Al Ukhuwwah Al Islamiyyah

Sinopsis

Perjuangan Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah Islamiyah, karena ukhuwah dalam Islam menempati posisi yang tinggi. Tidak ada satu perkara pun yang dapat mengalahkan kepentingannya untuk membangun kekuatan Islam. Kegiatan dakwah dan perjuangannya tidak akan mungkin berhasil memuaskan tanpa diikat dengan ukhuwah Islamiyah di antara pendukung dan aktifisnya. Dengan pertimbangan ini, Islam menjadikan persaudaraan dalam Islam dan Iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi.

Al Quran dan Sunah Nabi SAW menjelaskan kepentingan ukhuwah Islamiyah dan beberapa keutamaannya dalam meraih kemenangan. Dalam surat Ali Imran:103, Allah SWT memerintahkan hal-hal penting yang tidak mungkin dakwah bisa berjalan tanpa adanya persatuan umat Islam. Allah menyuruh manusia untuk berpegang teguh dengan akidah Islam, berpegang teguh dengan jamaah Islam (organisasi Islam), menghindari perselisihan dan tidak mengikuti hawa nafsu, mengingat nikmat persaudaraan dan nikmat-nikmat Allah lainnya.

Ukhuwah Islam tidak akan wujud tanpa kehendak Allah, karena hanya Allah saja yang menyatukan hati manusia (Q.8:63). Di dalam ukhuwah Islamiyah terdapat rahasia­rahasia yang mendalam dari Allah yang dimasukkan ke dalam hati orang beriman. Kesatuan hati sebagai syarat utama persaudaraan Islam, merupakan salah satu permasalahan yang berada di luar jangkauan potensi, indera dan kemampuan manusia. Karena tidak seorangpun mampu mempersatukan hati manusia dan menjadikannya saling membantu serta saling mencintai. Apabila ukhuwah tumbuh dan berakar di dalam jiwa, maka ia akan membentuk sebuah masyarakat sebagai satu bangunan yang jauh dari perselisihan.

Ukhuwah Islamiyah selain akan memperkuat kesatuan Islam juga akan dapat menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena Islam, tetapi persaudaraan tersebut tidak akan kuat dan kekal. Ukhuwah Islamiyah dijalin oleh Allah SWT sehingga jalinan persaudaraan Islam merupakan ikatan yang kokoh dan teguh dan tidak mungkin ditemukan tandingannya. Perpecahan di kalangan umat saat ini disebabkan karena mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, di antaranya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang sungguh-sungguh. Di antara petinggi Ormas Islam atau Parpol Islam tidak meningkatkan ketakwaan dan ketaatannya kepada Allah. Allah berfirman bahwa ketakwaan dan ketaatan beribadah sebagai satu solusi dari perpecahan umat. Oleh karena itu, usaha-usaha yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan nikmatnya ukhuwah, perlu dijelaskan dengan melihat beberapa proses terbentuknya ukhuwah Islamiyah.

Proses terjalinnya ukhuwah Islamiyah diawali dengan hubungan 'alaqah fardiah ' (hubungan pribadi) dan jama'iyah (bersama). Hubungan secara pribadi adalah hubungan yang dilakukan secara orang per-orang. Sedangkan hubungan berjamaah dilakukan melalui program ammah (umum). Hubungan ini diawali dengan proses taaruf (perkenalan) fisik. Dalam perjalanan hubungan taaruf fisik akan sampai pada pengenalan pemikiran (fikriyan) dan kejiwaannya (nafsian). Taaruf ini sangat penting bagi persaudaraan muslim yang akan memperlancar amal jamai.

Proses taaruf akan memunculkan sikap saling memahami (tafahum) yaitu dengan cara menyatukan hati, pemikiran dan amal. Bila proses tafahum tumbuh maka taawun (kerjasama) dapat dilakukan dengan baik. Proses taawun dilakukan dengan hati (saling mendoakan), pemikiran (saling menasihati) dan secara amal (bantu membantu). Proses taawun melahirkan takaful (saling melengkapi). Dengan takaful maka hati akan saling menyatu dan menyayangi, sehingga memunculkan kesatuan barisan dan umat.

Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Islam merupakan ikatan yang akan mewujudkan kekuatan Islam. Akidah yang tertanam di hati aktifis dakwah, tetapi tidak diikat dengan ukhuwah akan melemahkan kerja dakwah dan tidak akan mencapai tujuan. Organisasi atau jamaah tanpa menjadikan ukhuwah sebagai ikatan akan menghancurkan harakah (pergerakan). Dengan ukhuwah akan menumbuhkan kesatuan kerja, amal dan aktifitas. Selain itu kesatuan berfikir dan kesatuan hati akan semakin mantap dengan adanya ukhuwah Islamiyah.

