Tafsir Surah An-Naba'
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama
Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
عَمَّ يَتَسَآءَلُوْنَ ۚ ١
1. Tentang
apakah mereka saling bertanya tanya?
عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيْمِ ۙ ٢
2. Tentang
berita yang besar, *1
الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ مُخْتَلِفُوْنَ ۗ ٣
3. yang mereka
perselisihkan tentang ini.
كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ ۙ ٤
4. Sekali-kali
tidak, kelak mereka akan mengetahui,
ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ ٥
5. Kemudian
sekali-kali tidak *2*, kelak mereka akan mengetahui.
أَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًا ۙ ٦
6. Bukankah Kami
telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan,
وَّالْجِبَالَ أَوْتَادًاۖ ٧
7. dan gunung
gungung sebagai pasak,
وَّخَلَقْنٰكُمْ أَزْوَاجًاۙ ٨
8. dan Kami
jadikan kamu berpasang-pasangan,
وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ ٩
9. dan Kami
jadikan tidurmu untuk istirahat,
وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ ١٠
10. dan Kami
jadikan malam sebagai pakaian, *3
وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ ١١
11. dan Kami
jadikan siang untuk mencari penghidupan,
وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ ١٢
12. dan Kami
bangun diatas kamu tujuh lapis (langit) yang kokoh,
وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ ١٣
13. dan Kami
jadikan pelita yang amat terang (matahari),
وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَآءً ثَجَّاجًاۙ ١٤
14. dan Kami
turunkan dari awan, air yang banyak tercurah,
لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ ١٥
15. supaya Kami
tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan,
وَجَنّٰتٍ أَلْفَافًا ١٦
16. dan
kebun-kebun yang lebat?
إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيْقَاتًاۙ ١٧
17. Sesungguhnya
hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan,
يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّوْرِ فَتَأْتُوْنَ أَفْوَاجًاۙ ١٨
18. yaitu hari
(yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok,
وَفُتِحَتِ السَّمَآءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًاۙ ١٩
19. dan
dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu,
وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ ٢٠
20. dan
dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorgana.
إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًاۙ ٢١
21. Sesungguhnya
Neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, *4
لِّطّٰغِيْنَ مَاٰبًاۙ ٢٢
22. lagi menjadi
tempat kembali bagi orang-orang yang melampui batas,
لّٰبِثِيْنَ فِيْهَآ اَحْقَابًا ٢٣
23. mereka
tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,
لَا يَذُوْقُوْنَ فِيْهَا بَرْدًا وَّلَا شَرَابًاۙ ٢٤
24. mereka tidak
merasakan kesejukkan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minum,
اِلَّا حَمِيْمًا وَّغَسَّاقًاۙ ٢٥
25. selain air
yang mendidih dan nanah,
جَزَآءً وِّفَاقًاۗ ٢٦
26. sebagai
pembalasan yang setimpal.
اِنَّهُمْ كَانُوْا لَا يَرْجُوْنَ حِسَابًاۙ ٢٧
27. Sesungguhnya
mereka tidak takut kepada hisab,
وَّكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا كِذَّابًا ٢٨
28. dan mereka
mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.
وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنٰهُ كِتٰبًاۙ ٢٩
29. Dan segala
sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.*5
فَذُوْقُوْا فَلَنْ نَزِيْدَكُمْ اِلَّا عَذَابًاؑ ٣٠
30. Karena itu
rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepadamu selain dari
adzab.
اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ ٣١
31. Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,
حَدَآئِقَ وَأَعْنَابًاۙ ٣٢
32. (yaitu)
kebun-kebun dan buah anggur,
وَّكَوَاعِبَ أَتْرَابًاۙ ٣٣
33. dan
gadis-gadis remaja yang sebaya,
وَّكَأْسًا دِهَاقًاۗ ٣٤
34. dan
gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).
لَّا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا كِذَّابًا ٣٥
35. Di dalamnya
mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta.
جَزَآءً مِّنْ رَّبِّكَ عَطَآءً حِسَابًاۙ ٣٦
36. Sebagai
balasan dari Rabb-mu dan pemberian yang cukup banyak,
رَّبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمٰنِ لَا
يَمْلِكُوْنَ مِنْهُ خِطَابًاۚ ٣٧
37. Rabb yang
memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha
Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan-Nya.
يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰٓئِكَةُ صَفًّاۚ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ
إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا ٣٨
38. Pada hari
ketika ruh *6* dan para Malaikat berdiri bershaff-shaff, mereka tidak
berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Rabb Yang
Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang (benar).
ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ شَآءَ اتَّخَذَ إِلٰى رَبِّهِ مَاٰبًا ٣٩
39. Itulah hari
yang pasti terjadi. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh
jalan kembali kepada Rabb-nya.
اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًاۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا
قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرَابًاؑ ٤٠
40. Sesungguhnya
Kami telah memberi peringatan kepadamu (hai orang kafir) akan siksa yang dekat,
pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan
orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah."
Terjemah Perkata Surat An-Naba'
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ayat 1.
ۚ يَتَسَآءَلُوْنَ | عَمَّ |
mereka saling bertanya-tanya | tentang apakah |
Ayat 2.
ۙ الْعَظِيْمِ | عَنِ النَّبَإِ |
yang besar (hari berbangkit) | tentang berita |
Ayat 3.
ۗ مُخْتَلِفُوْنَ | فِيْهِ | الَّذِيْ هُمْ |
berselisih | dalam hal itu | yang mereka |
Ayat 4.
ۙ سَيَعْلَمُوْنَ | كَلَّا |
kelak mereka akan mengetahui | tidak |
Ayat 5.
سَيَعْلَمُوْنَ | ثُمَّ كَلَّا |
kelak mereka akan mengetahui | sekali lagi tidak |
Ayat 6.
مِهٰدًا | الْاَرْضَ | أَلَمْ نَجْعَلِ |
(sebagai) hamparan | bumi | bukankah Kami telah menjadikan |
Ayat 7.
أَوْتَادًاۖ | وَّالْجِبَالَ |
(sebagai) pasak | dan gunung-gunung |
Ayat 8.
أَزْوَاجًاۙ | وَّخَلَقْنٰكُمْ |
berpasang-pasangan | dan Kami menciptakan kamu |
Ayat 9.
سُبَاتًاۙ | نَوْمَكُمْ | وَّجَعَلْنَا |
(untuk) istirahat | tidurmu | dan Kami menjadikan |
Ayat 10.
لِبَاسًاۙ | الَّيْلَ | وَّجَعَلْنَا |
(sebagai) pakaian | malam | dan Kami menjadikan |
Ayat 11.
مَعَاشًاۚ | النَّهَارَ | وَّجَعَلْنَا |
(untuk mencari) penghidupan | siang | dan Kami menjadikan |
Ayat 12.
شِدَادًاۙ | سَبْعًا | فَوْقَكُمْ | وَبَنَيْنَا |
yang kukuh | tujuh (langit) | di atas kamu | dan Kami membangun |
Ayat 13.
وَّهَّاجًاۖ | سِرَاجًا | وَجَعَلْنَا |
yang terang-benderang | pelita (matahari) | dan Kami menjadikan |
Ayat 14.
ثَجَّاجًاۙ | مَآءً | مِنَ الْمُعْصِرٰتِ | وَأَنْزَلْنَا |
yang tercurah dengan hebatnya | air hujan | dari awan | dan Kami turunkan |
Ayat 15.
وَّنَبَاتًاۙ | حَبًّا | بِهٖ | لِنُخْرِجَ |
dan tanam-tanaman | biji-bijian | dengan air itu | untuk Kami tumbuhkan |
Ayat 16.
ۗ أَلْفَافًا | وَجَنّٰتٍ |
yang rindang | dan kebun-kebun |
Ayat 17.
كَانَ مِيْقَاتًاۙ | إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ |
(adalah) suatu waktu yang telah ditetapkan | sungguh, hari keputusan |
Ayat 18.
أَفْوَاجًاۙ | فَتَأْتُوْنَ | يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّوْرِ |
berbondong-bondong | lalu kamu datang | (yaitu) pada hari (ketika) sangkakala ditiup |
Ayat 19.
أَبْوَابًاۙ | فَكَانَتْ | وَفُتِحَتِ السَّمَآءُ |
beberapa pintu | maka terdapatlah | dan langit pun dibukalah |
Ayat 20.
سَرَابًاۗ | فَكَانَتْ | وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ |
fatamorgana | sehingga menjadi | dan gunung-gunung pun dijalankan |
Ayat 21.
كَانَتْ مِرْصَادًاۙ | إِنَّ جَهَنَّمَ |
(sebagai) tempat mengintai (bagi penjaga yang mengawasi isi neraka) | sungguh, neraka Jahanam itu |
Ayat 22.
مَاٰبًاۙ | لِّطّٰغِيْنَ |
(menjadi) tempat kembali | bagi orang yang melampui batas |
Ayat 23.
اَحْقَابًا | فِيْهَآ | لّٰبِثِيْنَ |
dalam masa yang lama | di sana | mereka tinggal |
Ayat 24.
وَّلَا شَرَابًاۙ | بَرْدًا | فِيْهَا | لَا يَذُوْقُوْنَ |
dan tidak (pula mendapat) minuman | kesejukan | di dalamnya | mereka tidak merasakan |
Ayat 25.
وَّغَسَّاقًاۙ | اِلَّا حَمِيْمًا |
dan nanah | selain air yang mendidih |
Ayat 26.
وِّفَاقًاۗ | جَزَآءً |
yang setimpal | (sebagai) pembalasan |
Ayat 27.
حِسَابًاۙ | لَا يَرْجُوْنَ | كَانُوْا | اِنَّهُمْ |
perhitungan | tidak pernah mengharapkan | dahulu | sesungguhnya mereka |
Ayat 28.
كِذَّابًا | بِاٰيٰتِنَا | وَّكَذَّبُوْا |
(dengan) sungguh-sungguh | ayat-ayat Kami | dan mereka mendustakan |
Ayat 29.
كِتٰبًاۙ | أَحْصَيْنٰهُ | وَكُلَّ شَيْءٍ |
dalam suatu Kitab (buku catatan amalan manusia) | telah Kami catat | dan segala sesuatu |
Ayat 30.
اِلَّا عَذَابًاؑ | فَلَنْ نَزِيْدَكُمْ | فَذُوْقُوْا |
selain azab | maka tidak ada yang akan Kami tambahkan (kepadamu) | maka karena itu, rasakanlah |
Ayat 31.
مَفَازًاۙ | اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ |
(ada) kemenangan | sungguh, bagi orang-orang yang bertakwa |
Ayat 32.
وَأَعْنَابًاۙ | حَدَآئِقَ |
dan buah anggur | (yaitu) kebun-kebun |
Ayat 33.
أَتْرَابًاۙ | وَّكَوَاعِبَ |
yang sebaya | dan gadis-gadis remaja |
Ayat 34.
دِهَاقًاۗ | وَّكَأْسًا |
yang penuh (berisi minuman) | dan gelas-gelas |
Ayat 35.
وَّلَا كِذَّابًا | لَغْوًا | فِيْهَا | لَّا يَسْمَعُوْنَ |
dan tidak (pula) perkataan dusta | percakapan sia-sia | di sana | mereka tidak mendengar |
Ayat 36.
حِسَابًاۙ | عَطَاءً | مِّنْ رَّبِّكَ | جَزَاءً |
yang cukup banyak | dan pemberian | dari Tuhanmu | (sebagai) balasan |
Ayat 37.
الرَّحْمٰنِ | وَمَا بَيْنَهُمَا | وَالْاَرْضِ | رَّبِّ السَّمٰوٰتِ |
Yang Maha Pengasih | dan apa yang ada di antara keduanya | dan bumi | Tuhan (yang memelihara) langit |
خِطَابًاۚ | مِنْهُ | لَا يَمْلِكُوْنَ |
berbicara | dengan Dia | mereka tidak mampu |
Ayat 38.
ۙ صَفًّا | وَالْمَلٰٓئِكَةُ | يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ |
(berdiri) bersaf-saf | dan (juga) para malaikat | (pada) hari ketika roh berdiri |
أَذِنَ لَهُ | إِلَّا مَنْ | لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ |
telah diberi izin kepadanya | kecuali siapa yangg | mereka tidak berkata-kata |
صَوَابًا | وَقَالَ | الرَّحْمٰنُ |
yang benar | dan dia hanya mengatakan | (oleh) Tuhan Yang Maha Pengasih |
Ayat 39.
ۚ الْحَقُّ | الْيَوْمُ | ذٰلِكَ |
yang pasti terjadi | hari | itulah |
مَاٰبًا | إِلٰى رَبِّهٖ | شَاءَ اتَّخَذَ | فَمَنْ |
jalan kembali | kepada Tuhannya | menghendaki, niscaya dia menempuh | maka barang siapa |
Ayat 40.
قَرِيْبًاۙ | عَذَابًا | اَنْذَرْنٰكُمْ | اِنَّا |
yang dekat | (adanya) azab | telah memperingatkanmu (orang kafir) | sesungguhnya Kami |
يَدَاهُ | مَا قَدَّمَتْ | يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ |
(oleh) kedua tangannya | apa yang telah diperbuat | (pada) hari manusia melihat |
تُرَابًاؑ | كُنْتُ | يٰلَيْتَنِيْ | وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ |
tanah | dahulu menjadi | alangkah baiknya seandainya aku | dan orang kafir berkata |
Terjemahan Lengkap:
Tentang apakah mereka saling
bertanya-tanya? Tentang berita yang besar,
yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan
mengetahui, Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui. Bukankah Kami
telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?
Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Dan Kami jadikan tidurmu untuk
istirahat, Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk
mencari penghidupan, Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh,
Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), Dan Kami turunkan dari
awan air yang banyak tercurah, Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian
dan tumbuh-tumbuhan, Dan kebun-kebun yang lebat? Sesungguhnya hari keputusan
adalah suatu waktu yang ditetapkan, Yaitu hari ( yang pada waktu itu) ditiup
sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, Dan dibukalah langit, maka
terdapatlah beberapa pintu, Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi
fatamorganalah ia. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat
pengintai, Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,
Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, Mereka tidak merasakan
kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, Selain air yang mendidih
dan nanah, Sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap
(takut) kepada hisab, Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-
sungguhnya. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu
rasakanlah dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada
azab. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu)
kebun-kebun dan buah anggur, Dan gadis-gadis remaja yang sebaya, Dan
gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar
perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. Sebagai pembalasan
dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak, Tuhan yang memelihara langit dan
bumi dan apa yang ada di antara keduanya; yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat
berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-
shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya
oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang
pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan
kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai
orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah
diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:"Alangkah baiknya
sekiranya dahulu adalah tanah".
Pengantar
Juz 30 seluruhnya termasuk surat An Naba' ini memiliki
karakter umum surat Makkiyah, kecuali dua surat yaitu surat Al Bayyinah dan An Nashr. Semuanya merupakan surat-surat pendek yang berbeda-beda satu lama lain. Dan yang terpenting dalam
hal ini adalah karakter khususnya yang menjadikannya sebagai satu kesatuan saling
berdekatan tema dan arahnya, kesannya,
gambarannya, bayang-bayangnya, dan
uslubnya (metodenya) secara umum.
Juz ini merupakan ketukan-ketukan beruntun yang keras, kuat, dan tinggi nadanya terhadap perasaan. Juga teriakan-teriakan terhadap
orang-orang yang tidur lelap atau orang-orang
yang mabuk kepayang. Atau, terhadap
orang-orang yang bermain-main sambil begadang dan menari-nari dengan hiruk-pikuk, bersiul-siul, dan bertepuk tangan. Hati dan perasaan mereka terus-menerus diketuk dengan ketukan-ketukan dan teriakan-teriakan dari surat-surat dalam juz ini, yang semuanya dengan
nada dan peringatan tunggal, "Ingatlah! Sadarilah! Lihatlah! Perhatikanlah! Pikirkanlah! Renungkanlah bahwa di sana ada Tuhan, di sana ada pengaturan, di sana ada takdir, di sana ada ketentuan, di sana
ada ujian, di sana ada tanggung
jawab, di sana ada perhitungan, di sana
ada pembalasan, dan di sana ada azab yang pedih dan nikmat yang besar.
Ingatlah, sadarlah, lihatlah, perhatikanlah,
pikirkanlah, renungkanlah.
Demikianlah pada kali lain, pada kali ketiga, keempat, kelima, dan kesepuluh."
Di samping ketukan-ketukan, seruan-seruan, dan teriakan-teriakan itu, ada tangan kuat yang mengguncang orang-orang yang tidur, mabuk, dan terlena,
dengan guncangan yang keras. Seakan-akan
mereka sedang membuka matanya dan
melihat dengan terbingung-bingung,
lalu kembali kepada keadaannya semula.
Maka, kembalilah tangan kuat itu mengguncang
mereka dengan guncangan yang keras, teriakan
keras terdengar kembali, dan ketukan-ketukan keras pun mengenai pendengaran dan hati mereka lagi. Kadang-kadang orang-orang yang tidur tadi terbangun sedikit dan berkata dalam
kebandelan dan kekerasan hatinya, 'Tidak...!". Kemudian melempari orang yang
berseru dan memberi peringatan itu
dengan batu dan caci maki, lalu mereka kembali kepada keadaan semula lagi.
Kemudian mereka diguncang dengan guncangan
baru lagi.
Demikianlah yang dirasakan
ketika membaca surat Ath Thaariq ayat 5, Al
Ghaasyiyah ayat 17-20, An Naazi'aat
ayat 27-33, An Naba' ayat 6-16, 'Abasa ayat
24-32, Al Infithaar ayat 6-8, Al A’1aa ayat 1-5, At Tiin ayat
4-8, At Takwiir ayat 1-14, Al Infithaar
ayat 1-5, Al Insyiqaaq ayat 1-5, dan Al-Zalzalah
ayat 1-5. Juga ketika membaca
isyarat-isyarat alam pada permulaan dan
pertengahan ayat 1-8, dan Adh-Dhuhaa
ayat 1-2.
Juz ini secara keseluruhan menekankan pembicaraan tentang kejadian pertama manusia dan makhluk-makhluk
hidup lainnya di muka bumi seperti
tumbuh-tumbuhan dan binatang. Juga menekankan
pembicaraan tentang pemandangan-pemandangan alam; ayat-ayat Allah yang terbuka;
pemandangan-pemandangan hari kiamat yang
keras, mengerikan, mengagetkan,
menggemparkan, dan menakutkan; dan pemandangan-pemandangan
yang berupa hisab dan pembalasan
dengan kenikmatan dan azab dalam gambaran-gambaran
yang mengetuk hati, membingungkan,
dan mengguncangkan, seperti pemandangan
kiamatnya semesta raya yang amat
besar dan menakutkan.
Semua itu menjadi bukti adanya penciptaan, pengaturan, dan penciptaan ulang dengan timbangan-timbangan
dan ukuran-ukurannya yang pasti, di samping
untuk mengetuk, menakut-nakuti, dan memperingatkan
hati manusia. Kadang-kadang paparan-paparan
ini diiringi dengan menampilkan kisah-kisah
dan pemandangan-pemandangan orang dahulu
yang mendustakan ayat-ayat Allah dengan segala akibatnya. Seperti
itulah kandungan juz ini seluruhnya, tetapi kami hanya ingin menunjuk beberapa contoh saja di dalam pengantar ini.
Surat An Naba'
secara keseluruhan merupakan contoh yang sempurna
bagi penekanan pembicaraan terhadap hakikat-hakikat
dan pemandangan-pemandangan ini. Surat
semacam surat An Naazi’aat dan surat 'Abasa, bagian permulaannya mengandung
isyarat mengenai suatu peristiwa tertentu di antara
peristiwa-peristiwa dakwah. Sedangkan, sisanya secara keseluruhan merupakan pembahasan tentang kehidupan manusia dan tumbuh-tumbuhan. Setelah
itu, diceritakan tentang datangnya suara yang
memekakkan telinga (yaitu ditiupnya sangkakala kedua),
"Pada hari ketika manusia lari dari
saudaranya, ibu dan bapaknya, istri
dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka
pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka
pada hari itu berseri-seri, tertawa dengan
gembira ria. Banyak (pula) muka pada
hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan." ('Abasa: 34-41)
Surat At Takwiir
menggambarkan pemandangan tentang
terbolak-baliknya alam semesta secara dahsyat
dan menakutkan pada hari itu, disertai dengan menampilkan pemandangan-pemandangan alam dalam bentuk-bentuk
sumpah yang menunjukkan hakikat
wahyu dan kebenaran Rasul. Demikian juga
surat Al Infithaar yang menampilkan pemandangan tentang terbolak-baliknya alam
beserta pemandangan tentang nikmat dan
azab, dan mengguncang hati manusia
di depan semua itu,
"Hai manusia, apakah yang memperdayakan kamu
(berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang
Maha Pemurah ?” (Al Infithaar: 6)
Pemandangan alam dan pemandangan-pemandangan hari itu dengan menunjuk penyiksaan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap segolongan kaum mukminin di dunia dengan api, dan bagaimana Allah akan menyiksa mereka (orang-orang kafir)
itu di akhirat dengan api neraka yang lebih dahsyat
dan lebih menyakitkan.
Surat Ath Thaariq memaparkan pemandangan-pemandangan alam di samping tentang penciptaan manusia dan
tumbuh-tumbuhan dengan menggunakan
sumpah bagi semuanya, "Sesungguhnya
Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, dan sekali-kali bukanlah dia sendagurau. "(Ath Thaariq:13-14)
Surat Al A'laa membicarakan penciptaan, penyempurnaan ciptaan, takdir, hidayah, dan penumbuhan tumbuh-tumbuhan dan perkembangannya sebagai pengantar bagi pembicaraan tentang peringatan, akhirat, hisab, dan pembalasan. Surat Al
Ghaasyiyah menggambarkan pemandangan-pemandangan tentang kenikmatan dan azab, kemudian mengarah kepada penciptaan unta, langit bumi, dan gunung-gunung. Hingga akhir juz gambaran pemandangan-pemandangan seperti itu diberikan.
Namun, ada beberapa surat yang membicarakan hakikat akidah dan manhaj iman, seperti surat Al Ikhlash,
surat Al Kaafiruun, surat Al Maa'uun,
surat Al 'Ashr, surat Al Qadr, dan surat
An Nashr. Atau, beberapa surat yang menggembirakan
hati Rasulullah saw, menenangkannya,
dan mengarahkannya untuk memohon
perlindungan kepada Tuhannya dari
semua kejelekan dan kejahatan, seperti surat Adh Dhuhaa, Al Insyirah (Alam Nasyrah), Al Kautsar, Al Falaq, dan surat An Naas, yang merupakan surat-surat pendek.
Di sana terdapat fenomena lain di dalam menyampaikan ungkapan-ungkapan dan kalimat-kalimatnya dalam juz ini. Ada keelokan yang jelas di dalam pengungkapannya
yang disertai dengan sentuhan-sentuhan yang dituju
di tempat-tempat yang indah di alam dan di dalam jiwa. Juga ada kemasan bahasa yang
indah di dalam lukisan-lukisannya, bayang-bayangnya,
kesan-kesan musikalnya, rima (persamaan bunyi) dan iramanya, dan pembagian
segmennya yang sangat selaras dengan
karakternya di dalam berbicara kepada orang-orang yang tengah, tidur, dan tidak ambil peduli. Tujuannya untuk menyadarkan mereka dan menarik perasaan dan indra mereka dengan bermacam-macam warna, kesan, dan pengaruh.
Semua ini tampak jelas dalam gambaran yang terang benderang seperti dalam pengungkapannya yang halus tentang bintang-bintang yang beredar dan
bersembunyi (tenggelam) seperti kijang yang bersembunyi
dalam persembunyiannya lalu muncul keluar.
Juga tentang malam yang seakan-akan ia itu makhluk hidup yang meronda dalam kegelapan, dan waktu fajar yang seakan-akan makhluk hidup yang bernapas dengan cahaya,
"sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah
hampir meninggalkan gelapnya, dan
demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing."(At Takwiir: 15-18)
Di dalam
menampilkan pemandangan saat terbenamnya
matahari, malam, dan rembulan, dilukiskan,
Maka Sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya
merah di waktu senja. Dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, Dan dengan
bulan apabila jadi purnama (Al Insyiqaaq: 16-18)
Atau, pemandangan-pemandangan tentang fajar dan malam hari yang terus berjalan dan berlalu,
"Demi fajar, malam yang sepuluh, yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu." (Al
Fajr: 1-4)
"Demi waktu dhuha, dan malam bila gelap
gulita." (Adh Dhuhaa: 1-2)
Di dalam firman Nya yang diarahkan kepada hali manusia, dikatakan,
"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan
kamu (berbuat durhaka) terhadap
Tuhanmu yang Maha Pemurah. yang telah
menciptakan kamu lalu menyempurnakan
kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang" (Al Infithaar:
6-7)
Kemudian dalam menyifati surga, Dia berfirman,
"Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
merasa senang karena usahanya, dalam
surga yang tinggi. Tidak kamu dengar
di dalamnya perkataan yang tidak berguna." (Al Ghaasyiyah: 8-11)
Dalam menyifati neraka, Dia berfirman,
"Adapun orang-orang yang ringan timbangan
(kebaikan)nya, maka tempat kembalinya
adalah neraka hawiyah. Tahukan kamu
apakah neraka hawiyah itu? (Yaitu) api yang
sangat panas." (Al Qaari'ah: 8-11)
Keindahan ungkapannya
begitu jelas, sejelas maksud sentuhannya yang
indah terhadap pemandangan-pemandangan
alam dan relung-relung jiwa. Kadang-kadang tidak dipergunakan perkataan yang lugas, tetapi dipergunakannya kata konotatif,
kata kiasan. Kadang-kadang tidak dipergunakan kata-kata yang dekat dengan objek pembicaraan, melainkan digunakan bentukan kata yang jauh. Tujuannya
untuk mewujudkan nada-nada instrumentalia yang
dimaksud dan menegaskan peralihan di
celah-celah juz ini dengan mendekatkan satu sama lain.
Surat An Naba' adalah sebuah contoh bagi arah juz
ini dengan tema-temanya, hakikat-hakikatnya,
kesan-kesannya, lukisan-lukisannya,
bayang-bayangnya, nuansa musikalnya, sentuhan-sentuhannya pada alam dan
jiwa serta dunia dan akhirat, dan pilihan
kata dan kalimat-kalimatnya untuk
menguatkan kesan dan pengaruhnya di
dalam perasaan dan hati.
Surat ini dimulai dengan pertanyaan yang mengisyaratkan dan mengesankan besar dan agungnya hakikat yang mereka perselisihkan. Yaitu,
persoalan besar yang tidak ada keraguan
padanya dan tidak ada syubhat.
Pertanyaan ini diakhiri dengan mengemukakan
ancaman kepada mereka terhadap hari yang
kelak akan mereka ketahui hakikatnya,
"Tentang apakah mereka saling bertanya?
Tentang berita yang besar, yang mereka
perselisihkan tentang ini. Sekali-kali
tidak, kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak kelak
mereka akan mengetahui." (An Naba': 1-5)
Dari sana kemudian segmen berikutnya beralih dari makna pembicaraan itu, dari berita ini, dan dibiarkannya ia hingga waktunya kemudian dibawanya mereka beralih kepada sesuatu yang terjadi di
hadapan mereka dan di sekitar mereka, mengenai diri mereka sendiri dan alam semesta yang padanya terdapat
persoalan yang besar juga. Alam itu menunjukkan
sesuatu yang ada di baliknya dan mengisyaratkan kepada apa yang akan dibacanya,
Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, gunung-gunung sebagai pasak, Kami jadikan kamu
berpasang-pasangan, Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam
sebagai pakaian, Kami jadikan siang untuk
mencari penghidupan, Kami bangun atas kamu
tujuh buah (langit) yang kokoh, Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang
banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan
dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?" (An Naba': 6-16)
Dari kumpulan hakikat-hakikat, pemandangan-pemandangan, lukisan-lukisan, dan kesan-kesan ini mereka
dibawa kembali kepada berita besar yang mereka
perselisihkan dan yang diancamkan kepada mereka pada hari mereka mengetahuinya, untuk dikatakan kepada mereka apakah ia dan bagaimana terjadi.
"Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu
yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada
waktu itu) ditiup sangkakala lalu
kamu datang berkelompok-kelompok. Dibukakan
langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia." (An Naba':
17-20)
Kemudian dibentangkanlah pemandangan azab dengan
segala kekuatan dan kekerasannya,
"Sesungguhnya neraka jahannam itu (padanya)
ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal
di dalamnya berabad-abad
lamanya. Mereka tidak merasakan
kesejukan di dalamnya dan (tidak pula) mendapat minuman selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal.
Sesungguhnya mereka tidak takut kepada
hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya. Segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu,
rasakanlah. Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain dari azab." (An Naba': 21-30)
Kemudian ditunjukkan pula pemandangan nikmat yang memancar demikian derasnya,
"Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,
(yaitu) kebun-kebun, buah anggur, gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak
mendengar perkataan yang sia-sia dan
tidak pula perkataan) dusta. Sebagai
balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak." (An Naba': 31-36)
Kemudian surat ini ditutup dengan memberikan kesan yang luhur mengenai hakikat hari itu di
dalam pemandangan yang ditampakkan
padanya. Juga dengan memberikan peringatan kepada manusia sebelum datangnya hari yang padanya terdapat pemandangan yang agung ini,
"Tuhan yang Memelihara langit dan bumi serta
apa yang ada di antara keduanya, yang
Maha Pemurah. Mereka tidak dapat
berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin
kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah,
dan ia mengucapkan kata yang benar.
Itulah hari yang pasti terjadi. Karena itu, barangsiapa yang menghendaki,
niscaya ia menempuh jalan kembali
kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami
telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) dengan siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua
tangannya, dan orang kafir berkata, 'Alangkah baiknya sekiranya aku
dahulu adalah tanah.' " (An Naba': 37-40)
Itulah berita besar yang mereka pertanyakan. Itulah berita besar yang kelak akan mereka
ketahui.
Berita Besar
عَمَّ
يَتَسَاۤءَلُوْنَۚ ١ عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ ٢ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ
مُخْتَلِفُوْنَۗ ٣ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَۙ ٤ ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ ٥
"Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidal kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali
tidak, kelak mereka akan mengetahui. " (An Naba': 1-5)
Inilah bagian permulaan yang mengandung pertanyaan bernada ingkar terhadap persoalan yang mereka pertanyakan dan mengandung keheranan mengapa persoalan seperti itu mereka pertanyakan. Mereka mempertanyakan hari kebangkitan dan berita tentang kiamat. Inilah persoalan yang mereka perdebatkan dengan sengit, dan hampir-hampir mereka tidak pernah membayangkan terjadinya, padahal inilah yang paling utama mereka lakukan.
"Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? " (An Naba': 1)
Persoalan apakah yang mereka perbincangkan? Kemudian dijawab. Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk mengetahui jawabannya dari mereka, tetapi hanya untuk menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka dan untuk mengarahkan perhatian terhadap keganjilan pertanyaan mereka. Diungkaplah persoalan yang mereka pertanyakan dan dijelaskanlah hakikat dan tabiatnya,
"Tentang
berita yang besar, yang mereka perselisihkan
tentang ini." (An Naba': 2-3)
Tidak disebutkan batas tentang sesuatu yang mereka pertanyakan itu dengan menyebutkan wujudnya, melainkan hanya disebutkan sifatnya saja. Penyebutan sifatnya ini untuk menyampaikan berita yang besar dengan menunjukkan ketakjuban. Juga untuk mengagungkan dan menunjukkan perbedaan sikap terhadap hari itu antara orang-orang yang mengimaninya dan orang-orang yang tidak mempercayai terjadinya. Adapun yang mempertanyakannya hanyalah mereka saja. Kemudian tidak diberikan jawaban
tentang apa yang mereka pertanyakan itu. Tidak dipaparkan pula hakikat sesuatu yang mereka pertanyakan itu, melainkan dibiarkan dengan sifatnya saja yang besar. Kemudian pembicaraan beralih kepada ancaman yang ditujukan kepada mereka. Hal ini lebih mengena daripada jawaban secara langsung, dan lebih mendalam ketakutan yang ditimbulkannya,
"Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Kemudian, sekali-kali tidak kelak mereka akan mengetahui. " (An Naba': 4-5)
Lafal "kallaa"
sekali-kali tidak!' diucapkan untuk membentak
dan menghardik. Karena itu, lafal ini sangat
tepat dipakai di sini sesuai dengan bayangan yang perlu disampaikan. Diulangnya
lafal ini beserta kalimatnya adalah untuk
mengancam.
Fenomena Alam yang Perlu
Diperhatikan
Kemudian, di luar tema berita besar yang mereka perselisihkan itu,
dibawalah mereka untuk melakukan perjalanan yang dekat di alam
semesta yang terlihat ini bersama sejumlah benda-benda yang berwujud, fenomena-fenomena, hakikat-hakikat, dan pemandangan-pemandangan yang menggetarkan hali yang mau merenungkannya,
اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ ٦ وَّالْجِبَالَ
اَوْتَادًاۖ ٧ وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَاجًاۙ ٨ وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ ٩
وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ ١٠ وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ ١١
وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ ١٢ وَّجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ
١٣ وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ ١٤ لِّنُخْرِجَ بِهٖ
حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ ١٥ وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ ١٦
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, gunung-gunung sebagai pasak, Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam sebagai pakaian, Kami jadikan
siang untuk mencari penghidupan, Kami bangun atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari
awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan
tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang
lebat?" (An Naba': 6-16)
Perjalanan di hamparan alam semesta yang luas dengan lukisan-lukisan dan pemandangan-pemandangannya yang besar,
dikemas dengan kata-kata dan kalimat kalimat singkat sehingga, memberikan kesan yang tajam, berat, dan mengena. Ia seakan-akan alat pengetuk yang mengetuk bertalu-talu dengan nada berhenti dan nada putusnya.
Kalimat tanya yang diarahkan kepada lawan bicara, yang menurut ilmu bahasa menunjukkan penetapan, memang merupakan
bentuk kalimat yang sengaja dibuat demikian.
Seakan-akan ia merupakan tangan kuat
yang mengguncangkan orang-orang lalai. Yakni, orang-orang yang mengarahkan pandangan dan hati mereka kepada himpunan makhluk dan fenomena-fenomena yang mengisyaratkan adanya pengaturan dan penentuan di belakangnya. Juga mengisyaratkan
adanya kekuasaan yang mampu menciptakan dan mengulang penciptaan itu kembali, dan mengisyaratkan adanya hikmah yang tidak membiarkan makhluk
(manusia) tanpa pertanggungjawaban, tanpa dihisab,
dan tanpa diberi pembalasan. Di sini, bertemulah ia dengan berita besar yang mereka perselisihkan itu.
Sentuhan pertama dalam perjalanan ini
adalah tentang bumi dan gunung-gunung,
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?"
(An Naba': 6-7)
'Al mihaad’ berarti dihamparkan untuk tempat berjalan di atasnya, dan hamparan yang lunak bagaikan buaian. Kedua makna ini saling berdekatan. Ini adalah hakikat yang
dapat dirasakan manusia apa pun tingkat
kebudayaan dan pengetahuannya. Sehingga,
tidak memerlukan pengetahuan yang banyak
untuk memahaminya dalam bentuknya yang nyata.
Keberadaan
gunung-gunung sebagai pasak bumi ini merupakan sebuah
fenomena yang dapat dilihat oleh mata orang pedalaman
sekalipun. Baik yang ini bumi dengan hamparannya maupun yang itu gunung yang menjadi pasak bumi) memiliki kesan tersendiri di dalam perasaan apabila jiwa manusia terarahkan ke sana untuk merenungkannya. Akan tetapi,
hakikat ini lebih besar dan lebih luas jangkauannya
daripada apa yang diperkirakan oleh manusia badui
(pedalaman) ketika ia semata-mata menerima dengan
indranya. Setiap kali meningkat dan bertambah pengetahuan
manusia tentang tabiat dan dan perkembangannya, maka semakin besarlah kesannya
terhadap ini di dalam jiwanya. Lalu, mengertilah ia bahwa
di balik itu terdapat kekuasaan Ilahi yang agung dan
rencana-Nya yang halus penuh hikmah. Demikian juga dengan
adanya kesesuaian antara anggota-anggota alam semesta ini dan kebutuhan-kebutuhannya, beserta disiapkannya bumi ini untuk menerima kehidupan manusia dan mengaturnya. Juga disiapkannya manusia untuk menyelesaikan diri dengan
lingkungannya dan untuk saling mengerti.
Dihamparkannya
bumi bagi kehidupan, dan bagi kehidupan manusia secara khusus,
menjadi saksi tak terbantahkan yang memberikan kesaksian akan adanya akal yang mengatur di balik alam wujud yang nyata ini. Karena itu, rusaknya salah satu kerelevanan penciptaan bumi
dengan semua kondisinya, atau rusaknya salah satu kerelevanan penciptaan kehidupan untuk hidup di bumi, maka kerusakan di sini
ataupun di sana tidak akan menjadikan
bumi sebagai hamparan. Juga tidak
akan ada lagi hakikat yang diisyaratkan
oleh Al Qur'an secara global, untuk dimengerti
oleh setiap manusia sesuai dengan tingkat ilmu dan pengetahuannya.
Dijadikannya
gunung sebagai pasak bagi bumi, dapat dimengerti oleh
manusia dari segi bentuknya dengan pandangannya semata-mata,
karena ia lebih mirip
dengan pasak-pasak kemah yang diikatkan padanya.
Adapun hakikatnya kita terima dari informasi Al Qur'an. Darinya kita mengetahui bahwa gunung-gunung itu memantapkan bumi dan menjaga
keseimbangannya. Mungkin karena gunung-gunung
itu menyeimbangkan antara kerendahan lautan dan ketinggian
gunung-gunung; menyeimbangkan antara
pengerutan rongga bumi dan pengerutan atapnya; dan menekan bumi pada
titik tertentu hingga ia tidak lenyap
dengan adanya gempa bumi, gunung
meletus, dan guncanga-guncangan dalam
perutnya. Atau, mungkin karena ada alasan lain yang belum terungkap hingga kini. Karena, banyak sekali aturan dan hakikat-hakikat yang tidak
diketahui manusia yang diisyaratkan
oleh Al Qur'anul-Karim, kemudian
diketahui sebagiannya oleh manusia
setelah beratus-ratus tahun berikutnya!
Sentuhan
kedua adalah mengenai jiwa manusia, dalam beberapa segi
dan hakikat yang berbeda-beda,
"... Kami jadikan kamu
berpasang pasangan.... " (An Naba': 8)
Ini juga
merupakan satu fenomena yang perlu diperhatikan, yang dapat
diketahui oleh setiap manusia dengan mudah dan sederhana. Allah telah menjadikan manusia terdiri dari laki-laki dan wanita, dan menjadikan kehidupan dan pelestariannya dengan adanya perbedaan jenis kelamin yang berpasangan dan pertemuan antara kedua jenis kelamin yang berbeda itu. Setiap orang mengetahui fenomena ini dan merasakan adanya kegembiraan, kenikmatan, kesenangan, dan kebaruan suasana tanpa memerlukan ilmu yang banyak. Karena itu, Al Qur'an membicarakan hal ini kepada
manusia di lingkungan manapun ia berada.
Sehingga, ia mengetahuinya dan terkesan olehnya apabila ia mengarahkan pikirannya ke sana, dan merasakan adanya
tujuan, kesesuaian, dan pengaturan
padanya.
Di belakang
perasaan-perasaan yang bersifat global terhadap
nilai hakikat ini dan kedalamannya, terdapat pemikiran
lain ketika manusia itu meningkat pengetahuan dan perasaannya. Di sana terdapat pemikiran tentang kekuasaan yang menjadikan nutfah (mani) itu anak laki-laki dan nutfah ini anak wanita. Padahal, tidak ada sesuatu yang membedakan secara jelas di dalam nutfah ini atau itu, yang menjadikannya menempuh jalannya untuk menjadi anak laki-laki atau anak wanita.
Ya Allah, ini
tidak lain kecuali karena adanya iradah kodrat yang menciptakan
dengan rencana yang halus, dan pengarahan yang lembut. Juga pemberian
ciri-ciri khusus yang dikehendaki-Nya pada nutfah ini dan itu,
untuk menciptakan dari keduanya dua insan
berpasangan, guna mengembangkan dan melestarikan
kehidupan.
"...Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,
Kami jadikan malam sebagai pakaian, Kami
jadikan siang untuk mencari
penghidupan...."(An Naba': 9-11)
Di antara pengaturan Allah terhadap
manusia ialah menjadikan tidur sebagai
istirahat dan menghentikan mereka
dari berpikir dan beraktivitas. Dia menjadikan mereka dalam keadaan yang tidak
mati dan tidak pula hidup, untuk mengistirahatkan fisik dan saraf-sarafnya.
Juga untuk memulihkan tenaga yang dikeluarkannya
pada saat jaga, bekerja, dan sibuk dengan urusan kehidupan. Semua ini terjadi dengan cara menakjubkan yang manusia tidak mengerti caranya. Tidak ada andil sedikit pun iradah manusia di dalam hal ini, dan
tidak mungkin ia mengetahui
bagaimana hal ini berjalan dengan sempurna sedemikian rupa. Ketika dalam
keadaan jaga pun, ia tidak mengetahui
bagaimana cara kerjanya pada saat
tidur. Apalagi dalam keadaan tertidur.
Sudah tentu ia tidak mengetahui keadaan ini dan tidak dapat memperhatikannya.
Ini adalah
salah satu rahasia bangunan makhluk hidup yang tidak
diketahui kecuali oleh yang menciptakannya dan meletakkan
rahasia itu padanya, serta menjadikan kehidupannya bergantung atasnya. Maka, tidak ada seorang pun yang mampu hidup tanpa tidur kecuali dalam waktu yang sangat terbatas. Kalau ia memaksakan diri dengan menggunakan sarana luar agar terus berjaga (tidak tidur), maka sudah tentu ia akan binasa. Di dalam
tidur pun terdapat rahasia yang tidak berkaitan dengan kebutuhan fisik dan saraf yaitu, berhentinya ruh
dari melakukan pergulatan hidup yang keras. Ketenangan
mengunjunginya sehingga ia meletakkan senjata dan meninggalkan kebunnya, senang ataupun tidak senang. Ia menyerah kepada saat kedamaian yang penuh keamanan, yang dibutuhkan setiap orang sebagaimana kebutuhannya terhadap makanan dan minuman.
Terjadilah
sesuatu yang mirip mukjizat pada saat saat tertentu ketika
rasa kantuk menimpa kelopak mata, ruh merasa berat,
saraf-saraf telah letih, jiwa gelisah, dan hati merasa takut.
Kantuk ini yang kadang-kadang hanya beberapa saat saja seakan akan membuat pembalikan (perubahan) total bagi keberadaan manusia dan memperbarui bukan hanya
kekuatannya melainkan dirinya, sehingga ia seakan-akan sebagai
wujud baru setelah bangun. Kemukjizatan (keluarbiasaan) ini pernah terjadi dalam bentuk yang jelas bagi kaum muslimin yang kelelahan dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Allah
memberi kenikmatan dan ketenteraman kepada
mereka dengan kantuk ini sebagaimana yang terjadi pada banyak orang dalam keadaan keadaan yang mirip. Firman Nya,
اِذْ
يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ
"(Ingatlah),
ketikaAllah menjadikan kamu mengantuk sebagai
suatu penenteraman dari-Nya. "(Al Anfaal: 11)
ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ
اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْ ۙ
"Kemudian setelah kamu berduka cita Allah
menurunkan kepada kamu keamanan
(berupa) kantuk yang meliputi segolongan
dari kamu."(Ali Imran: 154)
Maka, istirahat yakni menghentikan berpikir dan beraktivitas dengan tidur ini merupakan suatu keharusan dari keharusan bangunan kehidupan. Ia merupakan satu rahasia dari rahasia-rahasia kekuasaan yang mencipta dan salah satu nikmat dari nikmat-nikmat Allah yang tidak ada seorang pun yang mampu memberikannya selain Dia.
Adapun mengarahkan perhatian kepadanya sebagaimana
yang dicontohkan Al Qur'an ini, mengingatkan
dan menyadarkan hati kepada kekhususan-kekhususan
Dzat-Nya. Juga kepada tangan yang mewujudkan
eksistensinya dan menyentuh hati tersebut
dengan sentuhan yang membangkitkannya untuk memikirkan dan merenungkan
serta mengambil kesan darinya.
Di antara pengaturan Allah juga ialah Dia menjadikan gerakan alam ini selaras dengan gerakan makhluk-makhluk
hidup. Sebagaimana Dia meletakkan
pada manusia rahasia tidur dan istirahat sesudah bekerja dan melakukan
aktivitas, maka Dia meletakkan pada
alam ini fenomena malam sebagai pakaian penutup yang menjadikan istirahat dan
pengenduran saraf itu berjalan dengan
sempurna. Juga meletakkan fenomena siang untuk mencari penghidupan, yang dalam waktu siang inilah gerak dan aktivitas
dapat berjalan dengan sempurna.
Dengan demikian, selaras dan serasilah ciptaan Allah, dan alam ini pun sangat cocok bagi makhluk hidup dengan segala kekhususannya. Makhluk-makhluk hidup itu dibekali dengan susunan yang cocok dengan gerak dan kebutuhan-kebutuhannya, sesuai dengan kekhususan dan kesesuaian yang
diletakkan pada alam semesta. Semua ini
keluar dari tangan kekuasaan yang mencipta
dan mengatur dengan serapi-rapinya.
Sentuhan ketiga adalah tentang penciptaan langit yang sangat serasi dan sesuai dengan bumi dan makhluk hidup,
"Kami bangun di atas kamu tujuh buah
(langit) yang kokoh, Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah,
supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian
dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun
yang lebat?" (An Naba': 12-16)
Tujuh buah langit yang kokoh yang dibangun Allah
di atas bumi itu adalah langit yang tujuh, yaitu tujuh petala langit sebagaimana disebutkan di tempat
lain. Dan, yang dimaksud dengannya
dengan pembatasan ini hanya Allah yang mengetahuinya. Mungkin yang dimaksudkan adalah tujuh gugusan bintang, yang setiap satu gugusannya bisa mencapai ratusan bintang.
Ketujuh gugusan inilah yang mempunyai
hubungan dengan bumi dan tata surya kita. Mungkin yang dimaksudkan bukan ini dan bukan itu. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam susunan alam semesta ini, sedangkan yang diketahui oleh manusia hanya sedikit.
Sesungguhnya ayat ini hanya mengisyaratkan bahwa tujuh buah langit yang kokoh itu sangat kokoh dan kuat bangunannya, yang tidak mungkin
retak dan berantakan. Inilah yang kita lihat dan kita ketahui dari tabiat tata
surya dan benda-benda angkasa yang biasa
kita sebut dengan langit, yang dapat diketahui
oleh setiap orang. Di samping itu, ayat ini juga mengisyaratkan bahwa bangunan wajah
langit yang kokoh itu serasi dengan planet bumi dan manusia. Karena itulah, ia disebutkan di dalam membicarakan pengaturan Allah dan penentuan Nya
terhadap kehidupan bumi dan manusia, yang ditunjuki oleh ayat sesudahnya, "Kami jadikan pelita yang amat terang."(An Naba':13),
yaitu, matahari yang bersinar terang
benderang yang menimbulkan rasa panas
untuk hidupnya bumi dan makhluk-makhluk
hidup di atasnya. Juga menimbulkan
pengaruh bagi terbentuknya awan yang membawa
uap air dari lautan yang luas di bumi dan menyelaminya ke lapisan lapisan udara yang sangat tinggi. Itulah Al mu'shirat 'awan' sebagaimana disebutkan dalam ayat,
"... dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah."(An Naba': 14)
Ketika ia diperas, lalu turun dan berjatuhan yang
berupa air. Siapakah yang memerasnya?
Mungkin angin atau kehampaan aliran
listrik pada beberapa tingkatan
udara. Di balik semua itu terdapat tangan kekuasaan yang menimbulkan pengaruh-pengaruh pada alam semesta. Pada pelita terdapat penyalaan,
panas dan cahaya, yang semuanya
terdapat pada matahari. Karena itu,
dipilihnya kata "siraj" 'pelita' di sini merupakan pilihan yang sangat cermat dan jeli. Dari pelita yang amat terang dengan segala cahaya
terang dan panasnya, dan dari awan
dengan air yang diperas darinya
hingga banyak tercurah, tumbuhlah biji-bijian
dan tumbuh-tumbuhan untuk dimakan, kebun-kebun
yang lebat, serta pohon-pohon yang rimbun
dan bercabang-cabang.
Keserasian dan keselarasan
di alam ini tidak mungkin terjadi kecuali di
baliknya ada tangan yang mengaturnya,
ada kebijaksanaan yang menentukannya,
dan ada iradah yang menatanya. Hal ini dapat diketahui oleh setiap insan dengan hati dan perasaannya ketika perasaannya diarahkan ke sana. Apabila ilmu dan pengetahuannya meningkat, maka akan terkuaklah keserasian dan kerapian ini sedemikian luas dengan tingkatan-tingkatannya yang menjadikan akal dan pikiran kebingungan dan terkagum-kagum.
Juga menjadikan pendapat yang mengatakannya
sebagai kebetulan adalah pendapat yang tidak
berbobot dan tidak perlu ditanggapi, sebagaimana sikap orang yang tidak mau menghiraukan adanya tujuan dan pengaturan pada alam ini hanyalah sikap keras kepala yang tidak perlu dihormati.
Alam ini ada penciptanya. Di belakang alam ini, terdapat penataan, penentuan, dan pengaturan. Hakikat-hakikat dan pemandangan-pemandangan ini disebutkan secara beruntun di dalam nash Al Qur'an dengan urutan seperti ini. Yaitu,
dijadikannya bumi sebagai hamparan,
gunung sebagai pasak bagi bumi,
manusia berpasang-pasangan, tidur mereka sebagai istirahat (sesudah bergerak, berpikir, dan melakukan aktivitas), malam sebagai pakaian untuk
menutup dan menyelimuti, dan siang untuk mencari penghidupan, berpikir, dan beraktivitas.
Kemudian dibangunnya rajah langit yang
kokoh, dijadikannya pelita yang amat
terang (matahari), dan diturunkannya
air yang tercurah dari awan untuk menumbuhkan biji-bijian, tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun.
Keberuntunan hakikat-hakikat dan pemandangan-pemandangan yang seperti ini mengesankan adanya pengaturan yang cermat, mengisyaratkan adanya
pengaturan dan penentuan, dan mengesankan adanya
Sang Maha Pencipta yang Maha Bijaksana lagi
Maha Kuasa. Disentuhnya hati dengan sentuhan-sentuhan yang mengesankan
dan mengisyaratkan adanya maksud dan tujuan
di belakang kehidupan ini. Dari
sini, bertemulah konteks ini dengan berita besar yang mereka perselisihkan itu!
Hari Perhitungan dan Pembalasan
Semua itu adalah agar manusia bisa berbuat dan bersenang-senang, dan di belakangnya terdapat perhitungan dan pembalasan. Hari keputusan itu sudah ditentukan waktunya,
اِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيْقَاتًاۙ ١٧ يَّوْمَ
يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَتَأْتُوْنَ اَفْوَاجًاۙ ١٨ وَّفُتِحَتِ السَّمَاۤءُ
فَكَانَتْ اَبْوَابًاۙ ١٩ وَّسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ ٢٠
“Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. Dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia." (An Naba':
17-20)
Sesungguhnya manusia tidak diciptakan dengan sia-sia dan tidak
dibiarkan tanpa pertanggungjawaban. Dzat yang
telah menentukan kehidupan mereka
dengan ketentuan sebagaimana telah disebutkan
di muka dan menyerasikan kehidupan mereka
dengan alam tempat hidup mereka, tidak mungkin
membiarkan mereka hidup tiada guna dan mati dengan sia-sia, membiarkan
mereka berbuat kebaikan atau kerusakan di
bumi, lantas mereka pergi ke dalam
tanah dengan sia-sia begitu saja. Tidak mungkin Dia membiarkan mereka mengikuti petunjuk jalan yang lurus dalam kehidupan atau mengikuti jalan yang sesat, lantas semuanya
dipertemukan dalam satu tempat
kembali. Tidak mungkin mereka berbuat adil dan berbuat zalim, lantas keadilan
atau kezaliman itu berlalu begitu
saja tanpa mendapatkan pembalasan.
Sungguh di sana akan ada suatu hari untuk memberikan
ketetapan, membedakan (antara yang benar dan yang salah, yang
adil dan yang zalim, yang baik dan yang buruk), dan memberi
keputusan terhadap segala sesuatu. Yaitu, hari yang sudah ditentukan dan ditetapkan waktunya oleh Allah,
"Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang
ditetapkan. " (An Naba':
17)
Yaitu, hari yang ketika itu tatanan alam semesta sudah terbalik, ikatan-ikatan peraturannya sudah berantakan dan tidak berlaku lagi.
"Yaitu, hari (yang pada waktu itu) ditiup
sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. " (An Naba': 18)
Ash-shuur artinya 'sangkakala'.
Kita tidak mengetahui nama lain selain itu. Kita tidak mengetahui kecuali akan ditiup. Kita tidak perlu menyibukkan diri untuk memikirkan bagaimana caranya. Karena, memikirkan cara peniupannya itu tidak akan menambah keimanan kita dan tidak ada pengaruhnya terhadap peristiwa itu. Allah telah memelihara potensi kita agar tidak
kita gunakan secara sewenang-wenang untuk membicarakan
apa yang ada di balik perkara gaib yang tersembunyi ini. Dia telah memberikan kepada
kita ukuran tertentu yang bermanfaat bagi kita,
sehingga kita tidak menambah-nambahnya. Kita hanya membayangkan tiupan sangkakala yang rnembangkitkan dan mengumpulkan manusia untuk datang berkelompok-kelompok. Kita bayangkan pemandangan ini
dan manusia-manusia yang telah hilang jati
diri dan sosoknya dari generasi demi
generasi, dan meninggalkan permukaan
bumi untuk ditempati oleh orang-orang
yang datang sesudahnya agar tidak
menjadi sempit bagi mereka permukaan bumi
yang terbatas ini.
Kita
bayangkan pemandangan yang berupa manusia secara keseluruhan (sejak manusia
pertama hingga manusia terakhir) bangun dan
berdiri, lalu datang
berbondong-bondong dari setiap lembah menuju
ke tempat mereka dikumpulkan. Kita bayangkan kubur-kubur yang berserakan dan manusia-manusia yang bangun darinya. Kita bayangkan semuanya berkumpul menjadi satu dan ketika itu yang
pertama tidak mengenal yang belakangan.
Kita bayangkan ketakutan yang ditimbulkan
oleh berkumpulnya manusia sedemikian
rupa yang tidak pernah terjadi semua
manusia berkumpul dalam satu waktu
seperti yang terjadi pada hari ini. Di mana? Kita tidak tahu. Karena, di alam yang
kita ketahui pernah terjadi berbagai peristiwa dan hal-hal menakutkan yang bersifat fisik itu, telah terjadi
perubahan luar biasa,
"Dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia." (An Naba':
19-20)
Langit yang dibangun dengan kokoh, dibuka lalu terdapat beberapa pintu. Ia pecah terbelah, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat dan surat lain. Langit berubah keadaannya dengan keadaan yang belum pernah kita alami selama ini.
Sedangkan, gunung-gunung yang menjadi pasak bumi dijalankan sehingga menjadi fatamorgana. Ia dihancurleburkan,
berantakan, dan berhamburan ke
udara, digerakkan oleh angin,
sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat dan
surat-surat lain. Karena itu, ia tidak ada wujudnya lagi bagaikan fatamorgana, atau ia yang telah menjadi debu itu diterpa cahaya sehingga menjadi seperti fatamorgana. Sungguh menakutkan dan mengerikan terjadinya keamburadulan alam yang dapat dipandang mata itu,
sebagaimana menakutkannya ketika
manusia dikumpulkan setelah
ditiupnya sangkakala. Inilah hari
keputusan yang sudah ditentukan bakal terjadinya
itu, dengan hikmah dan rencana Allah.
Neraka Jahannam dan Penghuninya
Ayat-ayat berikutnya melanjutkan perjalanan ke belakang peniupan
sangkakala dan pengumpulan manusia di padang
mahsyar. Maka, dilukiskanlah tempat
kembali bagi orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang bertakwa.
Pembahasan dimulai dengan
membicarakan kelompok pertama yang mendustakan
dan mempertanyakan berita yang besar
itu,
اِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًاۙ ٢١ لِّلطّٰغِيْنَ
مَاٰبًاۙ ٢٢ لّٰبِثِيْنَ فِيْهَآ اَحْقَابًاۚ ٢٣ لَا يَذُوْقُوْنَ فِيْهَا
بَرْدًا وَّلَا شَرَابًاۙ ٢٤ اِلَّا حَمِيْمًا وَّغَسَّاقًاۙ ٢٥ جَزَاۤءً
وِّفَاقًاۗ ٢٦ اِنَّهُمْ كَانُوْا لَا يَرْجُوْنَ حِسَابًاۙ ٢٧ وَّكَذَّبُوْا
بِاٰيٰتِنَا كِذَّابًاۗ ٢٨ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ كِتٰبًاۙ ٢٩ فَذُوْقُوْا
فَلَنْ نَّزِيْدَكُمْ اِلَّا عَذَابًا ࣖ ٣٠
"Sesungguhnya neraka jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui
batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak
merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,
selain air yang mendidih dan nanah,
sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami
dengan sesungguh-sunguhnya. Segala sesuatu telah
Kami catat dalam suatu kitab. Karena
itu, rasakanlah. Kami sekali-kali tidak akan menambah kepadamu selain azab. " (An Naba':
21-30)
Sesungguhnya neraka Jahannam itu sudah diciptakan, sudah ada, dan padanya ada tempat pengintai bagi orang-orang yang melampaui batas. Ia menunggu dan menantikan mereka yang akan sampai juga ke sana, karena ia memang disediakan dan disiapkan untuk menyambut mereka. Seakan-akan mereka melakukan perjalanan (tur) di bumi, kemudian mereka kembali ke tempat asalnya. Mereka datang ke tempat kembalinya ini untuk menetap di sini dalam masa yang amat
panjang, berabad-abad, 'Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman."(An Naba': 24)
Kemudian dikecualikan, tetapi pengecualian ini lebih pahit dan lebih pedih,
"... selain air yang mendidih dan nanah. " (An Naba': 25)
Kecuali air yang panas mendidih, yang memanggang kerongkongan dan perut. Nah, inilah kesejukan itu. Juga
kecuali nanah yang meleleh dan mengalir dari
tubuh orang-orang yang dibakar itu. Maka,
inilah minumannya!
“..sebagai pembalasan yang setimpal. " (An Naba': 26)
Setimpal dengan tindakan dan kelakuan mereka pada masa lalu sewaktu di dunia dulu.
"Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab. " (An Naba': 27)
Mereka
tidak takut pada tempat kembalinya nanti.
".. dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesunguh-sungguhnya...." (An Naba': 28)
Tekanan keras pada lafal ini mengisyaratkan sangat kerasnya
pendustaan dan kebandelan mereka. Allah menghitung atas
mereka setiap sesuatunya dengan hitungan yang amat cermat dan tidak satu pun yang terluput,
"Segala sesuatu telah Kami
catat dalam suatu kitab. " (An
Naba': 29)
Di sini datanglah ledekan yang memutuskannya dari segala harapan untuk mendapat perubahan atau keringanan,
"Karena itu, rasakanlah. Kami sekali-kali
tidak akan menambah kepadamu
selain dari azab!" (An Naba': 30)
Keadaan Orang-rang yang Bertakwa
Sesudah dibentangkan pemandangan orang-orang yang melampaui
batas di dalam air yang mendidih, dibeberkanlah pemandangan
sebaliknya. Yakni, pemandangan orang-orang bertakwa yang ada di dalam surga,
اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ ٣١ حَدَاۤىِٕقَ
وَاَعْنَابًاۙ ٣٢ وَّكَوَاعِبَ اَتْرَابًاۙ ٣٣ وَّكَأْسًا دِهَاقًاۗ ٣٤ لَا
يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا كِذّٰبًا ٣٥ جَزَاۤءً مِّنْ رَّبِّكَ
عَطَاۤءً حِسَابًاۙ ٣٦
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, gadis-gadis
remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh
(berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan
pemberian yang cukup banyak.“ (An Naba': 31-36)
Apabila Jahannam itu menjadi pengintai dan tempat kembali
bagi orang-orang yang melampaui batas, yang mereka
tidak dapat lepas dan melintas darinya, maka orang-orang yang bertakwa akan berkesudahan di tempat keberuntungan dan keselamatan yang berupa "kebun-kebun
dan buah anggur''. Disebutkannya buah anggur secara khusus dan tertentu di sini adalah karena anggur itulah yang populer di kalangan orang-orang yang mendengar firman ini. Juga gadis-gadis remaja yang sebaya "umur dan kecantikannya". "Dan, gelas gelas yang penuh" berisi minuman.
Ini adalah kenikmatan-kenikmatan yang lahirnya
bersifat indrawi, untuk mendekatkannya kepada apa yang dibayangkan manusia. Adapun hakikat rasa dan
kenikmatannya belum pernah dirasakan oleh penduduk
dunia karena mereka terikat dengan batas-batas
dan gambaran-gambaran duniawi. Di samping
kenikmatan lahiriah yang demikian, mereka juga mengalami keadaan yang dirasakan oleh hati dan perasaan,
“Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang
sia-sia dan tidak (pula perkataan)
dusta.” (An Naba': 35)
Kehidupan surgawi adalah kehidupan yang terpelihara dari kesia-siaan dan kebohongan yang biasanya
diiringi dengan bantahan dan sanggahan. Maka, hakikat (keadaan yang sebenarnya) di sini diungkapkan, tidak ada peluang untuk membantah dan mendustakan, sebagaimana tidak ada peluang untuk berkata sia-sia yang tidak ada kebaikan padanya. Inilah suatu keadaan dari keluhuran dan kesenangan
yang cocok dengan negeri akhirat yang
kekal.
“Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak." (An Naba': 36)
Di sini kita menjumpai fenomena keindahan dalam ungkapannya dan kesamaan bunyi pada kata dan sebagaimana
kita rasakan juga iramanya pada akhir
setiap kalimatnya dengan bunyi yang hampir
sama. Ini merupakan feriomena yang jelas di dalam juz ini seluruhnya secara global.
Malaikat pun Merasa Takut
Untuk melengkapi pemandangan-pemandangan hari yang padanya sempurna segala urusan itu, dan yang dipertanyakan oleh orang-orang yang mempertanyakan, serta diperselisihkan oleh orang-orang yang
memperselisihkan, maka datanglah pemandangan terakhir dalam surat ini. Yakni, ketika malaikat Jibril dan malaikat-malaikat lainnya berdiri berbaris
dengan khusyu di hadapan Allah yang Rahman,
tanpa berkata sepatah katapun kecuali yang
diizinkan oleh yang Rahman di tempat yang menakutkan dan agung itu,
رَّبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا
الرَّحْمٰنِ لَا يَمْلِكُوْنَ مِنْهُ خِطَابًاۚ ٣٧ يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ
وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ
الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا ٣٨
“Tuhan yang Memelihara langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, yang Maha Pemurah. Mereka
tidak dapat berbicara dengan Dia.
Pada hari, ketika ruh dan para
malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah
diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang
Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang
benar.” (An Naba': 37-38)
Pembalasan yang dijelaskan pada segmen di atas adalah pembalasan bagi orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang yang bertakwa. Pembalasan ini adalah "dari Tuhanmu, Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya, yang Maha Pemurah".
Kalimat ini serasi benar dengan sentuhan dan hakikat
yang besar ini. Hakikat rububiyyah 'pemeliharaan Tuhan' yang Esa, meliputi seluruh
manusia sebagaimana ia meliputi
langit dan bumi serta dunia dan
akhirat, dan memberikan balasan kepada perbuatan melampaui batas dan perbuatan takwa, serta berujung padanyalah urusan akhirat dan dunia. Kemudian, "Dia adalah 'Maha Pemurah,
Pemilik dan Pemberi rahmat".
Karena rahmat-Nya inilah, maka diberikan balasan kepada mereka ini dan mereka itu. Sehingga, pemberian hukuman kepada orang-orang yang melampaui batas itu bersumber dari rahmat Tuhan yang Rahman ini. Karena rahmat ini pula, maka keburukan mendapatkan balasan yang tidak sama dengan balasan bagi kebaikan di tempat kembali
nanti.
Di samping rahmat
dan keagungan ini, "mereka tidak dapat berbicara dengan Dia" pada hari yang menakutkan ketika malaikat Jibril as dan malaikat-malaikat lain berdiri "bersaf--saf tanpa berbicara sepatah kata pun" kecuali dengan adanya
izin dari yang Maha Pemurah
untuk mengucapkan perkataan yang benar. Maka, tidak ada yang diizinkan oleh Ar-Rahman kecuali
yang sudah diketahui bahwa ia benar.
Hari yang Pasti Terjadi
Sikap orang-orang yang didekatkan kepada Allah, yang bersih dari dosa-dosa dan kemaksiatan
ini adalah diam tanpa berkata-kata sedikit pun kecuali dengan adanya
izin dari Allah dan dengan
perhitungan. Suasananya dipenuhi dengan ketakutan, kesedihan, keagungan, dan
ketundukan. Di bawah bayang-bayang pemandangan ini terdengarlah seruan yang berisi peringatan dan mengguncang
orang-orang yang tertidur dan mabuk kepayang,
ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى
رَبِّهٖ مَاٰبًا ٣٩ اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا ەۙ يَّوْمَ
يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ
كُنْتُ تُرٰبًا ࣖ ٤٠
“ltulah hari yang pasti terjadi. Maka,
barangsiapa yang menghendaki,
niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan
kepadamu (hai orang kafir) dengan siksa yang dekat, pada hari
manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (An Naba':
39-40)
Inilah guncangan keras terhadap mereka yang hatinya dipenuhi keraguan dan selalu mempertanyakan "hari yang
Pasti terjadi" itu. Maka, tidak ada peluang untuk mempertanyakan dan memperselisihkannya. Selagi masih ada kesempatan, "maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada, Tuhannya" sebelum neraka Jahannam mengintainya dan menjadi tempat kembalinya.
Inilah peringatan untuk menyadarkan orang-orang yang mabuk kepayang, "Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu siksa yang dekat". Maka, Jahannam itu senantiasa
menantikan dan mengintaimu seperti yang kamu ketahui. Dunia ini secara keseluruhan adalah perjalanan yang pendek dan
usia yang singkat !
Inilah azab yang mengerikan dan menakutkan, sehingga orang kafir lebih memilih hilang
eksistensinya daripada masih berwujud,
“Pada
hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu hanyalah tanah.”
(An Naba': 40)
Tidaklah orang berkata seperti ini kecuali
dia berada dalam kesempitan dan kesedihan yang sangat. Ini
adalah kalimat yang memberikan bayang-bayang
ketakutan dan penyesalan. Sehingga,
ia berangan-angan untuk tidak pernah menjadi manusia, dan menjadi unsur yang
diabaikan dan disia-siakan (tak
diperhitungkan). la melihat bahwa yang demikian itu lebih ringan daripada
menghadapi keadaan yang menakutkan dan mengerikan. Ini suatu sikap yang bertolak belakang dengan keadaan ketika mereka
mempertanyakan dan meragukan berita besar
tersebut !!!
Comments
Post a Comment