Nabi Ya'qub as dan nabi Yusuf as
Dia
adalah Ya'qub bin Ishak bin Ibrahim. Ibunya
bernama Rifqah binti Bitwail, anak dari saudara Ibrahim.
Ya'qub sangat dikasihi oleh ibunya.
Ketika Ishak memanggil Ya'qub -sementara
ia menganggapnya sebagai 'Aishu- Aishu pun datang dibalut amarah. Karena Rifqah
khawatir bila Aishu berlaku kasar kepada Ya'qub, ia lalu menyuruhnya pergi
menemui pamannya, Laaban di Faddan Arom. Di sana ia tinggal dan melayani
pamannya sebagai mahar untuk menikahi putrinya, Rahil. Tapi pamannya
ingin menikahkannya dengan putrinya yang lain bernama Layya yang tidak
diinginkan oleh Ya'qub. Ia pun menceritakan hal tersebut kepada pamannya.
Pamannya kemudian berkata, "Kalau begitu, engkau harus melayaniku selama
10 tahun berikutnya untuk menikahkanmu dengan Rahil." Ya'qub setuju dengan
kesepakatan itu. Ia juga menikahi dua budak wanitanya, Zulfa dan Bilha. Dari
istri-istrinya itulah lahir seluruh putranya di Faddang Arom selain Benyamin.
Ia kemudian datang ke Palestina dengan harta dan kenikmatan yang sangat banyak.
Ia lalu menghadiahkan sebagian harta miliknya kepada saudaranya walau ia masih
takut bila saudaranya itu berlaku jahat kepadanya. Tapi Aishu menerima
kedatangannya dengan baik[1].
Putra-putra
Ya'qub
Nabi Ya'qub as. Memiliki 10 anak
laki-laki. Mereka adalah, Roubin, Syam'un, Lawi, Yahudza, Yasakir dan Zabulon.
Keenam anak nabi Ya'qub berasal dari istrinya, Layya, putra pamannya Laaban.
Adapun Yusuf dan Benyamin, berasal dari istri keduanya Rahil, yang juga adalah
putri pamannya, Laaban, atau adik dari Layya[2]. Laban lalu memberi dua wanita budak kepada kedua
putrinya yang telah dinikahi oleh Nabi Ya'qub. Budak pertama bernama Bilha
diberikan kepada Rahil, dan kedua bernama Zulfa yang diberikan untuk Layya.
Kedua budak wanita itu lalu dinikahi oleh Nabi Ya'qub dan masing-masing
melahirkan dua orang anak. Dari Bilha
lahir Naftali serta Dan, sementara dari Zulfa lahir Jad dan Asyir. Seluruh anak tersebut di atas lahir ketika ia masih di
Faddan Arom menggembalakan kambing-kambing pamannya Laaban sebagai mahar pernikahannya
dengan kedua putrinya, Layya dan Rahil. Ia lalu membawa keduanya bersama
putra-putranya –juga kambing-kambing pamannya sebagai upah kerjanya selama
setahun- ke bumi Kan'an. Kecuali Benyamin yang lahir di Kan'an. Selanjutnya
kita akan mengetahui kisah Ya'qub dengan Yusuf as.
Nabi Yusuf as.
A. Tujuan Kognitif yang Diharapkan dapat
diperoleh dengan mempelajari kisah ini:
1- Peserta mampu menyebutkan nasab Nabi
Yusuf as.
2- Peserta mampu menyebutkan hukum syariat
dalam menggabungkan sebuah hukum dalam pemerintahan yang tidak menerapkan hukum
Islam.
3- Peserta mampu menjelaskan pengaruh dari
lingkungan dimana Yusuf tumbuh semasa hidupnya.
4- Peserta mampu menjelaskan nilai meminta
dan memberi maaf kepada orang lain.
5- Peserta mampu memetik manfaat dari
kebersihan jiwa seorang pemuda.
6- Peserta mampu menjelaskan alasan Nabi
Yusuf meminta kekuasaan.
7- Peserta mampu menilai keutamaan
bersyukur kepada Allah Ta'ala atas nikmat-Nya.
8- Peserta mampu menyebutkan syarat-syarat
yang dimiliki Nabi Yusuf sehingga ia layak dengan kedudukan tersebut.
9- Peserta mampu meringkas kisah Nabi Yusuf
as.
10- Peserta mampu memetik pelajaran dan
bimbingan dari kisah Nabi Yusuf as.
11- Peserta mampu menjelaskan secara ringkas
sebab-sebab hak persaudaraan Yusuf as.
12- Peserta mampu menerangkan urgensi dan
pentingnya kebebasan bagi setiap individu dan masyarakat.
13- Peserta mampu membandingkan
antara lingkungan dimana Yusuf tumbuh dengan rumah al-'Aziz
14- Peserta mampu menjelaskan urgensi
akal dalam membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
15- Peserta mampu menjelaskan nilai dari
cobaan dalam mentarbiyah setiap individu, seperti dalam menghadapi berbagai
kesulitan.
B. Tujuan Psikomotorik
1-
Peserta memiliki respon yang baik dalam membaca kisah-kisah yang
terdapat dalam al-Qur'an al-Karim.
2-
Peserta memuji sifat 'iffah
Nabi Yusuf as.
3-
Mencontoh dan meneladani
Nabi-nabi Allah yang mulia
4-
Peserta membenci berbagai
konspirasi, sifat dusta dan khianat.
5-
Peserta lebih mengutamakan
untuk menolong orang-orang yang teraniaya dan melakukan pembelaan untuk mereka.
6-
Peserta memberi aprisiasi
sangat tinggi atas keteguhan Nabi Yusuf menghadapi bujukan dan godaan hawa
nafsu.
7-
Peserta menyebarluaskan
masyarakat yang rusak dan membantu terjadinya kejahatan dan kerusakan.
8-
Mendukung diangkatnya
orang-orang shalih menangani berbagai masalah.
9-
Bersungguh-sungguh dalam
memohon bantuan kepada Allah, khususnya pada waktu yang sulit.
10- Lebih mengutamakan redha Allah Ta'ala daripada redha
selain-Nya.
11- Mampu memikul beban ujian di atas jalan
Allah Ta'ala.
Tujuan Keterampilan:
1- Membaca kisah Yusuf as. dengan penuh
kesadaran
2- Mendengar dengan seksama ketika surat
Yusuf dibaca.
3- Berbicara tentang peran akhlak terpuji
dalam menegakkan kemuliaan umat.
4- Berbicara tentang kepemimpinan yang
bijaksana dalam menyelamatkan umat dari kebinasaan.
5- Berbicara tentang urgensi persamaan di
antara ikhwah dalam berinteraksi.
6- Menulis makalah tentang sarana untuk
menangkal kerusakan akhlak pada sebagian wanita.
7- Menulis makalah tentang sifat-sifat
seorang hakim muslim yang mencintai agamanya dan tulus melayani rakyatnya.
8- Mempelajari kisah Nabi Yusuf as. dalam
beberapa tafsir outentik.
Muatan Ilmiah
Nasab atau Garis Keturunannya
Beliau adalah Nabi Allah Yusuf bin
Ya'qub bin Ishak bin Ibrahim, sang kekasih Allah Azza wa Jalla. Beliau
adalah Nabi, putra seorang Nabi, putra Nabi dari putra Nabi. Dalam shahih Bukhari, Rasullah
saw. ditanya tentang manusia paling mulia. Beliau berkata, Yusuf Nabi Allah,
putra nabi Allah, putra nabi Allah, putra sang kekasih Allah[3]."
Nabi Yusuf as. adalah salah satu Nabi
dari bani Israil. Allah Azza wa Jalla menurunkan satu surat khusus dalam
Al-Qur'an al-Karim terkait dengan beliau, agar setiap orang dapat mentadabburi
isi dan kandungannya berupa hukum, nasehat dan etika.
Kami telah menyebutkan sebelumnya
tentang Nabi Ya'qub, ayah Yusuf as., bahwa dia berasal dari tanah Kan'an, bumi
Palestina. Memiliki 12 anak, dan yang paling mulia dan agung di antara mereka
adalah Yusuf as. Yusuf dan saudaranya, Bunyamin berasal dari satu ibu bernama
Rahil. Kematian sang ibu saat keduanya masih kecil, membuat Ya'qub sangat kasih
pada keduanya. Sebab kedua kecintaan Ya'qub kepada Yusuf, karena ia melihat
pada diri putranya tanda kemuliaan dan kecerdasan, dan masa depan cemerlang dan
keagungan dari sisi Allah Ta'ala.
Kisah Yusuf as. dimulai ketika dalam
tidurnya –saat masih kecil sebelum memasuki usia balig- ia menyaksikan sebelas
bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya. Ia lalu menceritakan mimpi
tersebut kepada ayahnya. Dari situlah Ya'qub mengetahui bahwa putranya kelak
akan mendapat kedudukan yang tinggi, mulia dan agung di dunia dan akhirat,
dimana kedua orang tua dan saudara-saudaranya akan tunduk kepadanya. Ia lalu
mengingatkan putranya agar tidak menceritakan mimpinya itu kepada
saudara-saudaranya, agar mereka tidak iri dan membuat tipu daya kepadanya.
Al-Qur'an yang mulia menunjukkan hal ini
dalam firman Allah Azza wa Jalla:
اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ
عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ ٤ قَالَ
يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا
ۗاِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٥
"(Ingatlah), ketika Yusuf
berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat
sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." Ayahnya
berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada
saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata
bagi manusia." (QS. Yusuf: 4-5)
Ketika saudara Yusuf merasakan bahwa cinta ayah mereka terlampau berlebihan
kepada Yusuf dan saudaranya Benyamin, mereka pun iri pada keduanya. Mereka
bahkan berkata, "Sesungguhnya ayah kita berada dalam kesesatan yang
nyata." Mereka lalu berembuk untuk menyingkirkan Yusuf. Apakah dengan
membunuhnya atau membiarkannya berada di atas
Setelah sepakat dengan saran itu, mereka lalu menemui ayah mereka dan
bertanya, "Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami
terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya
kami adalah orang-orang yang
mengingini kebaikan baginya." Mereka lalu meminta agar memperknankan
Yusuf keluar bersama mereka untuk menggembala ternak, bermain dan
bersenang-senang. Ayah mereka menjawab, "Sangat berat bagiku bila ia
keluar bersama kalian. Karena saya khawatir ia dimangsa srigala, sementara
kalian lalai padanya."
Mereka kemudian berusaha menentramkannya dan berkata, bahwa kekhawatiran
ayahnya itu tidak mungkin terjadi, karena selain jumlah mereka yang banyak,
mereka juga akan selalu menjaga dan mengawasinya." Nabi Ya'qub akhirnya
mengizinkan mereka membawa. Ketika mereka keluar bersamanya, mereka pun
menjalankan rencana tersebut dengan membuang Yusuf ke dalam sumur. Mereka lalu
membiarkannya di
Mereka lalu menemui ayahnya sambil menangis dan berkata, "Wahai
ayah kami. Waktu itu kami sedang berlomba
lari dan meninggalkan Yusuf bersama barang-barang kami. Ketika selesai dan
kembali ke tempat kami, kami sangat terkejut karena seekor srigala telah
memangsanya. Buktinya adalah, bahwa baju ini berlumur darah." Tapi baju tetap utuh dan tidak koyak. Akhirnya ayahnya
mengetahui bahwa berita tersebut tidak benar, dan apa mereka sampaikan bahwa
Yusuf dimakan srigala adalah cerita dusta yang dibuat-dibuat. Bagaimana mungkin
ia dimangsa srigala sementara bajunya tidak sobek? Namun Nabi Ya'qub tetap
bersabar seraya memohon pertolongan kepada Allah atas tipu daya dan makar yang
mereka lakukan[4].
Adapun Yusuf yang dibuang ke dasar
sumur, maka Allah Ta'ala telah menggiring kafilah dagang kepadanya. Seorang
dari mereka lalu diutus untuk mengambil air di sumur. Ketika ia memasukkan timba
ke dalam sumur dan mengangkatnya kembali, Yusuf pun bergelantungan di timba
tersebut dan berhasil ke luar dari sumur. Ketika orang itu melihat seorang anak
bergelantungan di timba, ia pun berteriak, "Oh, kabar gembira, ini seorang
anak muda!" mereka lalu mengambilnya dan berkata kepada manusia
bahwa Yusuf sebelumnya adalah seorang budak yang mereka bawa untuk dijual.
Ketika saudara-saudara Yusuf mengetahui
kafilah yang mengambil Yusuf, mereka segera menyusul dan berkata, "Ini
adalah sahaya milik kami, dan biarkan ia bersama kami." Mereka akhirnya
membelinya dengan harga murah, lalu membawanya ke Mesir dan menjualnya disana
kepada seorang pembesar Mesir bernama Qitfir bin Ruhaib. Dia adalah menteri
yang bertanggung jawab terhadap gudang kekayaan Mesir yang ketika itu dipimpin
seorang raja bernama ar-Royyan bin al-Walid. Seseorang dari yang berasal dari
masyarakat negeri tersebut.
Pembesar Mesir ini lalu berkata kepada
istrinya, "
"Berikanlah kepadanya tempat
(dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita angkat
ia sebagai anak." Adapun nama istri
pembesar itu adalah Ra'il, dan ada yang berkata, Zulaikha. Ia pun melayani
Yusuf dengan baik membuatnya hidup dalam rumah pembesar Mesir itu dengan
tenang, gembira dan bahagia. Allah Ta'ala kemudian mengajarkan padanya berbagai
pengetahuan sebagai bekal baginya untuk derajat kenabian. Ilmu yang diajarkan
kepadanya mengenai pemahaman terhadap berbagai situasi dan menyingkap arti
mimpi.
Ketika ia sampai pada usia dewasa –atau
empat puluh tahun, menurut sebagian besar pendapat- Allah memberinya hikmah dan
ilmu. Sehingga ia menjadi salah satu ulama yang arif bijaksana[5].
Kehidupan damai dan tenang yang selama
ini dirasakan oleh Nabi Yusuf, ternyata tidak berlangsung lama, karena istri
al-Aziz jatuh cinta padanya dan tak dapat menyembunyikan di hadapannya. Ia lalu
meminta kepada nabi Yusuf agar mau berzina dengannya. Namun Yusuf menolak, dan
Allah Azza wa Jalla melindunginya dari perbuatan keji itu. Ketika istri
pembesar itu meminta kembali, Yusuf lalu berusaha menghindar dan berlari menuju
pintu. Wanita itu pun mengeja dan menarik baju Yusuf hingga sobek.
Saat itu pula suaminya tiba dan berdiri
di pintu. Istrinya yang tidak menduga kehadiran suaminya segera menampakkan
diri sebagai wanita yang bersih dan menuduh bahwa Yusuf yang ingin berbuat keji
padanya. Yusuf berkata, "Dialah yang justru menggodaku untuk menundukkan
diriku (kepadanya)". Allah Azza wa Jalla lalu menampakkan
kekuasaan-Nya di hadapan pembesar itu bahwa Yusuf berlepas diri dari kekejian
itu, ketika seorang bayi yang berada di dekat lokasi itu dapat berbicara dan
memberi kesaksian bahwa apabila baju Yusuf sobek di depan, maka wanita itulah
yang benar, dan bila bajunya sobek di belakang, maka wanita itu dusta, dan
Yusuf terbebas dari tuduhan keji yang dilontarkan wanita tersebut.
Takkala suaminya melihat baju Yusuf
sobek di belakang, ia pun tahu bahwa istrinya dusta dan Yusuf benar. Namun ia
ingin agar peristiwa ini tidak menyebar. Ia lalu berkata kepada Yusuf,
"Jangan ceritakan peristiwa ini kepada siapa pun." Dan kepada
istrinya ia berkata, "Bertaubatlah atas dosa yang engkau lakukan,
sesungguhnya engkau termasuk orang yang bersalah."[6]
Ternyata peristiwa memalukan ini tidak dapat
ditutupi dan akhirnya diketahui oleh sejumlah wanita pembesar dan menteri
lainnya. Mereka pun memperbincangkan hal ini, dan mencela istri al-Aziz atas
perbuatan keji yang seharusnya tidak pantas ia lakukan. Ketika istri al-Aziz
tahu bahwa kasus tersebut telah merebak luas, ia pun mengundang mereka hadir
pada sebuah pesta di rumahnya. Dalam jamuan itu istri al-Aziz menyiapkan
buah-buahan dan pisau. Ketika para tamu undangannya sedang mengupas buah, ia
lalu menyuruh Yusuf masuk menemui tamu-tamu tersebut. Ketika mereka melihat
ketampanan dan keelokan wajah Yusuf, mereka pun takjub dan kagum sehingga tanpa
sadar tangan mereka terluka oleh pisau.
Ketampanan wajah Yusuf seakan menyihir
mereka, hingga mereka berkata, "Maha sempurna Allah, ini bukanlah
manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."
Saat itulah wanita pembesar tersebut berkata kepada mereka, "Itulah dia
orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya," Ia pun mengakui
bahwa dialah yang menggoda Yusuf, namun Yusuf menolak dan menjaga diri. Apabila
ia tidak melakukan apa yang saya inginkan darinya, niscaya ia akan dipenjarakan
dan termasuk orang-orang yang hina.
Para wanita itu lalu berkata kepada
Yusuf agar mematuhi perintah tuannya. Namun Yusuf menolak seraya berlindung
kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar Ia singkirkan darinya tipu daya wanita
istri al-Aziz dan kawan-kawannya. Yusuf memohon, "Wahai Tuhanku,
sesungguhnya penjara lebih aku sukai daripada yang mereka inginkan
dariku." Allah Azza wa Jalla akhirnya mengabulkan doa Yusuf dan
menyingkirkan darinya tipu daya istri al-Aziz dan kawan-kawannya.
Al-Azis dan istrinya akhirnya memenjarakan
Yusuf selama masa tertentu, agar semakin sedikit orang yang berbicara tentang
kasus tersebut. Dan agar tampak di hadapan manusia bahwa Yusuflah yang telah
menggoda istri al-Aziz dan di penjara karena itu. Mereka pun memenjarakannya
secara zalim dan aniaya[7].
Ketika Yusuf dijebloskan ke dalam
penjara, dua orang pemuda juga di penjara bersamanya yang bekerja sebagai
pegawai raja. Pemuda pertama bertugas menyediakan minuman dan yang kedua
membuat roti untuk raja. Kedua pemuda
tersebut dijebloskan ke penjara karena dituduh telah melakukan tindakan
kejahatan. Pada suatu malam, kedua pemuda ini bermimpi. Pemuda yang bekerja
menyediakan minum raja melihat dirinya sedang memerah khamer dan menyediakannya
untuk tuannya. Sementara yang lain melihat dirinya membawa nampan keranjang berisi
roti di atas kepalanya. Lalu burung-burung berdatangan dan memakan roti
tersebut.
Ketika melihat Yusuf berada di dalam
penjara dan mengetahui sejarah perjalanannya, mereka pun kagum padanya atas
sikap istiqamah yang dimilikinya. Mereka lalu bertanya kepadanya tentang arti
mimpi mereka. Yusuf pun menafsirkan mimpi keduanya, yang kesimpulannya adalah,
bahwa yang bekerja menyediakan minuman raja, tak lama lagi ia akan bebas dan
keluar dari penjara serta kembali kepada pekerjaannya semula. Adapun pemuda
kedua, maka tuduhan itu akan ditetapkan atasnya, sehingga ia akan dihukum jilid
dan burung-burung akan berdatangan memakan bangkai tubuhnya dari kepalanya.
Melalui tafsiran mimpi itu, Yusuf mengajak keduanya agar beriman dan
mentauhidkan Allah Ta'ala, karena tak ada manfaat sedikit pun dalam menyembah
patung dan berhala[8].
Ketika pemuda yang bekerja sebagai
pembuat minuman raja itu keluar dari penjara, Yusuf lalu meminta kepadanya agar
menyebutkan perkaranya dan kezaliman yang ia alami di hadapan raja. Semoga raja
mencabut tuduhan tersebut sehingga ia dapat bebas dan keluar dari penjara.
Namun pemuda itu lupa tentang Yusuf dan tidak menyebutkannya sedikit pun di
hadapan raja. Sehingga Yusuf tinggal cukup lama di dalam penjara. Ada yang
berkata selama tujuh tahun atau lebih[9].
Beberapa tahun kemudian, raja yang
memerintah Mesir ketika itu; ar-Rayyan bin al-Walid melihat dalam mimpinya
tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, dan ia juga
melihat tujuh bulir gandum yang hijau dimakan oleh tujuh tangkai bulir gandum
kering. Ia lalu bertanya kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya dan
yang memiliki pengetahuan tentang mimpi tersebut. Namun mereka hanya berkata,
"Ini adalah mimpi yang kacau dan kosong, dan kami tidak memiliki
pengetahuan tentang tafsir mimpi."[10]
Ketika itulah pemuda yang bekerja
sebagai penyedia minuman raja mengingat Yusuf, dan dialah orangnya yang mampu
menafsirkan mimpi tersebut. Ia lalu berkata kepada raja dan pengawalnya,
"Saya sampaikan padamu orang yang mengetahui tafsir mimpi itu. Bawalah
saya menemui Yusuf." Orang itu dibawa menemui Yusuf. Ketika tiba di
hadapannya, ia pun menanyakan tentang mimpi itu, dan Yusuf dapat
menafsirkannya, yang kesimpulannya adalah, "Bahwa akan tiba masa tujuh
tahun yang subur, dan setelah itu tujuh tahun berikutnya dilanda kekeringan,
dan setelah itu tiba kembali tahun-tahun yang di dalamnya melimpah
kebaikan."
Maka untuk menghadapi semua ini,
hendaklah kalian menanam gandum selama tujuh tahun berturut-turut, dan apa yang
kalian peroleh dari hasil panen itu kalian simpan di dalam lumbung penyimpanan,
kecuali sedikit yang khusus untuk kalian makan. Karena setelah itu akan datang
tujuh masa berikutnya dimana negeri ini dilanda kekeringan, sehingga kalian
dapat makan dari apa yang pernah kalian simpan dahulu[11].
Ketika raja mengetahui keluasan ilmu dan
kecerdasan Yusuf as., pendapat dan pemahamannya yang kuat tepat, ia pun
memerintakan pegawainya untuk mengeluarkannya dari penjara dan menyuruhnya
menghadap ke hadapannya, agar ia dapat menganggkatnya sebagai pembantu istimewa
baginya. Ketika utusan raja datang menemuinya dan menyampaikan padanya titah
raja, ia berkata tidak akan keluar dari penjara sehingga menjadi jelas bagi
setiap orang tentang kasus yang dihadapinya, bahwa ia dipenjara secara zalim
dan aniaya. Dan sesungguhnya ia berlepas diri dari apa yang dituduhkan
kepadanya.
Karena itu pula, ia meminta kepada
utusan tersebut untuk kembali kepada raja dan meminta kepadanya agar bertanya
kepada para wanita, kawan-kawan istri dari al-Aziz tentang penyebab yang
membuatnya dijebloskan ke dalam penjara. Para wanita itu pun memberikan
kesaksian perihal kebersihan Yusuf. Ketika raja bertanya tentang hal tersebut,
mereka pun mengakuinya bahwa Yusuf tidak terkait dengan tuduhan itu, dan istri
al-Aziz itulah yang menggoda dan memintanya melakukan kekejian namun Yusuf
menolak dengan tegas permintaannya. Karena itu ia dijebloskan ke dalam penjara.
Ketika istri al-Aziz menyaksikan
realitas yang terjadi di hadapannya, ia akhirnya mengaku salah dan berkata, "Sekarang
kebenaran sudah jelas. Sayalah yang menggodanya agar menundukkan dirinya
kepadaku, dan sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang jujur." Yusuf
berkata, "Yang saya inginkan dari proses investigasi ini adalah, agar
al-Aziz mengetahui bahwa saya tidak berkhianat kepadanya pada istrinya ketika
ia tak ada. Karena sesungguhnya Allah tidak meredhai tipu daya orang-orang yang
berkhianat. Yusuf lalu menambahkan, "Dan aku tidak membebaskan diriku
(dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada
kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku."[12]
Ketika jelas bagi raja bahwa Yusuf
bersih dari semua tuduhan itu setelah proses invetigasi selesai, ia berkata,
"Bawalah dia kemari, dan angkatlah ia sebagai salah satu dari pembesar
negaraku dan pembantu istimewaku."
Takkala Yusuf datang dan berbicara
dengannya, semakin jelas bagi raja perihal yang sebenarnya. Ia lalu berkata,
"Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi
lagi dipercayai pada sisi kami". Yusuf berkata, "Jadikanlah
aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai
menjaga lagi berpengetahuan". Maksudnya adalah, "Jadikanlah saya
sebagai penanggung jawab gudang-gudang tempat penyimpanan makanan yang masuk
untuk negeri ini sebagai perbekalan untuk rakyat. Karena saya tahu bagaimana
menjaga dan mendistribusikannya secara adil."
Hati raja menjadi lapang mendengar
ucapan tersebut. Ia juga merasa tenang dengan sifat amanah dan kebaikan prilakunya.
Raja lalu mengangkat Yusuf sebagai penanggung jawab manajemen gudang logistik
dan ia pun bebas bepergian ke seluruh penjuru negeri Mesir. Jalan kemana yang ia sukai sebagai orang terhormat dan
dimuliakan. Ada yang berkata bahwa, tak lama kemudian al-Aziz Qithfiir
meninggal dunia, raja lalu mengangkat Yusuf sebagai penggantinya dan
menikahkannya dengan istrinya, Zulaikha. Ia pun menjadi menteri yang jujur
sebagai kepercayaan raja.[13]
Ketika Yusuf diangkat sebagai pejabat,
apalagi sebagai penanggung jawab logistik rakyat dimana masa sulit dan musim
kering tiba, saudara-saudara Yusuf pun datang ke Mesir untuk mengambil
persediaan makanan. Ketika mereka masuk menemui Yusuf, ia pun mengetahuinya
bahwa mereka adalah saudara-saudaranya. Tapi mereka tidak mengenal bahwa Yusuf kini berdiri di hadapan mereka.
Mereka lalu meminta bekal makanan
kepadanya. Yusuf kemudian bertanya tentang kondisi dan jumlah mereka. Mereka
berkata, "Jumlah kami sebelumnya dua belas orang. Seorang dari kami lalu
pergi dan tinggallah saudara kandungnya bersama ayah kami." Ketika Yusuf
memberi persediaan makanan sebagaimana yang ia berikan kepada yang lain, yaitu
seberat beban seekor unta untuk setiap orang, ia berkata, "Bila kalian
datang lagi kemari tahun depan, kalian harus datang bersama saudara yang kalian
tinggalkan bersama ayah kalian. Tidakkah kalian melihat bahwa saya menjamu
kalian dengan baik sebagai tamu? Bila kalian tidak datang bersamanya kelak,
maka saya takkan memberi persediaan makanan seperti ini kepada kalian,
dan janganlah kalian sekali-kali mendekat kepadaku."
Mereka lalu berjanji akan berbicara
dengan ayah mereka tentang hal itu, dan kelak mereka akan datang bersama
saudaranya yang lain, insya Allah. Ketika mereka hendak pulang kembali, Yusuf
berkata kepada para pembantunya, "Masukkan kembali ke dalam karung makanan
mereka apa yang mereka bawa untuk harga makanan itu, sebagai jaminan bahwa
tahun depan mereka kembali bila mereka mengetahui bahwa harga dari makanan yang
harus mereka bayarkan ternyata dikembalikan[14]."
Setelah sampai di rumah, mereka lalu
meminta kepada ayahnya agar saudara mereka yang paling kecil, Bunyamin saudara
Yusuf, dibiarkan ikut bersama mereka kelak. Bila mereka tidak membawanya, maka
tahun depan mereka takkan diberikan bahan makanan. Ayahnya berkata, "Saya
tidak mungkin membiarkannya pergi bersama kalian sehingga kalian memberikan
janji tegas bahwa kalian akan membawanya kembali pulang kemari dengan selamat.
Kecuali bila kalian dibelit sebuah masalah yang membuat kalian tidak dapat membawanya
pulang."
Ketika anak-anak Nabi Ya'qub as. Membuka
harta bawaan mereka, mereka pun terkejut karena menemukan barang-barang yang
seharusnya mereka berikan kepada Yusuf sebagai harga dari bahan makanan yang
mereka peroleh. Mereka lalu berkata, "Wahai ayah kami, apa yang dapat kami
lakukan dari kebaikan yang dilakukan kepada kami? Bila kami membawa saudara
kami kelak, niscaya kami akan mendapatkan bahan makanan, sebagaimana yang kami
peroleh tahun ini. Dan itu adalah bagian untuk
saudara kami bila membawanya kelak."[15]
Pada tahun berikutnya, saudara-saudara Yusuf
pun datang bersama Benyamin, saudara kandung Yusuf. Mereka lalu masuk menemui
Yusuf untuk meminta bahan makanan. Ketika Yusuf melihat saudaranya, ia segera
mengajaknya pergi dan mengatakan padanya bahwa dia adalah saudaranya. Ia
berusaha menenangkannya dan berkata, "Jangan sedih dengan perlakuan
saudara-saudaramu itu kepadamu." Yusuf menyampaikan semua itu secara
sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh saudara-saudaranya yang lain.
Yusuf kemudian merancang strategi agar
ia dapat mengambil saudaranya dari mereka. Ia lalu menyuruh pegawainya agar
menyimpan sukatan –wadah buat menakar makanan- dengan sembunyi-sembunyi ke
dalam karung makanan milik saudaranya, Benyamin. Ketika mereka hendak
pulang, ia lalu memerintahkan seseorang menyeru mereka, "Wahai rombongan,
sesungguhnya kalian telah mencuri." Saat mendengar tuduhan tersebut,
mereka segera menemui orang yang berteriak itu dan berkata, "Kalian
kehilangan apa?" Mereka menjawab, 'Kami kehilangan sukatan milik raja, dan
barang siapa yang mengembalikannya kepada kami, maka baginya makanan sebanyak
beban seekor onta, dan kami menjamin itu untuknya."
Mereka berkata, "Demi Allah, kami
datang kesini meninggalkan negeri kami bukan untuk mencuri atau melakukan
kerusakan." Pembantu raja berkata, "Lalu apa balasan bagi orang yang
kami temukan sukatan raja padanya?" mereka berkata, "Siapa pun yang engkau temukan dari kami
telah mengambil sukatan milik raja, maka engkau berhak menahannya, dan
mengambilnya sebagai budak sahaya." Seperti itulah aturan yang berlaku
ketika itu.
Setelah mereka dengan tegas menyatakan
hal itu, mereka lalu memeriksa barang bawaan mereka. Para pembantu Yusuf
memeriksa barang bawaan mereka satu persatu. Ketika memeriksa barang milik
Benyamin, mereka pun menemukan sukatan pada barang bawaan miliknya. Yusuf
akhirnya mengambil saudaranya sendiri, Benyamin sebagai dasar atas aturan yang
mereka buat. Andai bukan karena itu, niscaya Yusuf takkan mungkin mengambil
saudaranya ke dalam aturan raja. Karena syariat yang berlaku ketika itu di
Mesir adalah, barang siapa yang ditemukan mencuri, maka dia harus dipukul dan
didenda dua kali lipat atas apa yang ia curi.
Ketika mereka menyaksikan sukatan raja dikeluarkan
dari barang milik Benyamin, mereka berkata, "Bila ia mencuri, maka
saudaranya dahulu juga pernah mencuri." Maksudnya adalah Yusuf. Konon
Yusuf pernah mencuri patung kakek dari ibunya, dan memecahkannya. Ketika mereka
berkata demikian, dalam hati Yusuf berkata, "Bahkan kedudukan (sifat-sifat)
kalian lebih buruk di sisi Allah, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian terangkan
itu". Mereka lalu berusaha meminta keringanan, yaitu dengan membiarkan
Benyamin pergi dan mengambil seorang dari mereka sebagai gantinya, karena ia
memiliki seorang ayah yang sudah sepuh. Namun Yusuf menolak, dan berkata,
"Kami tidak mungkin mengambil dan menahan orang yang tidak bersalah dan
membiarkan pelakunya bebas. Bila kami melakukan itu, niscaya kami termasuk
orang yang zalim[16]."
Saat mereka mulai putus asa untuk
membawa Benyamin pulang, mereka akhirnya keluar meninggalkan Yusuf. Mereka lalu
berkumpul dan berembuk. Saudara mereka yang paling tua, Roubil berkata,
"Tidakkah kalian tahu bahwa ayah kalian, Ya'qub telah mengambil perjanjian
di antara kalian agar menjaga Bunyamin dan mengembalikannya kepadanya. Lalu
bagaimana kita dapat pulang menemui ayah kita tanpa dirinya. Karena itu saya
takkan meninggalkan Mesir untuk kembali ke Palestina, kecuali bila ayah
mengizinkanku kembali ke sana, atau Allah mudahkan bagiku untuk mendapatkan
saudaraku, Bunyamin.
Raobil lalu berkata kepada mereka,
"Pulanglah kalian menemui ayah, dan katakan padanya bahwa Bunyamin telah
mencuri, dan kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri, dan sesungguhnya
kami tidak tahu hal yang gaib. Bila dia tidak percaya, maka biarlah dia
bertanya kepada penduduk Mesir yang mengetahui peristiwa itu, atau bertanya
kepada kafilah dagang yang pulang bersama kalian. Karena sesungguhnya kami
termasuk orang yang jujur."
Mereka pun kembali dan menjelaskan semua
itu kepada ayah mereka. Tapi Nabi Ya'qub as. tidak percaya dengan semua itu,
karena mereka pernah melakukan hal yang sama terhadap Yusuf dengan mengatakan
bahwa ia dimakan srigala. Ya'qub berkata kepada mereka, "Hanya dirimu
sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah
(kesabaranku). Mudah-mudahan Allah
mendatangkan padaku Yusuf, Benyamin dan Raobil semuanya." Ia lalu
meninggalkan mereka dan berkata, "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf",
dan kedua matanya menjadi putih karena sedih berpisah dengannya.
Ya'qub kembali berkata kepada
anak-anaknya, "Wahai anak-anakku! Kembalilah kalian ke Mesir. Carilah
Yusuf dan saudaranya Benyamin. Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah,
karena sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah selain orang yang
kafir."[17]
Saudara-saudara Yusuf akhirnya kembali
ke Mesir mencari tahu tentang Yusuf dan Benyamin. Mereka lalu menemui Yusuf as. saat ia berada kekuasaan yang mulia. Mereka
berkata, "Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan
dan membutuhkan sesuatu yang sangat banyak. Sementara kami datang membawa
barang-barang buruk yang takkan sepadan dengan apa yang engkau minta sebagai
harga bahan makanan. Maka kami harap agar engkau membantu kami dan iba pada
keadaan kami. Bersedekahlah untuk kami, berilah kami al-miirah yang
banyak."
Mendengar ucapan mereka membuat Yusuf
iba. Ia akhirnya menyingkap tentang dirinya dan berkata kepada mereka,
"Apakah kalian masih ingat apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf
dan saudaranya, Benyamin." Ketika mereka melihatnya dengan seksama, mereka
pun mengetahuinya melalui wajahnya yang tampan. Mereka lalu berkata,
"Bukankah engkau Yusuf?" Yusuf berkata, "Ya saya adalah Yusuf,
dan ini saudaraku Benyamin yang telah melimpahkan karunia, kebaikan dan
perlindungan-Nya kepada kami. Itu karena kami senantiasa taat dan bertakwa
kepada-Nya, dan juga karena kesabaran kami atas apa yang kalian lakukan kepada
kami. Dan sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat
baik."
Betapa sangat malu saudara-saudara Yusuf
mengetahui sosok yang ada di hadapan mereka. Mereka lalu berkata, "Demi
Allah, Ia sungguh lebih mengutamakanmu daripada kami. Sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang berdosa karena perbuatan yang telah kami lakukan." Yusuf
berkata, "Sekarang tidak ada cercaan bagi kalian. Semoga Allah
mengampuni kalian dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang. Ambillah
bajuku ini, pulanglah kalian dan letakkanlah ia di atas wajah ayahku, nanti ia
akan melihat kembali. Lalu datanglah kalian kepadaku bersama keluarga
kalian."[18]
Ketika mereka keluar meninggalkan Yusuf
menuju Palestina –bersama baju Yusuf- dan sampai di tempat berteduh di Mesir,
tiba-tiba angin bertiup membawa aroma baju Yusuf hingga tercium oleh ayahnya.
Ya'qub segera tahu bahwa aroma tersebut adalah milik putranya, walau jarak
tempuhnya tiga hari perjalanan atau lebih. Ya'qub lalu berkata kepada
orang-orang yang ada di sekelilingnya, "Saya mencium aroma Yusuf, bila
saja kalian tidak menuduhku lemah akal." Mereka berkata, "Demi
Allah, sesungguhnya kamu masih berada dalam kekeliruanmu yang dahulu, karena
kecintaanmu yang terlampau berlebihan dan harapan untuk bertemu dengannya walau
sangat tidak mungkin tercapai.".
Ketika mereka tiba di hadapan ayah
mereka, Yahudza lalu mengambil baju Yusuf dan
meletakkan di wajah ayahnya. Seketika itu juga mata Nabi Ya'qub as. dapat
melihat. Ia lalu berkata kepada anak-anaknya, "Bukankah saya pernah
berkata kepada kalian bahwa saya mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian
ketahui?" bahwa Allah akan menyatukanku kembali dengan Yusuf dan membuatku
senang dan bahagia dengan kehadirannya.
Saudara-saudara Yusuf lalu meminta
kepada Ya'qub agar mendoakan mereka semoga Allah mengampuni perbuatan yang
telah mereka lakukan dahulu kepadanya dan kepada Yusuf. Nabi Ya'qub as.
berkata, "Saya akan memintakan ampun untuk kalian kepada Tuhanku, karena
sesungguhnya Ia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ia lalu mendoakan mereka
pada waktu sahur sebagai waktu yang tepat terkabulkannya doa yang dipanjatkan.
Nabi Ya'qub as. lalu berangkat ke Mesir bersama seluruh anak-anaknya, cucu dan
kerabatnya untuk bertemu Yusuf di sana[19].
Setelah menempuh perjalanan panjang,
mereka pun tiba di Mesir dan disambut suka cita oleh Yusuf. Raja dan
balatentaranya turut menyambut kedatangan mereka sebagai penghormatan kepada
Yusuf dan pemuliaan bagi seorang Nabi Allah, Ya'qub as. Ketika mereka
masuk di rumah Yusuf, ia pun merangkul kedua orang tuanya seraya berkata,
"Masuklah kalian ke negeri Mesir dengan aman, Insya Allah."
Maksudnya, tinggal dan menetaplah kalian dengan damai dan aman.
Yusuf lalu mendudukan ayahandanya di
atas singgasananya. Kedua orang tua dan saudara-saudara Yusuf lalu bersujud
kepadanya sebagai penghormatan, dan cara ini adalah sesuatu yang sesuai syariat
pada masa itu di dalam agama mereka. Yusuf lalu berkata kepada ayahnya,
"Wahai ayahku, inilah arti mimpiku dahulu, Allah telah menjadikannya
benar." Ia lalu menceritakan kepada ayahnya tentang nikmat Allah yang Ia
curahkan kepadanya, ketika ia dikeluarkan dari penjara lalu diberi kekuasaan
yang agung, kedatangan orang tua dan saudara-saudaranya, dan berkumpulnya
keluarga mereka kembali setelah syetan merusak hubungan dirinya dan
saudara-saudaranya ketika mereka melakukan perbuatan buruk itu kepada Yusuf as.
Yusuf lalu berkata, " Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia
kehendaki. Bila Ia menginginkan sesuatu, maka Ia menyiapkan sebab-sebabnya.
Dialah Allah yang Maha Mengetahui terhadap makhluk-Nya dan Maha Bijaksana[20].
Selama empat puluh hari lamanya, Ya'qub
berada di negeri Yusuf, setelah melalui masa perpisahan yang berlangsung selama
empat puluh tahun. Saat kematiannya menjelang, Ya'qub berpesan kepada Yusuf
agar membawanya dan menguburkannya di dekat makam ayahnya, Ishak di
Palestinaan, dan Yusuf memenuhi wasiat itu. Ketika Ya'qub wafat, ia lalu
membawanya dan menguburkannya di dekat makam ayahnya, kemudian kembali ke
Mesir. Nabi Yusuf as. hidup selama dua puluh tiga tahun setelah kematian
ayahnya.
Ketika urusan Yusuf telah selesai dan ia
mengetahui bahwa hidupnya tidak lama lagi, dimana jiwanya rindu kepada akhirat
dan bertemu Tuhannya, ia pun memuji-Nya dan mengakui limpahan kebaikan-Nya yang
tak terhingga. Ia lalu memohon agar diwafatkan dalam Islam dan kelak menyusul
hamba-hamba-Nya yang shaleh. Yusuf berkata:
۞ رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ
تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى
الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ
١٠١
"Ya
Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan
dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi.
Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan
Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS. Yusuf: 101)
Sebelum kematian menjemputnya, ia
berwasiat kepada saudara-saudaranya agar membawanya bila mereka keluar dari
Mesir dan menguburkannya di dekat ayahandanya. Ketika ia wafat, mereka pun
mengawetkan jenazahnya dan meletakkan di dalam tabut. Jenazah Nabi Yusuf tetab
berada di Mesir hingga Nabi Musa diutus yang kemudian membawanya keluar dari
Medir dan menguburkannya di dekat ayahnya. Usia Nabi Yusuf 120 tahun, dan ada
yang berkata 110 tahun.
Nama Nabi Yusuf as. Disebutkan dalam
Al-Qur'an sebanyak 27 kali, 25 kali di antaranya dalam surat Yusuf yang
menceritakan tentang kisah beliau, 1 kali dalam surat al-An'am, yaitu dalam
firman Allah Azza wa Jalla:
وَوَهَبْنَا
لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ
وَمِنْ ذُرِّيَّتِهٖ دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ وَاَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسٰى
وَهٰرُوْنَ ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَۙ ٨٤
"Dan Kami
telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya (kepada Ibrahim). Kepada
keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu
(juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh)
yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-An'aam: 84) dan 1 kali dalam surat Ghafir. Yaitu firman
Allah melalui lisan seorang mukmin dari keluarga Fir'aun:
وَلَقَدْ
جَاۤءَكُمْ يُوْسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنٰتِ فَمَا زِلْتُمْ فِيْ شَكٍّ
مِّمَّا جَاۤءَكُمْ بِهٖ ۗحَتّٰىٓ اِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَنْ يَّبْعَثَ اللّٰهُ
مِنْۢ بَعْدِهٖ رَسُوْلًا ۗ كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ
مُّرْتَابٌۙ ٣٤
"Dan
sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan,
tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu,
hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: "Allah tidak akan mengirim
seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang orang yang
melampaui batas dan ragu-ragu." (QS.
Ghafir: 34)
Kisah nabi Yusuf yang diceritakan Allah
Ta'ala dalam Al-Qur'an al-Karim sangat menarik. Selain nasehat dan pelajaran
yang dikandungnya. Firman-Nya:
لَقَدْ
كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا
يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ
شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ ١١١
"Sesungguhnya
pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang
dibuat-buat." (QS. Yusuf: 111) dan
pelajaran yang paling menonjol di dalamnya adalah kewajiban untuk senatiasa
bersabar. Karena kemenangan dan kejayaan terletak
pada kesabaran. Allah Ta'ala berfirman melalui lisan nabi Yusuf as.:
قَالُوْٓا ءَاِنَّكَ لَاَنْتَ يُوْسُفُۗ قَالَ اَنَا۠ يُوْسُفُ وَهٰذَآ
اَخِيْ قَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَاۗ اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ
اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ ٩٠
"Sesungguhnya
barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" (QS. Yusuf: 90)
Di antara nesehat yang dikandungnya
adalah kewajiban melekatkan kesucian dan kebersihan dalam diri, tidak
berkhianat kepada orang yang mempercayaimu. Nabi Yusuf as. adalah teladan dalam
kesucian dan kebersihan saat ia dirayu istri al-Aziz. Namun ia menolak dan
berpaling sebagai bukti bahwa ia tidak berkhianat kepada tuannya. Dan akhirnya,
ia harua merasakan penghinaan dan jeruji penjara sebagai harga yang harus ia
bayarkan. Namun buah kebaikan itu akhirnya ia nikmati juga, saat Allah
mengeluarkannya dari penjara sebagai orang yang bersih dari berbagai tuduhan,
mendapatkan kedudukan yang mulia dan bertemu kembali dengan orang tuanya.
Nabi Yusuf as.
Dalam Al-Qur'an al-Karim
Kisah Nabi Yusuf as. diabadikan Allah dalam Al-Qur'an
pada sebuah sebuah surat khusus dengan mengambil namanya sendiri. Menerangkan
secara detail sisi kehidupan nabi yang mulia ini. Kisah ini juga memberi sangat
banyak pelajaran dan nasehat kepada orang-orang yang beriman. Ketika kita
sedang membaca kisah tersebut, maka sudah selayaknya bagi kita mengambil bekal
yang banyak darinya.
Beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita semua pada
kisah agung itu sebagai berikut:
1- Lingkungan yang baik akan menumbuhkan
tanamanan yang baik pula (Dan kedua orang tuanya termasuk orang yang shalih)
2- Mentarbiyah diri dengan sifat-sifat yang
mulia. Dan Yusuf as. Telah terbiasa dengan sifat-sifat yang mulia sebagai
realisasi ajaran ayah dan kakeknya, serta para nabi shalawat Allah dan
keselamatan untuk mereka.
3- Iman kepada prinsip akan mempermudah
pelakunya menaklukkan berbagai kesulitan dan dalam menghadapi tiupan angin
beliung.
4- Senantiasa bersandar kepada Allah Ta'ala
ketiak ujian menghadang. Firman-Nya:
إِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ
إلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ اْلجَاهِلِيْنَ
"Bila engkau tidak singkirkan dariku tipu daya mereka,
niscaya saya akan jatuh kepada mereka, dan saya termasuk orang-orang yang
bodoh."
5- Pemilik akidah dan dakwah tidak pernah
menyia-nyiakan kesempatan yang dimilikinya tanpa ia manfaatkan untuk berdakwah,
sebagaimana dilakukan Nabi Yususf as. yang tetap berdakwah walau ia berada di
dalam penjara.
6- Setiap dai dituntut untuk menjaga akhlak
dan kemuliaan dirinya, karena dia adalah tauladan bagi yang lain.
7- Kesabaran adalah salah satu sifat
seorang Muslim, apalagi bila ia seorang dai yang menyeru manusia kepada Allah
Ta'ala. Firman-Nya:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ
بِأَمْرِنَا لمَــَّـا صَبَرُوْا
"Dan
kami jadikan mereka sebagai pemimpin yang menunjuki manusia kepada perintah
Kami ketika mereka bersabar." Dan firman-Nya:
وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى
بَنِي إسْرَائِيْلَ بِمَا صَبَرُوْا
"Dan telah tammat kalimat Tuhanmu yang baik atas bani
Israil dengan apa mereka bersabar."
8- Kesabaran Nabi
Yusuf tampak dalam berbagai sisi, sebagai bukti imannya yang kokoh:
a. Kesabarannya menghadapi gangguan
saudara-saudaranya.
b. Kesabarannya dalam beribadah
c. Kesabarannya menaklukkan syahwat
kemaluan
d. Kesabarannya atas nikmat Allah dan
menjaganya dengan syukur kepada-Nya.
e. Kesabarannya saat berada di dalam
penjara.
f. Kesabarannya menghadapi fitnah kekuasaan
dan popularitas.
Bersama Al-Qur'an al-Karim
الۤرٰ ۗ تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ
الْمُبِيْنِۗ ١ اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ
تَعْقِلُوْنَ ٢ نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ
اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ ٣
اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ
كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ ٤ قَالَ
يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا
ۗاِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٥ وَكَذٰلِكَ يَجْتَبِيْكَ
رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهٗ
عَلَيْكَ وَعَلٰٓى اٰلِ يَعْقُوْبَ كَمَآ اَتَمَّهَا عَلٰٓى اَبَوَيْكَ مِنْ
قَبْلُ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَۗ اِنَّ رَبَّكَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ࣖ ٦
"Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat
Kitab (Al Qur'an)yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya
berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling
baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum
(Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada
ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang,
matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." Ayahnya berkata:
"Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada
saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu.
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." Dan
demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya
kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya
kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan
ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu[21] sebelum
itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak.
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS.
Yusuf: 1-6)
Seluruh isi
Allah Azza wa Jalla lalu
menceritakan kepada Rasulullah saw. kisah saudaranya yang mulia; Yusuf bin
Ya'qub bin Ishak bin Ibrahim- shalawat dan salam Allah untuk mereka semua,
ketika ia ditimpa ujian dan cobaan itu; tipu daya saudara-saudaranya, tinggal
di dalam sumur, dijual sebagai budak membuatnya berpindah dari satu tangan ke
tangan yang lain untuk diperjual-belikan diluar kehendaknya dan tanpa
perlindungan dari kedua orang tua dan keluarganya.
Demikian pula dengan tipu daya
yang dilancarkan istri al-'Aziz dan kawan-kawannya, setalah ia mampu
menaklukkan godaan syahwat dan hawa nafsunya! Ia kemudian menerima ujian
berikutnya dengan dijebloskan ke dalam penjara setelah rasakan kenikmatan hidup
dalam istana al-Aziz. Lalu muncul ujian selanjutnya berupa kemewahan dan
kekuasaan tak terbatas yang berada dalam genggaman tangannya, dimana ia berhak
memutuskan sendiri distribusi logistik rakyat Mesir sekaligus mengawasinya.
Pada ke dua tangannyalah sepotong roti diberikan kepada manusia untuk
menguatkan mereka! Ia juga menghadapi ujian yang terkait dengan perasaan
kemanusiaan, saat ia menerima saudara-saudaranya yang telah melemparkannya
dahulu ke dalam sumur, sehingga merekalah sesungguhnya sebab utama munculnya
berbagai cobaan dan ujian itu.
Seluruh ujian dan cobaan itu
dihadapi Yusuf dengan penuh kesabaran sembari menyampaikan dakwah Islam kepada
manusia yang ditemuinya, akhirnya berhasil ia lalui, dan keluar darinya sebagai
manusia yang bersih dari berbagai tuduhan dan kesalahan. Maka kemenangan adalah
akhir dari seluruh ujian tersebut, dan ketika bertemu kembali dengan kedua
orang tuanya, sebagai bukti dari mimpi disaksikannya dalam tidurnya:
إِذْ قَالَ يُوْسُفُ لأَبِيْهِ يَا أَبَتِ
إنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَباً وَالشَّمْسَ وَاْلقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي
سَاجِدِيْنَ
"Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, wahai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam
mimpiku sebelas bintang, matahari dan bulan, sujud kepadaku." Arahan
terakhir yang disampaikannya dengan penuh keikhlasan dengan menyerahkan
segalanya kepada Allah Ta'ala, digambarkan oleh Al-Qur'an al-Karim sebagaimana
firman-Nya:
فَلَمَّا دَخَلُوْا عَلٰى يُوْسُفَ
اٰوٰٓى اِلَيْهِ اَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوْا مِصْرَ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ
اٰمِنِيْنَ ۗ ٩٩ وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًاۚ
وَقَالَ يٰٓاَبَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُ ۖقَدْ جَعَلَهَا
رَبِّيْ حَقًّاۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْٓ اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَاۤءَ
بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ نَّزَغَ الشَّيْطٰنُ بَيْنِيْ وَبَيْنَ
اِخْوَتِيْۗ اِنَّ رَبِّيْ لَطِيْفٌ لِّمَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ
الْحَكِيْمُ ١٠٠ ۞ رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ
تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى
الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ
١٠١
"Maka
tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf:
Yusuf merangkul ibu bapanya[22] dan dia berkata: "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya
Allah dalam keadaan aman". Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas
singgasana. Dan mereka (semuanya)
merebahkan diri seraya sujud[23] kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang
dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik
kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu
dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan
saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku
Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Ya
Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan
dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi.
Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan
Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS. Yusuf: 99-101)
Itulah
permintaannya yang terakhir. Dan sesudah itu –setelah ia berada limpahan
kekuasaan, kemewahan dan kekuatan, ia pun memohon kepada Allah agar
mematikannya sebagai Muslim, dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang
shaleh. Dan semua itu setelah ujian, cobaan, dan kesabaran yang
panjang, diakhiri dengan kemenangan besar. Sehingga tidak aneh bila surat Yusuf
yang menceritakan kisah nabi yang mulia, adalah salah satu surat yang turunkan
kepada Rasulullah saw. saat berada di Mekah. Dimana beliau dan kaum Muslimin
ketika itu berada dalam situasi yang berat dan sulit, sehingga surat ini
menjadi penghibur dan penentram jiwa-jiwa mereka, peneguh hati orang-orang yang
terusir dan teraniaya!
Bahkan pikiran kita saat itu juga akan bergerak untuk
merasakan adanya isyarat yang lebih jauh ke depan, bahwa ketika keluar dari
Mekah menuju negeri yang lain maka disanala eksistensi dan kemenangan dapat
diraih. Walau keluarnya Rasulullah saw. bersama kaum Muslimin dari Mekah menuju
Medinah dilakukan secara terpaksa di bawah ancaman dan tekanan Kafir Quraisy!
Demikian pula yang dialami Yusuf saat ia direnggut dari pelukan ayahnya untuk
menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, untuk selanjutnya meraih eksistensi
dirinya dan kemenangan gemilang:
وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِي اْلأَرْضِ وِلِنًعَلِّمَهُ مِنْ
تَأْوِيْلِ الأَحَادِيْثِ وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ
لاَ يَعْلَمُوْنَ
"Demikianlah
kami teguhkan Yusuf di muka bumi, dan Kami ajarkan kepadanya ta'wiil mimpi dan
peristiwa, dan Allah akan selalu memenangkan perkaranya, tapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui."
Demikianlah
yang terjadihingga ia jejakkan kakinya di istana al-Aziz, sebagai pemuda yang
diperjual belikan. Saat pikiran kita bergerak menuju masa itu, maka
mungkin kita akan merasakan sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang mungkin dapat
kita tunjukkan, walau kita tidak memiliki kemampuan untuk mengungkapkannya. Inilah beberapa ayat yang menjadi
penutup dari kisah tersebut:
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ
اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ مِّنْ اَهْلِ الْقُرٰىۗ اَفَلَمْ
يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ
قَبْلِهِمْۗ وَلَدَارُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ اتَّقَوْاۗ اَفَلَا
تَعْقِلُوْنَ ١٠٩ حَتّٰٓى اِذَا اسْتَيْـَٔسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ
قَدْ كُذِبُوْا جَاۤءَهُمْ نَصْرُنَاۙ فَنُجِّيَ مَنْ نَّشَاۤءُ ۗوَلَا يُرَدُّ
بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ ١١٠ لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ
عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ
تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى
وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ ١١١
"Kami tidak mengutus sebelum kamu,
melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk
negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana
kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya
kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? Sehingga
apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan
telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu
pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada
orang-orang yang berdosa. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat
pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat,
akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala
sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS.
Yusuf: 109-111)
Itu adalah isyarat yang sejalan dengan sunnatullah.
Bahwa ketika para rasul berputus asa -sebagaimana Nabi Yusuf as. yang mulai
putus asa menghadapi ujian panjang-, ia pun menampakkan isyarat untuk segera
keluar dari sesuatu yang dibenci diikuti oleh solusi yang dikehendakinya!
Isyarat seperti bisa muncul dalam hati orang beriman. Karena dalam situasi
seperti itulah dia dapat merasa hidup kembali untuk merasakan udara bebas!
Karena itulah ia menampakkan isyarat itu dari kejauhan.
Karakter yang sangat istimewa
seperti ini sesuai dengan tabiat kisah tersebut yang disampaikan secara utuh.
Dimulai dengan mimpi Nabi Yusuf as. dan berakhir dengan bukti dari tafsiran mimpi
tersebut. Sehingga ia takkan cocok bila satu atau sejumlah episode dari kisah
tersebut berada dalam satu surat, sementara sisanya pada surat yang lain. Kita
harus mengatakan sebuah kalimat singkat tentang pemaparan kisah yang sempurna
ini, bahwa surat ini juga menyingkap manhaj Al-Qur'an yang sangat istimewa.
Sesungguhnya kisah Nabi Yusuf as.
–sebagaimana terdapat dalam surat ini- menampakkan sebuah contoh yang sempurna
tentang sebuah manhaj Islam dalam aktulisasi seni pada sebuah kisah. Dimana ia
mempresentasikan contoh kisah yang sempurna untuk manhaj dalam aktualisasi jiwa,
akidah, tarbiyah dan pergerakan sekaligus dengan manhaj Qur'ani yang memiliki
tema dan implementasi yang satu. Selain bahwa kisah Yusuf as. seakan sebuah
pementasan spesial yang memaparkan manhaj ini dari sisi implementasi seni!
Petunjuk Awal pada Setiap Kisah
Tirai pementasan pertama pada
episode pertama lalu dibuka, untuk menyaksikan seorang Yusuf yang masih kecil
sedang menceritakan mimpinya kepada ayahnya:
اِذْ قَالَ
يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا
وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ ٤ قَالَ يٰبُنَيَّ لَا
تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا ۗاِنَّ
الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٥ وَكَذٰلِكَ يَجْتَبِيْكَ رَبُّكَ
وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ
وَعَلٰٓى اٰلِ يَعْقُوْبَ كَمَآ اَتَمَّهَا عَلٰٓى اَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ
اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَۗ اِنَّ رَبَّكَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ࣖ ٦
"(Ingatlah),
ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku
bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud
kepadaku." Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan
mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk
membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan
itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." Dan demikianlah Tuhanmu,
memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari
ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya kepadamu dan kepada
keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua
orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana." (QS. Yusuf: 4-6)
Ketika itu Yusuf masih kecil, dan
apa yang disaksikannya dalam mimpinya sebagaimana yang ia gambarkan kepada
ayahnya, bukanlah sebuah bunga tidur yang kerap disaksikan oleh anak kecil. Yang
paling mungkin disaksikan seorang anak kecil –ketika ia bermimpi melihat bulan,
bintang dan matahari- maka mungkin ia melihat semua itu berada dalam kamarnya,
atau berada di antara kedua tangannya.
Namun yang disaksikan oleh Yusuf
adalah melihat bulan, bintang dan matahari bersujud kepadanya, berbentuk manusia
berakal yang menundukkan kepalanya untuk sujud sebagai bentuk penghormatan.
Kalimat ini dinyatakan secara tegas dalam firman-Nya:
"(Ingatlah),
ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku
bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud
kepadaku." (QS. Yusuf: 4) ia kembali
mengulang kalimat ini:
رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِيْنَ
"Saya lihat mereka sujud
padaku."
Saat itulah ayahnya mengetahui
melalui intuisi dan mata hatinya bahwa di balik mimpi tersebut anak ini kelak
akan memiliki sebuah peran besar, walau tidak ia jelaskan secara rinci
sebagaimana kisah tersebut. dan tidak nampak isinya kecuali setelah dua
episode. Adapun kesempurnaannya, maka ia tidak menampak kecuali di akhir kisah
setelah yang gaib dan tertutupi selama itu tersingkap. Karena itu, ayahnya
menasehati agar ia tidak menceritakan mimpinya itu kepada saudara-saudaranya,
karena khawatir mereka dapat mengetahui apa yang ada di balik saudara mereka
yang masih kecil dan bukan saudara kandung itu. Sehingga syetan mendapatkan
celah untuk menghembuskan kedengkian dalam diri mereka, dan merencanakan sebuah
perkara yang dapat mencederainya. Firman-Nya:
قَالَ يَا بَنِيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى
إخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا
"Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu
ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar
(untuk membinasakan) mu."
Lalu ia menyebutkan alasan
berikut ini:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ
"Sesungguhnya syaitan itu
adalah musuh yang nyata bagi manusia." Karena syetan dapat menciptakan
kecemburuan dalam dada manusia satu di antara yang lain, dan menghiasi dosa dan
kesalahan yang mereka perbuat."
Adapun Ya'qub bin Ishaq bin
Ibrahim, maka ia telah dapat merasakan bahwa anaknya kelak akan memiliki peran
menentukan melalui mimpi yang diceritakan kepadanya. Jiwanya menuntunnya bahwa
perkara ini berada dalam tuntunan agama, kebaikan dan pengetahuan.
Sesuai dengan suasana kenabian dimana Yusuf hidup di dalamnya, dan apa yang ia
ketahui bahwa Allah Azza wa Jalla senantiasa memberkati kakeknya,
Ibrahim as. dan keturunannya. Sehingga ia menduga bahwa Yusuflah yang dipilih
dari anak-anaknya dari keturunan Ibrahim untuk menempati tempatnya dalam
keberkahan, dan melalui dirinya mata rantai keberkahan itu terus berjalan dalam
rumah Ibrahim as. Ia lalu berkata kepadanya:
"Dan demikianlah Tuhanmu,
memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari
ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya kepadamu dan kepada
keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua
orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 6)
Yang ada dalam pikiran Nabi Ya'qub as. adalah, bahwa mimpi
Yusuf menunjukkan pilihan Allah Ta'ala atas dirinya, kesempurnaan nikmat-Nya
padanya dan keluarga Ya'qub sebagaimana
Ia sempurnakan bagi kedua orang tuanya; Ibrahim dan Ishak –Kakek juga
biasa dipanggil bapak-, maka ini adalah sesuatu yang lumrah. Tapi yang menarik
perhatian di sini adalah firman-Nya:
وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ
"Dan
diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi."
Apakah yang dimaksud oleh Ya'qub adalah, bahwa Allah Azza
wa Jalla memilih Yusuf lalu mendidik dan memberinya kebenaran panca indera dan
ketepatan bashirah yang dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan
terjadi yang kelak berhenti kepadanya. Ini juga adalah ilhaam dari Allah yang
diberikan kepada orang-orang memiliki bashirah yang tajam. Dan ayat berikutnya
adalah:
إِنَّ رَبَّكَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui dan Maha
Bijaksana."
Beberapa hal yang dapat diambil dari Bahasan Sebelumnya:
1-
Adanya peringatan dan
larangan dari Nabi Ya'qub kepada putranya, Yusuf agar tidak menceritakan mimpi
tersebut kepada saudara-saudaranya, menunjukkan bahwa Ya'qub mengetahui
kerusakan moral dan prilaku pada diri saudara-saudara Yusuf. Di dalam diri
mereka ada sifat iri dan dengki yang ia khawatirkan terlampiaskan terhadap diri
Yusuf. Karena sifat itu pula mereka tidak menjadi Nabi atau Rasul. Sangat sulit
untuk mengatakan bahwa mereka adalah para Nabi sebagaimana dikatakan sebagian
riwayat. Khususnya karena mereka berada dalam
kondisi seperti itu.
2-
Pengetahun Ya'qub berupa kemuliaan Yusuf, dan melalui mimpi tersebut yang
ia rasakan bahwa kelak Yusuf akan mendapat peran besar, membuat Ya'qub gembira.
Demikian pula dengan setiap orang yang berada dalam situasi seperti itu.
Sebagaimana yang ia dapat diperoleh dari adalah bahwa kemampuan menta'wilkan
berbagai peristiwa hanya dapat dimliki oleh orang-orang yang diberi
keistimewaan dari Allah berupa pemahaman, pertolongan dan taufik dari-Nya.
3-
Pilihan dari Allah Ta'ala yang diberikan kepada hamba-Nya, dan misi
tersebtu adalah pilihan dan bukan perolehan. Berbeda dengan pengetahun
dan kepemimpinan yang keduanya adalah sesuatu yang diperoleh seorang hamba dan
taufik dari Allah Ta'ala.
Episode Kedua:
Allah Azza wa Jalla berfirman:
۞ لَقَدْ كَانَ فِيْ يُوْسُفَ
وَاِخْوَتِهٖٓ اٰيٰتٌ لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ ٧ اِذْ قَالُوْا لَيُوْسُفُ وَاَخُوْهُ
اَحَبُّ اِلٰٓى اَبِيْنَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ ۗاِنَّ اَبَانَا لَفِيْ ضَلٰلٍ
مُّبِيْنٍۙ ٨ ۨاقْتُلُوْا يُوْسُفَ اَوِ اطْرَحُوْهُ اَرْضًا يَّخْلُ لَكُمْ
وَجْهُ اَبِيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا مِنْۢ بَعْدِهٖ قَوْمًا صٰلِحِيْنَ ٩ قَالَ
قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوْا يُوْسُفَ وَاَلْقُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ
الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ ١٠ قَالُوْا
يٰٓاَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّ۫ا عَلٰى يُوْسُفَ وَاِنَّا لَهٗ لَنٰصِحُوْنَ
١١ اَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَّرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ ١٢
قَالَ اِنِّيْ لَيَحْزُنُنِيْٓ اَنْ تَذْهَبُوْا بِهٖ وَاَخَافُ اَنْ يَّأْكُلَهُ
الذِّئْبُ وَاَنْتُمْ عَنْهُ غٰفِلُوْنَ ١٣ قَالُوْا لَىِٕنْ اَكَلَهُ الذِّئْبُ
وَنَحْنُ عُصْبَةٌ اِنَّآ اِذًا لَّخٰسِرُوْنَ ١٤ فَلَمَّا ذَهَبُوْا بِهٖ
وَاَجْمَعُوْٓا اَنْ يَّجْعَلُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّۚ وَاَوْحَيْنَآ
اِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِاَمْرِهِمْ هٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ١٥ وَجَاۤءُوْٓ
اَبَاهُمْ عِشَاۤءً يَّبْكُوْنَۗ ١٦ قَالُوْا يٰٓاَبَانَآ اِنَّا ذَهَبْنَا
نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوْسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَاَكَلَهُ الذِّئْبُۚ وَمَآ
اَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَّنَا وَلَوْ كُنَّا صٰدِقِيْنَ ١٧ وَجَاۤءُوْ عَلٰى
قَمِيْصِهٖ بِدَمٍ كَذِبٍۗ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ اَنْفُسُكُمْ اَمْرًاۗ
فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗوَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ ١٨
"Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda
kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang
bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara
kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri,
padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam
kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang
tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu
hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik[24]. Seorang
diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah
dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu
hendak berbuat." Mereka berkata:
"Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf,
padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.
Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang
dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya." Berkata
Ya'qub: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan
aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari
padanya." Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala,
sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah
orang-orang yang merugi. Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat
memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia
sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan
menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat
lagi." Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil
menangis. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi
berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia
dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami,
sekalipun kami adalah orang-orang yang
benar."Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah
palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik
perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku) dan
Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu
ceritakan." (QS. Yusuf: 7-18)
Konspirasi:
Episode lain yang dapat dilihat dari saudara-saudara Yusuf
adalah adanya konspirasi yang mereka lakukan terhadap Yusuf, sebagaimana
diceritakan Al-Qur'an:
"Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan
Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.
(Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya
(Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita
(ini) adalah satu golongan (yang kuat).
Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah
Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian
ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi
orang-orang yang baik[25]. Seorang
diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah
dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu
hendak berbuat." (QS. Yusuf: 7-10)
Dalam
kisah Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tandat atas hakikat yang
sangat banyak bagi siapa saja yang menyelidiki dengan seksama ayat-ayat
tersebut, bertanya dan memperhatikannya. Pengantar dari beberapa ayat di atas
sudah cukup sebagai jaminan yang dapat menarik perhatian. Karena itu, kami
menyerupakannya dengan gerakan mengangkat tirai untuk melihat apa peristiwa dan
gerakan yang terjadi di belakangnya. Di balik tirai tersebut kami seakan
menyaksikan secara langsung sebuah episode dimana saudara-saudara Yusuf sedang
merancang tipu daya.
Apakah Anda dapat melihat bahwa Yusuf menceritakan mimpinya
kepada saudara-saudaranya sebagaimana tertulis dalam Kitab Perjanjian Lama?
Adanya kata "perlombaan" menjelaskan bahwa hal itu tidak terjadi.
Mereka hanya bercerita tentang kasih sayang dan perhatian Ya'qub terhadap Yusuf
dan saudaranya (Benyamin) yang melebihi mereka. Bila saja mereka mengetahui
tentang mimpi tersebut, niscaya mereka akan mengatakannya, bahkan lisan mereka
akan menyatakan kedengkian mereka padanya. Sementara itu, apa yang dikhawatirkan
Ya'qub atas Yusuf bila ia menceritakan mimpinya kepada saudaranya, akhirnya
terselesaikan melalui jalan yang lain. Yaitu kedengkian mereka karena ayahnya
lebih mengutamakannya daripada mereka.
Dan ini tatap harus selesai sebagai salah satu mata rantai
dari cerita besar yang bersambung dan telah didisain seperti itu, agar Yusuf
dapat sampai hingga akhir kisah tersebut. Kisah yang menceritakan situasi
kehidupannya, realitas keluarganya, kedatangannya kepada ayahnya saat ia besar,
sebagai anak paling kecil yang lebih dicintai dari yang lain, khususnya ketika
sang ayah mulai memasuki usia senja. Demikianlah yang terjadi pada diri Yusuf
dan saudara-saudaranya yang berasal dari beberapa ibu.
"Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin)
lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah
satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita berada pada kekeliruan yang
nyata." (QS. Yusuf: 8) bahwa kami adalah satu kelompok yang kuat
yang dapat membantu dan memberi manfaat, lalu mengapa ayah kita lebih
mengutamakan seorang anak kecil dan saudaranya yang masih bayi daripada
kelompok yang terdiri dari laki-laki dewasa yang dapat memberi manfaat dan
bantuan padanya?
Sifat
dengki pun bergejolak dalam dada mereka, dimana syetan dapat memasukinya dan
menjadikannya sebagai singgasananya. Sehingga sesuatu yang kecil menjadi sangat
besar di hadapan mata mereka, dan perkara besar mereka pandang rendah. Mereka
memandang enteng perbuatan buruk membuat mereka ingin melenyapkan jiwa, ruh
seorang anak kecil tanpa dosa dan tak mampu membela dirinya sendiri. Padahal
dia itu saudara mereka juga; anak dari seorang Nabi –walau mereka tidak menjadi
nabi-. Mereka mendramatisir kecintaan ayahnya kepada Yusuf yang melebihi
mereka. Karena itulah mereka berniat membunuhnya, sebuah kejahatan dan dosa
terbesar setelah syirik kepada Allah Ta'ala.
اُقْتُلُوْا يُوْسُفَ أَوِ اطْرَحُوْهُ أَرْضًا
"Bunuhlah Yusuf, atau
buanglah ia ke suatu daerah (yang tidak dikenal)" ini adalah dua rencana jahat yang sangat berdekatan. Membuangnya ke
tempat terpencil terputus dari dunia luar dan pada umumnya mengantar kepada
kematian. Mengapa demikian?
يَخْلُ لَكُمْ وُجْهُ أَبِيْكُمْ
"Supaya
perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja,"
Perhatiannya tidak tertutup oleh keberadaan Yusuf, karena mereka menginginkan
hatinya. Mereka mengira bahwa ketika Ya'qub tidak lagi melihat Yusuf, maka
hatinya pun akan sirna dari cinta kepadanya, lalu beralih kepada yang lain!
Lalu bagaimana dengan kejahatan itu? Setelah itu, kalian bisa meminta ampun
lalu memperbaiki diri dari dosa yang telah kalian lakukan:
وَتَكُوْنُوْا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِيْنَ
"Dan sesudah itu hendaklah kalian
menjadi orang-orang yang baik." Begitulah syetan merasuk
dalam hati dan jiwa manusia ketika ia marah, kehilangan kendali, kehilangan
akal sehat untuk menilai segala sesuatu dan peristiwa. Demikianlah dada mereka
bergolak sifat iri dan dendam yang ditanam syetan yang berkata kepada mereka,
"Bunuhlah ia!" taubat belakangan, memperbaiki diri atas apa yang
telah terjadi. Padahal taubat tidak seperti itu. Tapi taubat dilakukan akibat
kesalahan atau dosa seseorang karena lalai, bodoh dan tidak ingat kepada Allah
Ta'ala. Maka ketika ia ingat, ia segera menyesal dan jiwanya diliputi rasa
takut dan segera bertaubat kepada Allah Ta'ala. Adapun taubat yang telah
disiapkan sebelum melakukan kejahatan, maka itu bukan taubat untuk
menghilangkan jejak-jejak kejahatan. Tapi itu adalah cara untuk menjustifikasi
diri melakukan dosa dan kejahatan yang
diperindah syetan dalam jiwa!
Saudara-saudara Yusuf lalu berdialog dengan
ayah mereka agar dapat merenggut Yusuf yang kecil dari pelukan kedua orang tua
yang menyayanginya. Mereka berkata:
قَالُوْا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لاَ تَأْمَنَّا
عَلَى يُوْسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُوْنَ
Mereka berkata:
"Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf,
padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya." (QS. Yusuf: 11)
Seketika Ya'qub menampakkan wajah khawatir
terhadap putranya bila saudara-saudara Yusuf lalai menjaganya. Tidak terlintas
dalam benaknya sedikit pun bahwa mereka jauh buas daripada srigala. Namun
mereka berusaha menyembunyikan kebuasan hatinya dengan berkata tenang:
قَالُوْا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ
عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُوْنَ
"Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami
golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang
merugi." (QS. Yusuf: 14) Begitulah
prilaku orang-orang jahat, berusaha membuat tipu daya agar mereka sampai pada
tujuan yang mereka inginkan. Dan itulah yang mereka lakukan; menipu ayah mereka
dan mengambil Yusuf untuk merealisasikan makar yang telah mereka rancang.
Tipu daya itu pun berhasil. Mereka lalu
membawa Yusuf. Setelah bermusyawarah, Yusuf lalu dilemparkan ke dalam sumur
agar mereka dapat melepaskan diri dari
saudaranya itu. Adapun Yusuf, kini ia tinggal di dalam sumur, sendiri dalam
sepi menanti takdirnya. Tapi Allah Azza wa Jalla senantiasa bersamanya,
menenteramkan jiwanya dan menghilangkan rasa takut dari dalam jiwanya.
وَلَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَذَا وَهُمْ
لاَ يَشْعُرُوْنَ
"Kami wahyukan kepada Yusuf,
"Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini,
sedang mereka tiada ingat lagi." (QS.
Yusuf: 15) Itu berarti bahwa Yusuf akan
selamat dari sumur. Dan kelak akan memiliki kekuasaan
dimana ia akan menyampaikan perbuatan jahat yang lakukannya kepada mereka.
Alur cerita lalu berpindah kepada
saudara-saudara mereka yang merancang sandiwara untuk meyakinkan ayah mereka,
bahwa Yusuf benar-benar telah mati karena kelalaian mereka.
وَجَاءُوْا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُوْنَ !
قَالُوْا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ
وَتَرَكْنَا يُوْسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ
Kemudian mereka datang kepada
ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata: "Wahai ayah kami,
sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat
barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." (QS. Yusuf: 17) Walau mereka juga dapat merasakan bahwa apa yang
mereka katakan adalah tipu daya belaka. Mereka pun berkata, "Engkau
sekali-kali tidak percaya walau kami kami termasuk orang-orang yang
jujur."
Nabi Ya'qub as. dapat mengetahui
aroma tipu daya mereka melalui bukti-bukti yang mereka perlihatkan,
bahwa sesungguhnya Yusuf tidak dimangsa srigala, dan mereka semua adalah pendusta.
Ia berkata:
بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ
أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُوْنَ
"Sebenarnya dirimu
sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang
baik itulah (kesabaranku) dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya
terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf: 18)
Alur kisah kembali kepada Yusuf
as. yang kini berada dalam sumur, agar kita mengetahui episode terakhir pada
bagian pertama dari kisah ini. Yaitu ketika Yusuf as. keluar dari sumur, lalu
dijual dan dijadikan sebagai budak setelah ia berada di dalam rumah yang mulia;
rumah kenabian. Kondisinya pun berubah drastis secara tiba-tiba. Dari alam
kemerdekaan ke alam perbudakan. Dan keramaian kepada kesendirian, dari
kemuliaan diri kepada kehinaan. Sebuah bisnis ditengah masyarakat asing, dimana
manusia dapat merampas apa yang menjadi milik orang lain, hatta kehormatannya
sekalipun. Di tengah masyarakat seperti itu ia tidak berhak mengendalikian
dirinya sendiri. Tapi Allah Azza wa Jalla tidak membiarkannya sendiri dalam
situasi seperti itu. Ia pun menempatkannya dalam rumah seorang al-'aziz
(pembesar) Mesir, diperlakukan dengan sangat baik, dimana Al-Qur'an mulai menceritakan
alur kisah tersebut:
وَجَاۤءَتْ
سَيَّارَةٌ فَاَرْسَلُوْا وَارِدَهُمْ فَاَدْلٰى دَلْوَهٗ ۗقَالَ يٰبُشْرٰى هٰذَا
غُلٰمٌ ۗوَاَسَرُّوْهُ بِضَاعَةً ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَعْمَلُوْنَ ١٩
وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍۢ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُوْدَةٍ ۚوَكَانُوْا فِيْهِ مِنَ
الزّٰهِدِيْنَ ࣖ ٢٠ وَقَالَ الَّذِى اشْتَرٰىهُ مِنْ مِّصْرَ لِامْرَاَتِهٖٓ
اَكْرِمِيْ مَثْوٰىهُ عَسٰىٓ اَنْ يَّنْفَعَنَآ اَوْ نَتَّخِذَهٗ وَلَدًا
ۗوَكَذٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِى الْاَرْضِۖ وَلِنُعَلِّمَهٗ مِنْ تَأْوِيْلِ
الْاَحَادِيْثِۗ وَاللّٰهُ غَالِبٌ عَلٰٓى اَمْرِهٖ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ
لَا يَعْلَمُوْنَ ٢١ وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗٓ اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا
ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ٢٢ وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ هُوَ فِيْ
بَيْتِهَا عَنْ نَّفْسِهٖ وَغَلَّقَتِ الْاَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۗقَالَ
مَعَاذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْٓ اَحْسَنَ مَثْوَايَۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ
الظّٰلِمُوْنَ ٢٣ وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ
بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ
اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ ٢٤ وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ
قَمِيْصَهٗ مِنْ دُبُرٍ وَّاَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَا الْبَابِۗ قَالَتْ مَا
جَزَاۤءُ مَنْ اَرَادَ بِاَهْلِكَ سُوْۤءًا اِلَّآ اَنْ يُّسْجَنَ اَوْ عَذَابٌ
اَلِيْمٌ ٢٥ قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِيْ عَنْ نَّفْسِيْ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ
اَهْلِهَاۚ اِنْ كَانَ قَمِيْصُهٗ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ
الْكٰذِبِيْنَ ٢٦
"Kemudian datanglah kelompok
orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia
menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini seorang anak
muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham
saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf[26]. Dan orang
Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya[27]:
"Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia
bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak." Dan demikian
pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir),
dan agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi.
Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahuinya. Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan
ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan
wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk
menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata:
"Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah,
sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya
orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah
bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud
(melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari)
Tuhannya .Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan
kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. Dan
keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf
dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka
pintu.Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud
berbuat serong dengan isterimu,selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab
yang pedih?" Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku
(kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan
kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan
Yusuf termasuk orang-orang yang dusta." (QS. Yusuf: 19-26)
Allah Ta'ala berfirman:
"Kemudian datanglah kelompok
orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia
menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini seorang anak
muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (QS. Yusuf: 19)
Ketika kafilah itu berjalan pelan
dari Madyan menuju Mesir, mereka lalu mampir di sebuah tempat yang di dekatnya
terdapat sebuah sumur. Seorang dari mereka kemudian menurunkan timbanya, dan
ketika mengangkatnya kembali, dilihatnya seorang anak bergelantungan pada timba
tersebut. Atau ia melihatnya di dasar sumur atau di atas sebuah batu di dasar
sumur tersebut. Tafsiran seperti ini bisa saja muncul. Ia pun berteriak gembira
dan berkata, "Ya busyra!" Dia seakan berkata kepada kawannya
yang lain, "Bergembiralah kalian!"
Orang ini tampak tidak terkejut
saat Yusuf menggantung di tali timba atau bila ia melihatnya di dasar sumur. Tapi
ia menampakkan keterkejutan dan kegembiraannya saat menyaksikan rupa Yusuf yang
tampan dan memikat. Karena siapa pun yang melihatnya, niscaya ia tidak akan
merasakan kesedihan saat memeandangnya. Karena itu, lisannya segera berucap
gembira seraya memanggil kawan-kawannya yang lain. Andai saja yang dilihatnya
selain Yusuf, niscaya ia akan khawatir karena menemukan seorang anak kecil di
tempat yang seharusnya tidak dihuni oleh seorang pun.
وَأَسَرُّوْهُ بِضَاعَةً
"Kemudian mereka
menyembunyikan dia sebagai barang dagangan."
Bersama-kawannya,
orang itu lalu menyembunyikan Yusuf, karena khwatir mereka akan meminta bagian
dari penjualan anak tersebut sebagai orang yang turut menemukannya. Seperti
itulah cara mereka memperlakukan Yusuf; mengisyaratkan kepada kawan-kawannya
yang lain sebagai barang dagangan yang tiba kepada mereka seperti biasanya. Mungkin
hikmah di balik munculnya rasa takut itu adalah, karena mereka menganggap bahwa
anak tersebut terpisah dari kelompoknya hingga tersesat dan terjatuh ke dalam
sumur. Karena itu, bila mereka menyebarluaskan tentang temuan itu, niscaya
mereka akan dikejar oleh kaumnya. Itulah yang membuat mereka menyembunyikan
Yusuf dan mengatakannya sebagai barang dagangan milik mereka.
وَاللهُ عَلٍيْمٌ بِمَا يَعْمَلُوْنَ
"Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." Sebagai ancaman bagi para musafir tersebut bahwa Allah Azza
wa Jalla mengetahui perbuatan mereka dan kelak Ia akan menghisabnya. Karena
mereka tidak berhak mengakui sesuatu yang bukan milik mereka. Atau dhamir
(kata ganti untuk mereka) kembali kepada saudara-saudara Yusuf, dimana Allah
mengancam atas perbuatan mereka terhadap Yusuf dan ayah mereka Ya'qub as.
وَشَرَوْهُ
بِثَمَنِ بَخْسٍ
"Dan mereka menjual Yusuf dengan harga
yang murah." (QS. Yusuf: 20) Mereka lalu menjualnya dengan harga sangat murah
dibanding nilai yang harus mereka bayar karena kejahatan mereka. Harga yang
sangat sedikit itu lalu diperjelas kembali dengan kalimat, "Beberapa
dirham saja.", sesuatu yang terbatas, atau sangat sedikit. Karena
mereka memang tidang mengingkannya.
Ketidaktertarikan
para musafir itu pada ketampanan Yusuf memiliki hikmah sangat besar, karena
mereka akhirnya menjualnya kepada seorang al-'Aziz, pembesar Mesir. Adapun
yang terkait dengan al-Aziz, maka itu akan dijelaskan pada beberapa ayat
berikutnya dalam surat Yusuf. Sesuatu yang berharga bisa saja dianggap tak
bernilai oleh suatu kaum, namun kaum yang lain sangat menginginkannya karena
nilainya yang tinggi. Seorang anak atau seorang bodoh bisa saja menemukan sesuatu
yang berharga, namun karena ia tidak mengetahuinya, ia pun melemparkannya dan
ditemukan oleh seseorang yang mengetahui harga dan nilai yang dimilikinya.
"Dan orang Mesir yang
membelinya berkata kepada isterinya[28]:
"Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia
bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak." (QS. Yusuf: 21) Ada yang berkata, bahwa orang
yang membeli Yusuf adalah Qithfir, salah seorang pembesar kerajaan yang
bertanggung jawab atas logistik negeri Mesir yang juga disebut al-Aziz. Kita
tidak memiliki bukti yang kuat bahwa apakah istrinya bernama Zulaikha
atau Raa'il. Namun pelajaran yang kita ingin petik dari kisah ini tidak
didasarkan pada pengetahuan tentang nama. Karena itu, Al-Qur'an tidak
menyebutkan namanya. Sehingga sama saja bagi kita, apakah namanya benar dalam
sejarah atau tidak.
Ucapanya al-Aziz kepada istrinya,
""Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik,"
maksudnya, "Muliakanlah tempat dan kedudukannya bersama kita, semoga saja
ia bermanfaat bagi kita dan pada harta kita. Kita juga meminta bantuannya untuk
kebaikan kita. Atau kita mengangkatnya sebagai anak. Sepertinya al-Aziz tidak
dapat memiliki keturunan, lalu ia merasa adanya kebaikan pada diri Yusuf. Atau mungkin saja ia
tidak mandul, namun ia menyukai Yusuf. Lalu ia berkata, bahwa tidak masalah
bila kita mengangkatnya sebagai anak. Karena ia berfirasat adanya kebaikan pada
masa depannya.
Para ulama berkata,
"Manusia yang paling tajam firasatnya adalah al-Aziz Mesir, putri
Syuaib yang berkata, "wahai ayahku pekerjakanlah ia", dan Abu
Bakar ketika mengangkat Umar sebagai penggantinya."
وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِي اْلأَرْضِ
"Dan
demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir." Maksudnya, bahwa dengan cara seperti itu
sebagaiman yang kalian saksikan, Kami selamatkan Yusuf dari tipu daya
saudara-saudaranya. Kami lembutkan hati al-Aziz padanya, dan kami kokohkan kedudukannya
di bumi Mesir sehingga menjadi salah satu pembesar Mesir yang bertanggung jawab
atas logisitik negeri itu. Dia pula yang mengetahui mimpi raja:
وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ
"San agar
Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi." Bahwa dengan kasih sayang Kami melakukan itu
untuknya:
وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ
"Dan
Allah berkuasa atas segala urusan-Nya." Bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat
menghalangi-Nya dari perkara Yusuf, juga kepada yang lainnya. Sebelumya
saudara-saudara Yusuf ingin menyingkirkannya, namun Allah memiliki rencana lain
dan mengalahkan makar mereka:
وَمَكَرُوْا مَكْراً َوَمَكَرْنَا مَكْراً وَهُمْ
لاَ يَشْعُرُوْنَ
"Mereka
membuat tipu daya, dan Kami pun membuat tipu daya, sementara mereka tidak
mengetahui."
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ
"Tapi
sangat banyak manusia yang tidak mengetahui." Karena keindahan karya-Nya dan kelembutan-Nya. Keburukan
yang tampak jelas menimpa seseorang bisa saja mengandung kebaikan sangat
banyak. Sebagaimana dialami Yusuf as. di dalam sumur. Dan masalah ini pun
berakhir ketika Yusuf tampil sebagai tuan bagi mereka, dan apa yang mereka
lakukan dahulu menjadi sebab kesuksesan Yusuf as.
Ada yang
menafsirkan firman Allah Ta'ala:
وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِي اْلأَرْضِ
"Dan
demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir." Atau, Kami jadikan ia sebagai raja di bumi
Mesir agar ia tegakkan keadilan dan mengatur masalah-masalah manusia.
وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ
"Dan kami
ajarkan kepadanya ta'bir mimpi." Sehingga ia mengetahui kandungan Kitabullah, hukum-hukumnya serta ta'bir
mimpi. Maksudnya adalah, sebagaimana Allah selamatkan ia dari tipu daya
saudara-saudaranya, maka ia juga memperoleh kelembutan hati al-Aziz hingga menjadikannya
sebagai penguasa Mesir. Sebagaimana firman-Nya:
وَنُرِيْدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اْستُضْعِفُوْا
فِي اْلأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِيْنَ وَنُمَكِّنْ
لَهُمْ فِي اْلأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَا
كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ
"Dan Kami
hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu
dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang
mewarisi (bumi) dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan
Kam perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu
mereka khawatirkan dari mereka itu." (QS. Al-Qashash: 5) at-Tamkiin (Keteguhan)
dimuka bumi artinya adalah, menjadikan orang tersebut sebagai pemilik kekuasaan
dan ia ditegakkan di atasnya. Laksana gunung yang tidak seorang pun mampu
menggoyahkannya dari tempatnya. Dan semua itu tidak dapat ia miliki kecuali
karena kekuatan yang diberikan Allah kepadanya, pengaruh dan kekuasaan yang ia
peroleh.
Setelah itu, Allah
Ta'ala berfirman:
وَاللهُ غَالِبٌ عَلََى أَمْرِهِ ..
"Dan Allah
berkuasa atas segala urusan-Nya." Agar Ia perlihatkan kepada kita semua bahwa tidak ada
sesuatu yang aneh atas apa yang dilakukan Allah terhadap nabi Yusuf as., karena
Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada yang mampu menolak ketentuan
dan hukumnya.
Adapun kalimat (ملك) yang terdapat dalam penafsiran
para mufassirin adalah seseorang yang memiliki kekuasaan dan pengaruh, yang
sinonim dengan kata (سلطان). Karena itu dalam ayat berikut
ini disebutkan:
وَقَالَ
الْمَلِكُ ائْتُوْنِيْ بِهٖٓ اَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِيْۚ فَلَمَّا كَلَّمَهٗ قَالَ
اِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِيْنٌ اَمِيْنٌ ٥٤ قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى
خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ ٥٥ وَكَذٰلِكَ مَكَّنَّا
لِيُوْسُفَ فِى الْاَرْضِ يَتَبَوَّاُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاۤءُۗ نُصِيْبُ
بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَّشَاۤءُ وَلَا نُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦
"Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku
memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah
bercakap-cakap dengan dia, dia berkata:
"Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang
berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami". Berkata Yusuf: "Jadikanlah
aku bendaharawan negara (Mesir);sesungguhnya aku adalah orang yang pandai
menjaga, lagi berpengetahuan" Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di
negeri Mesir," (QS. Yusuf: 54-56) maka berkedudukan di muka bumi
sama dengan berkedudukan pada ayat tersebut. Hanya saja, yang ia inginkan
adalah menjadi bendaharawan Mesir, kalimatnya berpengaruh, dan memiliki
kekuatan dan kekuasaan. Yusuf juga tidak bermaksud mengucapkan kalimat ini:
"Jadikanlah saya bendaharawan negara (Mesir)." Agar
raja turun dari kekuasaannya, karena hal itu bukan sesuatu yang dikenal sebagai
permintaan terhadap raja. Juga tidak lumrah bila para raja harus permintaan
yang diajukan kepadanya. Tapi semua ini hanya karena keinginan raja yang
menghendakinya datang kepadanya untuk ia pilih bagi dirinya. Ketika raja
melihat sifat amanah pada dirinya dan kedudukan yang dimilikinya, Yusuf lalu
meminta agar diberi jabatan sebagai bendaharawan Mesir, karena ia pandai
menjaga dan berpengetahuan. Karena itulah raja mengangkatnya sebagai penanggung
jawab logistik, sehingga dengan kedudukan itu ia berwenang untuk memerintahkan
dan melarang, sampai akhirnya menjadi menteri menggantikan al-Azizi:
وَلَمَّا بَلَغَ
اَشُدَّهٗٓ اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ٢٢
"Dan ketika ia sampai pada usia
dewasa, maka Kami beri ia hikmah dan ilmu, dan demikianlah Kami beri balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik." Hikmah
yang dimaksud disini adalah hikmah kenabian. Dan demikianlah Allah memberi
balasan kebaikan bagi orang yang berbuat baik, sebagaimana yang dilakukan
terhadap Yusuf as.
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ هُوَ فِيْ بَيْتِهَا عَنْ نَّفْسِهٖ
وَغَلَّقَتِ الْاَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۗقَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ
رَبِّيْٓ اَحْسَنَ مَثْوَايَۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ ٢٣
"Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf
tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya)." Ini tidak berarti bahwa peristiwa itu terjadi pada diri Yusuf as. setelah
Allah memberinya hikmah dan pengetahuan, sebagaimana yang tampak dalam urutan
ayat tersebut. Karena sebagaimana yang telah kami sebutkan beberapa kali bahwa
tujuan Al-Qur'an tidak untuk menyebutkan peristiwa tersebut secara berurutan
sesuai kemelut yang terjadi di dalamnya, seperti dalam penulisan buku sejarah.
Tapi fungsi Al-Qur'an adalah menyampaikan hidayah yang pelajaran yang
terkandung di dalamnya. Penyebutan kisah di dalam Al-Qur'an bisa saja dimulai
dengan menyebutkan peristiwa tertentu walau ada peristiwa lain yang
mendahuluinya. Penyebutkan kisah tersebut karena lebih penting dari yang lain, atau
karena hikmah yang ada padanya.
Di sini Allah Ta'ala memperlihatkan kepada
kita kisah Yusuf pada saat masih kecil, diliputi kasih sayang ayahnya, mimpi
yang ia lihat dalam tidurnya, dan peringatan ayahnya agar tidak menceritkan
mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya agar mereka tidak membuat tipu daya
kepadanya. Kisah tersebut lalu menceritakan sifat iri dan dengki pada diri
saudara-saudara Yusuf karena cinta ayahnya yang berlebihan kepada Yusuf, dan
tipu daya yang mereka buat.
Setelah itu, mereka lalu meminta kepada
ayahnya agar membiarkan Yusuf ikut bersama mereka dalam perlombaan dan
bersenang-senang dengan mereka, lalu muncul rasa takut ayahnya atas diri Yusuf.
Kemudian diikuti oleh peristiwa dilemparkannya Yusuf ke dalam sumur dan
ditemukannya ia oleh sebagian musafir, lalu Yusuf dijual kepada seseorang di
Mesir, kemudian dianugerahkan padanya kedudukan serta diberikan hikmah dan
pengetahuan. Dan disertai dengan firman Allah Ta'ala:
…وَكَذٰلِكَ نَجْزِى
الْمُحْسِنِيْنَ ٢٢
"Dan demkianlah kami balas orang-orang
yang berbuat baik." Maksudnya, demikianlah Allah
mengganjar Yusuf dengan kebaikan sebagaimana yang Ia lakukan kepada setiap
orang yang berbuat baik.
Allah Azza wa Jalla kemudian
menjelaskan kepada kita salah satu sisi kebaikan yang dimiliki Yusuf. Firman-Nya:
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ
هُوَ فِيْ بَيْتِهَا عَنْ نَّفْسِهٖ …
"Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf
tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya)." Kisah tentanggodaan, Yusuf di penjara, lalu terbebaskannya ia tuduhan
keji, semua ini adalah jawaban dari apa yang telah Allah limpahkan kepadanya,
berupa hikmah dan pengetahuan. Itu terjadi sebelum Allah mengangkatnya sebagai
penguasa Mesir dan Raja mempercayakannya sebagai bendaharawan Mesir.
Salah satu sebab yang membuat istri al-Aziz
berani melakukan perbuatan itu, tidak lain karena Yusuf tinggal di rumah tersebut
sebagai sahaya. Membuat istri al-Aziz merasa berhak atas diri sahayanya
sebagaimana keinginan para wanita yang memiliki sahaya. Ia bahkan menduga bahwa
keinginannya akan direspon oleh Yusuf, karena kedudukannya sebagai wanita
terpandang di antara wanita lainnya yang memiliki kekayaan, popularitas, dan
kekuasaan yang ia peroleh dari suaminya, al-Aziz. Ada kemungkinan wanita itu
berusia empat puluh tahun sementara Yusuf berusia dua puluh lima tahun atau
sekitar itu. Sikap yang diperlihatkan wanita pada usia seperti itu menunjukkan dirinya
sebagai wanita sempurna, nekad, dikuasai oleh tipu dayanya, dan sangat
menginginkan bujangnya.
Pengalaman atau ujian yang dihadapi oleh
Yusuf as. bukan hanya berupa godaan wanita sebagaimana terjadi pada penggalan
kisah ini. Bahkan dalam kehidupannya di usia remaja dan puberitas seluruhnya
berada dalam suasana istana, bersama dengan wanita yang berusia tiga puluh ke
empat puluh, sangat menggoda bagi Yusuf yang hidup bersamanya, sementara wanita
itu sangat menginginkannya dan melakukan berbagai macam cara agar ia dapat
meraih keinginannya.
Namun banyaknya godaan dan rayuan itu tidak
membuat Yusuf bergeming. Bahkan jawaban tegas keluar dari mulutnya:
…مَعَاذَ
اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْٓ اَحْسَنَ مَثْوَايَۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ
٢٣
"Aku berlindung kepada Allah, sungguh
tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim
tiada akan beruntung." Jawaban tegas disertai
dengan penyebutan tentang nikmat Allah yang diberikan kepadanya, batasan-batasan
yang berlaku padanya, serta balasan bagi orang-orang yang melanggar batasan
tersebut.
وَلَقَدْ
هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ
لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا
الْمُخْلَصِيْنَ ٢٤
"Sesungguhnya wanita itu telah
bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud
(melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari)
Tuhannya." Para ahli tafsir dan hadits
terdahulu membatasi pandangan mereka terhadap realitas terakhir ini. Adapun
mereka yang mengikuti jejak kisah israiliyat, maka mereka menceritakan mithologi
sangat banyak tentang Yusuf sebagai pemuda dengan nafsu sangat kuat, namun
Allah melindunginya dengan tanda-tanda sangat banyak tapi tidak terkendalikan!
Ayahnya Ya'qub, lalu digambarkan muncul dan terlihat di atas atap sambil
meletakkan jemarinya pada mulutnya! Juga digambarkan adanya papan yang
bertuliskan di atasnya dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang melarang melakukan
perbuatan mungkar itu, namun ia tak juga dapat menahan diri. Bahkan di antara
mereka ada yang membuat cerita-cerita hasil karangan
mereka sendiri!
Adapun mayoritas ahli tafsir, maka mereka
menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan hammat bihi adalah perbuatan, dan
hamma biha adalah nafsu. Takkala ia melihat tanda Tuhannya, ia pun
meninggalkannya. Tafsiran ini dibantah oleh Syaikh Rasyid Ridha dalam tafsir
Almanar atas pendapat mayoritas ahli tafsir. Beliau berkata, "Bahwa
sesungguhnya wanita itu ingin memukulnya karena ia menolak dan enggan menuruti
kemauannya sebagai tuan di rumah tersebut. Sementara dia (Yusuf) ingin membalas
perlakuannya, tapi ia lebih memilih untuk berlari keluar pintu hingga wanita
itu mengejarnya dan menarik bajunya hingga sobek.
Adapun tafsiran tentang al-Ham
(keinginan) untuk memukul dan membalas pukulan tersebut adalah sesuatu yang
tidak ada buktinya dalam penjelasan tersebut. Dan itu hanya sekedar pendapat
yang berusaha menjauhkan Yusuf dari keinginan melakukan berbuatan itu, atau
berupa kecenderungan kepadanya pada realitas itu. Seakan ada usaha menjauhkan
dari apa yang telah ditunjukkan dalam naskh tersebut.
Adapun yang melintas dalam benak penulis sambil
menelaah kembali nash tersebut dan situasi dimana Yusuf hidup dalam waktu cukup
lama di dalam sebuah istana bersama dengan wanita yang telah dewasa, itu
sebelum ia diberi hikmah dan ilmu. Dan setelah peristiwa tersebut, ia pun
diberi keduanya.
Yang menjadi bahan telaah saya adalah firman
Allah Ta'ala:
وَلَقَدْ
هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ
"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud
(melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula)
dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya[29]." (QS. Yuusuf: 24)
Ini adalah godaan terakhir yang dilakukannya,
setelah Yusuf menolak pertama kali dan menundukkan diri. Ini adalah
penggambaran dari sebuah realitas yang jujur tentang kondisi jiwa manusia yang
shaleh dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Namun adanya hubungan
erat dengan Allah membuatnya mampu meraih kesuksesan.
Namun gaya bahasa Al-Qur'an tidak menjelaskan
secara detail perasaan manusia yang campur-baur, kontradiktif dan berusaha
untuk saling mengalahkan. Karena manhaj Al-Qur'an tidak membuat situasi seperti
itu sebagai pertunjukan yang mengambil ruang lebih banyak daripada seharusnya
dalam bingkai sebuah kisah; dan dalam bingkai kehidupan manusia yang juga
saling menyempurnakan. Maka penyebutan dua sikap pada ayat ini, antara
penolakan yang dilakukan oleh Yusuf dan pendalaman tentang adanya kelemahan
pada diri keduanya, agar saling menyempurnakan antara kejujuran, realitas dan
suasana yang tetap bersih sekaligus.
Pandangan seperti inilah yang seharusnya muncul
dalam benak kita saat menelaah nash tersebut dan coba membayangkan situasi yang
terjadi ketika itu. Ini lebih dekat pada tabiat manusia dan kepada perlindungan
kenabian. Yusuf juga adalah manusia. Sehingga cukup wajar bila pada dirinya
muncul kecenderungan tersebut pada saat-saat tertentu. Maka ketika ia
menyaksikan tanda dari Tuhannya yang muncul dalam jiwa dan hatinya, seketika
itu pula kelemahan dirinya secara tiba-tiba itu kembali kepada penolakan dan
ketidakinginan:
وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيْصَهٗ مِنْ دُبُرٍ وَّاَلْفَيَا
سَيِّدَهَا لَدَا الْبَابِۗ قَالَتْ مَا جَزَاۤءُ مَنْ اَرَادَ بِاَهْلِكَ
سُوْۤءًا اِلَّآ اَنْ يُّسْجَنَ اَوْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٢٥
"Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu (dan wanita itu menarik
baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak) dan kedua-duanya mendapati suami
wanita itu di muka pintu." Di sini terlihat kedewasaan seorang wanita secara
spontan memberi jawaban atas pertanyaan yang muncul dari pemandangan dan
situasi ganjil yang terjadi ketika itu, dimana ia menuduh pemuda
tersebut. Katanya:
قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوْءاً
"Apakah balasan bagi seseorang yang ingin berbuat keji
kepada keluargamu?" Tapi wanita yang sudah dimabuk cinta dan tetap khawatir pada diri sosok
yang dicintainya, membuatnya mengusulkan hukuman yang lebih aman:
اِلَّآ اَنْ يُّسْجَنَ اَوْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٢٥
"Kecuali baginya penjara atau hukuman yang
pedih." Namun Yusuf menyatakan yang sebenarnya
dihadapan tuduhan dusta yang ditimpakan kepadanya:
قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِيْ عَنْ نَّفْسِيْ
"Dialah yang merayuku agar menundukkan diri kepadanya." Lalu disebutkan di sini bunyi
ayat tersebut bahwa salah seorang keluarga dari wanita tersebut memberikan
kesaksiannya dalam perseteruan itu:
وَشَهِدَ
شَاهِدٌ مِّنْ اَهْلِهَاۚ اِنْ كَانَ قَمِيْصُهٗ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ
وَهُوَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ ٢٦ وَاِنْ كَانَ قَمِيْصُهٗ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ
فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ ٢٧
"...dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan
kesaksiannya: "Jika baju gamisnya
koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.
Bila baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itu dusta, dan di (Yusuf)
termasuk orang yang jujur." Ketika suaminya menyaksikan baju Yusuf koyak di
belakang, jelaslah baginya sesuai dengan persaksian tersebut bahwa istrinya
yang berusaha merayu Yusuf lalu melontarkan tuduhan palsu itu. Dari kisah ini
tampak bagi kita gambaran dari claster tertinggi di masa jahiliah sejak ribuan
tahun silam, dan kini seakan hadir kembali. Kelemahan dalam menghadapi keburukan
seksual; dan kecenderungan untuk menutupinya dari masyarakat. Ini salah satu
bagian penting dari kisah ini:
فَلَمَّا
رَاٰ قَمِيْصَهٗ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ اِنَّهٗ مِنْ كَيْدِكُنَّ ۗاِنَّ
كَيْدَكُنَّ عَظِيْمٌ ٢٨ يُوْسُفُ اَعْرِضْ عَنْ هٰذَا وَاسْتَغْفِرِيْ
لِذَنْۢبِكِۖ اِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخٰطِـِٕيْنَ ࣖ ٢٩
"Ketika ia melihat bagi
gamis (Yusuf) sobek di belakang, ia berkata, sesungguhnya (kejadian) itu adalah
diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar." (Hai) Yusuf: "Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai
isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk
orang-orang yang berbuat salah." (QS. Yusuf:
28-29)
Demikianlah sesungguhnya, bahwa "Tipu daya
daya kalian (wanita) sangat besar." Ini merupakan tanda kelicikan
dalam menghadapi situasi yang dapat mengobarkan amarah dalam jiwa. Dan berlemah
lembut saat berhadapan dengan istrinya terkait dengan perkara yang seluruhnya
mengarah kepada seksualitas. Kalimat yang yang mirip pujian dengan tidak
menghinakannya dengan mengatakan, "Sesungguhnya tipu daya kalian sangat
besar." Ini menunjukkan bahwa dia memang seorang wanita dengan segala
kesempuraan dan kemampuannya sebagai wanita yang memiliki tipu daya
sangat besar.
Ia kemudian menoleh kepada Yusuf yang bersih
dari tuduhan tersebut dengan mengatakan:
يُوْسُفُ
اَعْرِضْ عَنْ هٰذَا
"Hai Yusuf, berpalinglah dari ini[30]." Biarkanlah ini semua, jangan
menarik perhatian orang lain dan jangan ceritakan semua ini. Ini yang penting;
menjaga agar aibi ini tidak terbongkar! Sekaligus menasehati istrinya yang
meggoda bujangnya agar menundukkan diri padanya. Bahkan merobek bajunya:
وَاسْتَغْفِرِيْ
لِذَنْۢبِكِۖ اِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخٰطِـِٕيْنَ ࣖ ٢٩
"dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah
atas dosamu itu," Seperti
inilah claster aristokrat dihadapan laki-laki jelata di seluruh bentuk
jahiliyah, tidak jauh berbeda! Tirai panggung kisah itu pun diturunkan sebagai
tanda berakhirnya salah satu bagian dari kisah tersebut dan segala yang ada di
dalamnya. Susunan kalimat pada kisah tersebut menggambarkan saat-saat dengan
segala kaitannya, tanpa memunculkan untuk dorongan hewaniah yang buas, atau
tenggelam dalam lumpur seksualitas yang buruk! Dan berbagai masalah pun kembali
berjalan seperti apa adanya di dalam istana!
Tapi di dalam istana yang dikelili oleh
tembok-tembok tinggi ada pelayan, pembantu dan sanak saudara. Sehingga apa yang
terjadi di dalamnya tidak dapat ditutupi seluruhnya. Khususnya di lingkungan
aristokrat yang kaum wanitanya tidak memiliki aktivitas dan kegiatan lain
kecuali membicarakan apa yang terjadi di sekeliling mereka. Perbuatan keji itu
akhirnya menjadi buah bibir di berbagai majelis, ruang pertemuan dan
sebagainya:
۞ وَقَالَ نِسْوَةٌ فِى الْمَدِيْنَةِ امْرَاَتُ الْعَزِيْزِ
تُرَاوِدُ فَتٰىهَا عَنْ نَّفْسِهٖۚ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّاۗ اِنَّا لَنَرٰىهَا
فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٣٠
"Dan wanita-wanita di kota berkata:
"Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya),
sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam
kesesatan yang nyata." Ini adalah ucapan yang kerap
dikatakan para wanita yang tinggal di lingkungan jahiliyah saat menemukan
perkara seperti ini.
Untuk pertama kalinya kita mengetahui bahwa
wanita tersebut adalah istri al-Aziz, seorang pembesar istana, yang juga
membeli Yusuf. Sehingga berita tersebut dengan sangat cepat tersebar luas di penjuru
kota:
امْرَاَتُ الْعَزِيْزِ تُرَاوِدُ فَتٰىهَا عَنْ نَّفْسِهٖۚ
"Istri al-Aziz menggoda bujangnya agar
menundukkan diri kepadanya." Lalu menjelaskan tentang
kondisi wanita dengan bujangnya:
قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا
"Cintanya kepada bujangnya sangat
mendalam." Dan:
إِنَا لَنَرَاهَا فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ
"Sesungguhnya kami memandangnya dalam
kesesatan yang nyata."
Apa yang terjadi dalam kisah ini adalah sesuatu tidak
dapat terjadi kecuali dalam claster pertengahan, dan susunan kalimat yang
mengungkap episode perbuatan wanita nekad itu yang tahu bagaimana menghadapi
wanita yang setara dengannya, melalui tipu daya yang sama dengan tipu daya yang
mereka lakukan:
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ اَرْسَلَتْ اِلَيْهِنَّ وَاَعْتَدَتْ
لَهُنَّ مُتَّكَاً وَّاٰتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِّنْهُنَّ سِكِّيْنًا وَّقَالَتِ
اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۚ فَلَمَّا رَاَيْنَهٗٓ اَكْبَرْنَهٗ وَقَطَّعْنَ
اَيْدِيَهُنَّۖ وَقُلْنَ حَاشَ لِلّٰهِ مَا هٰذَا بَشَرًاۗ اِنْ هٰذَآ اِلَّا
مَلَكٌ كَرِيْمٌ ٣١ قَالَتْ فَذٰلِكُنَّ الَّذِيْ لُمْتُنَّنِيْ فِيْهِ ۗوَلَقَدْ
رَاوَدْتُّهٗ عَنْ نَّفْسِهٖ فَاسْتَعْصَمَ ۗوَلَىِٕنْ لَّمْ يَفْعَلْ مَآ
اٰمُرُهٗ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُوْنًا مِّنَ الصّٰغِرِيْنَ ٣٢
"Maka tatkala wanita itu
(Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka
tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk
memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya,
mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai jari) tangannya dan
berkata: "Maha sempurna Allah, ini
bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.
Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik)
kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya
(kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan
sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya,
niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang
hina." (QS. Yusuf: 31-32)
Istri al-Aziz mengadakan acara makan di
istananya. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah kaum wanita dari
kalangan kasta terpandang, yang diundang menghadiri acara makan tersebut.
Sepertinya para undangan itu menikmati makanan sambil bersandar di
bantal-bantal sebagaimana kebiasaan orang timur ketika itu. Satu persatu
wanita-wanita tersebut diberi sebuah pisau yang digunakan untuk makan –dari
kisah ini juga diketahui bahwa peradaban materialis Mesir ketika itu telah
sampai pada tingkat yang sangat jauh. Demikian pula dengan kehidupan yang
begitu mewah di dalam istana. Sebagaimana penggunaan pisau dalam jamuan makan
sejak ribuan tahun silam memiliki nilai tersendiri dalam menggambarkan
kehidupan mewah dan peradaban materi yang berkembang ketika itu.
Ketika para wanita sedang sibuk memotong atau
mengupas buah, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Yusuf:
وَّقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۚ فَلَمَّا رَاَيْنَهٗٓ اَكْبَرْنَهٗ
وَقَطَّعْنَ اَيْدِيَهُنَّۖ وَقُلْنَ حَاشَ لِلّٰهِ مَا هٰذَا بَشَرًاۗ اِنْ
هٰذَآ اِلَّا مَلَكٌ كَرِيْمٌ ٣١
"Keluarlah (nampakkanlah dirimu kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita
itu melihatnya,
mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai jari) tangannya dan
berkata:"Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak
lain hanyalah malaikat yang mulia." (QS.
Yusuf: 31) Kalimat terakhir itu adalah ungkapan mensucikan Yang Maha
Agung sebagai kekaguman terhadap ciptaan-Nya, sekaligus membuktikan masih
adanya kepercayaan terhadap agama tauhid ketika itu.
Wanita ini akhirnya melihat bahwa ia sukses
mengalahkan para wanita yang satu kasta denganya yang terkejut bukan kepalang
saat menyaksikan Yusuf. Istri al-Aziz yang merasa dirinya telah menang dan
tidak malu di hadapan para wanita yang lain, seraya membanggakan diri bahwa itu
semua seakan hasil karyanya. Ia lalu berkata:
قَالَتْ فَذٰلِكُنَّ الَّذِيْ لُمْتُنَّنِيْ فِيْهِ ۗوَلَقَدْ رَاوَدْتُّهٗ
عَنْ نَّفْسِهٖ فَاسْتَعْصَمَ
"Itulah dia orang yang kamu cela aku karena
(tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan
dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak." Walau
bujangnya menolak keinginannya saat itu, namun ia merasa dapat menaklukkannya
pada kesempatan lain.
Wanita berkata bahwa, saya pun sangat kagum
terpukau seperti kalian. Karena itu saya menggodannya namun ia menolak. Ia lalu
memperlihatkan kekuasaan dirinya atas bujangnya di hadapan wanita-wanita itu,
tanpa sedikit pun merasa bersalah dengan karakter dirinya yang tersingkap jelas
di depan mereka:
وَلَىِٕنْ لَّمْ يَفْعَلْ مَآ اٰمُرُهٗ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُوْنًا مِّنَ
الصّٰغِرِيْنَ ٣٢
"Bila ia tidak melakukan apa yang saya
perintahkan kepadanya, niscaya ia akan dipenjara dan termasuk orang-orang yang
hina."
Keterusterangan, kebanggaan, ancaman dan tipu
daya baru akan ia gunakan untuk terus menekan. Dan Yusuf hanya mendengar ucapan
tersebut di tengah kumpulan wanita-wanita itu. Mengomentari ucapan yang
dikatakan pemilik rumah, Yusuf hanya memasrahkan diri dan bermunajat kepada
Tuhannya:
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚ
"Wahai Tuhanku, penjara lebih aku
sukai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya." Yusuf tidak berkata, "Apa yang dia ajak aku kepadanya."
Karena mereka semua bersekutu dalam hal ini, apakah dengan ucapan, gerakan atau
isyarat. Namun Yusuf memohon pertolongan kepada Tuhannya agar menyingkirkan
berbagai usaha mereka untuk menjerumuskannya ke dalam jaring mereka sendiri. Karena
ia khawatir bila satu saat nanti melemah di hadapan berbagai godaan, sehingga
membuatnya terjerumus di dalamnya. Sebab itulah ia memohon kepada Tuhannya agar
menyelematkannya dari semua itu:
وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ
إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ اْلجَاهِلِيْنَ
"Dan jika tidak Engkau hindarkan dari
padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan
mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." Ini adalah permintaan seorang manusia yang mengetahui dengan baik sisi
kemanusiaannya, yang tidak oleh ketundukan dirinya, sehingga ia ingin tambahan
perlindungan dan pertolongan Allah; membantunya menghadapi fitnah, tipu daya
dan godaan mereka:
فَاسْتَجَابَ لَهٗ رَبُّهٗ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۗاِنَّهٗ هُوَ
السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ٣٤
"Maka Tuhannya memperkenankan do'a
Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui."
Nabi Yusuf as. Di dalam penjara,
Menyeru Manusia kepada Agamanya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا
رَاَوُا الْاٰيٰتِ لَيَسْجُنُنَّهٗ حَتّٰى حِيْنٍ ࣖ ٣٥ وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ
فَتَيٰنِ ۗقَالَ اَحَدُهُمَآ اِنِّيْٓ اَرٰىنِيْٓ اَعْصِرُ خَمْرًا ۚوَقَالَ
الْاٰخَرُ اِنِّيْٓ اَرٰىنِيْٓ اَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِيْ خُبْزًا تَأْكُلُ
الطَّيْرُ مِنْهُ ۗنَبِّئْنَا بِتَأْوِيْلِهٖ ۚاِنَّا نَرٰىكَ مِنَ
الْمُحْسِنِيْنَ ٣٦ قَالَ لَا يَأْتِيْكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقٰنِهٖٓ اِلَّا
نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيْلِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّأْتِيَكُمَا ۗذٰلِكُمَا مِمَّا
عَلَّمَنِيْ رَبِّيْۗ اِنِّيْ تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ
بِاللّٰهِ وَهُمْ بِالْاٰخِرَةِ هُمْ كٰفِرُوْنَۙ ٣٧ وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ
اٰبَاۤءِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ مَا كَانَ لَنَآ اَنْ
نُّشْرِكَ بِاللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ ذٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ عَلَيْنَا وَعَلَى
النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ ٣٨ يٰصَاحِبَيِ السِّجْنِ
ءَاَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ اَمِ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُۗ ٣٩ مَا
تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلَّآ اَسْمَاۤءً سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ
وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ اِنِ الْحُكْمُ
اِلَّا لِلّٰهِ ۗاَمَرَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ
الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ٤٠ يٰصَاحِبَيِ
السِّجْنِ اَمَّآ اَحَدُكُمَا فَيَسْقِيْ رَبَّهٗ خَمْرًا ۗوَاَمَّا الْاٰخَرُ
فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَّأْسِهٖ ۗ قُضِيَ الْاَمْرُ الَّذِيْ
فِيْهِ تَسْتَفْتِيٰنِۗ ٤١ وَقَالَ لِلَّذِيْ ظَنَّ اَنَّهٗ نَاجٍ مِّنْهُمَا
اذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَۖ فَاَنْسٰىهُ الشَّيْطٰنُ ذِكْرَ رَبِّهٖ فَلَبِثَ فِى
السِّجْنِ بِضْعَ سِنِيْنَ ࣖ ٤٢ وَقَالَ الْمَلِكُ اِنِّيْٓ اَرٰى سَبْعَ بَقَرٰتٍ
سِمَانٍ يَّأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَّسَبْعَ سُنْۢبُلٰتٍ خُضْرٍ وَّاُخَرَ
يٰبِسٰتٍۗ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَاُ اَفْتُوْنِيْ فِيْ رُءْيَايَ اِنْ كُنْتُمْ
لِلرُّءْيَا تَعْبُرُوْنَ ٤٣ قَالُوْٓا اَضْغَاثُ اَحْلَامٍ ۚوَمَا نَحْنُ
بِتَأْوِيْلِ الْاَحْلَامِ بِعٰلِمِيْنَ ٤٤
"Kemudian
timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa
mereka harus memenjarakannya sampai waktu tertentu[31]. Dan bersama dengan dia masuk pula
ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya:
"Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur." Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya
aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan
burung." Berikanlah kepada kami ta'birnya; sesungguhnya kami memandang
kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi). Yusuf berkata:
"Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu
melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu
sampai kepadamu. Yang demikian itu
adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari
kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan
Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para
Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah
kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak
mensyukuri (Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan
yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu
tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu
dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun
tentang nama-nama itu. Keputusan itu
hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah
selain Dia. Itulah agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." Hai kedua penghuni penjara:
"Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya
dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung
memakan sebagian dari kepalanya. Telah
diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)." Dan Yusuf
berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua:
"Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu."Maka syaitan menjadikan dia
lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia
(Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya. Raja berkata (kepada orang-orang
terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor
sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang
kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang
kering." Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku
tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi." Mereka menjawab:
"(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu
menta'birkan mimpi itu."(QS. Yusuf: 35-44)
Yusuf
akhirnya dimasukkan ke dalam penjara, walau ia bukan pelaku kajahatan. Tak lama
kemudian, dua orang pemuda juga dijebloskan ke dalam penjara. Seorang dari
mereka adalah pembuat roti raja. Dan yang kedua
bekerja menyediakan minuman raja. Beberapa hari berselang Yusuf didatangi oleh
pembuat minuman raja dan menyampaikan padanya mimpinya yang disaksikannya. Ia
melihat dirinya mengambil segantang kurma lalu memerahnya untuk minuman raja.
Pemuda yang bekerja sebagai pembuat roti juga datang kepadanya dan berkata,
"Saya melihat di atas kepalaku keranjang berisi roti, lalu burung-burung
datang dan memakan roti tersebut." Keduanya lalu meminta kepadanya agar
mentakwilkan apa yang dilihatnya dalam mimpi mereka.
Yusuf memanfaatkan kesempatan tersebut
sekaligus untuk memperkenalkan agama yang dianutnya dan menyeru mereka
kepadanya. Ia lalu berdiri menyampaikan kemampuannnya mentakwilkan mimpi, dan
bahwa tidak ada makanan yang didatangkan kepada mereka kecuali bahwa ia dapat
memberitahu jenis makanan tersebut sebelum tiba di hadapan mereka. Itulah yang
diajarkan Allah kepadanya dengan meninggalkan agama orang-orang yang tidak
beriman kepada-Nya dan hari kemudian sebagaimana yang dianut oleh kaumnya, lalu
ia mengikuti agama Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Demikianlah karunia Allah Ta'ala
kepadanya dan kepada manusia. Ia lalu bertanya kepada kedua kawannya; sesama
penghuni penjara:
يٰصَاحِبَيِ
السِّجْنِ ءَاَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ اَمِ اللّٰهُ الْوَاحِدُ
الْقَهَّارُۗ ٣٩
"Hai kedua penghuni penjara,
manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha
Esa lagi Maha Perkasa?" yang tidak
memerintahkan manusia untuk menyembah kepada selain Allah, itulah agama yang
lurus, dan karena kebodohan manusialah sehingga mereka tidak mengetahuinya.
Setelah Yusuf mendakwahi mereka dan mengajaknya kepada agama yang dianutnya, ia
pun berkata:
يٰصَاحِبَيِ السِّجْنِ
اَمَّآ اَحَدُكُمَا فَيَسْقِيْ رَبَّهٗ خَمْرًا ۗوَاَمَّا الْاٰخَرُ فَيُصْلَبُ
فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَّأْسِهٖ ۗ قُضِيَ الْاَمْرُ الَّذِيْ فِيْهِ
تَسْتَفْتِيٰنِۗ ٤١
"Hai kedua
penghuni penjara: "Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi
minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib,
lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu
berdua menanyakannya (kepadaku)."
Pada saat itu pula, Yusuf ingin
mendapatkan pembebasan dari penjara melalui salah seorang dari mereka yang ia
duga selamat dari hukuman raja. Ia pun berkata:
وَقَالَ لِلَّذِيْ ظَنَّ
اَنَّهٗ نَاجٍ مِّنْهُمَا اذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَۖ فَاَنْسٰىهُ الشَّيْطٰنُ
ذِكْرَ رَبِّهٖ فَلَبِثَ فِى السِّجْنِ بِضْعَ سِنِيْنَ ࣖ ٤٢
"Dan Yusuf berkata kepada
orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah
keadaanku kepada tuanmu." Dan mimpi
keduanya pun menjadi kenyataan.
Nabi Yusuf as. Dibebaskan
Beberapa
tahun kemudian, Allah Ta'ala ingin mempercepat proses kebebasan Yusuf dari
penjara dengan menyediakan sebab-sebab tertentu. Maka ketika raja Mesir
menyaksikan tujuh ekor sapi gemuk datang dari sungai makan di taman, ia lalu
melihat tujuh ekor sapi lainnya dengan tubuh yang jelek dan kurus muncul dari
sungai lalu memakan tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk itu. Mimpi itu membuat
Raja terbangun dari tidurnya. Saat ia idur kembali, dilihatnya tujuh bulir
gandum yang bagus-bagus dalam satu tangkai, dan melihat tujuh bulir gandum
kering dibelakangnya tertiup angin timur hingga beterbangan dan hinggap di
tujuh bulir gandum yang gemuk yang kemudian memakannya.
Mimpi
tersebut membuat Fir'aun (Raja Mesir disebut Fir'aun) terkejut dan terbangun
dari tidurnya. Ia lalu memanggil tukang sihir dan siapa pun yang memiliki
pengetahuan tentang hal tersebut. Namun ia tidak mendapatkan jawaban memuaskan
tentang mimpi itu:
قَالُوْٓا
اَضْغَاثُ اَحْلَامٍ ۚوَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيْلِ الْاَحْلَامِ بِعٰلِمِيْنَ ٤٤
Mereka menjawab: "(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong
dan kami sekali-kali tidak tahu menta'birkan mimpi itu." Pada saat itulah, pegawai yang
bekerja membuat minuman raja teringat tentang Yusuf yang dahulu bersamanya di
penjara. Ia lalu menyampaikan hal tersebut kepada raja dan menceritakan
kepadanya mimpi yang dialaminya bersama pegawai yang bekerja membuat makanan
raja. Bahwa seorang pemuda Ibrani di dalam penjara telah mentakwilkan mimpi
mereka, dan mimpi menjaadi kenyataan. Ia juga meminta agar dibawa ke penjara
untuk menanyakan takwil mimpi tersebut kepada Yusuf. Raja pun berkenan dan
mengirim orang itu ke penjara.
Ketika ia bertemu Yusuf, orang itu
pun berkata kepadanya:
يُوْسُفُ اَيُّهَا الصِّدِّيْقُ
اَفْتِنَا فِيْ سَبْعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ يَّأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَّسَبْعِ
سُنْۢبُلٰتٍ خُضْرٍ وَّاُخَرَ يٰبِسٰتٍۙ لَّعَلِّيْٓ اَرْجِعُ اِلَى النَّاسِ
لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُوْنَ ٤٦
(Setelah pelayan
itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat
dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang
gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh
bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering." Yusuf lalu menceritakan mimpi itu
kepadanya. Bahwa kelak di Mesir akan datang tujuh masa dimana bumi subur dengan
hasil panen melimpah ruah. Kemudian datang tujuh masa berikutnya dimana bumi
kering sehingga kalian hanya akan memperoleh makanan dari apa yang kalian
simpan selama tujuh masa sebelumnya. Ketika masa dimana bumi subur dan panen
melimpah ruah itu tiba, kalian harus hidup hemat dan menyimpan kelebihan
makanan di tempat penyimpanan, sehingga ketika masa sulit dan kering itu
datang, kalian dapat memanfaatkan makanan di dalam gudang penyimpanan agar
kalian tidak kelaparan hingga tibanya masa subur berikutnya.
Setelah selesai, penyedia menuman
raja lalu kembali menghadap kepada raja dan menyampaian ta'wil mimpi yang ia
dengar dari Yusuf. Betapa gembira raja Mesir sangat mendengar ta'wil tersebut
dan menganggapnya sebagai ta'wil yang sangat tepat. Raja lalu berkata,
"Bawalah Yusuf kemari!" ketika mereka hendak mengeluarkannya dari
penjara, Yusuf menolak sehingga raja mengetahui perkara yang sebenarnya. Ia
lalu meminta kepada utusan tersebut agar kembali menemui raja dan menanyakan
tentang para wanita yang dahulu memotong tangan mereka. Karena ia pasti
mengenal nama-nama mereka. Ketika wanita-wanita tersebut dihadirkan oleh raja
yang kemudian bertanya kepada mereka tentang Yusuf, mereka berkata, "Maha
Suci Allah! Kami tidak mengetahui tentang dirinya selain kebaikan." Mereka
juga mengingkari telah mendengar sesuatu tentang dirinya dan istri al-Aziz.
Bisa jadi bahwa apa yang terdapat
dalam Al-Qur'an mengenai ucapan mereka:
حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ
سُوْءٍ
"Mereka
berkata: "Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan
dari padanya". Adalah ungkapan atas apa yang mereka saksikan dan
ketahui tentang diri Yusuf bahwa ia bebas dari tuduhan keji itu. Dan mereka
(para wanita itu) datang untuk bersaksi di hadapannya sekaligus menyatakan
ketidakterlibatan Yusuf terhadap kekejian itu. Menurut penulis, ini adalah
kemungkinan yang paling tepat. Saya juga ingin berkata bahwa kedatangan para
wanita tersebut untuk bersaksi di hadapannya membuat istri al-Aziz dalam posisi
terjepit. Sehingga tak ada jalan lain baginya selain mengungkap fakta yang
sebenarnya. Akhirnya ia berkata:
اَلآنَ حَصْحَصَ اْلحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ
عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لمَِنَ الصَّادِقِيْنَ
"Sekarang
jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya
(kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar."
Kitab Taurat juga bercerita tentang kisah Yusuf yang
dipenjara dan mimpi dua pekerja raja, sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur'an.
Namun tidak disebutkan dialog antara raja dan Yusuf terkait dengan
ketidakterlibatannya dalam kasus tersebut. Para wanita yang memotong tangannya
itu juga tidak disebutkan. Demikian pula tentang perkara mereka. Namun dalam Taurat
disebutkan tentang kedudukan Yusuf as. yang kian terpandang di dalam penjara
sehingga seakan tampil sebagai pemimpin yang memiliki wewenang untuk memerintahkan
dan melarang bagi setiap tahanan di penjara tersebut.
Penulis ingin menambahkan tentang persaksian para wanita
itu bagi Yusuf yang membebaskannya dari berbagai tuduhan keji, bahwa ketika
istri al-Aziz melihat Yusuf yang ia jebloskan ke dalam penjara secara aniaya,
ternyata Allah memuliakannya, sehingga ia pun dipanggil raja untuk dijadikan
sebagai pembantunya. Adapun tuduhan yang tidak pernah dilakukan oleh Yusuf,
ternyata tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya atau petaka bagi Yusuf sedikit
pun. Akhirnya, istri al-Aziz untuk pertama kalinya mengakui kebenaran di pihak
Yusuf setelah ia lontarkan tuduhan palsu kepadanya. Dan sekian tahun lamanya ia
tetap berada di atas kebatilan itu.
Tak ada pengakuan
yang keluar dari lisan wanita ini kecuali setelah ia mengakui kekalahannya, dan
akhirnya membeberkan apa yang selama ini ia sembunyikan di hadapan suami dan
keluarganya selama sekian tahun. Ia berkata:
قَالَ مَا
خَطْبُكُنَّ اِذْ رَاوَدْتُّنَّ يُوْسُفَ عَنْ نَّفْسِهٖۗ قُلْنَ حَاشَ لِلّٰهِ
مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوْۤءٍ ۗقَالَتِ امْرَاَتُ الْعَزِيْزِ الْـٰٔنَ
حَصْحَصَ الْحَقُّۖ اَنَا۠ رَاوَدْتُّهٗ عَنْ نَّفْسِهٖ وَاِنَّهٗ لَمِنَ
الصّٰدِقِيْنَ ٥١ ذٰلِكَ لِيَعْلَمَ اَنِّيْ لَمْ اَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَاَنَّ
اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ كَيْدَ الْخَاۤىِٕنِيْنَ ۔ ٥٢ ۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ
اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ
رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٥٣
"Sekarang jelaslah kebenaran
itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan
sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar." (Yusuf berkata): "Yang demikian itu agar dia (Al Aziz)
mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya,
dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu
daya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari
kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha
Pengampun lagi Maha Penyanyang." (QS.
Yusuf: 51-53)
Adanya pengakuan tersebut -yang menunjukkan kebenaran
Yusuf dan bebasnya ia dari berbagai tuduhan dusta yang ditujukan kepadanya
secara zalim, pengakuan yang tidak pernah diduga oleh Yusuf akan keluar dari
mulut seorang istri al-Aziz yang telah menjebloskannya ke dalam penjara- saat
itulah ia tidak lagi membutuhkan berbagai alasan dan bukti tentang kebersihan
dirinya, atau membuat pernyataan bahwa ia di penjara secara zalim. Ia telah
persembahkan dirinya sebagai tebusan bagi kehormatan diri istri al-Aziz, sekaligus
sebagai korban dari tipu daya dan kejahatan yang dilakukannya.
Catatan:
Sebagian ahli tafsir menjadikan firman Allah Ta'ala, "َوَمَا
أُبَرِّئُ نَفْسِي" sebagai
ucapan nabi Yusuf as. Padahal itu salah. Karena susunan ayat dan spirit dari
tema tersebut bertentangan dengan pernyataan itu. Ini adalah ucapan istri
al-Aziz. Kalimat tersebut muncul ketika
Yusuf masih berada di dalam penjara sebelum raja berkata:
ائْتُوْنِي بِهِ اَسْتَخْلِصُهُ
لِنَفْسِي
"Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". (QS. Yusuf: 54)
Yusuf as. Di Hadapan Raja
Ketika masalah ini semakin jelas di hadapan raja
Mesir, bahwa Yusuf tidak terlibat dalam kasus yang dituduhkan kepadanya yang
membuatnya dapat keluar dari penjara dengan alasan sangat jelas dan nama yang
telah direhabilitasi, Raja lalu berkata kepada pembantunya agar Yusuf
didatangkan kepadanya. Saat itu Yusuf tidak melihat adanya alasan baginya
menolak permintaan itu. Ia pun mendatangi raja, berbicara dengannya dan
menafsirkan apa yang dilihatnya dalam tidurnya. Tafsiran Yusuf tentang mimpi
itu membuat raja takjub. Ia lalu bertanya bila Yusuf menginginkan pekerjaan
yang tepat untuknya. Ia pun menjawab:
اِجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ اْلأَرْضِ إِنيِّ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ
"Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir);
sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".
Bacalah firman Allah Ta'ala dalam surat Yusuf
berikut ini:
وَقَالَ الْمَلِكُ
ائْتُوْنِيْ بِهٖٓ اَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِيْۚ فَلَمَّا كَلَّمَهٗ قَالَ اِنَّكَ
الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِيْنٌ اَمِيْنٌ ٥٤ قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ
الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ ٥٥ وَكَذٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِى
الْاَرْضِ يَتَبَوَّاُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاۤءُۗ نُصِيْبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ
نَّشَاۤءُ وَلَا نُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦ وَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ
خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ ࣖ ٥٧
"Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku
memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan
dia, dia berkata: "Sesungguhnya
kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada
sisi kami". Berkata Yusuf:"Jadikanlah aku bendaharawan negara
(Mesir);sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi
berpengetahuan". Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di
negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di
bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat
Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih
baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa." (QS. Yusuf: 54-57)
Penggalan kisah ini juga terdapat dalam kitab Taurat.
Namun tidak disebutkan setelah ia keluar dari penjara hingga
ketidakterlibatannya dirinya pada tuduhan tersebut menjadi jelas. Bahkan
disebutkan disana bahwa pembuat minuman raja memberitahu raja bahwa Yusuf
memiliki kemampuan mentakwilkan mimpinya. Kepada mereka ia berkata, "Yang
harus dilakukan adalah menyimpan lima hasil bumi ketika masa subur. Hingga
apabila musim kering tiba, negeri ini telah memiliki persiapan untuk mengatasi
kelaparan. Karena itu, dibutuhkan seorang yang pakar dari negeri ini yang mampu
menghadapi masalah tersebut. Raja Mesir lalu berkata kepada balatentaranya, "Apakah
kita dapat menemukan seseorang yang padanya terdapat ruh Allah?"
Ia lalu menoleh kepada Yusuf dan berkata, "Setelah
Allah mengajarkan semua ini kepadamu, maka tak ada lagi yang memiliki
kecerdasan dan hikmah selain dirimu. Sekarang engkau berada di rumahku, dan
apapun yang keluar dari mulutmu akan diterima dan disambut baik oleh rakyatku. Kecuali
bahwa kedudukanku masih lebih tinggi darimu." Raja juga berkata,
"Saya memberi wewenang kepadamu untuk mengontrol dan mengendalikan seluruh
wilayah Mesir." Ia lalu melepaskan cincin yang melekat di jari tangannya
dan memasangkannya pada jari Yusuf. Raja juga mengenakan padanya kain sutera,
meletakkannya kalung emas pada lehernya serta menaikkannya di atas kendaraannya
yang kedua. Raja lalu menyeru rakyatnya yang ada dihadapannya agar segera
menghormat dan ruku kepada Yusuf, sekaligus menjadikannya sebagai penguasa
Mesir yang memiliki wewenang di mana larangan dan perintahnya harus dipatuhi.
Peristiwa itu terjadi ketika Yusuf berusia 35 tahun. Ia lalu keluar dari
penjara dan mulai berkeliling ke seluruh pelosok Mesir untuk memeriksa kondisi
rakyatnya sekaligus mempersiapkan berbabagai macam agenda dan program guna
mengatasi kelaparan yang akan melanda negerinya.
Saudara-saudara Yusuf Mencari Bahan Makanan di Mesir
Masa
tujuh tahun yang dipenuhi kebaikan; tanah subur dan hasil panen yang banyak
telah berlalu. Yusuf kini mulai menyiapkan berbagai hal untuk menghadapi tujuh
tahun berikutnya. Ia pun memenuhi gudang makanan dengan hasil panen melimpah
pada tahun-tahun sebelumnya. Tak lama kemudian musim kering dan masa paceklik
melanda di seluruh wilayah Mesir. Adapun
masyarakat Mesir, maka mereka mendatangi raja Mesir meminta makanan kepadanya.
Raja lalu mengarahkan mereka kepada Yusuf yang segera membuka gudang makanan
dan menjual logistik sesuai kebutuhan mereka.
Penduduk
Palestina juga merasakan dampak musim kering dan paceklik pada tahun-tahun itu
hingga membuat mereka kelaparan. Saat mengetahui bahwa di Mesir tersedia
kebutuhan pangan yang memadai, Nabi Ya'qub as. lalu memerintahkan anak-anaknya
berangkat kesana membawa unta dan keledai untuk membawa makanan. Setelah nabi
Ya'qub memberi uang, mereka segera berangkat untuk membeli kebutuhan pokok bagi
keluarga mereka. Saat tiba di Mesir, Yusuf segera tahu bahwa mereka itu adalah
saudara-saudaranya, walau mereka tidak mengetahuinya.
Ini
adalah sesuatu yang lumrah, karena ia telah berpisah sangat lama dengan mereka.
Ketika itu usia Yusuf sudah lebih dari 40 tahun. Apalagi karena ia mengenakan
pakaian kebesaran sebagai pembesar kerajaan, membuata mata orang-orang
tertunduk di hadapannya. Adapun saudara-saudara Yusuf, bahasa, model pakaian
dan penampilan mereka tidak berubah sejak dahulu.
Ketika
Yusuf menyiapkan makanan yang dibeli oleh saudara-saudaranya, ia berkata kepada
mereka, "Bawalah saudara dari ayah kalian kemari, dan saya akan
memperlakukan kalian seperti ini. Bila kalian tidak membawanya, maka tak ada
lagi sukatan untuk kalian dan kalian tidak perlu datang kemari." Ia
mengatakan demikian karena Yusuf tidak melihat saudaranya seibu
"Benyamin" turut bersama mereka ke Mesir. Karena itu ia mendekati
mereka perlahan-lahan, sehingga ia tahu tentang kehidupan mereka; bahwa ayahnya
tidak ingin ia berpisah dengannya. Yusuf lalu memberi mereka makanan sekaligus
mengembalikan harta pembayaran tersebut ke dalam karung milik mereka tanpa
seorang pun mengetahuinya, agar kelak mereka datang bersama saudaranya yang
paling muda.
Saudara-saudaranya
lalu berkata, "Kami akan berusaha membujuk ayahnya agar mengizinkannya
keluar bersama kami." Setelah melayani mereka dengan baik, Yusuf berkata
kepada pegawainya, "Letakkanlah harta yang mereka gunakan membeli makanan
di dalam wadah mereka, kelak mereka akan datang kembali kepada kita karena
tidak menerima apa yang bukan milik mereka. Disini Yusuf menanam saham kebaikan
agar kelak mereka kembali kepadanya.
Saudara-saudara Yusuf bersama ayah mereka
Saudara-saudara
Yusuf lalu kembali ke kampung halaman mereka dan menyampaikan kepada Nabi
Ya'qub bahwa Menteri Logistik dan Perdagangan melarang mereka membeli makanan
bila kelak mereka tidak datang kesana bersama saudara mereka, Benyamin. Ya'qub
akhirnya teringat kembali apa yang telah mereka lakukan dahulu terhadap Yusuf. Ia pun berkata kepada mereka:
هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلاَّ كَمَا أَمِنْتُكُمْ
عَلَى أَخِيْهِ مِنْ قَبْلُ
"Bagaimana aku akan mempercayakannya Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf)
kepada kamu dahulu[32].
Takkala saudara-saudara Yusuf membuka barang bawaan
mereka, di dalamnya mereka temukan perak milik mereka sebagaimana adanya. Hal
itu kian mendorong mereka untuk menyertakan saudaranya kelak ke Mesir. Mereka
berkata, "Wahai ayah kami! Sungguh tidak pantas, karena harta kami
dikembalikan! Bila engkau mengizinkan, maka kami akan berangkat kesana bersama
saudara kami, karena sesungguhnya kami akan memberi makan untuk keluarga
kami, menjaga saudara kami dan bertambah pula sukatan kami. Dan semua itu
sesuatu yang mudah bagi al-Aziz yang menginginkan saudara kami."
Situasi dan kondisi yang sangat sulit saat itu membuat
Ya'qub akhirnya merelakan putra kesayangannya berangkat bersama
saudara-saudaranya yang lain, dengan memberi syarat kepada anak-anaknya. Ia
berkata, "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama
kalian, sebelum kalian memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah,
bahwa kalian pasti membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kalian dikepung
musuh, atau kecuali bila kalian tidak dapat menghadapi perkara yang menimpa
kalian." Mereka lalu memberinya janji setia sebagaimana disyaratkan oleh
Ya'qub. Dan saat itu juga ia berkata, "Dan Allah menjadi saksi atas apa
yang kita ucapkan." Ia juga berwasiat kepada putra-putranya agar tidak
memasuki satu pintu saja saat tiba di Mesir, tapi mereka hendaknya masuk dari
beberapa pintu yang berbeda.
Para ahli tafsir berkata, "Nabi Ya'qub menyarankan
hal tersebut karena khawatir adanya kedengkian mereka terhadap Benyamin."
Dan penulis lebih cenderung berpendapat bahwa hal untuk menghindarkan
kecurigaan orang-orang terhadapnya dan membuat mereka memperbincangkan
kedatangannya atau terkait dengan tujuan kedatangan mereka. Masyarakat Mesir
bisa saja mengira mereka sebagai mata-mata atau pemimpin kelompok yang di
belakang mereka ada orang-orang yang ingin berbuat jahat terhadap negeri ini
dari kaum yang tertimpa kelaparan. Tapi bagaimanapun, keluarga Yusuf akhirnya
kembali lagi ke Mesir untuk mencari bahan makanan, sehingga tidak seorang yang
bersama ayah mereka.
Siasat Nabi
Yusuf as. Agar saudaranya, Benyamin tetap Bersamanya
Saudara-saudara Yusuf akhirnya tiba bersama saudara
paling muda, yaitu Benyamin. Yusuf lalu berkata kepada mereka, "Inikah dia
saudara kalian yang kalian bicarakan itu." Ia kemudian menyuruh
pembantunya agar mamasukkan bahan makanan dan koin perak ke dalam karung
saudara-saudaranya, dan piala (tempat minum) ke dalam karung yang paling kecil
tanpa sepengetahuan seorang pun dari mereka.
Setelah jauh berjalan, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh
teriakan pegawai Yusuf yang memanggil dan mencela mereka atas perbuatan yang
mereka lakukan, dan bahwa mereka membalas kebaikan dengan keburukan. Mereka
dituduh telah mencuri piala raja "Yusuf". mereka dengan tegas menolak
tuduhan itu dan berkata, "Barang siapa yang padanya ditemukan piala raja,
maka ia akan diambil sebagai budak. Pegawai Yusuf lalu memeriksan bawaan mereka
masing-masing yang dimulai dari saudara yang paling tua dan terakhir yang paling
muda. Mereka akhirnya menemukan piala tersebut dalam karung makanan milik
Benyamin. Mereka lalu kembali ke kota bertemu dengan Yusuf seraya meminta belas
kasih darinya. Yusuf lalu mencela perbuatan yang mereka lakukan. Namun mereka
berusaha membujuk Yusuf agar mengambil seorang dari mereka sebagai budak sebagai
ganti dari saudara mereka; Benyamin.
Namun tawaran mereka ditolak oleh Yusuf, seraya berkata,
"Yang ditemukan padanya piala tersebut, maka dia adalah sahayaku. Adapun
kalian, maka kembalilah ke negeri kalian." Dan Yusuf menolak usulan yang
mereka tawarkan. Mereka lalu menjelaskan kembali bahwa ayahnya sangat
mencintainya, dan hatinya tergantung padanya. Apalagi setelah ia kehilangan
kakaknya. Karena itu, mereka berharap agar raja membebaskan saudara mereka. Di
hadapan Yusuf mereka memelas disertai amarah dalam hati atas apa yang dilakukan
oleh Benyamin. Mereka berkata, "Bila ia mencuri, maka sesungguhnya
saudaranya dahulu juga pernah mencuri." Namun Yusuf menyembunyikan
kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu
lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
terangkan itu".
Akhirnya saudara-saudara Yusuf
putus asa untuk dapat mengambil saudaranya kembali –dengan cara barter-.
Saudara paling tua mereka bernama Roubil berkata, "Tidakkah kamu ketahui
bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan
sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf.
Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku
mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan
terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang
sebaik-baiknya". Namun ia menyarankan agar saudara-saudaranya lain tetap
kembali ke Palestina, sekaligus menyampaikan kepada ayahnya perkara yang
menimpa saudara mereka, dan bahwa ia telah dijadikan sebagai budak raja atas
pencurian yang dilakukannya. Perbuatan itu tidak hanya diketahui oleh mereka,
tetapi juga disaksikan oleh banyak orang yang ada di tempat tersebut.
Saudara-saudara Yusuf –kecuali
yang paling besar dan yang terkecil- akhirnya kembali ke Mesir dan menyampaikan
masalah yang menimpa mereka di sana. Apa yang terjadi terhadap Benyamin dan
tipu daya yang mereka lakukan dahulu terhadap Yusuf membuat Ya'qub semakin
sedih, sehingga matanya menjadi putih. Ia pun berharap dapat berjumpa dengan
Yusuf sebagaimana kebiasaannya. Ia pun berkata, "Aduhai duka citaku
terhadap Yusuf". Putra-putranya hanya dapat mencela kelakukan ayah mereka
yang ingatannya selalu saja kepada Yusuf, padahal ia telah tiada dan takkan
kembali lagi. Namun Ya'qub berkata kepada mereka agar segera kembali ke Mesir
untuk membeli makanan sekaligus mencari tahu tentang keadaan Yusuf dan
saudaranya. Ia juga memerintahkan agar tidak berputus dari rahmat Allah Ta'ala,
karena sifat itu adalah tindakan orang kafir. Mereka akhirnya berangkat
sebagaimana diperintahkan oleh ayah mereka.
Bacalah selanjutnya firman Allah
Ta'ala berikut ini dalam surat Yusuf:
فَلَمَّا
جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِيْ رَحْلِ اَخِيْهِ ثُمَّ
اَذَّنَ مُؤَذِّنٌ اَيَّتُهَا الْعِيْرُ اِنَّكُمْ لَسٰرِقُوْنَ ٧٠ قَالُوْا
وَاَقْبَلُوْا عَلَيْهِمْ مَّاذَا تَفْقِدُوْنَ ٧١ قَالُوْا نَفْقِدُ صُوَاعَ
الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاۤءَ بِهٖ حِمْلُ بَعِيْرٍ وَّاَنَا۠ بِهٖ زَعِيْمٌ ٧٢
قَالُوْا تَاللّٰهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَّا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِى الْاَرْضِ
وَمَا كُنَّا سٰرِقِيْنَ ٧٣ قَالُوْا فَمَا جَزَاۤؤُهٗٓ اِنْ كُنْتُمْ كٰذِبِيْنَ
٧٤ قَالُوْا جَزَاۤؤُهٗ مَنْ وُّجِدَ فِيْ رَحْلِهٖ فَهُوَ جَزَاۤؤُهٗ ۗ كَذٰلِكَ
نَجْزِى الظّٰلِمِيْنَ ٧٥ فَبَدَاَ بِاَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاۤءِ اَخِيْهِ
ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِّعَاۤءِ اَخِيْهِۗ كَذٰلِكَ كِدْنَا لِيُوْسُفَۗ مَا
كَانَ لِيَأْخُذَ اَخَاهُ فِيْ دِيْنِ الْمَلِكِ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ
ۗنَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَاۤءُۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ ٧٦ ۞
قَالُوْٓا اِنْ يَّسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ اَخٌ لَّهٗ مِنْ قَبْلُۚ فَاَسَرَّهَا
يُوْسُفُ فِيْ نَفْسِهٖ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْۚ قَالَ اَنْتُمْ شَرٌّ مَّكَانًا
ۚوَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا تَصِفُوْنَ ٧٧ قَالُوْا يٰٓاَيُّهَا الْعَزِيْزُ اِنَّ
لَهٗٓ اَبًا شَيْخًا كَبِيْرًا فَخُذْ اَحَدَنَا مَكَانَهٗ ۚاِنَّا نَرٰىكَ مِنَ
الْمُحْسِنِيْنَ ٧٨ قَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اَنْ نَّأْخُذَ اِلَّا مَنْ وَّجَدْنَا
مَتَاعَنَا عِنْدَهٗٓ ۙاِنَّآ اِذًا لَّظٰلِمُوْنَ ࣖ ٧٩ فَلَمَّا اسْتَيْـَٔسُوْا
مِنْهُ خَلَصُوْا نَجِيًّاۗ قَالَ كَبِيْرُهُمْ اَلَمْ تَعْلَمُوْٓا اَنَّ
اَبَاكُمْ قَدْ اَخَذَ عَلَيْكُمْ مَّوْثِقًا مِّنَ اللّٰهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا
فَرَّطْتُّمْ فِيْ يُوْسُفَ فَلَنْ اَبْرَحَ الْاَرْضَ حَتّٰى يَأْذَنَ لِيْٓ
اَبِيْٓ اَوْ يَحْكُمَ اللّٰهُ لِيْۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحٰكِمِيْنَ ٨٠ اِرْجِعُوْٓا
اِلٰٓى اَبِيْكُمْ فَقُوْلُوْا يٰٓاَبَانَآ اِنَّ ابْنَكَ سَرَقَۚ وَمَا
شَهِدْنَآ اِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حٰفِظِيْنَ ٨١
وَسْـَٔلِ الْقَرْيَةَ الَّتِيْ كُنَّا فِيْهَا وَالْعِيْرَ الَّتِيْٓ اَقْبَلْنَا
فِيْهَاۗ وَاِنَّا لَصٰدِقُوْنَ ٨٢ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ اَنْفُسُكُمْ
اَمْرًاۗ فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗعَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَنِيْ بِهِمْ جَمِيْعًاۗ
اِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ ٨٣ وَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَالَ يٰٓاَسَفٰى
عَلٰى يُوْسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنٰهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيْمٌ ٨٤ قَالُوْا
تَاللّٰهِ تَفْتَؤُا تَذْكُرُ يُوْسُفَ حَتّٰى تَكُوْنَ حَرَضًا اَوْ تَكُوْنَ
مِنَ الْهٰلِكِيْنَ ٨٥ قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى
اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٨٦ يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا
فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ
اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ
الْكٰفِرُوْنَ ٨٧
"Maka
tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan
piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang
menyerukan: "Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang
mencuri". Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu:
"Barang apakah yang hilang dari pada kamu ?" Penyeru-penyeru itu
berkata: "Kami kehilangan piala raja,
dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat)
beban unta, dan aku menjamin terhadapnya". Saudara-saudara Yusuf menjawab
"Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk
membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri". Mereka
berkata: "Tetapi apa balasannya
jikalau kamu betul-betul pendusta?" Mereka menjawa: "Balasannya,
ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia
sendirilah balasannya (tebusannya) [33]. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada
orang-orang yang zalim. Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka
sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala
raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud)
Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum
saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami
kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang
Maha Mengetahui. Mereka berkata: "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya,
telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu". Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu
pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu lebih
buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
terangkan itu". Mereka berkata:
"Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut
usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami sebagai gantinya,
sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik".
Berkata Yusuf: "Aku mohon
perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami
ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka
benar-benarlah kami orang-orang yang zalim". Maka tatkala mereka berputus
asa dari pada (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan
berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua
diantara mereka: "Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah
mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah
menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku
tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk
kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang
sebaik-baiknya". Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: "Wahai ayah
kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang
kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang
ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang
kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
benar". Ya'qub berkata: "Hanya
dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah
(kesabaranku). Mudah-mudahan Allah
mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana". Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya
berkata: "Aduhai duka citaku
terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia
adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka
berkata: "Demi Allah, senantiasa
kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk
orang-orang yang binasa". Ya'qub menjawab:
"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah akumengadukan kesusahan dan
kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada
mengetahuinya." Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita
tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa
dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS. Yusuf: 70-87)
Bila kita membandingkan situasi
ini yang terdapat di dalam Al-Qur'an dan apa yang tertulis dalam Taurat, maka
kita akan menemukan sedikit perbedaan. Di dalam Al-Qur'an kita menemukan bahwa
adanya perjanjian yang berlaku untuk seluruh anak keturunan Israil yang
sepuluh. Sementara Taurat hanya mengkhususkannya bagi Yahuda. Mungkin saja ia
sekaligus adalah pembicara dan kalimatnya adalah kalimat mereka, sebagaimana
janjinya adalah janji mereka. Al-Qur'an menyebutkan bahwa Yusuf mendatangi
saudaranya dan berkata, "Sesungguhnya saya adalah saudaramu",
sementara Taurat menyebutkan bahwa Yusuf tidak tahu saudaranya, Benyamin,
sehingga ia memberitahu mereka semua bahwa dia (Yusuf) adalah saudara mereka
setelah disebutkan kisah tentang piala itu.
Al-Qur'an juga menyebutkan ucapan
mereka, "Bila ia mencuri, maka saudaranya juga pernah mencuri",
sementara Taurat tidak menyebutkan adanya kalimat ini. Al-Qur'an juga
menyebutkan tentang kembalinya saudara-saudara Yusuf kepada ayah mereka, lalu
memberitahu padanya bahwa putranya telah mencuri lalu dijadikan budak di Mesir.
Namun Taurat tidak menyebutkan hal ini. Sehingga kita dapat mengetahui bahwa
Al-Qur'an adalah penyempurna dari kitab-kitab terdahulu.
Yusuf as. Mengenal saudara-saudaranya
Saudara-saudara Yusuf datang
dan berkata:
يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا
فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ
اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ
الْكٰفِرُوْنَ ٨٧
""Hai
Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang
membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk
kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada
orang-orang yang bersedekah". (QS.
Yusuf: 87) Yusuf lalu mengingatkan mereka prilaku jahat yang dahulu mereka
perbuat:
هَلْ
عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوْسُف وَأَخِيْهِ إذَ اَنْتُمْ جَاهِلُوْنْ
"Apakah kamu mengetahui (kejelekan)
apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak
mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?" dimana kalian memisahkan
antara mereka berdua dan membakar dada keduanya dengan api perpisahan. Mungkin
saja untuk pertama kalinya Yusuf berbicara dengan bahasa mereka, sehingga
mereka pun mengenalnya:
قَالُوْٓا ءَاِنَّكَ
لَاَنْتَ يُوْسُفُۗ قَالَ اَنَا۠ يُوْسُفُ وَهٰذَآ اَخِيْ قَدْ مَنَّ اللّٰهُ
عَلَيْنَاۗ اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ
الْمُحْسِنِيْنَ ٩٠ قَالُوْا تَاللّٰهِ لَقَدْ اٰثَرَكَ اللّٰهُ عَلَيْنَا وَاِنْ
كُنَّا لَخٰطِـِٕيْنَ ٩١ قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ
اللّٰهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ٩٢
Mereka
berkata: "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?". Yusuf menjawab: "Akulah Yusuf dan ini saudaraku.
Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami".
Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah
tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik". Mereka berkata: "Demi Allah,
sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". Dia (Yusuf) berkata:
"Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah
mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang". (QS. Yusuf: 90-92)
Ketika kafilah itu keluar
meninggalkan Mesir, jiwa Ya'qub diliputi kegembiraan karena adanya perubahan
suasana yang ia rasakan terjadi pada dirinya. Tak ada rasa putus asa. Ia bahkan
sangat yakin akan bertemu kembali dengan putranya, Yusuf, yang selama ini
membuatnya sedih karena kehilangan dirinya. Ia lalu berkata kepada orang-orang
yang ada di sekitarnya:
إِنَِي لَأَجِدُ رِيْحَ يُوْسُفَ لَوْلاَ أَنْ
تُفَنِّدُوْنَ
"Sesungguhnya aku mencium
bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan
aku)". Atau "Saya ingin katakan
kepada kalian bahwa saya pasti bertemu dengan Yusuf." Namun orang-orang
itu berkata kepadanya:
تَاللهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلاَلِكَ اْلقَدِِِِِِِِِِِِِِِِِيْم
"Demi Allah, sesungguhnya kamu masih
dalam kekeliruanmu yang dahulu" atau, "Ini adalah kesalahanmu
sejak dahulu, dimana engkau yakin bahwa Yusuf masih hidup hingga hari ini!"
Namun tak lama kemudian berita gembira itu sampai di telinga Ya'qub bahwa Yusuf
dan sudaranya, Benyamin masih hidup. Pembawa berita gembira itu lalu
melemparkan baju Yusuf di wajah Ya'qub hingga membuatnya dapat melihat
seketika. Ia pun semakin gembira dan berkata:
أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ
اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ
"Tidakkah saya pernah
berkata kepada kalian bahwa saya mengetahui sesuatu dari Allah apa yang kalian
tidak ketahui." Tentu Ya'qub
tidak mengucapkan kata-kata ini selain karena Allah telah memberitahu padanya
bahwa Yusuf masih hidup dan akan bertemu dengannya.
Ya'qub dan seluruh keluarganya
akhirnya berangkat ke Mesir. Saat tiba di sana, Ya'qub dan istrinya (bibi yang
juga ada ibu tiri Yusuf) lalu masuk menemui Yusuf. Ya'qub, istri dan seluruh
anak-anaknya yang berjunlah sebelas orang lalu sujud –sebagai penghormatan-
kepadanya. Yusuf kemudian berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku inilah
ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu
kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia
membebaskan aku dari penjara, menjadikanku sebagai bendaharawan bumi ini dimana
aku memiliki wewenang untuk memerintahkan dan melarang. Ia kemudian membawa
kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku
dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana."
Dalam suasana yang mengharukan
itu, Allah muliakan Yusuf dengan mempersatukannya kembali dengan kedua orang
tua dan saudara-saudaranya, setelah ia mempertemukannya dengan berbagai situasi
yang sulit dan berat, sehingga batu yang keras pun akan luluh bila
menghadapinya. Dimulai ketika saudara-saudaranya merancang tipu daya
terhadapnya; ia dipukul, dikeroyok, dhihinakan lalu dilemparkan ke dalam sumur
tanpa pakaian, sendiri dan tanpa seorangpun yang dapat membantunya. Walau ia
berhasil dikeluarkan dari sumur oleh sekelompok kafilah, namun mereka
menjualnya sebagai budak yang diperjual-belikan di Mesir, hingga akhirnya
dibeli seorang pembesar Mesir. Di dalam istana yang dipenuhi kemewahan itu, ia
kembali menghadapi ujian berat saat istri al-Aziz menggodanya dan merancang
siasat dan tipu daya untuk menyakitinya sebagai balasan karena penolakannya
terhadap bujukan dan rayuannya. Dan ia pun akhirnya dijebloskan ke dalam
penjara.
Semua itu ia hadapi dengan sabar
dan tetap berpegang teguh pada agama, keyakinan, kehormatan dan kemuliaan
dirinya, samil terus berdoa dan bermunajat kepada Allah hingga akhirnya ia
dikeluarkan dari penjara. Karena keahliannya, ia diangkat sebagai bendaharawan
Mesir. Saudara-saudaranya lalu datang memohon pertolongan dan harapan belas
kasih darinya sementara mereka tidak mengetahuinya. Setelah mereka tahu tentang
Yusuf, orang tuanya pun datang ke Mesir. Kedua mata ayahnya yang memutih karena
dirundung sedih atas kehilangan Yusuf dan saudaranya Bunyamin, akhirnya dapat
melihat kembali setelah pakaian putra yang dikasihinya itu di letakkan pada
wajahnya. Kedua orang tua dan saudara-saudara Yusuf lalu sujud sebagai
penghormatan kepadanya.
Semua peristiwa itu kembali
muncul dalam benak Nabi Yusuf as. Ia pun mengucap syukur kepada Allah dengan
memaklumatkan segala nikmat yang Ia curahkan kepadanya berupa ilmu dan
kekuasaan. Seraya memohon kepada-Nya agar Ia senantiasa melindunginya di dunia
dan akhirat, serta mematikannya sebagai muslim yang senantiasa taat dan patuh
kepada-Nya, dan menyatukannya bersama orang-orang shalih dari para nabi, bapak
dan kakeknya.
Allah Ta'ala berfirman:
۞ رَبِّ قَدْ
اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ
فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ
تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ١٠١
"Ya
Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan
dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi.
Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan
Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS. Yusuf:
101) atau ketika Nabi Yusuf as. menyaksikan
curahan nikmat Allah padanya dan disatukannya ia dengan kedua orang tua dan
keluarganya, ia pun tahu bahwa ia tidak akan tinggal selamanya di tempat mana
ia berada sekarang. Karena segala sesuatu yang ada di bumi akan lenyap, dan
setelah kesempurnaan itu ada kekurangan.
Ia kembali memuji Tuhannya
sebagai sesuatu yang layak bagi-Nya. Seraya mengakui kebesaran anugerah dan
keutamaan dari-Nya. Ia juga memohon kepada-Nya agar ketika Allah mencabut
ruhnya, maka ia diwafatkan dalam Islam, menyatukannya dengan hamba-hamba-Nya yang
saleh. Sebagaimana yang ia katakan dalam doanya, "Wahai Tuhanku,
hidupkanlah kami sebagai muslim dan matikanlah kami sebagai Muslim."
Bisa jadi bahwa permohonan
tersebut disampaikan Nabi Yusuf as. Menjelang kematiannya. Sebagaimana
permohonan Rasulullah saw. agar Allah mengangkat ruhnya menuju tempat yang
tinggi bersama kawan-kawan yang saleh dari kalangan Nabi dan Rasul. Beliau
bersabda, "Ya Allah! ar-rafiq al-A'laa." Tiga kali. Dan
ruhnya pun dicabut.
Ibnu Ishak menyebutkan apa yang
ada pada ahli kitab bahwa Nabi Ya'qub tinggal di Mesir bersama nabi Yusuf as.
selama 17 tahun lalu diwafatkan oleh Allah Ta'ala. Namun sebelum itu ia telah
berwasiat kepada Yusuf agar dimakamkan di gua dekat kedua orang tuanya; Ibrahim
dan Ishak.
As-Sadiy berkata, "Yusuf
lalu membawa jenazah ayahnya ke Syam dan memakamkannya di di dalam gua di
samping ayahnya Ishak dan kakeknya, Ibrahim as."
Menurut ahli kitab, usia Ya'qub
pada hari ketika ia tiba di Mesir adalah 130 tahun. Allah
Ta'ala berfirman:
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ اْلمَوْتُ إذْ قَالَ
لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ بَعْدِي قَالُوْا نَعْبُدُ إلَهَكَ وَإلَهَ آبَائِكَ
إِبْرَاهِيْمَ وَإسْمَاعِيْلَ وَإسْحَاقَ إلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ
Adakah kamu hadir ketika Ya'qub
kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa
yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan
menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu)
Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 133)
Nabi Ya'qub as. berwasiat kepada
putra-putranya agar senantiasa ikhlas dalam agama Islam yang dengannya Allah
mengutus para nabi-Nya as. Para ahli kitab menyebutkan bahwa Ya'qub berwasiat
kepada putranya satu persatu dan menyampaikan perkara mereka. Ia juga memberi
berita gembira kepada Yahudza akan
datangnya seorang Nabi agung berasal dari keturunannya yang akan dipatuhi oleh
masyarakat. Dia adalah Isa putra Maryam. Mereka (ahli kitab) juga menyebutkan
bahwa ketika Nabi Ya'qub wafat, seluruh penduduk Mesir menangisinya selama 70
hari. Yusuf lalu memerintahkan para dokter untuk memberi wewangian pada
tubuhnya, dan disitu ia berada selama 40 hari.
Yusuf lalu meminta izin kepada
raja Mesir untuk membawa ayahnya guna menguburkannya di tengah keluarganya. Ia
pun diizinkan. Ia lalu keluar bersamanya seluruh pembesar Mesir. Saat mereka
tiba di Habarun, mereka pun menguburkannya di dalam sebuah gua yang sebelumnya
telah dibeli oleh Khalilullah, Ibrahim as. Dari 'Afrun bin Shakr al-Haetsi.
Mereka lalu membuat untuknya acara berkabung selama tujuh hari. Mereka (Ahli
Kitab) berkata, "Yusuf lalu kembali ke negerinya bersama
saudara-saudaranya yang kamudian menetap di sana.
Menjelang kematiannya, Yusuf
berpesan kepada saudara-saudaranya agar kelak membawanya bila keluar dari Mesir
dan mengebumikannya di sana di sisi ayahnya. Setelah ia wafat, mereka lalu
mengawetkan jenazahnya dan menyimpannya di dalam Tabut. Dan selama itu pula ia
tetap berada di Mesir sehingga Musa as. datang dan menguburkannya di dekat
ayahnya. Nabi Yusuf as. Wafat dalam usia 110 tahun. Demikianlah sebagaimana
dikisahkan oleh Ibnu Jarir. Sementara Mubarak bin Fudhail bin al-Hasan berkata,
"Yusuf dibuang ke dalam sumur saat berusia 17 tahun, berpisah dengan
ayahnya selama 80 tahun, dan setelah itu hidup 23 tahun, dan wafat dalam usia
120 tahun.
Akhlak-akhlak yang terdapat pada
Kisah Nabi Yusuf as. Dan Saudara-saudaranya
Ini adalah kisah yang sarat
dengan pelajaran berharga bagi siapa pun yang dapat memetik akhlak-akhlak utama
sekaligus menjelaskan sifat istiqamah di atas prinsip-prinsip yang benar dan
pengaruhnya dalam jiwa. Di dalamnya terdapat pelajaran sangat dalam tentang
ilmu jiwa. Sehingga tidak terlalu berlebihan bila seorang pakar ilmu jiwa
menyusun sebuah buku besar tentang akhlak dan ilmu jiwa yang referensinya
adalah surat Yusuf, sekaligus menjadikan situasi dan suasana yang dihadapi
Yusuf pada masanya sebagai objek aplikatif.
Sebelum berbicara lebih jauh,
penulis ingin menyebutkan sebuah diskusi yang terjadi antara salah seorang
Menteri Pendidikan pada masa al-Khudaewi dahulu dengan seorang Syeikh. Menteri
tersebut menyelesaikan pendidikan Ibtidai (dasar) dan Tsanawi (menengah) di
Mesir. Kemudian berangkat ke Eropa, tepatnya ke Prancis, sehingga ia kembali ke
negerinya sebagai representasi murni dari hasil pendidikan dan pemikiran
ala Prancis.
Menteri tersebut kemudian
berkunjung ke sekolah Mu'allimin di Zaqaziq. Saat tiba di sana, ia pun masuk ke
salah satu kelas dan menemukan seorang syeikh sedang mengajarkan akhlak hingga
membuat kagum menteri itu. Setelah selesai, sang menteri lalu bertanya,
"Referensi apa yang Anda gunakan dalam mengajar?" Syeikh tersebut
menjawab, "Al-Qur'an." Menteri itu bertanya dengan nada mengejek,
"Al-Qur'an? Qur'an apakah itu? Apakah engkau mengajarkan akhlak dari ayat:
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا
"Sesungguhnya wanita itu
telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud
(melakukan pula) dengan wanita."
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ
نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ اْلأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ
"Dan wanita (Zulaikha) yang
Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya)
dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini."
Syeikh tersebut menjawab, "Wahai tuan
Menteri! Sesungguhnya surat yang tidak menarik bagi Anda ini, saya justru dapat
mengambil darinya akhlak-akhlak yang utama." Ia pun menjelaskan tentang sifat 'Iffah dan keutamaan
yang terdapat pada diri Yusuf saat ia tumbuh sebagai pemuda dewasa.
Dihadapannya terdapat berbagai godaan dan ujian. Namun itu semua tidak
membuatnya lemah. Ia bahkan kian berpegang kuat dengan prinsip-prinsip yang
dianutnya.
Disanalah Yusuf menemukan
berbagai rintangan dan kesulitan demi memperjuangkan akhlak-akhlak yang mulia
itu. Penjara dan penghinaan yang ia alami tidak mampu mengubah prinsipnya, yang
bila saja ia tunduk pada semua itu niscaya ia temukan kenikmatan, kemewahan dan
muncul sebagai manusia terpandang. Karena itu, berpegang teguh pada agama yang
dianut adalah dasar segala keutamaan. Maka ketika ia berpegang teguh pada agama
dan keyakinannya, maka semua itu membuat ia memandang rendah berbagai rintangan
dan marabahaya. Adapun kebenaran yang untuk sesaat tertutupi oleh jubah
kesesatan, pada akhirnya akan tampak kepermukaan."
Disini penulis ingin menjelaskan
beberapa hal penting, bahwa ketika seorang anak lahir dari keluarga yang baik
dan berada di lingkungan yang baik, lalu menemukan di lingkungan tersebut waktu
yang cukup untuk terus bertumbuh, maka itu akan membuatnya memiliki akhlak dan
karakter yang lebih sempurna. Mengantarkannya kepada kebaikan, sensitif
terhadap nilai-nilai luhur dan senantiasa termotivasi untuk berpegang teguh
pada keutamaan.
1)
Lihatlah Yusuf bin Ya'qub bin Ishak bin Ibrahim, disinari cahaya kenabian
yang mulia, berada di bawah naungan risalah yang agung, sehingga ia bertumbuh
dengan baik. Ayahnya yang juga tumbuh di atas jalan takwa melimpahinya dengan
kebaikan dan akhlak-akhlak kenabian yang mulia, sehingga ia pun tumbuh dengan
sangat baik. Sejak kecil jejak kebaikan sudah lekat pada dirinya dengan
kemuliaan ayah dan kakeknya. Ayahnya senantiasa mengingatkannya tentang ayah,
kakek dan leluhurnya sebagai orang-orang saleh dan manusia pilihan terbaik,
serta mengangankannya menyusul mereka dan berjalan di atas jejak langkah
mereka.
Lihat pula
ketika Yusuf menceritakan mimpinya kepada ayahnya. Apakah yang ia katakan
kepadanya:
وَكَذٰلِكَ يَجْتَبِيْكَ
رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهٗ
عَلَيْكَ وَعَلٰٓى اٰلِ يَعْقُوْبَ كَمَآ اَتَمَّهَا عَلٰٓى اَبَوَيْكَ مِنْ
قَبْلُ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَۗ اِنَّ رَبَّكَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ࣖ ٦
"Dan
demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya
kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya
kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan
ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu[34] sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana." (QS. Yusuf: 6)
Demikianlah sosok yang akhirnya
dinominasikan sebagai nabi, dipersiapkan oleh Allah Ta'ala untuk
menyebarluaskan agama-Nya:
وَاللهُ
أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
"Dan Allah Maha Tahu dimana
Ia letakkan risalah-Nya." Dan barang
siapa yang mengajarkan apa yang ia ketahui, niscaya ia akan mengetahui apa yang
tidak diketahuinya.
2)
Saat itu Yusuf telah terbiasa dengan akhlak-akhlak yang mulia karena ia
senantiasa mengamalkan apa yang diajarkan oleh ayah dan kakeknya para nabi
–shalawat Allah atas mereka semua. Akhlak mulia itu mampu menjauhkan dirinya
dari mengikuti langkah syetan. Pikiran-pikirannya bahkan berada dalam ruang
kesuksesan dan meraih redha Allah Ta'ala. Semua itu tentu bukan sesuatu yang
aneh karena Allah Ta'ala telah menambahkan untuknya ilmu pengetahuan, membuka
mata hatinya dan menjadikannya sosok manusia yang cerdas. Allah juga
mengajarkannya tafsir mimpi. Sehingga tidak seorang pun yang datang padanya
menceritakan mimpinya kecuali ia terangkan mimpi itu dihadapannya. Itu karena
ketelitiannya, kecerdasan dan pengetahuannya terhadap berbagai masalah dan
sumber-sumbernya, serta bantuan Allah untuknya. Semua itu mengharuskan adanya
kemampuan menembus area yang tak terlihat pada sesuatu, dan kecerdasan analisa
terhadap segala situasi dan kondisi sehingga membuat dugaan menjadi keyakinan.
Itulah yang disebut dengan kecerdasan.
Kecerdasan yang menyangka dirimu
dengan berbagai dugaan
Seakan ia telah melihat dan
mendengarnya
3)
Iman terhadap prinsip akan diikuti oleh berbagai ujian yang menghadangnya:
Lihatlah Yusuf as., seorang pemuda
tampan yang sedang tumbuh dewasa yang kini menyala oleh bara masa muda –sebagaimana
dikatakan banyak orang bahwa kegilaan seorang pemuda terpuaskan pada masa itu-.
Di dalam rumah itu, Yusuf memiliki kedudukan yang tinggi, kehidupan baru dan
limpahan harta kekayaan dan kemewahan, bersama seorang wanita yang keadaannya
sama seperti dirinya. Wanita itu adalah juga majikannya yang menguasai dirinya,
yang kemudian menggoda dan merayunya agar tunduk pada kemauan hawa nafsu yang menguasai
jiwanya.
Wanita itupun memanggilnya, namun
ia menolak. Memintanya agar tunduk kepadanya, namun ia berpaling. Wanita itu
lalu memaksanya untuk mendapatkan kebahagiaan darinya, namun ia tetap
membangkang. Akhirnya ia berlari menghindar, namun wanita itu mengejar dan
menarik belakang bajunya hingga sobek.
Apa yang dilakukan pemuda ini
tidak lain karena ia berpegang teguh pada prinsip kesucian jiwa dan ketakwaan.
Ia juga senantiasa hati-hati dan mawas diri jangan sampai hal tersebut menjadi
aib bagi bapak, kakek dan leluhurnya yang selama ini ia ketahui sebagai orang
yang jsuh dari segala sesuatu yang menghinakan diri mereka sendiri, atau keluar
dari perintah mereka.
Selain itu juga, ia tetap
berusaha menjaga kemuliaan majikannya yang ia muliakan yang selama ini karena
telah menganggapnya sebagai seorang anak –membalas kebaikan dengan keburukan
bukanlah kebiasaannya keluarganya-, sementara wanita ini tidak lagi mendengar
nasehat. Semua ini menunjukkan kemulian jiwa Yusuf as., ruh yang suci dan tekad
yang kuat. Itulah jiwa yang tidak mendengar
seruan kesesatan, dan tidak merespon ajakan pada kebodohan dan kehinaan.
Seperti itulah akhlak orang-orang yang memiliki tekad yang bersinar dengan
bashirah. Orang-orang mukmin yang memiliki iman yang hak dan meyakini prinsip
yang dianutnya.
4)
Senantiasa bersandar kepada Allah ketika ujian menghadang:
Nabi Yusuf as.
senantiasa bersandar dan berpasrah diri kepada Allah Ta'ala saat berada dalam
tekanan dan situasi yang sulit. Ketika kaum wanita Mesir menyaksikan keelokan
wajahnya, mereka justru berdecak kagum. Setelah mereka mereka sendiri
menghinakan istri al-Aziz sebagai wanita yang tidak punya malu, mereka akhirnya
malu sendiri, dan bahkan berusaha merayu Yusuf agat tunduk kepada majikannya
dan kepada mereka. Istri al-Aziz akhirnya mengancamnya dengan mengatakan:
لَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرَهُ لَيَسْجُنَنَّ
وَلِيَكُوْنَنَّ مِنَ الصَّاغِرِيْنَ
"Bila ia tidak melakukan apa
yang saya perintahkan kepadanya, niscaya ia akan dijebloskan ke dalam penjara
dan termasuk orang yang hina." Yusuf
pun menyandarkan diri kepada Tuhannya seraya memohon pertolongan karena
perasaan takut yang menderanya:
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ
اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ
كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ ٣٣
Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih
aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku
tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka)
dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS. Yusuf: 33)
Allah Azza wa Jalla
memberi jalan keluar untuknya dan menyingkirkan godaan dan tipu daya mereka
karena perbuata keji yang ingin mereka lakukan; ketika Allah menjauhkan Yusuf
dari mereka dengan dijebloskannya ia ke dalam penjara maka itu jauh lebih mudah
bagi Yusuf untuk menghadapinya. Seperti itulah rintihan dan permohonan Yusuf
kepada Allah tanpa tekanan sedikit pun.
5)
Kecintaan Yusuf kepada Agamanya dan Dakwah kepada Manusia:
Dengan
prinsip-prinsip kebenaran iman yang diyakininya dan bergejolak dalam jiwanya,
maka setiap orang beriman takkan membiarkan waktu berlalu tanpa menyeru manusia
untuk bergabung dengan prinsip yang diyakininya dan menyampaikan berita gembira
dengan keyakinan tersebut. Demikianlah yang dilakukan Yusuf dengan memanfaatkan
kesempatan menyeru dua orang pegawai raja yang meminta padanya agar menafsirkan
mimpinya. Ia pun mengajak keduanya untuk masuk ke dalam agama yang dianutnya
setelah ia singkap kemampuannya dengan mentakwilkan mimpi mereka. Andai saja
mimpi itu tentang makanan yang akan diberikan kepada mereka, niscaya ia akan
menjelaskannya sebelum makanan itu tiba di hadapan mereka.
Tidaklah seseorang menghinakan diri karena
pujiaannya pada dirinya sendiri
Bila tidak
pada ucapannya ada dusta
Yusuf lalu menjelaskan kepada
keduanya tentang ajaran Tuhannya dan menghindarnya ia dari agama orang-orang
yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Ia juga berkata sebagai
pengikut agama Ibrahim, Ishak dan Ya'qub, lalu menyampaikan keburukan yang terjadi
pada penduduk Mesir yang menyekutukan Allah dan memperbanyak tuhan-tuhan. Agama
yang ia anut adalah agama tauhid sebagai agama yang lurus, tapi kebanyakan
manusia lalai daripadanya.
Allah Azza wa
Jalla berfirman:
قَالَ لَا يَأْتِيْكُمَا
طَعَامٌ تُرْزَقٰنِهٖٓ اِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيْلِهٖ قَبْلَ اَنْ
يَّأْتِيَكُمَا ۗذٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِيْ رَبِّيْۗ اِنِّيْ تَرَكْتُ مِلَّةَ
قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَهُمْ بِالْاٰخِرَةِ هُمْ كٰفِرُوْنَۙ ٣٧
وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ اٰبَاۤءِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ مَا
كَانَ لَنَآ اَنْ نُّشْرِكَ بِاللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ ذٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ
عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ ٣٨
يٰصَاحِبَيِ السِّجْنِ ءَاَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ اَمِ اللّٰهُ
الْوَاحِدُ الْقَهَّارُۗ ٣٩ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلَّآ اَسْمَاۤءً
سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ
سُلْطٰنٍۗ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗاَمَرَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ
اِيَّاهُ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا
يَعْلَمُوْنَ ٤٠
"Yusuf berkata: "Tidak
disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan
aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai
kepadamu. Yang demikian itu adalah
sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah
meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka
ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim,
Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu
apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami
dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri
(Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang
bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak
menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan
nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun
tentang nama-nama itu. Keputusan itu
hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah
selain Dia. Itulah agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS.
Yusuf: 37-40)
Maka sudah sewajarnya bila setiap Muslim di antara kalian
untuk memanfaatkan waktu dan kesempatannya sebaik mungkin dengan menyampaikan
nasehat, peringatan dan bimbingan kepada manusia.
6)
Keteguhan
Nabi Yusuf dan Penjagaannya pada Kemuliaan dan Kehormatan Dirinya:
Ketika seseorang dijebloskan ke dalam penjara sebagai
orang yang teraniaya atau pun tidak, lalu menerima berita agar dikeluarkan dari
Takkala raja melakukan investigasi, jelaslah baginya
bahwa Yusuf sama sekali tidak bersalah. Ia pun akhirnya rela keluar dari
penjara dengan kepala tegak dan catatan pribadi yang bersih dari kesalahan.
Keagungan dan sifat-sifat mulia leluhurnya memberi pengarus kuat pada dirinya
untuk menghindar dari segala sesuatu yang mencederai kemuliaannya atau
mengotori dirinya. Karena ia tahu bahwa jiwa manusia lebih mulia daripada
segala sesuatu, maka ia lebih mengutamakannya dan sangat mencintai dirinya.
Sebagian ulama berkata, "Sesungguhnya manusia
tidak mencintai kawannya kecuali karena ia menemukan kenikmatan pada dirinya
saat bergaul dengannya. Merasa tenang terhadap mereka, dan ia temukan
kesenangan saat bergaul dan mendekat dengan mereka. Maka mencintai seorang
kekasih adalah pengaruh dari kecintaannya pada dirinya sendiri. Ketika jiwa
manusia baginya berada pada kedudukan tersebut dari cinta dan penghargaan, maka
tidak aneh bila kecintaannya terhadap dirinya mengajaknya –bila ia termasuk orang
mulia- untuk membersihkan dan mensucikan jiwanya dari berbagai jenis kotoran,
dan bersungguh-sungguh agar lembaran hidupnya memancarkan cahaya kemilau yang
tidak ditutupi oleh kekurangan dan kehinaan."
Demikian yang terjadi pada diri Yusuf as., dan itu
pula yang membuatnya tidak serta merta meninggalkan penjara sehingga menjadi
jelas baginya kemuliaan dirinya, dan kabut yang menutupi lembaran perjalanan
hidupnya sirna tertiup angin, hingga ketika semuanya menjadi jelas. Ia pun keluar dari penjara bagaikan pedang mengkilat yang
keluar dari sarungnya.
7)
Sifat Sabar:
Sifat sabar
sangat lekat dalam diri Yusuf as., sebagai sifat paling mulia dan utama pada dirinya.
Al-Qur'an menyebutkan lebih dari 70 kali dimana Allah meletakkan sebagian besar
kebaikan dan derajat yang tinggi ketika seseorang memiliki sifat sabar pada
dirinya, serta memberikan pelakunya ganjaran tak terbatas. Tapi menjadikannya bergantung
dengan kemuliaan-Nya Yang Maha Luas. Keberadaannya yang sempurna pada diri
seseorang membuatnya memperolah balasan Allah tanpa ukuran dan standar
tertentu. Walau Ia menentukan balasan dan ganjaran yang jelas pada setiap
kelebihan.
Bacalah firman
Allah Ta'ala berikut ini:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لَمَّا
صَبَرُوْاۗ وَكَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ ٢٤
"Dan Kami jadikan di antara mereka
sebagai pemimpin yang mendapatkan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka
bersabar." (QS. As-Sajadah:
24)
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنٰى عَلٰى بَنِيْٓ
اِسْرَاۤءِيْلَۙ بِمَا صَبَرُوْاۗ
"Dan telah
sempurna kalimat Tuhanmu yang baik (sebagai janji) atas bani Israil disebabkan
kesabaran mereka!" (QS.
Al-A'raaf: 137)
اصْبِرُوْا
وَصَابِرُوْا
"Bersabarlah kalian dan kuatkanlah
kesabaran kalian." (QS. Ali Imran: 200)
وَإنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَإنَّ
ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُوْرِ
"Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya
yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.." (QS. Ali Imran: 186)
وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ
"Dan
gembirakanlah orang-orang yang bersabar!" (QS. Al-Baqarah: 155)
Rasulullah
saw. Juga bersabda:
اَلصَّبْرُ نِصْفُ اْلإيْمَانِ
"Bersabar
adalah sebagian dari iman." Rasulullah
saw. pernah ditanya tentang iman. Belia menjawab:
الصَّبْرُ وَالسَّمَاحَةُ
"Kesabaran
dan toleransi."
Sabar adalah menahan diri atas
apa yang dibenci oleh jiwa. Kesabaran merupakan kelebihan manusia yang
membedakannya dari binatang. Setiap binatang tidak mampu mengendalikan hawa
nafsunya. Seperti makan dan sebagainya. Ia juga tidak dapat melihat akibat dari
pelampiasannya. Tapi ia hanya ingin melampiaskan syahwatnya yang ada saat itu,
dan tidak mampu menahan diri untuk tidak
melakukannya.
Sifat Sabar memiliki beberapa
macam nama berbeda selain sabar itu sendiri. Bila ia bersabar dari syahwat
perut, maka disebut 'Iffah (kesucian diri). Bila bersabar menghadapi
sesuatu yang idbenci, misalnya tertimpa musibah, maka itu disebut dengan shabran,
yang lawannya adalah al-jaza' (kecemasan) dan al-hala' (kegelisahan
dan keluh kesah). Bila ia bersabar terhadap ujian kekayaan disertai sifat
syukur, maka itu disebut dengan dhabt an-nafsu (Pengendalian Jiwa),
lawannya adalah al-bathar (mengingkari nikmat dan sombong). Bila ia
bersabar saat berada di medan perang menghadapi musuh, maka itu disebut dengan asy-Syaja'ah
(keberanian), dan lawannya adalah al-Jubn (Penakut). Bila bersabar
menahan amarah disebut dengan al-hilm (sifat santun), dan lawannya
adalah tadzakkur (selalu ingat). Bila bersabar dari rasa gelisah
menghadapi situasi yang terjadi, maka itu disebut dengan sa'ah ash-Shadr
(kelapangan dada), dan lawannya adalah adh-dhajar (kegelisahan) dan dhiq
ash-Shadr (kesempitan dada). Bila
bersabar dengan menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang bila dikatakan
dapat menyakiti orang lain, maka disebut dengan kitmaan as-Sirr (menjaga
rahasia). Bila bersabar atas ketetapan Allah dengan rizki yang sedikit, maka
itu disebut Qana'ah (merasa cukup). Bila bersabar dari kelebihan rizki
yang Allah curahkan padanya dan hanya merasa cukup dengan yang sedikit, maka
itu disebut zuhud.
Bacalah firman Allah berikut ini
yang menyatukan berbagai jenis kesabaran di dalamnya:
وَالصّٰبِرِيْنَ فِى
الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ
صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ١٧٧
"Dan orang-orang yang sabar
dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 177)
Nabi Yusuf as. Memperlihatkan banyak contoh tentang kesabaran
kepada manusia:
1)
Kesabarannya menghadapi
gangguan saudara-saudaranya; pakaiannya dilucuti, dipukul, ditampar lalu
dibuang ke dalam sumur agar ia temui kematiannya.
2)
Kesabarannya bahkan lebih
besar dari itu ketika mereka menganggapnya sebagai anak yang jahat. Kafilah
lalu menemukannya kemudian menjualnya sebagai budak dengan harga yang murah. Firman Allah:
وَشَرَوْهُ
بِثَمَنٍۢ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُوْدَةٍ ۚوَكَانُوْا فِيْهِ مِنَ الزّٰهِدِيْنَ ࣖ
٢٠
"Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu
beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada
Yusuf." (QS. Yusuf: 20)
3)
Kesabarannya atas nikmat yang Allah curahkan padanya dan ia menyertainya
dengan syukur. Ia kemudian sifat angkuh saat menetap di rumah tuannya dan
memiliki wewenang memerintahkan dan melarang. Limpahan harta dan kemewahan di
rumah tuannya tidak disalahgunakan dengan cara yang tidak benar untuk memuaskan
hawa nafsunya. Tapi ia menyertai seluruh nikmat Allah itu dengan syukur
kepada-Nya dan berterima kasih kepada tuannya. Ia menjaga kekayaan itu dan
tidak mengambilnya kecuali sesuai dengan kebutuhannya. Maka ia sesungguhnya
bersifat qana'ah.
4)
Bersabar mengendalikan hawa nafsunya ketika dihadapannya terbentang
berbagai godaan yang mengelilinginya dari berbagai penjuru. Wanita yang
memintanya menundukkan diri padanya adalah majikannya yang selama ini memenuhi
kebutuhannya di rumah itu. Bukan itu saja, majikannya juga cantik, menarik dan
sangat menginginkannya. Sementara Yusuf tumbuh sebagai pemuda tampan dengan
daya tarik sebagai seorang lelaki.
Bila saja ia penuhi kenginannya,
maka itu adalah kesempatan baginya melampiaskan hawa nafsu dan ajakan naluri
kelelakiannya yang menjadi harapan, penantian dan cita-cita seorang pemuda.
Namun tak ada yang mampu mengeluarkannya dari semua godaan itu selain karena
sifat 'iffah yang bermahkotakan kesabaran dari melawan hawa nafsunya.
Ia berhasil menjatuhkan tarikan hawa nafsu
dan menyingkirkannya demi agama, kemuliaan jiwa, perlindungan dan kesetiaan.
Dan tentara Allah pun berhasil meraih kemenangan atas pasukan syetan:
5)
Ia dapatkan ujian dan kesulitan saat dijebloskan ke dalam penjara, namun ia
bersabar dengan jiwa yang lapang.
6)
Ia lalu keluar dari penjara dan Allah meneguhkan eksistensinya di muka
bumi, serta menjadikannya sebagai bendaharawan Mesir. Ia pun tampil sebagai
sosok yang dipercaya. Saudara-saudaranya lalu datang kepadanya meminta bantuan
makanan. Padahal merekalah dahulu yang menyakitinya dan membuangnya ke dalam
sumur. Namun ia tidak dendam atau membalas kajahatan tersebut, ia hanya
bersabar dan memberi maaf untuk mereka. Saat mereka berkata kepadanya,
"Apakah engkau Yusuf?" Ia menjawab, "Saya adalah Yusuf, dan ini
sudaraku yang telah melimpahkan kepada kami nikmat-Nya. Karena siapa pun yang
bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala kebaikan bagi
orang-orang yang berbuat baik." Mereka pun menyesal dan mengakui kesalahan
mereka dahulu, seraya berkata:
قَالُوْا
تَاللّٰهِ لَقَدْ اٰثَرَكَ اللّٰهُ عَلَيْنَا وَاِنْ كُنَّا لَخٰطِـِٕيْنَ ٩١
Mereka berkata:
"Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami,
dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".(QS. Yusuf: 91) ia pun memberi maaf atas kejahatan mereka. Ia berkata:
قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ
اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ٩٢
Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap
kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni
(kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang". (QS. Yusuf: 92)
Ini adalah sebagian kecil dari episode kebaikan dan
kemuliaan yang ditunjukkan oleh Yusuf as., sebagai seorang lelaki dengan sifat
yang agung. Karena itu, ia menjadi tauladan yang luhur karena kesucian akhlak
dan kebijaksanaannya:
يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ
اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٢٦٩
"Allah menganugerahkan al
hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah
dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang
dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (QS. Al-Baqarah: 269)
Keutamaan
Syukur
Pada diri Nabi Yusuf as. Melekat sifat syukur sebagai
salah satu akhlak rububiyah. Sebagaimana firman-Nya:
وَاللهُ شَكُوْرٌ حَلِيْمٌ
" Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun."
Syukur adalah mengetahui dengan baik nikmat yang
diperoleh dari pemberi nikmat, disertai perasaan gembira, lalu menunaikan
maksud dan tujuan Sang Pemberi dengan melakukan perbuatan yang dicintai-Nya. Ini adalah prilaku dan akhlak agung dan terpuji di tengah
manusia.
Bacalah firman Allah Ta'ala berikut ini yang menceritakan
tentang Iblis:
قَالَ فَبِمَآ
اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ١٦ ثُمَّ
لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ
اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ ١٧
Iblis menjawab: "Karena
Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka,
dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan
mereka bersyukur (ta'at)." (QS.
Al-A'raaf: 16-17) walau ini adalah ucapan Iblis, namun Allah Ta'ala
membenarkannya. Sebagaimana firman-Nya:
وَقَلِيْلٌ مِّنْ
عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ ١٣
"Dan sangat sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur."
(QS. Saba': 13) padahal Allah Ta'ala memerintahkan agar hamba-Nya
senantiasa bersyukur kepada-Nya:
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ ١٥٢
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat
(pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari
(ni'mat)-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152)
مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ
بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰمَنْتُمْۗ وَكَانَ اللّٰهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا
۔ ١٤٧
"Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan
beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri[35] lagi Maha
Mengetahui." (QS. An-Nisaa: 147)
Allah Azza wa Jalla memberi pengecualian dalam
lima hal yang tidak Ia kecualikan pada sifat syukur. Pengecualian itu adalah
pada: kekayaan, jawaban atas doa yang dipanjatkan, rizki yang diberikan, dalam
ampunan dan taubat. Simaklah firman-Nya berikut ini:
فَسَوْفَ يُغْنِيْكُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖٓ اِنْ شَاۤءَۗ
" maka
Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia
menghendaki." (QS. At-Taubah: 28)
فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُوْنَ اِلَيْهِ اِنْ شَاۤءَ
"Maka
Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdo'a kepadaNya, jika Dia
menghendaki," (QS. Al-An'am: 41)
وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ٢١٢
" Dan
Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS.
Al-Baqarah: 212)
وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ
" dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisaa: 48)
وَيَتُوْبُ اللّٰهُ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُۗ
" Dan
Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya." (QS.
At-Tubah: 15) Adapun tentang Syukur, Allah Ta'ala berfirman:
لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(ni'mat) kepadamu," (QS.
Ibrahim: 7) dan tidak ada pengecualian pada ayat ini, bahwa Allah
mengharuskan setiap hamba-Nya untuk bersyukur kepada-Nya.
Lihatlah pula bagaimana Yusuf as. menyatakan rasa
syukurnya atas nikmat Allah yang dicurahkan kepadanya dan keluarganya. Ketika
kedua orang tuanya datang ke Mesir, ia pun mendudukkannya di atas
singgasananya. Kedua orang tua dan saudara-saudaranya lalu bersujud kepadanya[36]. Allah Ta'ala berfirman:
وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ
عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًاۚ وَقَالَ يٰٓاَبَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ
رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُ ۖقَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّاۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْٓ
اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَاۤءَ بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ مِنْۢ بَعْدِ
اَنْ نَّزَغَ الشَّيْطٰنُ بَيْنِيْ وَبَيْنَ اِخْوَتِيْۗ اِنَّ رَبِّيْ لَطِيْفٌ
لِّمَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ ١٠٠
Dan berkata Yusuf: "Wahai
ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah
menjadikannya suatu kenyataan. Dan
sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku
dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah
syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara- saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa
yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah
Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 100)
Kisah tersebut ditutup dengan kalimatnya:
۞ رَبِّ قَدْ
اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ
فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ
تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ١٠١
"Ya Tuhanku, sesungguhnya
Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan
kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya
Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat,
wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang
yang saleh." (QS. Yusuf: 101)
Nasehat
Penting
Kalian telah menyaksikan bagaimana Nabi Yusuf as. berada
dalam dua situasi yang secara bergantian ditemui dan dialaminya; sempit dan
lapang, penuh keguncangan dan harapan. Dia laksana emas murni yang ketika
dibolak-balik di dalam api yang membara maka tak ada yang bertambah padanya
selain menjadi semakin cemerlang, atau seperti batu mulia yang tidak
terpengaruh oleh api yang membakarnya.
Ketika ia berada dalam asuhan ayahnya yang
mempengaruhinya dengan kemuliaan, meliputinya dengan cinta, khawatir bila ada
marabahaya yang menimpanya saat malam tinggalkan kegelapan, atau ketika fajar
subuh menyingsing, tiba-tiba ia berada di tangan saudara-saudaranya yang
melakukan perbuatan keji dan hina terhadapnya; memukulnya secara aniaya lalu
membuanya ke dasar sumur tanpa sesal sedikit pun. Ketika ia berada dalam
situasi seperti itu, ia pun mulai mencium indahnya suasana dan kehidupan yang
baru. Namun sayang; hidup sebagai budak sahaya.
Akhirnya Yusuf berpindah dari kehidupan sebagai budak
kepada kehidupan yang menyerupai kebebasan, saat ia diangkat sebagai kepala
para budak dan pelayan di rumah majikannya. Ketika ia berada dalam nikmat dan
kesenangan yang lebih banyak ia rasakan laksana manusia merdeka, tiba-tiba ia
dijebloskan ke dalam penjara tanpa kejahatan yang dilakukannya. Namun di dalam
penjara itu ia membawa gembira bagi tahanan lain dengan mengajak mereka memeluk
agama yang ia anut; beribadah kepada Allah dan menyeru mereka untuk tidak
menyembah tuhan-tuhan lain kecuali Allah Ta'ala. Beberapa orang yang berada di
dalam penjara kemudian menanyakan padanya sesuatu yang ghaib, ia pun
mentakwilkan mimpi raja akan datangnya musim paceklik yang sangat sulit setelah
masa subur yang akan melanda negeri itu.
Kemampuan yang ia miliki mengantarkannya sebagai menjadi
bendaharawan Mesir, dan raja memilih dan memperkerjakannya untuk kerajaannya.
Ia kini menjadi pembagi kebutuhan pokok untuk rakyat sekaligus yang memberi
jaminan kesejahteraan bagi kerajaan Mesir dan negeri-negeri terdekat. Itulah
perannya sebagai Menteri Logistik.
Ketika ia tengah berada dalam suasana tersebut, maka tak
ada kekurangan yang rasakan selain keinginan untuk menyaksikan ayah dan ibunya
–maksudnya bibinya-. Tiba-tiba saudara-saudaranya datang. Ia pun mempermainkan
mereka dengan cara yang sangat lembut, sehingga mereka datang bersama
saudaranya, Benyamin. Tak lama berselang ayah, ibu dan seluruh keluarga pun
datang.
Menghadapi berbagai situasi dan kondisi, Yusuf senantiasa
berpegang teguh pada kemuliaan dan keindahan akhlak dan prilaku:
Ketika seseorang tetap berpegang teguh pada janjinya
Saat seperti itu, sungguh layak sebagai orang mulia
Kisah yang sangat indah ini memberi pelajaran dan nasehat
penting. Namun pelajaran dan manfaat yang ada di dalamnya tidak dapat dilihat
atau diamalkan setiap orang yang melihat dan membacanya. Tapi sebagaimana
firman Allah Ta'ala:
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ
"Sesungguhnya
pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal." (QS. Yusuf: 111)
Tanya Jawab dan Diskusi
1-
Apakah Yusuf as. diangkat
sebagai Nabi saat ia masih kecil. Karena ketika itu ia melihat sesuatu dalam
tidurnya seperti fajar subuh. Dan ini adalah kebiasaan para nabi.
2-
Apakah Ya'qub telah berbuat
aniaya kepada putra-putranya yang lain karena kecintaannya yang lebih besar
kepada Yusuf? Ataukah ini adalah kecenderungan hati yang berlebih kepada Yusuf
yang ia tidak kuasa membendungnya? Sebagaimana Rasulullah saw. yang lebih
mencintai Aisyah dibanding istri-istrinya yang lain, walau ia tidak berlaku aniaya
pada hak-hak mereka. Sebagaimana sabdanya:
اَللَّهُمَّ هَذَا قَسَمِي فِيْمَا أَمْلِكُ، فَلاَ تُؤَاخِذْنِي
فِيْمَا لاَ أَمْلِكُ
"Ya Allah! seperit inilah pembagianku sesuai dengan
kemampuanku! Jangan bebani aku pada sesuatu yang tidak aku miliki."
3-
Benyamin, saudara Yusuf juga adalah kecintaan ayahnya. Tapi mengapa
saudara-saudara-saudaranya tidak menyingkirkannya sebagaimana yang mereka
lakukan terhadap Yusuf?
4-
Apakah sifat dengki yang membuat saudara-saudara Yusuf berkonspirasi untuk
membunuh Yusuf sehingga menjadi penyebab ayah mereka menjadi buta dan membuatnya
bersedih selama 40 tahun?
5-
Mengapa kafilah tersebut gembira saat menemukan Yusuf dan dijual oleh saudara-saudaranya?
Padahal ia adalah temuan yang disukai. Adakah disana bila ia ditinggalkan maka
mereka akan saling membunuh?
6-
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari perbuatan yang dilakukan
saudara-saudara Yusuf terhadap saudara mereka? Dan pelajaran apakah yang harus
disadari setiap muslim dalam situasi seperti ini?
7-
Mengapa seorang merdeka berubah menjadi budak? Bila seseorang menemukan
orang lain di suatu tempat, mungkinkah ia menjualnya di pasar seperti barang
dagangan?
8-
Setiap orang telah mendapatkan kemerdekaannya, sehingga mereka tidak dapat
diperjual belikan. Apakah masyarakat kita dewasa ini memperoleh hak-hak
kemerdekaannya?
9-
Yusuf terdidik di tengah rumah yang tidak islami. Apakah lingkungan
tersebut behasil mempengaruhinya? Ataukah ia memiliki akal dan jiwa yang mampu
mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan ia mengajak manusia
untuk mengikuti akidah dan agamanya.
10-
Mengapa istri al-Aziz secara pribadi memilih Yusuf dan menggodanya, dan
tidak memilih sahayanya yang lain? Apakah karena kedewasaannya dan pergaulannya
dengannya?
11-
Mengapa istri al-Aziz mengumpulkan seluruh wanita untuk ia perlihatkan
Yusuf kepada mereka, dan mengapa mereka memotong tangan mereka? Mengapa ia
kemudian mengancamnya dengan siksaan dan penjara bila Yusuf tidak mengikuti apa
yang diinginkannya?
12-
Mengapa Yusuf lebih memilih penjara daripada rumah al-Aziz, keagungan dan
kemewahan?
13-
Bagaimana pendapatmu tentang godaan itu, dan keinginan yang ada dalam diri
Yusuf? Adakah keinginan itu benar-benar tumbuh dalam dirinya, ataukah keinginan
untuk memukulnya, atau mempertahankan diri? Pendapat manakah yang Anda pilih?
14-
Tanda apakah yang dilihat Yusuf dari Tuhannya?
15-
Yusuf dan Istri al-Aziz berlomba menuju pintu, sehingga baju Yusuf pun
sobek. Mengapa bisa demikian?
16-
Siasat apakah yang digunakan istri al-Aziz, apakah yang ia katakan untuk
menutupi kajadian ini? Tanda apakah yang membuat Yusuf berlepas diri dari
peristiwa itu? Siapakah saksi yang bersaksi atas hal itu dan menyatakan
kebenaran yang sesungguhnya?
17-
Siasat apakah yang digunakan istri al-Aziz ketika ia mengumpulkan wanita-waniat
untuk menyaksikan Yusuf, dan bagaimana konspirasi tersebut?
18-
Dosa apakah yang dilakukan Yusuf sehingga ia dijebloskan ke dalam penjara
dan ditahan di sana selama 10 tahun?
19-
Sebab apakah yang membuat Yusuf dapat keluar dari penjara dimana raja
mengangkatnya sebagai bendaharawan Mesir?
20-
Ada sebuah peristiwa unik di Mesir yang melibatkan Yusuf dan
saudara-saudaranya, apakah itu? Bagaimana Yusuf dapat menyandra saudaranya
Benyamin, dan apakah sebabnya?
21-
Apakah yang dilakukan saudara-saudara Yusuf saat mengetahui masalah yang
menimpa Benyamin, dan apa yang mereka katakan?
22-
Mereka mencela apa yang dilakukan Benyamin, dan berkata, "Bila ia
mencuri, maka saudaranya dahulu juga pernah mencuri." Lalu apa yang
dikatakan Yusuf terkait masalah tersebut?
23-
Bagaimanakah Ya'qub dapat mencium aroma Yusuf dari kejauhan?
24-
Apakah ilmu pengetahuan masa kini dapat membuktikan hal tersebut, ataukah
ini mukjizat Ya'qub as.?
25-
Bagaimanakah Ya'qub dapat berangkat ke Mesir, dan berapa lama ia menetap
disana?
26-
Apakah Ya'qub wafat di Mesir? Apakah ia dikuburkan disana? Apakah
wasiatnya, dan berapa usianya saat kematian menjemputnya?
27-
Yusuf berdoa kepada Allah yang hanya pada-Nya saja jawabannya. Apakah doa
tersebut?
28-
Ibnu Katsir berkata, bahwa tidak ada dalil yang menunjukkan kenabian Yusuf
as., sementara pernyataan yang ada tidak menunjukkan demikian, walau ada
perselisihan terkait hal ini. Cobalah kembali ke buku tafsir dan dalami masalah
ini!
29-
Bagaimanakah karakter masyarakat Mesir pada masa Yusuf as.? Bagaimana pula
tabiat agamanya? Dan bagaimanakah dakwah Yusuf?
30-
Dakwah nabi Yusuf dapat diringkas dalam poin berikut ini:
1.
Iman kepada Allah Yang Esa dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun
juga.
2.
Iman kepada hari akhirat
3.
Beribadah hanya kepada Allah Ta'ala semata.
Yang Dapat
dipetik dari Kisah Yusuf as.
1)
Memberi maaf saat mampu membalas kejahatan. Ketika Yusuf disakiti oleh
saudara-saudaranya, ia justru memaafkan mereka saat ia mampu membalas kejahatan
itu. Karena itu pula ketika fathu Mekah, Rasulullah saw. bersikap seperti yang
dilakukan Yusuf terhadap saudara-saudaranya.
2)
Obesesi dan keinginan besar menuju kesempurnaan adalah sesuatu yang sangat
dianjurkan oleh Islam, selama cara dan metode yang dilakukan untuk mencapainya
sesuai syariat:
"Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara
(Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi
berpengetahuan". (QS. Yusuf: 55)
3)
Bersegera untuk mengeluarkan
manusia dari krisis dan kesulitan yang menimpa mereka adalah perkara yang
sangat mulia di mata Allah Ta'ala. Sebagaimana yang dilakukan Yusuf
ketika membantu manusia terbebas dari kesulitan saat musim paceklik dan kemarau
panjang terjadi.
4)
Kemuliaan diri dan keinginan
menampakkan kebenaran dilakukan terlebih dahulu oleh Yusuf sebelum keluar dari
penjara. Menjadi jelas bahwa Yusuf tidak mendapatkan pengadilan yang
berkeadilan, sehingga ia meminta investigasi ulang untuk mengembalikan citra
dirinya.
5)
Permintaan kekuasaan oleh
Yusuf adalah sesuatu yang lumrah dan sesuai dengan syariat. Karena ketika itu
tidak ada sosok yang lebih baik daripadanya. Ia juga telah menunjukkan
kemampuannya dalam hal ini.
6)
Keinginan berkuasa untuk
melakuan perbaikan di negara yang sarat dengan kemusyrikan boleh dilakukan, dan
itu tidak menunjukkan koalisi dan bersekutu dalam beribadah dengan mereka, atau
mengikuti sistem yang mereka anut. Bahkan boleh berkoalisi dalam hukum di
negara Islam yang tidak berhukum dengan hukum Islam, selama manusia yang ada di
dalamnya tidak dipaksa untuk melakukan sesuatu yang haram, juga tidak suka atau
enggan berkoalisi pada sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam.
7)
Sebagaimana yang kami
katakan sebelumnya bahwa sifat iffah adalah prilaku yang sangat lekat
dalam diri Yusuf, walau suasana yang ia hadapi tidak kondusif baginya,
sebagaimana yang berikut ini:
a) Yusuf saat itu tumbuh
sebagai pemuda, dan seorang pemuda memiliki syahwat yang kuat, sebagaimana yang
kita pahami bersama.
b)
Ketika itu Yusuf adalah
seorang perjaka, tidak ada istri atau sahaya sebagai tempat untuk menyalurkan
syahwatnya.
c)
Yusuf berada di negeri
asing, tanpa keluarga yang mengkhawtirkannya atau ia khawatir padanya.
d)
Wanita yang menggodanya
adalah seorang wanita cantik dan terhormat.
e)
Wanita itu tidak peduli pada
apa yang ada disekitarnya dan sangat mengharapkan Yusuf pada siang dan malam
hari.
f)
Wanita itu sangat
menginginkan Yusuf dan mengerahkan usahanya untuk mendapatkannya.
g)
Yusuf ketika itu berada
dibawah kekuasaan dan tekanan wanita tersebut.
h)
Ia tidak takut bila difitnah
atau tertimpa bahaya daripada melakukan apa yang diinginkan wanita tersebut.
i)
Yusuf saat itu adalah sahaya
yang berada di dalam rumah majikannya, yang memilikinya dan menguasai jalan
hidupnya.
j)
Wanita itu juga memintan bantuan wanita lain untuk menekan Yusuf,
mengancam, menghinakan, bahkan menjebloskannya ke dalam penjara, dan
seterusnya.
8)
Adalah keharusan memilih seorang laki-laki yang tepat pada tempat yang
tepat supaya berbagai krisis dapat diatasi.
9)
Syarat utama seorang penguasa dan pemimpin adalah kapabilitas. Dan ciri ini
terdapat dalam diri Yusuf, yang di antaranya adalah:
a)
Iffah dari syahwat dan mampu
mengendalikan nafsunya
b)
Santun saat marah
۞ قَالُوْٓا اِنْ
يَّسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ اَخٌ لَّهٗ مِنْ قَبْلُۚ
"Mereka (saudara-saudara
Yusuf), "Bila ia mencuri maka saudaranya dahulu (Yusuf) juga telah
mencuri."
c)
Amanah dan istiqamah.
قَالَ مَعَاذ الله إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ
"Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah
memperlakukan aku dengan baik." (QS.
Yusuf: 23)
d)
Bersikap lembut dan keras pada tempatnya.
e)
Percaya pada diri sendiri
Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku
bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga,
lagi berpengetahuan". (QS.
Yusuf: 55)
f)
Kekuatan daya ingat yang
memungkinkannya mengenang kembali peristiwa yang terjadi dahulu, lalu merancang
strategi menghadapinya.
g)
Kesiapannya menerima ilmu
pengetahuan, kecintaan dan kemampuannya untuk itu:
وَلمَاَّ بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْماً وَعِلْماً
"Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah
dan ilmu." (QS. Yusuf: 22)
رّبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ
تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ
"Ya Tuhanku,
sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan
telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi." (QS.
Yususf: 101)
h)
Sifat kasih sayang terhadap
orang lemah dan kerendahan hatinya, walau ia memiliki kedudukan yang tinggi. Yusuf juga berbicara kepada penghuni penjara dengan
rendah hati:
يَا صَحِبِيَ السِّجْنِ
"Hai kedua penghuni penjara!" (QS. Yusuf: 39)
i)
Memberi maaf ketika ia sanggup melakukan pembalasan:
"لاَ تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمْ اليَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ
أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ
"Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan
Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang". (QS. Yusuf: 92)
j)
Memuliakan keluarga:
وَأْتُوْنِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِيْنَ
"Bawalah keluarga kalian semua kepadaku." (QS. Yusuf: 93)
k)
Kekuatan argumentasi disertai penjelasan yang kuat:
فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إنَّكَ اْليَوْمَ لَدَيْنَا مَكِيْنٌ
أَمِيْنٌ
"Sesungguhnya kamu
(mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada
sisi kami". (QS. Yusuf: 54)
l)
Mampu melakukan penataan dengan baik:
فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوْهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلاَّ قَلِيْلاً
مِمَّا تَأْكُلُوْنَ
"Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya
kecuali sedikit untuk kamu makan." (QS. Yusuf: 47) kemampuan Yusuf atas siasat raja adalah
adalah sesuatu yang sangat brillian[37].
10)
Sudah sepantasnya bila setiap umat memperbaiki penampilannya melalui akhlak
mulia dan bersifat iffah demi perbaikan berbagai masalah yang dihadapi.
11)
Bahaya ikhtilath (campur baur) tampak sangat jelas dalam kisah ini,
sebagai dasar terjadinya kerusakan dan penyimpangan. Dari Abu Umamah ra., bahwa
Rasulullah saw. Bersabda:
"إيَّاكَ وَالْخُلْوَةُ بِالنِّسَاءِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
مَا خَلاَ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ دَخَلَ الشَّيْطَانُ بِيْنَهُمَا وَلِأَنْ يَزْحَمَ
رَجُلٌ خِنْزِيْراً مُتَلَطِّخاً بِطِيْنٍ أَوْ حَمْأَةٍ خَيْرٌ لَهُ مِنَ أَنْ يَزَحَمَ
مَنْكِبَهُ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ
"Janganlah engkau berdua-duaan dengan seorang wanita.
Karena demi jiwaku dalam genggaman tangannya, tidaklah seorang laki-laki
bersama dengan seorang wanita kecuali syetan berada di antara keduanya. Seorang
laki-laki yang berdesakan dengan babi yang tubuhnya berlumur tanah atau lumpur,
lebih baik baginya daripada ketika bahunya bersentuhan dengan wanita yang tidak
halal baginya[38]."
12)
Bersikap adil di antara sesama saudara dalam memberi dan menolong mereka,
sehingga tidak tumbuh di antara mereka hubungan yang gersang, permusuhan atau
kecemburuan.
13)
Berlemah lembut dalam menyampaikan dakwah. Seorang ulama berkata:
النُّصْحُ عِلاَجٌ مُرٌّ، فَلْيُصِبْهُ شَيْء ٌمِنْ حُلْوِ اْلكَلاَمِ
"Nasehat adalah obat yang pahit, kalimat yang manis dapat menyembuhkan
sebagian dari penyakit itu."
14)
Perencanaan dan urgensinya dalam kehidupan pribadi, sosial dan masyarakat.
15)
Rasionalitas dan berhemat dalam membelanjakan harta sangat bermanfaat dalam
melakukan penghematan bagi pribadi, keluarga dan masyarakat.
16)
Persaksian atas Iffah
Yusuf as:
a)
Allah Azza wa Jalla bersaksi
dalam firman-Nya tentang ketidakterlibatan Yusuf as.:
كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ
مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ ٢٤
"Demikianlah, agar Kami
memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba
Kami yang terpilih." (QS. Yusuf: 24)
b)
Allah Azza wa Jalla bersaksi atas bara-ahnya dari mendekati istri
al-Aziz:
قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِيْ
عَنْ نَّفْسِيْ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ اَهْلِهَاۚ اِنْ كَانَ قَمِيْصُهٗ قُدَّ
مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ ٢٦
"...dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan
kesaksiannya: "Jika baju gamisnya
koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang
dusta." (QS. Yusuf: 26)
c)
Para wanita yang pernah diundang oleh istri al-Aziz juga bersaksi atas
ketidakterlibatan Yusuf as.:
قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوْءٍ
"Mereka berkata: "Maha Sempurna Allah, kami tiada
mengetahui sesuatu keburukan dari padanya". (QS. Yusuf: 51)
d)
Istri al-Aziz juga bersaksi atas ketidakterlibatan Yusuf as.:
اَلآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ
وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِيْنَ
Berkata isteri Al-Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang
menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk
orang-orang yang benar." (QS.
Yusuf: 51)
e)
Syetan juga bersaksi atas bara-ahnya:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ ٨٢
اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ ٨٣
Iblis
menjawab: "Demi kekuasaan Engkau
aku akan menyesatkan mereka
semuanya, kecuali hamba-Mu yang Ikhlas di antara mereka." (QS. Shad: 82)[39]
Aktivitas
dan Sarana yang harus disediakan:
1)
Menyiapkan kaset audio visual
2)
Menyediakan buku-buku khusus tentang kisah para nabi di perpustakaan.
3)
Menyiapkan gambar dan peta untuk menjelaskan tempat dan lokasi.
4)
Menulis di koran atau majalah.
5)
Menyiapkan perlombaan ilmiah di antara para pemuda
6)
Mengadakan pelatihan tentang seni berdialog
7)
Menghafal ayat-ayat Al-Qur'an terkait dengan tema yang dipelajari.
8)
Menugaskan para khatib agar berbicara tentang pelajaran yang diperoleh dari
kisah nabi Yusuf as.
9)
Mengadakan seminar pekanan untuk anak-anak di rumah untuk mempelajari
sirah.
10)
Menyiapkan pidato tentang manhaj para nabi dalam berdakwah kepada Allah
Ta'ala.
[1] )
Kisah ini tidak disebutkan dalam Al-Qur'an, tapi ringkasan dari kitab Taurat.
[2] )
Pada zaman itu diperbolehkan menikahi dua orang wanita kakak beradik
[3] )
al-Bukhari –Kitab al-Anbiya – hadits 3383
[4] )
Surat Yusuf, ayat 7-18
[5] )
QS. Yusuf: 19-22
[6] )
QS. Yusuf: 23-29
[7] )
QS. Yusuf: 30-35
[8] )
QS. Yusuf: 36-41
[9] )
QS. Yusuf: 42
[10] )
QS. Yusuf: 43-44
[11] )
QS. Yusuf: 45-49
[12] )
QS. Yusuf: 50-53
[13] )
QS. Yusuf: 54-57
[14] )
QS. Yusuf: 58-62
[15] )
QS. Yusuf: 63-66
[16] )
QS. Yusuf: 69-79
[17] )
QS. Yusuf: 80-87
[18] )
QS. Yusuf: 88-93
[19] )
QS. Yusuf: 94-98
[20] )
QS. Yusuf: 99-100
[21] ) Dimaksud bapak disini kakek dan ayah.
[22] )
Ayah dan saudara perempuan ibunya (bibi), yang juga adalah ibu tirinya
[23] )
Sujud disini ialah sujud penghormatan bukan sujud
[24] ) Menjadi orang baik-baik "yaitu, mereka setelah
membunuh Yusuf a.s. bertaubat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh.
[25] ) Menjadi orang baik-baik "yaitu, setelah
membunuh Yusuf a.s., mereka lalu bertaubat kepada Allah serta mengerjakan
amal-amal saleh.
[26] )
Hati mereka tidak tertarik kepada Yusuf karena dia anak temuan dalam
perjalanan. Jadi mereka khawatir
kalau-kalau pemiliknya datang mengambilnya. Oleh karena itu mereka tergesa-gesa
menjualnya sekalipun dengan harga yang murah.
[27] )
Orang Mesir yang membeli Yusuf a.s. adalah seorang pembesar Mesir bernama
Qithfir dan nama isterinya Zulaikha.
[28] )
Orang Mesir yang membeli Yusuf a.s. itu seorang Raja Mesir bernama Qithfir dan
nama isterinya Zulaikha.
[29] )
Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi
Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaikha), akan
tetapi godaan itu demikian besanya sehingga andaikata dia tidak dikuatkan
dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu dia jatuh ke dalam kema'siatan.
[30] )
Maksudnya: Rahasiakanlah peristiwa ini.
[31] ) Setelah mereka melihat kebenaran Yusuf, namun
demikian mereka memenjarakannya agar terkesan bahwa yang bersalah adalah Yusuf;
dan orang-orang tidak lagi membicarakan hal ini
[32] )
Maksudnya: bahwa Ya'qub a.s. tidak dapat
mempercayakam Bunyamin kepada saudara-saudaranya, karena dia kuatir akan
terjadi kejadian sepertiyang dialami oleh Yusuf dahulu.
[33]) Menurut
syari'at Nabi Ya'qub a.s. barang siapa mencuri maka hukumnya ialah sipencuri
dijadikan budak satu tahun.
[34] )
Dimaksud bapak disini kakek dan ayah dari kakek.
[35] )
Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya : memberi pahala terhadap amal-amal
hamba-hamba-Nya, mema'afkan kesalahannya, menambah ni'mat-Nya
[36] )
Sujud disini ialah sujud penghormatan bukan sujud ibadah.
[37] )
Lihat tafsir al-Qasimi. Juz: 9/3620-3626
[38] )
al-Jaami' al-Kabir. Karya as-Suyuthi dari Thabrani. 1/362
[39] )
al-Fakhru ar-Razi
Comments
Post a Comment