Setiap orang beriman adalah saudara. Perbedaan yang muncul di antara mereka adalah hal yang wajar. Para sahabat yang mempunyai kualitas akidah dan sangat dekat dengan Nabi, masih terjadi perbedaan di antara mereka. Perbedaan di antara manusia adalah hal yang alami dan biasa. Dengan sikap saling memperbaiki dan mengembalikan permasalahannya kepada Allah SWT melalui ketaatan, maka perselisihan akan terhindar. Dengan demikian, Allah akan turunkan kasih sayang-Nya kepada kita.

Persaudaraan Islam adalah kewajiban yang harus diamalkan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Namun, ukhuwah Islamiyah ini banyak suka dan dukanya. Proses dan pelaksanaan ukhuwah ini dihambat oleh masalah internal dan eksternal umat. Hawa nafsu dan kepentingan akan mempengaruhi ukhuwah ini. Dengan keimanan dan kesatuan hati dalam jamaah Islam maka perpecahan dapat dikendalikan, bahkan persaudaraan Islam ini akan membawa kesatuan amal dan kesatuan umat.

Persaudaraan Islam akan menghasilkan kesatuan barisan dakwah dan kemudian akan menghasilkan kesatuan umat. Wujud dari kesatuan barisan dan kesatuan umat adalah kesatuan amal Islami. Kesatuan amal Islami ini merupakan tuntutan syariat bahkan prinsip dalam syariat. Kesatuan amal Islami diperlukan karena firman Allah surat Al Anbiya: 29, Al Mu'minun:52 dan HR Ahmad dan Muslim:

"Perumpamaan orang yang beriman yang saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi sesama mereka seperti tubuh yang satu". Dorongan yang kuat untuk bersatu dan dilarang berpecah disebut dalam firman Allah surat Ali Imran: 105 dan surat Al An'am: 159, juga HR Ath Thabrani tentang siapa yang memecah belah bukanlah golongan kami.

1. Al-Ittishaal (Hubungan)

·             Fardiyyan (Pribadi)

·             Jamaa'iyyan (Kolektif )

Sebagai makhluk sosial, manusia saling berhubungan dan bergaul. Hal ini merupakan keperluan dan tuntutan hidup yang saling mempengaruhi dan saling berinteraksi.

Hubungan sesama manusia dapat terlaksana melalui pribadi dan berkelompok. Dapat dilaksanakan dimana saja. Hubunganini bagi aktifis dakwah akan dimanfaatkan sebagai pintu-pintu yang menghubungkan jalan dakwah.

Persaudaraan Islam menjadikan hubungan di antara manusia ini sebagai media untuk bertaaruf (saling mengenal). Peluang bertaaruf secara pribadi biasanya lebih berkesan dibandingkan dengan cara berjamai.

Dalil

Q. 49:10. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

Q. 8:1. Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman".

Hadits. Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang terzalimi." Dikatakan, "Ya Rasulullah, menolong orang yang dizalimi itu dapat kami pahami, namun bagaimana bisa kami menolong orang yang zalim?" Beliau bersabda, "Cegah dan laranglah dia dari berbuat zalim; begitulah menolongnya" (HR Ahmad).

Hadits. Rasulullah SAW bersabda, "Orang muslim itu saudara bagi orang muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak pula membiarkannya dizalimi". Rasulullah SAW bersabda, "Dan Allah akan selalu siap menolong seorang hamba selama hamba itu selalu siap menolong saudaranya".

Hadits. Dari Nu'man Ibnu Basyir berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang-orang mukmin di dalam cinta mencintai, kasih mengasihi, dan berlemah lembut ibarat satu tubuh bila sebagian anggota menderita sakit niscaya dirasakan oleh seluruh anggota tubuh dengan tidak bisa tidur dan demam" (HR Bukhari Muslim).

2. At-Ta'aaruf (Saling Berkenalan)

·             Jasadiyyan (Fisik)

·             Fikriyyan (Pemikiran)

·             Nafsiyyan (Kejiwaan)

Interaksi dapat lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama lebih kepada penampilan fisik, seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya berjalan, tingkah laku, tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya. Selanjutnya berusaha mengenal pemikiran dan kejiwaan.

Mengenal pemikiran dilakukan melalui dialog, pengenalan dilakukan juga melalui analisa isu yang berkembang, pandangan terhadap masalah, latar belakang pendidikan, kecenderungan berfikir, cara menanggapi sesuatu dan tokoh (idola) yang dikagumi/diikuti.

Mengenal kejiwaan ditekankan kepada upaya memahami kepribadian, karakter, emosi dan tingkah laku. Setiap manusia itu unik dan khas, mai ig-masing ada perbedaan yang mempengaruhi kejiwi annya. Proses ukhuwah Islamiyah akan mudah terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.

Dalil

Q. 49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Hadits. Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata , "Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, "Perbuatan apakah yang terbaik dalam Islam?". Beliau menjawab, "Engkau memberi makan (kepada orang kekurangan) dan memberi salam kepada orang yang engkau kenal dan kepada orang yang belum engkau kenal" (HR, Bukhari Muslim).

