercantum dalam surat An Naazi'aat ayat 34-41.
Ketika hati dan perasaan sedang gemuruh oleh kesan yang ditimbulkan pemandangan tentang malapetaka yang sangat besar, neraka Jahim yang ditampakkan kepada orang yang melihatnya, dan akibat yang diterima oleh orang yang melampaui
batas dan lebih mengutamakan
kehidupan dunia, serta akibat yang
diterima oleh orang yang takut kepada
kebesaran Tuhannya dan menahan keinginan
hawa nafsunya; tiba-tiba pembicaraan kembali lagi kepada orang-orang yang mendustakan hari kiamat, yang mempertanyakan tentang waktu terjadinya kepada Rasulullah saw. Pembicaraan kembali kepada
mereka dengan memberikan tambahan kesan di dalam perasaan tentang kengerian terhadap hari kiamat dan ketakutan kepadanya, dan tentang besarnya peristiwa itu. Hal ini tampak pada surat anNaazi'aat ayat 426.
Huruf ha'
yang dibaca panjang memiliki kesan yang besar dan panjang, miring dengan besarnya peristiwa yang besar dan menakutkan itu!
Sentuhan Ayat-Ayat Permulaan
وَالنّٰزِعٰتِ
غَرْقًاۙ ١ وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ ٢ وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ ٣ فَالسّٰبِقٰتِ
سَبْقًاۙ ٤ فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ ٥
"Demi yang mencabut (nyawa) dengan keras, yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut, yang turun dari langit dengan cepat, yang mendahului dengan
kencang dan yang mengatur
urusan."(An Naazi'aat: 1-5)
Dalam
menafsirkan ayat-ayat ini ada yang mengatakan
bahwa yang dimaksud adalah para malaikat, yaitu malaikat-malaikat yang
mencabut nyawa dengan keras, yang gesit dan
bebas gerakannya, yang turun dengan
cepat di alam atas, yang mendahului
beriman dan mentaati perintah Tuhannya,
dan yang mengatur segala urusan yang diserahkan kepadanya. Ada yang
mengatakan bahwa yang dimaksud adalah
bintang-bintang yang lepas di tempat edarannya dan bergerak dengan gesit dan berpindah-pindah dari satu tempat ke
tempat lain. Bintang-bintang yang
beredar di ruangan ciptaan Tuhan sambil bergantung padanya, yang berjalan dan beredar dengan cepat, yang mengatur basil-basil
dan fenomena-fenomena sesuai yang
diserahkan Allah kepadanya, dan yang
sangat mempengaruhi kehidupan di bumi
dan makhluk di atasnya.
Namun, ada
yang mengatakan bahwa An-naaiz'aat,
An-nasyithat, as-sabihat dan as-sabiqat adalah bintangbintang,
sedang Al-mudabbirat adalah para malaikat Ada puIa yang
mengatakan bahwa An naazi'aat, an-nasyithat dan as-sabihat itu adalah bintang-bintang, sedang as-sabiqat dan Al mudabbirat
adalah malaikat.
Terlepas
apa pun yang dimaksudkan, maka kita merasakan
dalam kehidupan ini bahwa apa yang disebutkan
dalam Al Qur'an pertama-tama dan sebelum segala sesuatunya adalah
menggoncangkan hati dan menggetarkan
perasaan terhadap sesuatu yang
mengerikan dan menakutkan. Karena itu, sangat relevan bagian permulaan ini
untuk menyiapkan jiwa guna menerima
sesuatu yang menakutkan dan
menggetarkan perasaan karena adanya goncangan
alam dan tiupan sangkakaIa yang pada akhirnya datanglah malapetaka yang sangat dahsyat.
Sejalan
dengan perasaan seperti itu, maka lebih utama kita biarkan lafal lafal
ini tanpa menambah-nambah perincian
dan memperdebatkan apa sebenarnya yang
ditunjuki oleh kalimat-kalimat itu, agar kita hidup di bawah bayang-bayang Al Qur'an dengan segala kesan dan pengarahannya sesuai dengan tabiatnya. Maka menggoncangkan hati dan menyadarkannya itu sendiri sudah tentu menjadi sasarannya,
yang dipilih oleh khithab Al Qur'an dengan aneka caranya.
Kemudian
kita mendapatkan teladan dari Umar Ibnul
Khaththab ra ketika ia membaca surat "Abasa
wa tawallaa" : Ketika sampai pada
firman Allah, "Wa faakihatan wa
abban"; maka Umar berkata,
"Kita sudah mengerti faakihah, tetapi apakah abban itu?" Kemudian ia segera berkata lagi, "Demi Tuhan, wahai putra Al Khaththab, sesungguhnya ini adalah takalluf memberat-beratkan diri”. Apakah kerugianmu seandainya engkau tidak mengerti satu lafal dari kitab Allah Ta'ala?" Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Umar berkata, "Semua ini sudah kami ketahui, tetapi
apakah Al abb itu?" Kemudian ia membuang tongkat yang ada di tangannya, yakni mematahkannya karena marah kepada dirinya sendiri, seraya berkata,
"Ini demi Allah, adalah takalluf. Apakah kerugianmu wahai putra ibu Umar, seandainya engkau tidak mengerti apa Al abb itu?" Kemudian dia berkata, “apa yang jelas
bagimu dari kitab ini, dan apa yang tidak jelas maka tinggalkanlah. ".
Reaksi
ketika alam diguncang Tiupan
Bagian
permulaan yang datang dengan menggunakan bentuk sumpah ini adalah
sebagai pengantar terhadap urusan yang
digambarkan oleh ayat-ayat berikut
ini,
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُۙ ٦ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ
ۗ ٧ قُلُوْبٌ يَّوْمَىِٕذٍ وَّاجِفَةٌۙ ٨ اَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ ۘ ٩ يَقُوْلُوْنَ
ءَاِنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِى الْحَافِرَةِۗ ١٠ ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا
نَّخِرَةً ۗ ١١ قَالُوْا تِلْكَ اِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ ۘ ١٢ فَاِنَّمَا هِيَ
زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌۙ ١٣ فَاِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِۗ ١٤
(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada
hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam.
Tiupan pertama itu diikuti oleh tiupan
kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata, Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabiIa kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?' mereka berkata, 'Kalau demikian, itu adalah suatu
pengembalian yang merugikan. 'Sesungguhnya
pengembalian itu hanyalah dengan satu
kali tiupan saja, maka dengan serta
merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. "(An Naazi'aat: 6-14)
Menurut satu
keterangan, yang dimaksud "ar-raajifah " adalah bumi yang bergoncang, didasarkan pada firman Allah dalam ayat lain, “Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan." (Al Muzzammil: 14). Sedang "ar-raadifah"
adalah langit yang bergoncang.
Maksudnya, bumi bergoncang, kemudian diiringi
oleh goncangan langit sehingga terbelah dan bintang-gemintangnya berserakan. Disebutkan juga dalam suatu riwayat bahwa yang dimaksud dengan "ar-raajifah" adalah tiupan pertama yang menggoncangkan
bumi beserta isinya seperti gunung-gunung
dan semua makhluk hidup. Maka, pingsanlah
semua yang ada di langit dan di bumi kecuali
yang dikehendaki Allah. Sedangkan, "ar-raadifah"
adalah tiupan kedua yang
membangunkan mereka lantas dikumpulkan di Padang Mahsyar, sebagaimana diterangkan dalam surat az-Zumar ayat 68. Ayat
ini menjadikan hati manusia merasakan goncangan
besar yang menakutkan dan mengerikan.
Hati bergoncang karena takut dan gemetar. Ayat ini memberitahukan apa yang akan menimpa hati manusia pada hari
itu, yaitu keterkejutan dan ketergoncangan
sehingga tidak ada satu pun hati yang
teguh dan mantap. Ia pun mengetahui dan merasakan hakikat firman Allah,
"Hati
manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk." (An Naazi'aat: 8-9). Ia bergoncang sangat hebat dan
tunduk merendahkan diri. Di dalamnya
bercampur baur antara takut dan sedih,
bergoncang dan gemetar. Inilah yang
terjadi pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam yang diikuti
oleh tiupan kedua, atau pada hari ketika
bumi bergoncang sekeras-kerasnya
yang diikuti dengan pecah-belah dan hancur berantakannya langit. Inilah
persoalan yang didahului dengan sumpah, 'Demi yang mencabut (nyawa) dengan
keras, yang mencabut (nyawa)
dengan lemah lembut, yang turun dari langit dengan cepat, yang mendahului dengan kencang dan yang mengatur urusan. "
Pemandangan yang berupa goncangan dahsyat bumi dan langit, dan bergoncangnya hati karena takut dan sedih ini serasi benar bayang-bayang dan
kesannya dengan permulaan surah yang
berisi sumpah tersebut. Selanjutnya,
dibicarakanlah tentang ketakutan dan
kebingungan mereka ketika bangun dari kubur mereka,
"(Orang-orang kafir) berkata, Apakah
sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan
kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan
dikembalikan juga) apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur
lumat?" (An Naazi'aat:
10-11)
Mereka bertanya-tanya, "Apakah kami dikembalikan kepada kehidupan yang
pernah kami tempuh dahulu?" Dalam
ketakutan dan kebingungan mereka bertanya, jika mereka hidup kembali
seperti dulu lagi, seraya berdesah,
"Bagaimana hal ini bisa terjadi
setelah kami menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?". Barangkali mereka
sadar dan mengerti bahwa mereka
dikembalikan kepada kehidupan, tetapi kehidupan yang lain. Maka, mereka merasa rugi dan menderita dengan pengembalian hidup seperti ini,
lalu keluarlah dari mulut mereka kalimat ini,
"Kalau
demikian, itu adalah pengembalian yang merugikan."(An Naazi'aat: 12)
Pengembalian
yang tidak pernah mereka perhitungkan
dan tidak pernah mereka menyiapkan bekal
untuknya. Sehingga, yang mereka peroleh hanya kerugian semata-mata! Dalam
menghadapi pemandangan ini, Al Qur’an mengakhirinya
dengan mengemukakan hakikat sesuatu
yang terjadi,
"Sesungguhnya
pengembalian itu hanyalah dengan satu kali
tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. "(An Naazi'aat: 13-14)
"Az-zajrah" berarti suara yang dahsyat (tapi juga diartikan juga dengan tiupan dalam Al Qur‘an
dan terjemahannya). .
Digunakannya perkataan yang kasar itu
sejalan dengan suasana pemandangan ini beserta pemandangan pemandangan dalam surat
ini secara keseluruhan. Adapun kata "as-saahirah"
adalah bumi (tanah) yang putih mengkilat, yaitu Padang
Mahsyar yang kita tidak mengetahui di
mana ia berada. Informasi tentang hal
ini tidak kita ketahui kecuali dari informasi benar yang kita peroleh. Maka,
kita tidak menambahnya dengan
sesuatu pun yang tidak dapat
dipercaya dan tidak dijamin kebenarannya.
Suara
dahsyat satu kali ini maksudnya, bila merujuk kepada nash-nash lain, adalah tiupan yang kedua yakni tiupan kebangkitan dari kubur dan berkumpul di Mahsyar. Penggunaan kalimat "sekali tiup" ini mengesankan peristiwa itu begitu cepat. Memang kesan surat secara keseluruhan menunjukkan peristiwa-peristiwanya terjadi dengan begitu cepat dan sepintas. Hati yang ketakutan ini juga terjadi dengan begitu cepat, yakni ia
langsung ketakutan. Sehingga, terdapat
keserasian dalam setiap gerakan,
lintasan, bayang-bayang, dan susunan
kalimatnya.
Musa Menghadapi Fir'aun Sang Tiran
Kemudian
nadanya diturunkan sedikit dalam menapaki
perjalanan tempo dulu, agar serasi dengan kisah-kisahnya, ketika membeberkan apa yang terjadi antara Musa dan Fir'aun. Diakhiri dengan menceritakan kelaliman si penguasa tiran (diktator)
itu dengan kecongkakannya,
هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰىۘ ١٥ اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ
بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ ١٦ اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ ١٧
فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ ١٨ وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ
فَتَخْشٰىۚ ١٩ فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ ٢٠ فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ ٢١ ثُمَّ
اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ ٢٢ فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ ٢٣ فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ
٢٤ فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ ٢٥ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ
لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۗ ࣖ ٢٦
Sudahkah
sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa?
TatkaIa Tuhannya memanggilnya di lembah suci yaitu Lembah Thuwa,
Pergilah kamu kepada Fir'aun. Sesungguhnya
dia telah melampaui batas, dan katakanlah
(kepada Fir'aun), Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan kamu akan kupimpin kepada jalan Tuhanmu supaya kamu takut kepada-Nya?' Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi, Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian ia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Dia
mengumpulkan (pembesar- pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, 'Akulah Tuhanmu yang paling
tinggi.' Maka, Allah mengazabnya
dengan azab di akhirat dan di dunia.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)." (An Naazi'aat:
15-26)
Kisah Musa ini merupakan kisah yang paling banyak disebutkan dalam Al Qur'an dan paling terperinci.
Sebelumnya sudah banyak disebutkan pada
beberapa surat dalam konteks yang bermacam-macam
dengan menggunakan metode yang berbeda-beda
pula. Masing-masing sesuai dengan konteks
surat, dan seiring pula dengan tujuan atau sasaran yang ditonjolkan dalam surat tersebut, menurut metode Al Qur'an di dalam menyampaikan cerita.
Di sini,
kisah ini dipaparkan secara ringkas dan ditampilkan dalam pemandangan sepintas kilas. Dimulai sejak dipanggilnya Musa di lembah suci, hingga dihukumnya Fir'aun dengan hukuman di dunia dan di akhirat sehingga, bertemulah dengan akhir pokok surat ini, yaitu hakikat akhirat. Kisah panjang ini disebutkan di sini dalam beberapa ayat pendek dan sepintas lalu saja, sesuai dengan tabiat surat dan kesan-kesannya. Adapun ayat-ayat yang pendek dan sepintas lalu ini mengandung beberapa poin dan pemandangan dari kisah ini sebagai berikut. Dimulai
dengan menunjukkan khithab 'perkataan' kepada Rasulullah saw.,
Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah " (An Naazi’aat: 15)
Ini adalah
pertanyaan pendahuluan untuk menyiapkan
hati dan telinga guna menerima kisah ini. Kemudian pemaparan kisah
sebagai narasi dengan membeberkan
peristiwa-peristiwanya. Penceritaan
ini dimulai dengan menggambarkan pemandangan ketika Musa dipanggil Tuhannya
dan bermunajat kepada-Nya,
“TatkaIa
Tuhannya memanggilnya di lembah suci, yaitu Lembah Thuwa." (An Naazi'aat: 16)
Thuwa,
menurut pendapat yang lebih kuat, adalah nama sebuah lembah yang terletak di sebelah kanan Gunung Sina bagi orang yang datang dari Madyan, sebelah utara Hijaz. Saat pemanggilan itu adalah saat yang menakutkan dan
agung, sekaligus menakjubkan. Pemanggilan Allah
swt sendiri kepada salah seorang hamba-Nya itu
adalah suatu hal yang luar biasa besarnya, perkataan manusia tidak dapat mengungkapkan besarnya urusan itu. Ini merupakan salah satu dari rahasia-rahasia Ilahi yang agung, seperti halnya rahasia penciptaan manusia yang diberi-Nya potensi untuk menerima panggilan itu. Inilah puncak
sesuatu yang dapat Anda katakan dalam hal ini. Pengetahuan manusia tidak mampu mengetahui hakikatnya yang
sebenarnya. Sehingga, ia harus berhenti pada bingkainya, sampai Allah
menyingkapkannya untuknya lantas dia
dapat merasakannya dengan perasaannya.
Di
tempat-tempat (surat-surat) lain terdapat perincian dialog Musa dengan Tuhannya dalam hal ini. Adapun di sini
hanya disebutkan secara ringkas untuk
memberikan kesan-kesan sepintas. Karena itulah, dalam konteks ini segera diceritakan penugasan Ilahi kepada Musa, sesudah disebutkannya pemanggilan di lembah suci Thuwa,
“Pergilah
kamu kepada Fir'aun. Sesungguhnya dia telah melampaui batas." (An Naazi'aat:
17)
"Thagha" melampaui batas adalah suatu hal yang tidak boleh terjadi dan tidak boleh dibiarkan. Ia adalah sesuatu yang sangat dibenci,
menimbulkan kerusakan di muka bumi,
berlawanan dengan apa yang dicintai
Allah dan menyebabkan kebencian-Nya.
Maka, untuk mencegahnya, Allah memberi tugas
dengan berbicara secara langsung kepada salah seorang hamba pilihan-Nya
untuk berusaha menghentikan kejahatan,
mencegah kerusakan, dan menghentikan tindakan melampaui batas ini. Sungguh
tindakan melampaui batas ini sangat dibenci oleh
Allah sehingga Dia berbicara langsung kepada salah seorang hamba pilihan-Nya agar pergi menghadapi penguasa tiran yang sewenang-wenang dan melampaui batas itu, untuk berusaha mencegahnya dari tindakan-tindakannya dan menyampaikan argumentasi-argumentasi
kepadanya sebelum Allah menghukumnya di
akhirat dan di dunia! Kemudian Allah mengajarkan kepada Musa bagaimana berbicara kepada thaaghiyah 'diktator tiran' itu
dengan cara yang sangat simpatik dan menarik
hati, barangkali Fir'aun mau menghentikan perbuatannya dan takut atas
murka dan hukuman Tuhannya,
"... dan katakanlah (kepada Fir'aun), Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri. " (An Naazi’aat: 18)
Adakah
keinginan bagimu untuk membersihkan diri
dari kotornya perbuatan melampaui batas dan kemaksiatan? Maukah kamu menempuh jalan kesucian dan keberkahan?
"... dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar kamu takut kepada-Nya? (An Naazi’aat: 19)
Maukah
kutunjukkan kepadamu jalan Tuhanmu? Apabila
kamu sudah mengetahuinya, niscaya akan timbul
di dalam hatimu rasa takut kepada-Nya. Karena tidaklah seseorang bersikap dan berbuat melampaui batas serta melakukan kemaksiatan dan pelanggaran
melainkan ketika jauh dari Tuhannya dan ketika ia tersesat jalan menuju kepada-Nya. Lalu, hatinya menjadi keras dan rusak, sehingga ia suka melampaui batas dan berbuat durhaka. Semua ini terlukis dalam pemandangan yang berupa
pemanggilan dan penugasan. Sesudahnya adalah
pemandangan di mana Musa berhadapan dengan
Fir'aun dan menyampaikan ajakan, tetapi tabligh (penyampaian) ini tidak diulang lagi di sini, karena dianggap cukup ditampilkan dan disebutkan di sana. Maka, dilipatlah apa yang terjadi sesudah
dibentangkannya pemandangan tabligh,
dan diringkaslah pengungkapan tabligh
itu dalam pemandangan tabligh.
Kemudian diturunkanlah layar di sini untuk diangkat kembali pada akhir pemandangan ketika menghadapi Fir’aun,
"Lalu Musa memperlihatkan kepadanya
mukjizat yang besar. Tetapi, Fir'aun
mendustakan dan mendurhakai." (An Naazi'aat: 20-21)
Musa telah
menyampaikan apa yang ia ditugaskan untuk menyampaikannya dengan metode
sebagaimana yang diajarkan dan
diberitahukan Tuhannya kepadanya. Akan
tetapi, cara yang simpatik ini tidak
berhasil melunakkan hati si diktator yang kosong dari pengetahuan tentang Tuhannya. Karena itu, Musa menunjukkan kepadanya mukjizat yang sangat besar, yaitu mukjizat yang berupa tongkat
dan tangan yang putih cemerlang
sebagaimana diceritakan di tempat tempat lain. "Tetapi, Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. "
Berakhirlah
pemandangan pertemuan dan tabligh ketika
Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Pemandangan
ini ditampilkan hanya sepintas kilas saja.
Selanjutnya ditampilkanlah pemandangan
lain. Yaitu, pemandangan ketika
Fir'aun berpaling dari Musa dan dia
berusaha mengumpulkan tukang-tukang
sihirnya untuk memperlombakan antara sihir dan kebenaran, ketika ia merasa
keberatan untuk menerima kebenaran
dan petunjuk itu,
"Kemudian ia berpaling seraya berusaha
menantang (Musa). Dia mengumpulkan (pembesar- pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya seraya berkata,
Akulah Tuhanmu yang paling tinggi. "'
(An
Naazi’aat: 22-24)
Ayat-ayat
ini segera menampilkan celotehan diktator kafir itu, engan menggambarkan secara
garis besar mengenai pemandangan-pemandangan dan perincian-perincian ketika ia berusaha menantang Musa dan mengumpulkan tukang-tukang sihirnya. Ia berpaling seraya
berusaha melakukan daya upaya untuk
mengumpulkan tukang-tukang sihir dan para pembesar. Kemudian meluncurlah
dari mulutnya perkataan yang sangat jelek
dan memalukan, penuh dengan
ketertipuan dan kebodohan, "Akulah
Tuhanmu yang paling tinggi."
Perkataan ini diucapkan oleh si diktator yang tertipu oleh kelengahan, ketundukan, dan kepatuhan pembesar-pembesarnya. Maka, tidaklah seorang
tiran atau diktator dapat tertipu seperti tertipunya oleh kelengahan, sikap merendahkan diri, kepatuhan, dan ketundukan
pembesar-pembesarnya. Padahal, si
tiran itu tidak lain hanyalah seorang manusia yang pada hakikatnya tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan apa-apa. Kekuatannya hanyalah pembesar-pembesarnya yang lalai dan penurut itu. Mereka membentangkan punggung untuk dinaikinya, mengulurkan lehernya kepadanya untuk
ditarik, menundukkan kepala kepadanya
lantas dia naik ke atasnya, dan
melucuti hak kemuliaan dan kehormatannya
sehingga ia bersikap sewenang-wenang.
Para pembesar
berbuat demikian karena pada satu sisi mereka tertipu dan pada sisi lain karena
takut. Sedangkan rasa takut ini
tidak akan timbul kecuali karena
kekeliruan persepsi. Seorang tiran, seorang diri tidak mungkin lebih kuat dari
beribu-ribu dan berjuta-juta manusia, seandainya mereka menyadari kemanusiaan, kemuliaan, kehormatan, dan kemerdekaannya. Setiap orang dari mereka sepadan dengan si tiran itu, dilihat dari segi
kekuatannya, tetapi si tiran itu
menipu dan memperdayakan mereka. Seakan-akan
ia memiliki kekuatan dan kekuasaan
terhadap mereka.
Tidak
mungkin seorang individu bertindak melampaui
batas terhadap umat yang terhormat. Tidak mungkin seorang individu
bersikap diktator terhadap umat yang lurus
dan benar. Juga tidak mungkin seorang
individu bertindak sewenang-wenang
terhadap umat yang mengenal Tuhannya, beriman kepada-Nya, dan tidak mau
menyembah seorang pun dari makhluk-Nya yang tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan mudharat dan manfaat kepada mereka!
Fir’aun
menjumpai adanya kelengahan, kehinaan, dan
kekosongan hati dari iman di kalangan kaumnya, sehingga menjadikannya berani mengucapkan perkataan kafir dan durhaka ini, "Akulah
Tuhanmu yang paling tinggi." Ia tidak mungkin berani mengucapkan perkataan ini seandainya umat ini pandai,
terhormat, dan beriman. Umat yang
mengerti bahwa Fir'aun itu hanyalah
seorang hamba yang lemah dan tidak memiliki kekuasaan apa-apa, yang jika dihampiri lalat pun dia tidak akan mampu mengusirnya.
Di depan
kecongkakan yang tak tahu malu, dan sesudah
memaparkan kesombongan yang amat buruk
ini, maka bergeraklah kekuatan yang amat dahsyat,
"...Maka,
Allah mengazabnya dengan azab di
akhirat dan di dunia.... " (An Naazi’aat:
25)
Didahulukannya
penyebutan azab akhirat daripada azab
dunia di sini karena azab akhirat itu lebih dahsyat dan lebih kekal, serta karena ia adalah azab hakiki
(sebenarnya) yang akan menimpa orangorang
yang melampaui batas dan suka berbuat maksiat
dengan kedahsyatan siksa itu dan kekekalannya. Juga karena penyebutan ini lebih cocok dalam membicarakan konteks akhirat yang menjadi tema sentralnya, dan karena secara lafal penyebutan
ini serasi dengan nuansa musikal
dalam persajakannya setelah terdapat
keserasian makna beserta terra sentral
dan hakikat aslinya. Azab dunia itu
pun sangat keras dan pedih, maka bagaimana
lagi dengan azab akhirat yang lebih dahsyat
dan lebih menyakitkan? Fir’aun itu dahulu (sewaktu di dunia) memiliki kekuatan; kekuasaan, clan kedudukan yang diwariskan kepada penguasa yang sejenisnya, maka bagaimana dengan orang-orang
selain Fir'aun yang mendustakan ayat-ayat Allah? Bagaimana dengan orang-orang musyrik yang menentang dakwah itu?
"Sesungguhnya
pada yang demikian itu terdapat pelajaran
bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). "
Maka, orang
yang mengenal Tuhannya dan takut kepada-Nya itulah orang yang dapat
mengambil pelajaran dari cerita Fir’aun
tersebut. Adapun orang yang hatinya
tidak mengenal takwa, maka antara dia clan
pelajaran ini terdapat dinding penghalang, antara dia dan nasihat terdapat tembok penyekat sehingga
ia akan membentur akibatnya, dan
Allah mengazabnya dengan azab
akhirat dan azab dunia. Setiap orang dimudahkan
menempuh jalan hidupnya dan menuai akibatnya, sedangkan pelajaran itu
hanyalah bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Mengingatkan
Kaum Musyrikin dan Semua Manusia
kepada Kekuasaan Allah
Setelah
melakukan perjalanan melihat-lihat
puing-puing kehancuran orang-orang
yang melanggar dan melampaui batas
dengan segala kekuatannya, maka pembicaraan
diputar kembali kepada orang-orang musyrik
yang terpedaya oleh kekuatannya. Dikembalikan
dan diingatkanlah mereka kepada sesuatu dari fenomena kekuatan yang sangat besar di alam semesta ini yang kekuatan mereka tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengannya,
ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ ۚ بَنٰىهَاۗ
٢٧ رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ ٢٨ وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ
٢٩ وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ ٣٠ اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا
وَمَرْعٰىهَاۖ ٣١ وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ ٣٢ مَتَاعًا لَّكُمْ
وَلِاَنْعَامِكُمْۗ ٣٣
“Apakah
kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit?
Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.
Dia memancarkan darinya mata airnya,
dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
Gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan
teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu
dan untuk binatang-binatang ternakmu. " (An Naazi'aat: 27-33)
Ini adalah pertanyaan yang hanya mengandung sebuah jawaban yang harus diterimanya dengan pasrah dan tidak dapat dibantah lagi,
“Apakah
kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit?" (An Naazi'aat:
27)
Sudah tentu jawabannya adalah
"langit", tanpa dapat dibantah dan
disanggah lagi. Karena itu, mengapa
kamu tertipu dan terpedaya oleh kekuatanmu, padahal langit itu lebih sulit penciptaannya daripada kamu dan masih ada
lagi yang penciptaannya lebih sulit daripada langit itu?
Itulah satu
sisi dari isyarat pertanyaan itu, dan masih
ada sisi yang lain lagi. Maka, persoalan apa lagi yang kamu anggap sulit bagi Allah untuk membangkitkan kamu kembali?. Menciptakan langit itu lebih sulit daripada menciptakan kamu, sedang
membangkitkan kamu dari kubur itu hanya mengembalikan atau mengulang penciptaanmu
saja. Tuhan yang telah menciptakan langit
yang lebih sulit penciptaannya itu
sudah tentu berkuasa mengulangi penciptaanmu,
dan tentu hal ini lebih mudah. Langit
yang lebih sulit penciptaannya tanpa dapat dibantah lagi ini "telah
dibangun oleh-Nya." Bangunan
itu mengesankan adanya kekuatan dan kekokohan. Demikian pula langit, ia kokoh dan teguh, bintang-gemintangnya tidak acak-acakan dan amburadul. Mereka tidak pernah keluar dari garis edarnya,
tidak berguguran, dan tidak berantakan.
Maka, langit ini adalah bangunan yang
kuat, mantap, kokoh, dan saling
menguatkan di antara bagian-bagiannya.
“Dia
meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya." (An Naazi'aat: 28)
"Samku
kulli syai-in" adalah bangunan
dan ketinggian sesuatu. Langit ditinggikan
bangunannya dengan rapi dan kokoh. Inilah yang dimaksud dengan "menyempurnakannya" dalam firman-Nya,
"Faawwaahaa lalu menyempurnakannya."
Penglihatan
murni dan pengamatan biasa dapat menyaksikan
keteraturan dan kerapian yang mutlak ini.
Makrifat (mengenal) terhadap hakikat undang-undang yang menahan makhluk-makhluk yang besar ini dan menata gerakan-gerakan dan pengaruh serta dampaknya, dapat
memperluas makna pelajaran yang
ditangkapnya. Juga dapat menambah luasnya
jangkauan hakikat yang besar ini, yang tidak dapat dicapai manusia dengan
ilmunya kecuali dengan ujung-ujungnya
saja. Mereka berhenti di hadapannya
dengan terkagum-kagum, terhenyak, dan takut. Mereka tidak mampu menerangkan sebab-sebabnya bila tanpa menetapkan adanya kekuatan
terbesar yang mengatur dan menentukan, seandainya mereka tidak beriman kepada agama.
“Dia menjadikan malamnya
gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang." (An Naazi'aat: 29)
Kalimat ini
sangat dahsyat bunyi dan maknanya, sesuai dengan pembicaraan tentang
kedahsyatan dan kekuatan. "Wa aghthasya lailahaa" artinya sama dengan "azhlamahu" 'menjadikan
malamnya gelap gulita', "wa akhraja
dhuhaahaa" yakni "adhaa-ahaa" 'menjadikan siangnya terang benderang'. Pemilihan
kata ini sejalan dengan konteks
masalah. Berurutannya dua keadaan
yang berupa gelap dan terang pada waktu
malam dan waktu siang merupakan suatu hakikat yang dapat dilihat oleh setiap
orang dan mengesankan setiap hati.
Namun, kadang-kadang manusia melupakannya
karena lamanya kebiasaan ini dan seringnya berulang-ulang.
Oleh
karena itu, Al Qur'an mengembalikan kebaruannya
dengan mengarahkan perasaan kepadanya. Karena, pada hakikatnya ia senantiasa
baru, mengalami kebaruan setiap hari, dan
terasa baru pula kesannya dalam
kejadiannya. Adapun undang-undang
yang ada di belakangnya sangat halus
dan agung yang menyebabkan rasa takut dan decak kagum orang yang mengerti dan mengenalnya. Maka, hakikat ini menjadikan hati merasa
takut dan berdecak kagum setiap kali
ilmunya bertambah dan pengetahuannya
berkembang.
“Bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Dia memancarkan darinya
mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
Gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan
teguh. "(An Naazi’aat: 30-32)
"Dahwul-ardhi"
artinya membentangkan dan menghamparkan permukaannya. Sehingga, ia layak dilewati di atasnya dan pembentukan tanahnya layak
untuk ditumbuhi tumbuh-tumbuhan. Dipancangkannya gunung-gunung menjadikan mantapnya lapisan atas bumi. Dengan adanya gunung-gunung ini pula maka panas bumi mencapai tingkat sedang sehingga layak bagi kehidupan.
Allah
mengeluarkan air darinya, baik yang memancar dari sumber-sumber maupun yang
turun dari langit yang pada dasarnya juga
berasal dari bumi yang menguap kemudian turun kembali dalam bentuk
hujan. Ditimbulkan-Nya dari bumi itu tumbuh-tumbuhannya yang dimakan
oleh manusia dan binatang-binatang
ternak untuk menjadi unsur penghidupan manusia
secara langsung ataupun tidak langsung. Maka, diingatkannya manusia terhadap keagungan rencana Allah
untuk mereka dari satu segi, sebagaimana
diisyaratkan tentang keagungan ketentuan
Allah terhadap kekuasaan-Nya. Karena, bangunan langit seperti ini dan dihamparkannya bumi sedemikian rupa bukanlah suatu hal yang terjadi
secara tak sengaja dan kebetulan belaka. Tetapi, sudah tentu dengan perhitungan dan ukuran yang cocok untuk makhluk yang akan mengelola bumi ini.
Juga sesuai dengan yang dibutuhkan
bagi semua itu terjadi setelah
dibangunnya langit, dijadikannya malam gelap
gulita, dan dijadikannya siang terang benderang. Teori astronomi (ilmu falak)
modern sangat berdekatan dengan
apa yang ditunjuki oleh nash Al Qur
an ini ketika teori itu menetapkan bahwa bumi telah
melewati masa beratus-ratus juta
tahun, sedang ia terus melakukan peredarannya.
Siang dan malam silih berganti sebelum dihamparkannya bumi itu dan
sebelum ia dapat ditumbuhi. Juga sebelum
dimantapkannya kulitnya sebagaimana
adanya sekarang di mana ada bagian yang
tinggi dan ada bagian-bagian yang datar. Al Qur an menyatakan bahwa semua ini
adalah,
"Untuk
kesenanganmu dan binatang-binatang ternakmu." (An Naazi'aat:
33)
Maka, diingatkannya manusia terhadap keagungan
rencana Allah untuk mereka dari satu segi, sebagaimana diisyaratkan tentang
keagungan ketentuan Allah terhadap kekuasaan-Nya. Karena, bangunan langit
seperti ini dan dihamparkannya bumi sedemikian rupa bukanlah suatu hal yang
terjadi secara tak sengaja dan kebetulan belaka. Tetapi, sudah tentu dengan
perhitungan dan ukuran yang cocok untuk makhluk yang akan mengelola bumi ini. Juga
sesuai dengan yang dibutuhkan bagi eksistensi, pertumbuhan, dan
perkembangannya. Hal ini sesuai dengan sistem alam, dan sistem tata surya
secara khusus, serta sistem bumi secara leblh khusus.
Al-Qur'an dengan metodenya di dalam
memberikan isyarat global yang mengandung pokok hakikat ini, di sini
menyebutkan kesesuaian-kesesuaian bangunan langit, gelap gulitanya malam,
terang benderangnya siang, dihamparkannya bumi, dikeluarkannya airnya,
ditumbuhkannya tumbuh-tumbuhannya dan dipancangkannya gunung-gunungnya untuk
kesenangan manusia dan binatang-binatang ternaknya. Semua ini merupakan isyarat
yang menunjukkan hakikat pengaturan dan penataan pada beberapa bagian lahiriah
yang terbuka bagi semua manusia. Juga yang layak dijadikan materi pembicaraan
kepada manusia dalam semua lingkungan dan semua masa, dan yang tidak memerlukan
ilmu dan pengetahuan yang melebihi kapasitas pengetahuan yang dimilikinya.
Sehingga, khithab 'perkataan' Al-Qur'an ini bersifat umum kepada semua
anak manusia pada semua peringkat dan waktu.
Di balik tataran ini terdapat jangkauan dan
ufuk lain dari hakikat yang sangat besar. Yaitu, hakikat pengaturan dan
penataan di alam semesta dan ketidakrnungkinannya semua ini terjadi secara
kebetulan dan tanpa disengaja. Tidak mungkin tabiat alam dan keserasian-keserasian
yang menakjubkan ini terjadi secara kebetulan.
Kesesuaian-kesesuaian dan
keserasian-keserasian yang dimulai dengan keberadaan sistem tata surya yang
bumi kita dinisbatkan kepadanya, ini tersusun di antara beratus-ratus juta
bintang. Burni merupakan planet tersendiri yang tidak terdapat padanannya dalam
sistem tata surya, yang menjadikannya layak bagi kehidupan manusia. Hingga
sekarang manusia tidak mengetahui adanya planet lain yang memihki
keserasian-keserasian mendasar seperti ini, padahal jumlahnya beribu-tibu.
Prof Al-Aqqad dalam buku Aqaaidul-Mufakkiriin
fil-Qarnil Isyriin halaman 36 berkata, "Hal itu dikarenakan
faktor-faktor penyebab kehidupan terpenuhi di planet burni ini dengan ukurannya
yang sesuai, jaraknya yang sedang, dan susunannya yang padanya dapat bertemu
unsur-unsur materi yang cocok dijalankan gerak kehidupan padanya.
Harus ada ukuran yang sesuai, karena
keberadaan udara di sekitar planet ini bergantung pada kekuatan daya tariknya.
Jaraknya harus sedang, karena sesuatu yang dekat dari matahari itu sangat panas
dan tidak memungkinkan jasad-jasad bertahan
padanya. Sedangkan, kalau terlalu jauh dari matahari, ia sangat dingin
yang tidak memungkinkan jasad-jasad tersebut dapat bergerak. Juga harus ada
unsur-unsur yang memungkinkan digerakkannya aktivitas kehidupan, yang cocok
untuk tumbuhnya tumbuh-tumbuhan dan kehidupan yang bertumpu padanya untuk
menjadi makanan. Letak bumi yang merupakan tempat paling layak yang memenuhi
persyaratan-persyaratan yang sangat diperlukan bagi kehidupan, dalam bentuk
yang kita kenal ini. Kita tidak mengenal bentuk lain hingga sekarang."
Penetapan hakikat pengaturan dan penataan
terhadap alam yang besar, dan perhitungan penempatan bagi manusia padanya
dengan perhatian sedemikian dalam penciptaan dan perkembangannya, merupakan
sesuatu yang menyiapkan hati dan pikiran untuk menerima hakikat akhirat dengan
perhitungan dan pernbalasannya secara tenang dan penuh kepasrahan. Karena,
tidak mungkin alam dan manusia diciptakan begitu saja tanpa disempurnakan, dan
tidak mendapatkan pembalasan nanti. Tidak masuk akal urusannya berakhir dengan
berakhirnya kehidupan yang singkat di dunia yang fana ini, sedang kejahatan,
pelanggaran, dan kebatilan berlalu dengan selamat di muka burni dengan segala
akibat yang ditirnbulkannya. Begitu juga dengan kebaikan, keadilan, dan
kebenaran serta segala risiko yang dipikulnya akan berlalu begitu saja di muka
bumi tanpa mendapatkan balasan apa-apa.
Ketetapan seperti ini bertentangan dengan
tabiat pengaturan dan penataan yang jelas di alam yang besar ini. Karena itu,
bertemulah hakikat yang disentuh konteks ini dalam segmen itu dengan hakikat
akhirat yang merupakan tema pokok surah ini. layaklah ia untuk mengantarkan
hati dan pikiran agar menerima berita tentang malapetaka sangat besar, yang
disebutkan sesudahnya, di tempatnya dan pada waktunya nanti.
Ketika Malapetaka yang Sangat Besar Sudah
Tiba
فَاِذَا
جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰىۖ ٣٤ يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰىۙ
٣٥ وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى ٣٦ فَاَمَّا مَنْ طَغٰىۖ ٣٧ وَاٰثَرَ
الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۙ ٣٨ فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ ٣٩ وَاَمَّا مَنْ
خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ ٤٠ فَاِنَّ الْجَنَّةَ
هِيَ الْمَأْوٰىۗ ٤١
"Apabila malapetaka yang sangat besar
(hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia taingat akan apayang
telah dikmakannya, dan diperlihat.kan neraka denganjelas kepada setiap
orangyang melihat. Adapun orangyang melampaui batas, dan lebih mengutamakan
kehidupan dunia, maka sesunguhnya nerakalah tempat tincal(nya). Adapun
orang-orang yang takut kepada kebesaran Tühannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, maka sesunguhnya surgalah tempat tingal(nya). " (an-Naazi'aat:
34-41)
Kehidupan dunia adalah suatu kesenangan dan
kenikmatan yang diukur dengan cermat dan teliti, sesuai dengan aturan yang
berhubungan dengan alarn secara keseluruhan, kehidupan, dan manusia. Akan
tetapi, ia adalah kesenangan dan kenikmatan yang akan habis waktunya. Apabila
telah datang malapetaka yang sangat besar, maka ia menutup dan menimpa segala
sesuatu. la menimpa kesenangan-kesenangan yang terbatas waktunya itu; menimpa
alam yang kokoh dan kuat serta teratur, menimpa langit yang dibangun dan bumi
yang dihamparkan, gunung-gunung yang teguh, semua makhluk hidup dan kehidupan;
dan menimpa segala sesuatu yang ada. Realitasnya, malapetaka itu sangat besar,
lebih besar dari segala yang dikatakan ini. la akan menimpa dan mengenai
semuanya itu!
Pada waktu itu teringatlah manusia akan
apayang telah dikerjakannya. Teringat dan terkenang segala usaha dan
perbuatannya. Jika peristiwa-peristiwa kehidupan dan kesibukan-kesibukan
mencari kesenangan telah melalaikan dan melupakannya maka saat itu ia akan
teringat dan terkenang kepadanya Tetapi, ingatan dan kenangannya itu tidak
memberikan faedah sedikit pun kepadanya selain penyesalan dan keputusasaan,
serta terbayang olehnya azab dan bencana yang ada di belakangnya. "Dan
diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orangYang melihat."
(an-Naazi'aat: 36)
Neraka terbuka dan terlihat oleh setiap orang
yang memiliki penglihatan. Dipergunakannya kata 'burrizat' adalah untuk
menegaskan dan menyangatkan makna dan bunyinya, serta menampakkan pemandangan
itu kepada setiap mata yang memandang!
Pada saat itu tempat kembali dan akibat yang
diterima manusia berbeda-beda Tampaklah tujuan pengaturan dan rencana pada
penciptaan pertama.
"Adapun orangyang melampaui batas, dan
lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakaIah tempat
tinggal(nya)." (an-Naazi'aat: 37-39)
"Melampaui batas" di sini lebih luas
cakupannya daripada maknanya yang terbatas. Maka, ia merupakan sifat bagi
setiap orang yang melampaui batas kebenaran dan petunjuk. Jangkauannya lebih
luas daripada thughat 'para tiran' yang memiliki kekuasaan dan diktator.
Melampaui batas di sini mencakup semua orang yang melampaui batas petunjuk
serta mengutamakan dan memilih kehidupan dunia daripada memilih kehidupan
akhirat. Sehingga, ia bekeja dan berbuat untuk dunia saja, tanpa
memperhitungkan akhirat sama sekali.
Memperhatikan akhirat inilah yang meletakkan
timbangan di tangan manusia dan di dalam hati nuraninya. Apabila ia telah
mengabaikan perhitungan akhirat atau lebih mengutamakan dunia maka rusaklah
semua timbangan yang ada di tangannya, rusaklah sernua ukuran nilai, rusaklah
sernua kaidah berperasaan dan berperilaku di dalam hidupnya. la dianggap
sebagai orang yang berlebihan, melanggar, serta melampaui batas dan ukuran.
Orang yang demikian ini, "maka
sesunguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)". Neraka yang terbuka,
terlihat, dekat, dan di hadapan mata, pada hari ketika terjadi malapetaka yang
sangat besar.
"Adapun orang-orang Yang takut kepada
kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsumya, maka
sesungguhnya surgalah tempat tingal(nya)." (An-Naazi'aat: 40-41)
Orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya,
tidak akan berani berbuat maksiat. Karena, apabila dia hendak berbuat maksiat
atau pelanggaran karena kelemahannya sebagai manusia, maka rasa takutnya kepada
kebesaran dan keagungan Tuhan ini akan menuntunnya melakukan penyesalan,
istigfar, dan tobat, sehingga ia berada di dalam wilayah ketaatan.
Menahan diri dari keinginan hawa nafsu,
merupakan titik pusat di wilayah ketaatan ini. Karena, hawa nafsu itu merupakan
pendorong yang kuat terhadap semua pelanggaran, tindakan melampaui batas, dan
kemaksiatan. Hawa nafsu adalah pangkal bencana, sumber kejahatan, dan jarang
sekali manusia melakukan pelanggaran dan kemaksiatan kecuali karena dorongan
hawa nafsu ini. Kebodohan masih mudah diobati, tetapi hawa nafsu setelah yang
bersangkutan mengerti adalah suatu penyakit jiwa yang membutuhkan perjuangan yang
berat dan panjang untuk mengobatinya.
Takut kepada Allah merupakan benteng yang
kokoh di dalam menghadapi dorongan-dorongan hawa nafsu yang keras, dan jarang
sekali yang dapat menghalangi dorongan hawa nafsu ini selain benteng tersebut.
Karena itulah, Al-Qur'an menyebutkan kedua hal ini dalam satu ayat. Maka, yang
berbicara seperti ini di sini adalah yang menciptakan nafsu, Yang mengerti
substansinya, dan Yang tahu obat-obatnya.
Hanya Dia sendirilah yang mengetahui
perjalanan dan keinginan-keinginannya. Dia yang mengetahui di mana
keinginan-keinginan hawa nafsu dan penyakit-penyakitnya bersembunyi. Dia
mengetahui pula bagaimana cara mengembalikan dan mengendapkannya di
tempat-tempat persembunyiannya.
Allah tidak menugasi manusia agar di dalam dirinya
tidak terjadi pertentangan dengan hawa nafsu, karena Dia mengetahui bahwa yang
demikian itu di luar kemampuan manusia. Akan tetapi, Dia menugasi manusia untuk
mencegah, menundukkan, dan mengendalikannya. Juga supaya meminta pertolongan
untuk melakukan hal ini dengan rasa takut kepada kebesaran Tuhannya Yang Mahaluhur,
Mahaagung, dan Mahahebat. Dengan perjuangannya yang berat ini maka Allah
menetapkan untuknya surga sebagai tempat tinggal dan tempat menetapnya, "Maka
sesungguhnya Surgalah tempat tinggal-(nya)".
Hal ini disebabkan Allah mengetahui betapa
besarnya perjuangan tersebut, dan betapa bernilainya perjuangan tersebut untuk
mendidik, meluruskan, dan mengangkat jiwa manusia kepada kedudukan yang tinggi.
Sesungguhnya manusia adalah manusia dengan
adanya larangan ini padanya, adanya jihad atau perjuangan ini, dan adanya
ketinggian ini. Ia bukan bernilai manusia lagi kalau sudah membiarkan dirinya
rnengikuti keinginan hawa nafsunya dan memperturutkan daya tariknya ke tingkat
yang rendah, dengan alasan bahwa hal itu sudah menjadi rangkaian tabiatnya.
Karena itu, Zat yang telah memberikan potensi kepada dirinya untuk mengrkuti
hawa nafsu, juga telah memberikan kepadanya potensi untuk mengendalikan diri,
menahan diri dari keinginan hawa nafsu, dan melepaskannya dari daya tariknya.
Dia telah menjadikan untuknya surga sebagai balasan dan tempat tinggalnya
ketika ia menang melawan hawa nafsunya dan dapat meningkat derajatnya ke posisi
yang tinggi.
Di sana terdapat kebebasan insani yang sesuai
dengan penghormatan Allah terhadap manusia. Yaitu, kebebasan untuk mengalahkan
hawa nafsunya dan melepaskan diri dari tawanan syahwat, serta bertindak dengan
seimbang sesuai dengan kebebasannya untuk memilih dan menentukan sebagai
manusia. Di sana juga terdapat kebebasan hewani, yaitu kebebasan yang
menjadikan manusia mengalah terhadap hawa nafsunya, mengabdi kepada syahwatnya,
dan melepaskan kendali dari kemauannya. Ini adalah kebebasan yang tidak
disandang kecuali oleh orang yang telah hancur harkat kemanusiaannya,
diperbudak oleh nafsunya, dan memberi pakaian kebebasan palsu terhadap
keadaannya yang diperbudak ini.
Yang pertarna itulah yang mengangkat harkat
dan menjadikannya layak mendapatkan kehidupan yang luhur dan merdeka di surga
yang menjadi tempat tinggalnya. Sedangkan yang akhir adalah orang yang
terbalik, hina, dan layak hidup di dasar neraka karena harkat kemanusiannya
telah disia-siakan. Harkatnya melorot sehingga layak menjadi umpan neraka yang
memang bahan bakarnya adalah manusia jenis ini dan batu.
Itulah dua tempat kembali yang cocok bagi
orang yang jatuh harkatnya dan yang naik posisinya dalam timbangan agama yang
menjadi penimbang hakikat segala sesuatu.
Tidak Ada yang Mengetahui Kapan Terjadinya
Kiamat Kecuali Allah
Kemudian datanglah kesan terakhir yang besar,
dalam, dan panjang dalarn surah ini,
يَسْـَٔلُوْنَكَ
عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ ٤٢ فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَاۗ ٤٣ اِلٰى
رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَاۗ ٤٤ اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَاۗ ٤٥
كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا
ࣖ ٤٦
"(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu
(Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya ? Siapakah kamu (maka)
dapat menyebutkan (waktu)nya ? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya
(ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut
kepadanya (hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu,
mereka merasa seakan-akan tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu
sore atau pagi hari." (an-Naazi'aat: 42-46)
Orang«ang musyrik yang keras kepala itu rnempertanyakan
kapan terjadinya kiamat kepada Rasulullah saw. setiap mereka mendengar keterangan
tentang kengerian hari kiamat dan peristiwa-peristiwanya beserta perhitungan
dan pernbalasannya.
Jawabannya adalah, "Siapakah kamu
(maka) dapat menyebutkan waktunya?" Ini adalah jawaban yang
mengisyaratkan betapa besar dan dahsyatnya peristiwa hari itu. Sehingga,
diwujudkan dalarn bentuk pertanyaan dengan menganggapnya bodoh, mengejutkan,
masih kanak-kanak, dan melampaui batas kalau ia menyebutkan waktunya. Akan
tetapi, perkataan ini ditujukan kepada Rasulullah yang agung, "Siapakah
kamu maka dapat menyebutkan waktunya ?" Sungguh ini lebih besar
daripada kalau Anda yang bertanya tentang waktunya. Maka, urusan ini terserah
kepada Tuhanmu. Ini termasuk urusan khusus-Nya, bukan urusanmu.
"Kepada Tuhanmulah dikembalikan
kesudahannya (ketentuan waktunya)." (an-Naazi'aat: 44)
Kepada Allahlah kesudahan urusan hari kiamat
ini. Dialah yang mengetahui kapan waktu terjadinya dan Dia pula yang mengurus
segala sesuatu pada hari itu.
"Kamu hanyalah PemberiPeringatan bagi
siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)." (an-Naazi'aat: 45)
Inilah tugas dan di sinilah batas Rasulullah
saw. Beliau hanya mengingatkan hari kiamat kepada orang yang mau memanfaatkan
peringatan. Yaitu, orang yang hatinya merasakan hakikat hari kiamat itu lalu ia
takut kepadanya dan beramal untuk menghadapinya, serta menyerahkan urusan
waktunya kepada Pemiliknya Yang Mahasuci lagi Mahaluhur.
Kemudian dilukiskannya kedahsyatan dan
besarnya hari itu dengan lukisan yang menyentuh perasaan dan pikiran.
Dibandingkannya kehidupan dunia dengan hari itu di dalam perasaan manusia dan
ukuran mereka,
"Pada hari mereka melihat hari
berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tingal (didunia) melainkan
(sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari." (anNaazi'aat: 46)
Karena besarnya pengaruh hari kiamat itu di
dalam hati sehingga tampak kecil dan singkat kehidupan dunia ini, singkat
usianya, kecil peristiwa-peristiwanya, sedikit kesenangannya dan segala
sesuatunya; maka tampaklah oleh para pelakunya seakan-akan kehidupan dunia itu
hanya setengah hari saja, yaitu waktu sore atau waktu pagi hari saja.
Dilipatlah kehidupan dunia yang para
penghuninya saling berperang dan membinasakan untuk mendapatkannya. Mereka
lebih mengutamakan dunia, sehingga untuk mendapatkannya mereka tinggalkan
bagian mereka di akhirat Untuk mendapatkannya pula, mereka melakukan dosa-dosa,
kemaksiatan, dan pelanggaran. Mereka juga dihanyutkan oleh hawa nafsunya untuk
hidup di sana. Dilipatlah kehidupan ini di dalam jiwa pelakunya sendiri. Maka,
kehidupan dunia itu bagi mereka ketika datangnya hari kiamat hanyalah seperti
hidup pada sore atau pagi hari saja (setengah hari).
Inilah kehidupan dunia yang pendek, singkat,
remeh, mudah lenyap, tak berharga, dan tak ada nilainya. Maka, layakkah hanya
karena mencari ke hidupan yang cuma seperti di waktu sore atau pagi hari saja
lamanya, menjadikan mereka mengorbankan akhirat? Atau, layakkah karena hendak
mengikuti syahwat yang sebentar saja, mereka tinggalkan surga sebagai tempat
tinggal dan tempat kediaman?
Sungguh sikap seperti itu adalah kebodohan
yang sangat besar. Kebodohan yang tidak pantas disandang oleh manusia yang
dapat mendengar dan melihat!
Sumber:
1. https://www.sakaran.com (terjemahan per ayat dan per kata)
2. Fi Zhilalil Qur'an
Comments
Post a Comment