وَلَقَدْ
كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ
مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut
mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan
Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk
yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra, 17: 70)
Ikhwah fillah, di muqaddimah jalasah ini tadi telah saya bacakan ayat
yang sangat masyhur dan sering dinukil dari surat Al-Isra’. Dalam ayat ini
terlihat betapa Allah SWT secara fitrah, kata orang Malaysia secara ‘semula
jadi’, menciptakan manusia dalam kemuliaan: “وَلَقَدْ
كَرَّمْنَا”. Akan tetapi kemuliaan ini adalah al-karamah bittakrim,
kemuliaan karena dimuliakan dan bukannya al-karamah dzatiyah, kemuliaan an-sich
atau kemuliaan yang melekat dengan sendirinya.
Sebagai makhluk mulia manusia dikaruniai kemampuan lebih oleh Allah
SWT. Inipun bukan karena usahanya sendiri, melainkan karena Allah SWT telah
mempersiapkan seluruh ciptaan-Nya untuk manusia:
أَلَمْ
تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ
يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan
untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada
yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan
tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman, 31: 20).
Semua yang ada di langit dan di bumi telah ditundukkan dan
disiapkan-Nya untuk mendukung manusia menngimplementasikan kelebihan-kelebihan
yang dimilikinya dan menerjemahkan bakat-bakat yang ada dalam dirinya, karena
keseluruhan ciptaan Allah itu musakhar, yakni telah dipersiapkan untuk
didayagunakan oleh manusia. Oleh sebab itulah frasa dalam ayat tersebut.
“Walaqad karramnaa banii aadam” diikuti dengan frasa: “Wahamalnaahum
fil barri wal bahri” sebagai simbol yang mewakili seluruh kemampuan
rekayasa manusia dalam memanfaatkan al-kaun (universe). Manusia bisa
membuat dan merekayasa kendaraan dan bahkan masalah kendaraan bisa menjadi
ukuran prestise dan kehormatan seseorang.
Makhluk-makhluk selain manusia, yang ada di bumi ini berkendaraan
hanya artifisial sifatnya. Gajah misalnya, ada yang bisa naik motor, tapi hanya
artifisial yakni hanya di ruang lingkup sirkus saja. Demikian pula dengan
monyet yang sudah dilatih untuk bisa naik sepeda atau mobil. Mereka hanya bisa
beratraksi di dalam tenda sirkus, karena bila dilepas di jalan raya besar
kemungkinannya akan semakin menimbulkan keruwetan dan kemacetan. Sementara
manusia mampu merekayasa pendayagunaan potensi yang dipersiapkan oleh Allah
untuk mendukung ta’yid dari Allah sehingga ia berkendaraan di darat,
laut, udara dan angkasa luar.
Kemudian “warazaqnaahum minath thayyibaat”, artinya Allah
memberi rizqi kepada manusia dari yang baik-baik saja. Bisa kita bandingkan
misalnya dengan hewan ayam yang makan dari comberan dan cacing yang
mendapatkan rizqi dari lumpur, sementara manusia hanya mengkonsumsi yang
baik-baik.
Apalagi manusia dengan kelebihan akal dan fitrahnya mampu membuat
hal-hal yang thayyibat menjadi tampil semakin lebih thayyib.
Misalnya manusia merekayasa, mengolah masakan berjam-jam bahkan berhari-hari
agar tampil lezat dan prima seperti tomat yang diubah menjadi seperti bunga
mawar untuk hiasan demikian pula cabe, timun dll, padahal untuk menghabiskan
semua santapan tersebut mungkin hanya dibutuhkan waktu 1/4 atau 1/2 jam saja.
Demikian juga gula-gula dan coklat yang dibuat dalam berbagai bentuk cetakan.
Selanjutnya dalam firman Allah SWT tersebut disebutkan,
وَفَضَّلْنَاهُمْ
عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Kami utamakan / lebihkan manusia di antara makhluk-makhluk
ciptaan-Nya”.
Keutamaan ini juga karena tafdhil, dimuliakan oleh Allah, semata-mata al-fadhlu
minallah, kemuliaan dan kelebihan dari sisi Allah bukan kemuliaan an
sich atau kemuliaan yang dengan sendirinya. Lalu kemuliaan yang dimiliki
manusia ini pun ‘alaa katsiirin mimman khalaqnaa tafdhila, di atas
makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Ada mufassir yang mengatakan
keutamaan manusia tersebut ‘alaa jama’il khalaiq, di atas semua
makhluknya kecuali malaikat. Tetapi mufassir lainnya, mengatakan kelebihan dan
keutamaan manusia juga di atas malaikat. Menurut sebagian mufassir tersebut
malaikat masih mafdhul di bawah manusia, karena ia memang tidak memiliki
syahwat sehingga bisa konsisten dalam kepatuhannya kepada Allah. Sementara
manusia yang memiliki akal, bakat dan mampu mengendalikan syahwatnya ia bisa
mencapai derajat melebihi malaikat karena walau pun memiliki syahwat ia tetap
berjuang dengan iman dan akalnya untuk konsisten di jalan-Nya. Namun bila
manusia tidak mengoptimalkan takrim dan tafdhil dari Allah bahkan
malah memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, ia bisa meluncur ke derajat
yang sangat rendah yakni lebih rendah dari binatang,
أُولَئِكَ
كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الأعراف)
Mereka itu tak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat
lagi.
Bila manusia-manusia yang bertaqwa tidak melepaskan diri dari takrim
dan tafdhil, ia bisa dianggap melebihi malaikat. Buktinya ada
malaikat yang ditugaskan Allah menjaga dan memberinya rizqi serta mencatat
segala amal perbuatannya, seolah-olah mereka pelayan manusia. Bahkan secara
tidak langsung Allah mempersiapkan malaikat menjaga manusia tidur, karena
bayangkan saja bila manusia tidur tidak dijaga malaikat maka segala binatang
seperti semut bisa memasuki lubang hidung, mulut dan lainnya.
Berkat penjagaan / ri’ayah Allah melalui malaikat-malaikat
maka orang tidur bisa aman. Begitu pula bila ada bayi atau anak kecil yang
jatuh dari ranjang tetapi tidak cidera, orang-orang tua kita biasa berucap,“Wah
anak kecil nggak punya dosa jadi masih selalu dilindungi dan dijaga oleh
malaikat”. Atau ketika ia menatap terus ke atas dan berkata “aaah” dikomentari
orang-orang tua, “Wah dia lagi ngelihat dan ngobrol dengan malaikat”.
Wallahu a’lam hadza minal ghaibiyat.
Ditilik dari sudut tafsir yang manapun, tetap saja dapat
disimpulkan manusia adalah makhluk termulia di sisi Allah SWT. Takrim dan
tafdhil dari Allah tersebut terkait dengan kemanusiaannya dan takrim serta
tafdhil tersebut tentu saja akan meningkat bila kemanusiaan tersebut
ditambah dengan aspek keislamannya. Apalagi bila dilengkapi dengan aspek keda’wahan
dan kejama’ahannya. Seyogyanyalah ada nilai plus atau nilai lebih dari sekedar
nilai kemanusiaan atau bahkan dari keislaman. Kita harus menampilkan diri sebagai
syakhsiyah mukarramah (pribadi yang mulia) atau syakhsiyah mufadhalah
(pribadi yang utama) demikian pula dengan jama’ah mukarramah dan jama’ah
yang mufadhalah. Hal itu insya Allah bukan perwujudan sifat riya’,
sombong atau ghurur melainkan lebih sebagai konsekuensi dari takrim dan
tafdhil yang diberikan Allah. Kita harus benar-benar menjaga, memelihara
dan menunjukkan karunia yang diberikan Allah tersebut.
Ikhwah fillah, sekali lagi saya tekankan bahwa kita sebagai da’i
berkewajiban meng’izharkan, mengekspresikan, merealisir karamah basyariyah (kemuliaan
kemanusiaan) dan fadhail basyariyah (keutamaan kemanusiaan) agar
benar-benar nampak kehormatan, kelebihan dan keutamaan manusia sebagai makhluk
yang mukarramah dan fadhailah. Bukankah rasulullah SAW juga
bersabda, “Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia)?
Jadi kita tidak mungkin menampilkan takrim dari Allah tanpa
kita memiliki akhlaqul karimah. Dan kita juga tidak mungkin
merefleksikan dan merealisir tafdhil Allah dalam kehidupan kita bila
kita tidak produktif dalam fadhail amal. Hal tersebut harus benar-benar
kita camkan dan upayakan, karena bila kita lalai—na’udzubilah, kita akan
meluncur jatuh bukan saja dari kejama’ahan, keda’ian dan keislaman, melainkan
bisa pula meluncur jatuh dari kemanusiaannya menjadi seperti hewan atau bahkan
lebih buruk lagi dari hewan.
أُولَئِكَ
كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الأعراف)
Ayat tersebut sering dilewati begitu saja dalam membacanya,
sehingga kadang-kadang kebanggaan kita akan status sebagai makhluk mulia
hanyalah kebanggaan semu belaka.
Sebagai da’i sudah tentu tugas kita adalah mambuktikan takrim
dan tafdhil dari Allah serta tidak berhenti pada kebanggaan semu saja,
hal itu dilakukan dengan cara melahirkan makarimul akhlaq dan fadhail
amal dari diri kita.
Prioritas kita untuk senantiasa merefleksikan takrim dan tafdhil
dari Allah dengan cara memegang teguh makarimul akhlaq dan fadhail
amal adalah dalam rangka itsbatul wujud atau membuktikan eksistensi
kita sebagai manusia, sebagai muslim, sebagai da’i dan sebagai jama’ah dakwah.
Karena bila eksistensi kita tidak terkait dengan hal itu, kita akan dihinakan
oleh Allah SWT.
Dalam do’a qunut setiap witir kita berdo’a, “Allahummahdinii
fiman hadait, wa ‘afinii fiman ‘afait, watawallanii fiman tawallait wa barik
lii fii ma a’thait waqinii syarra ma qadhait walaa ya’izzu man ‘adait walaa
yadzillu man wallait . Dua kalimat ini sarat dengan makna, jika kita mu’adatillah,
memusuhi Allah, wali-wali Allah dan program-program Allah, maka kita tidak akan
memiliki izzah, gengsi atau harga diri, jangankan sebagai da’i, sebagai manusia
saja tidak (walaa ya’izzu man ‘adait).
Kemudian walaa yadzillu man wallait, tidak akan dihinakan
siapa saja yang memiliki wala’ (loyalitas) kepada Allah. Sehingga
betapapun ekonomi kita lagi morat-marit dan kedudukan secara sosial,
politik serta ekonomi dianggap rendah oleh orang lain, kita tidak mungkin hina
dan dihinakan selama wala’ kita utuh.
إِنَّمَا
وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ
الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (المائدة)
Allah menegaskan walaa yadzillu, tidak mungkin hina karena
izzah kita terkait dengan a’azzul a’azz, dzat yang paling mulia, aziz di
atas segala yang mulia. Jadi izzah, gengsi kita terkait dengan izzah, gengsi
Allah SWT.
Oleh karena itu dalam konsep Islam, wala’ terkait erat dan
langsung dengan izzah. Merosotnya wala’ akan menyebabkan
merosotnya pula izzah. Dahulu dalam madah tamhidiyah, saya qarinahkan
di antara dua ayat yakni antara innama waliyyukumallahu wa rasuul walladzina
amanu dan kemudian refleksi atau implementasinya nampak dalam ayat wa
‘athiullah, wa ‘athiurrasul wa ulil amri minkum. Wala’ kita kepada walladzina
amanu dan taat kita kepada ulil amri minkum hanya melekat sepanjang
orang-orang yang beriman dan pemimpin-pemimpin tersebut berada di jalur
ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian wala’ (loyalitas) yang kita miliki juga terkait dengan aziz
dan dzalil-nya kita. Jika wala’ kita kepada Allah, rasul dan ulil
amri minkum meningkat maka izzah kitapun meningkat. Namun bila wala’
kita menurun maka—na’dzubillah, kitapun akan meluncur ke lembah kedzalilan,
kehinaan. Hal itu saya gambarkan dalam madah tamhidiyah dengan satu
kalimat: abdul azizi azizun, abdul dzalili dzalilun, abdul karimi
karimun dst.
Kalimat singkat tersebut di atas mencerminkan refleksi asma’ul
husna dan ash-shifatul ulya-nya atas diri kita. Rasulullah SAW
memang menganjurkan agar kita memiliki sifat-sifat sebagaimana sifat-sifat yang
dimiliki Allah. Bukan berarti menyamai-Nya, melainkan bagaimana caranya
keagungan sifat-sifat Allah tersebut terefleksi atau terimbas ke dalam diri
kita sesuai dengan kadar kemampuan kita.
Allah SWT menurunkan konsepnya berupa Al-Qur’an untuk menjaga
kemuliaan kita, oleh sebab itu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang diungkapkan
dengan kata dzikr, misalnya dalam QS. 43 ayat 44:
وَإِنَّهُ
لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلونَ (الزخرف)
Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan /
kehormatan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan dimintai
pertanggungjawaban.
Artinya kehormatan dan kemuliaan diri kita sangat terkait dengan
komitmen kita terhadap Islam, da’wah dan Qur’an itu sendiri. Dalam Al-Qur’an
kata dzikr memiliki dua makna yakni bisa berarti peringatan bagi orang
yang lalai, namun bagi mu’min kata dzikr berarti penghormatan baginya.
Karena itu disebutkan dzikrun lidzakirin, kehormatan adalah untuk
orang-orang yang selalu berkomunikasi dengan Allah SWT. Bahkan dalam surat Shaad
(38) ayat 1:
ص
وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ
Saad, demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan.
Para mufassirin menyebutkan bahwa wal qur’aani dzil dzikir adalah
lisharfin wa karamatin wa hurmatin artinya Qur’an memiliki sharf-sharf,
dengan derajat-derajat / tingkat-tingkat kehormatan. Bila seseorang lulus ujian
doktor dengan predikat cum laude hal itu disebut sharf dan bila
lulusnya lebih bagus lagi disebut summa cum laude itu sepadan dengan karamah.
Akhirnya bila lulusnya lebih gemilang lagi disebut magna cum laude itu
sepadan dengan hurmah.
Jadi jelaslah bagi kita bahwa sharf, karamah dan hurmah
kita terkait erat dengan Al-Qur’an untuk menjaga takrim dan tafdhil
dari Allah SWT. Bila kita tidak bisa menjaga takrim dan tafdhil
dari Allah dan mendapatkan sharf, karamah dan hurmah karena
komitmen kita dengan Al-Qur’an, apa bedanya kita dengan “ammatinnaas”,
manusia kebanyakan atau manusia pada umumnya.
Ikhwah fillah, saya katakan kita ini tandzim nukhbawi (organisasi
kader) artinya secara tandzim atau organisasi, jama’ah kita adalah jama’ah
kader yang terbukti dengan adanya detail-detail perangkat tarbawi dengan segala
tahapannya. Seseorang harus melalui berbagai tahapan untuk bisa menjadi anggota
dewasa atau mas’ul.
Tanggung jawab kita adalah menjaga kehormatan, kemuliaan dan
kelebihan kita yang sudah dikaruniai Allah SWT. Alat untuk menjaga kemuliaan
sudah pula diberikan Allah yakni berupa Al-Qur’an dan Islam itu sendiri.
Refleksi secara moral adalah berupa keutuhan wala’ (loyalitas) kita
kepada Allah, rasul dan ulil amri, sedangkan refleksi secara operasional
adalah dalam bentuk taat kepada Allah, rasul dan ulil amri. Jika
refleksi moral dan operasional tidak ada, maka na’udzubillah kita akan
merosot dari izzah menjadi dzillah (hina). Itu merupakan satu
kepastian. Memang refleksi moral dan operasional adalah sesuatu yang sangat
mendasar dan penting serta perlu senantiasa diperteguh kembali karena
faktor-faktor yang bisa melunturkan aqidah sangat banyak.
Hal yang sekarang ini saya khawatirkan adalah antum para mas’ulin
(lapisan pemimpin) dalam jamaah terkena istiftan, fitnah karena sering
tampil di mana-mana dan memperoleh kemasyhuran di mimbar-mimbar khutbah,
seminar, undangan-undangan yang berkelas nasional atau bahkan internasional.
Kekhawatiran saya adalah jika kesemuanya itu kemudian akhirnya melunturkan
refleksi moral sumber kehormatan kita yakni wala’ (loyalitas) dan
refleksi operasionalnya berupa taat, sehingga akhirnya menyebabkan meluncurnya
antum di bawah kehormatan sebagai manusia.
Fitnah tersebut biasa disebut fitnah ‘alal kibar atau fitnah
yang menimpa orang-orang besar dan memiliki posisi. Padahal sekali lagi saya
tekankan, Allah SWT telah memberikan kehormatan yang begitu besar kepada
manusia seperti tergambar dalam adegan ketika Rasulullah seolah-olah berdialog
dengan ka’bah. Inti dialog Rasulullah dengan ka’bah ialah pengakuan beliau
tentang kehormatan dan kemuliaan yang dimiliki ka’bah sebagai baitullah, tetapi
kemudian beliau bersumpah: “Wallahi lahurmatul mu’min a’zhamu ‘indallahi
hurmatan minki”. Rasulullah menegaskan bahwa kehormatan seorang mu’min
lebih agung dan lebih besar di sisi Allah dibandingkan dengan kehormatan
ka’bah. Padahal bayangkan setiap tahunnya dua juta orang berkeliling thawaf di
musim haji dan setiap hari kurang lebih 1,4 milyar muslim sujud menghadap
kiblat atau paling tidak mengakui ka’bah sebagai kiblatnya.
Oleh sebab itu kehormatan yang diberikan Allah SWT jangan kita
sia-siakan bahkan hendaknya selalu kita jaga dan tingkatkan agar kita lebih
dekat dengan-Nya (aqrab ilallah). Kedekatan kita dengan Allah Yang Mulia
akan membuat kita menjadi mulia pula, abdul karim karimun (hamba Yang
Mulia akan mulia pula).
Dalam kitab tafsir Al-Qur’an, para ulama tafsir menyebutkan bahwa
puncak kemuliaan seorang manusia ditunjukkan justru dalam posisi kehambaannya,
sebagai abdun.
سُبْحَانَ
الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Di ayat tersebut Rasulullah disebutkan dengan bi’abdihi dan
bukan birasulihi atau bimuhammadin, karena manzilatil ulya’
indallah justru adalah manzilah ‘ubudiyah.
Manazilatul ‘ubudiyah adalah manzilatul ‘ulya dan akramuhum ‘azhomuhum lillah atau
yang paling mulia adalah yang paling tinggi nilai ‘ubudiyahnya kepada
Allah. Hal tersebut merupakan persoalan aqidah yang sangat mendasar sehingga
menjadi sumber ya’ tazzu bi-imanihi, bi-islamihi, bida’watihi,
bijihadihi (kebanggaan akan keimanan, keislaman, da’wah dan
perjuanganya).
Hal ini penting saya tekankan mengingat saat ini masih banyak orang
yang berebut mencari eksistensi diri dan golongannya melalui beraneka ragam
manuver. Mereka saling berebut kedudukan yang sebetulnya sudah lapuk dan
sebentar lagi akan hancur.
إِنَّ
الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً (الاسراء: من الآية81)
Padahal untuk mencari itsbatul wujud, tahqiqu dzat atau
eksistensi diri, manusia harus kembali pada hal yang sangat elementer atau
mendasar, yakni prinsip-prinsip aqidah.
Ikhwah fillah, Allah SWT banyak memperingatkan kita tentang sumber
kemuliaan di dalam Al-Qur’an. Misalnya di dalam QS. 49:13,
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ
شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (الحجرات)
Juga di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Malik dalam kitab
Al-Muwatha di bab jihad disebutkan:‘Karamul mu’minin taqwahum wa dienuhu
nasabuhu’. (Kemuliaan seorang mu’min terletak pada ketaqwaannya dan dien /
agamanya adalah nasabnya).
Orang pada umumnya suka membanggakan asal usul keturunannya, misalnya berdarah
biru atau keturunan bangsawan. Di Banten umpamanya dipanggil dengan Tubagus dan
di Jawa dengan Den Mas (dari raden mas) atau Gus. Padahal Rasulullah bersabda
bahwa kebanggaan kita akan nasab atau keturunan haruslah terkait dengan sejauh
mana intima’ (komitmen) diri kita, orang tua dan nenek moyang kita
terhadap Islam. Kemudian dilanjutkan hadits tersebut disebutkan juga ‘wa
muru’atuhu khulquhu’ (harga dirinya terletak pada akhlaknya). Tinggi
rendahnya harga diri seseorang ditentukan oleh tinggi rendahnya akhlaknya.
Ikhwah Fillah, jika kita gegabah atau melalaikan nilai-nilai
elementer aqidah yang implementasi moralnya berupa keutuhan wala’ pada
Allah, Rasul dan orang-orang beriman serta implementasi operasionalnya berupa
keutuhan ketaatan kepada Allah, Rasul dan pemimpin mu’min, maka na’udzubillah
kita dapat dimusnahkanNya dan digantikannya dengan kaum yang lain yang
sesuai dengan kehendakNya (QS. 5:54),
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ
يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ
وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (المائدة)
Dalam QS. Al-Faathir ayat 15-17 Allah berfirman,
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ
الْحَمِيدُ. إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ. وَمَا ذَلِكَ
عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (فاطر)
Hai manusia kamulah yang membutuhkan Allah, dan Allah Dialah Yang
Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki
niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk
menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.
Wahai umat manusia kalian semua fuqara ilallah dan Allah-lah
Yang Maha Kaya lagi Terpuji. Kata fuqara ilallah menunjukkan
ketergantungan total manusia pada Allah. Untuk sekadar bisa bernafas saja kita
sudah bergantung pada Allah. Kalau bukan Dia siapa yang bisa menjamin zat asam
(O2) secara gratis kita hisap. Jangankan dicabut, sekadar dikurangi atau
ditambah sedikit saja kadar kepekatannya sudah sangat berbahaya. Bila kadar zat
asam di udara di tambah, paru-paru kita akan kebakaran.
Ketergantungan lainnya misalnya ketika kita tidur selain dijaga oleh malaikat
dari serangga-serangga, ternyata di tubuh kita juga terjadi proses alamiah
berupa keluarnya lendir-lendir yang menjijikkan namun berguna untuk mencegah
serangga masuk ke lubang-lubang tubuh kita. Saya pernah membaca di dalam kitab Ath-Thibb
Mihrabul Iman (Kedokteran adalah pintu gerbang keimanan) bahwa segala
sesuatu yang sepintas menjijikkan justru merupakan bagian dari takrim dan
tafdhil Allah terhadap kita. Jadi di saat tidur pun kita benar-benar fuqara
ilallah. Dialah yang telah melindungi kita dengan memberikan penjagaan
berupa aparat ruhi ghaibi (malaikat) dan instrumen-instrumen alami
berupa keluarnya lendir-lendir.
Oleh sebab itu dulu pernah saya kisahkan bagaimana seorang perampok
bermaksud merampok seorang ulama di Syam. Saat itu sang ulama sedang shalat
tahajud dan membaca ayat,
وَفِي
السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ. فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ (الذريات:22-23)
Linggis perampok itu terjatuh dan ia terduduk lemas seraya berucap:
“Ya Allah thalabtuhu fid dunya wa huwa fis sama” (Ya Allah saya mencari
rizqi di dunia ternyata adanya di langit). Sang ulama mendengar suara linggis
jatuh, keluar dan mendapati pencuri itu sedang menangis. Pencurinya diajaknya
masuk, bahkan kemudian dibekali dan ternyata pada musim haji berikutnya ulama
tersebut bertemu dengan mantan pencuri itu sedang thawaf. Ia benar-benar telah
taubat.
Artinya yang terpenting adalah as-Sama’, kalaupun kita
berusaha itu sekadar wasail (sarana) dan merupakan hakikat syari’at,
namun hasilnya belum tentu, tergantung yang di langit. Kita wajib mencari,
namun hasilnya kita serahkan kepada Allah.
Ali bin Abi Thalib pernah menasehati Hasan dan Husein bahwa rizki
itu ada dua macam yakni rizqun tathlubuhu (rizki yang kamu cari) dan rizqun
yathlubuka (rizki yang mencari kamu). Namun Sayyidina Ali tidak memisahkan
kedua-duanya: rizqun tathlubuhu wa rizqun yathlubuka. Karena
rizqi ingin cepat sampai ya tathlubuhu (dicari) karena kalau menunggu
yang yathlubuhu, bisa-bisa datangnya agak lama.
Saya pernah membaca dalam kitab tentang sufi, di antaranya ada
kisah orang yang ingin menguji Allah SWT, apa iya ada rizqun yathlubuka,
rizki yang mencari dan menghampirimu. Akhirnya ia tidak mau kerja, tidak mau
berusaha dan tidak berinteraksi dengan orang lain. Ia menyendiri di dalam gua
di tengah hutan, ternyata lama-lama jatuh sakit dan mengerang-erang. Ada orang
kampung sedang mencari kayu bakar mendengar suara mengerang-erang di dalam gua.
Karena ia tidak berani masuk sendirian, ia memanggil orang-orang kampung lebih
dulu. Maka masuklah orang-orang itu ke tengah gua, beramai-ramai. Melihat si
sufi ini sakit dan kelaparan, mereka membuka nasi bekal kemudian menyuapi dan
mengobatinya. Sambil disuap, si sufi tadi bergumam: “Shadaqallah warrasul”.
Saya enggak nyari rizki, orang-orang datang ramai-ramai bawa timbel.
Namun untungnya si sufi ini berpikir positif, wah tidak nyari saja dapat
rizki, apalagi kalau saya mau usaha mencari.
Kesadaran ‘Antum fuqara ilallah’ ini harus tertanam di dalam
diri kita di semua bidang kehidupan, agar kita tidak mengkambing hitamkan
dakwah. Misalnya menyesal menjadi da’i atau berada di dalam harakah dakwah ini
karena hidup miskin atau pas-pasan.
Padahal bila kita berhenti berdakwah juga belum tentu jadi kaya. Wa
huwal ghaniyul hamid. Dan Dialah Yang Maha Kaya lagi Terpuji, karena Dialah
yang benar-benar memiliki dan menguasai segala sesuatu.
No comments:
Post a Comment