3. At Tafaahum (Saling Memahami)

·            Qalbiyyan (Hati)

·            Fikriyyan (Pemikiran)

·               'Amaliyyan (Aktifitas)

Proses taaruf menyebabkan saling memahami. Saling memahami (tafahum) adalah kunci ukhuwah Islamiyah. Tanpa tafahum maka ukhuwah tidak akan berjalan. Proses taaruf dapat diprogram, tetapi proses tafahum, berjalan secara alami bersamaan dengan berjalannya ukhuwah. Ukhuwah yang diwarnai tafahum menjadikan suasana lebih kondusif. Setiap individu memahami kekuatan dan kelemahannya serta dapat menerima perbedaan. Sehingga muncullah sikap ta'awun (saling menolong) dalam persaudaraan.

Ukhuwah tidak akan berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami tetapi tidak berusaha memahami orang lain. Ukhuwah berjalan dengan baik, apabila ada proses saling memahami dan saling menerima. Interaksi dengan banyak karakter harus dibarengi dengan pendekatan dan pemahaman yang berbeda.

Saling memahami keadaan karakter ini dilakukan dengan cara menyatukan hati, menyatukan pemikiran, dan menyatukan amal. Menyatukan hati merupakan langkah yang utama karena hati adalah dasar persatuan. Allah­lah yang menyatukan hati manusia. Manusia tidak kuasa melakukannya. Hati yang bersatu akan memudahkan persatuan yang lainnya. Keterikatan hati diteruskan dengan menyatukan pemikiran dan amal. Tafahum ini akan memunculkan keterikatan hati, ketertikatan pemikiran dan keterikatan amal.

Q. 8:60. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.

Hadits. Dari Abu Hurairah RA berkata : bersabda Rasulullah SAW, "Jangan kamu satu sama lain saling hasad, saling tipu, saling benci, saling menjauhi dan jangan membeli/menjual barang yang hendak dibeli/dijual orang lain. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain terlarang ia zalimi, enggan membela, mendustai dan menghinanya. Taqwa itu disini (beliau mengisyaratkan ke dadanya tiga kali). Sangatlah kejahatan seseorang jika ia menghina saudara yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain diharamkan darahnya, hartanya dan kehormatannya" (HR Muslim).

4. At-Ta'aawun (Saling Tolong-Menolong)

·             Qalbiyyan (Hati)

·             Fikriyyan (Pemikiran)

·                Amaliyyan (Aktifitas)

Taawun muncul setelah terlaksananya tafahum. Taawun dapat dilaksanakan dengan hati (saling mendoakan); pemikiran (berdiskusi dan menasihati) dan amal (bantu­membantu Saling membantu di dalam kebaikan adalalh kebahagiaan tersendiri. Manusia tidak akan hidup sendiri sehingga ia mesti hidup bersama-sama. Kebersamaan akan mempunyai nilai apabila kita mengadakan saling membantu.

Dalil

Q. 5:2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa­id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah herburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.

Hadits. Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang terzalimi". Dikatakan, "Ya Rasulullah, menolong orang yang dizalimi itu dapat kami pahami, namun hagaimana bisa kami menolong orang yang zalim?" Beliau bersabda, "Cegah dan laranglah dia dari berbuat zalim; begitulah menolongnya" (HR Ahmad).

5. At-Takaaful (Senasib dan Sepenanggungan)

Takaful muncul setelah proses taawun berlangsung. Dengan takaful hati saling menyatu, saling menyayangi. Takaful berarti merasakan senasib dan sepenanggungan. Rasa sedih dan susah diselesaikan bersama. Takaful sebagai tingkat ukhuwah yang tinggi. Proses takaful sangat bergantung kepada pelaku-pelaku ukhuwah Islamiyah ini. Hadits Nabi dan berbagai kisah hubungan para sahabat adalah menggambarkan bagaimana pelaksanaan takaful ini. Ketika perang, sahabat Nabi SAW yang kehausan memberikan jatah airnya kepada sahabat lainnya yang merintih meminta minum. la mengutamakan sahabatnya terlebih dahulu dibandingkan dirinya. Mengutamakan orang lain dibandingkan dirinya (itsar) adalah ciri ukhuwah.

Dalil

Hadits. Tidak beriman seseorang di antaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri (HR Bukhari Muslim).

6. Tauhiid Ash-Shufuuf (Kesatuan Saf) - Tauhiid Al-Ummah  (Kesatuan Umat)

Ukhuwah Islamiyah diawali melalui interaksi dengan manusia sebagai aktifitas fitrahnya dan diwarnai degan husnu zhan (baik sangka) pada tahap tafahum dan disertai salamatus sadr (damainya hati/perasaan) pada tahap taawun.

Setelah terbentuknya kesatuan berfikir, kesatuan beramal dan kesatuan hati maka takaful akan menghantarkan kita kepada kesatuan barisan dan kesatuan umat. Kesatuan barisan dan kesatuan umat, berarti bersatu fikrah dan tujuan tanpa menghilangkan perbedaan dalam karakter (kejiwaan). Perbedaan merupakan media amal jamai dan dinamisator hubungan sesama manusia. 


 


 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat