Wednesday, April 1, 2026

Tafakur Tentang Kecukupan Udara

Udara dan Kehidupan

Tanya: Apa pentingnya udara bagi kehidupan kita?

Jawab: Tutuplah hidung dan mulut Anda barang semenit atau dua menit, saat itulah kita mengetahui betapa pentingnya udara bagi hidup Anda, karena udara mengandung oksigen yang Anda butuhkan. Anda tahu bahwa tanpa udara semua manusia akan mati dalam beberapa menit saja, begitu pula dengan hewan yang menghirup udara. Renungkanlah.. mampukah Anda hidup beberapa menit saja tanpa udara yang merupakan nikmat Allah swt? Renungkanlah, sudahkah Anda melaksanakan kewajiban mensyukuri nikmat ini kepada Allah swt?

Tanya: Adakah manfaat lain dari udara?

Jawab: Tentu saja.

  1. Atmosfir udara membentuk cover yang melindungi bumi seperti tameng bagi penduduk bumi dari benda-benda angkasa (seperti meteor atau komet) yang mengarah ke bumi berjuta-juta banyaknya setiap hari. Kepekatan udara secara sempurna mampu membakar benda-benda langit tersebut sebelum ia sampai ke permukaan bumi. Bila tidak ada lapisan udara ini, benda-benda langit itu pasti sedah membakar banyak kota, dan kampung-kampung. Lapisan ozon yang mengelilingi bumi dalam rentang beberapa mil berfungsi melindungi bumi dari radiasi sinar yang mematikan atau membahayakan makhluk di bumi.
  2. Udara atau angin juga berfungsi membantu penyerbukan tumbuh-tumbuhan sehingga menghasilkan buah. Jika tidak pastilah jumlah buah di bumi ini tidak akan banyak dan tak akan mencukupi kebutuhan manusia. Allah swt berfirman:

وَاَرْسَلْنَا الرِّيٰحَ لَوَاقِحَ فَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَسْقَيْنٰكُمُوْهُۚ وَمَآ اَنْتُمْ لَهٗ بِخٰزِنِيْنَ

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan). (Al-hijr [15]: 22).

  1. Dengan udara, burung dan pesawat udara dapat terbang. Udara yang kita berenang di dalamnya ini memiliki tekanan tertentu pada tubuh kita mengimbangi tekanan air dan darah yang berada dalam tubuh kita. Kalau tidak ada tekanan yang seimbang ini pembuluh darah kita akan pecah. Dengan tekanan udara dan darah yang seimbang ini kita tidak merasakan kesulitan dengan keduanya.
  2. Udara atau angin secara gratis mengirimkan hujan kepada kita. Angin pula yang memudahkan perahu layar bergerak sejak dahulu. Firman Allah swt:

اِنْ يَّشَأْ يُسْكِنِ الرِّيْحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلٰى ظَهْرِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍۙ

Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaanNya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur. Atau kapal-kapal itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka atau dia memberi maaf sebagian besar (dari mereka). (Asy-Syura [42]: 33-34).

اِنَّ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۗ ٣ وَفِيْ خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَاۤبَّةٍ اٰيٰتٌ لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَۙ ٤ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ رِّزْقٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ اٰيٰتٌ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ ٥ تِلْكَ اٰيٰتُ اللّٰهِ نَتْلُوْهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّۚ فَبِاَيِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَ اللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ يُؤْمِنُوْنَ ٦

Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini. Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. (Al-Jatsiyah [45]: 3-6).

Kecukupan dan Kemudahan Memperoleh Udara

Tanya: Apa lagi hikmah yang dapat kita saksikan dari penciptaan udara?

Jawab: Kekuasaan Allah dalam penciptaan makhluk-makhluk-Nya amat besar, diantaranya Dia mencukupkan udara yang merupakan kebutuhan terpenting manusia. Allah swt mengadakannya di setiap tempat di permukaan bumi ini sehingga Anda tidak perlu susah mengumpulkannya, atau memindahkan atau menyimpannya.

Bila Anda memperhatikan penggunaan Oksigen (O2) yang terus-menerus oleh manusia demikian pula hewan, kemudian berubah menjadi karbondioksida (CO2) yang dapat membahayakan manusia, mungkin Anda akan berkata: “Kalau dipakai terus-menerus, pasti dalam waktu tidak lama oksigen akan habis, dan manusia akan mati.” Tapi tidak demikian dan jangan pernah berkata seperti itu, karena Anda mempunyai Rabb yang amat Penyayang yang telah menyiapkan ganti bagi setiap oksigen yang berkurang melalui tumbuhan yang selalu mengambil karbondioksida dan mengubahnya menjadi oksigen kembali untuk manusia dan hewan.

Allah swt telah menciptakan sistem pernafasan yang amat detil bagi manusia ketika ia masih berada dalam rahim ibunya dan sistem ini terus bekerja tanpa lelah dan henti sejak lahir sampai wafat. Ia terus bekerja ketika kita sedang tertidur atau terjaga. Allah swt, Pencipta kita, sebagaimana Dia memudahkan udara untuk kita dapati di setiap tempat, Dia juga memudahkan kita mengambilnya melalui alat pernafasan tanpa kita mengeluarkan energi, atau membuat kita lelah…

Jadi:

  • Allah swt Pencipta kehidupan dan Dialah yang mencukupi kebutuhan udara bagi makhluk hidup.
  • Allah swt Dialah yang telah memberikan nikmat sistem dan alat pernafasan pada makluk hidup, melindungi mereka dengan udara dari terjangan meteor atau komet, menyerbukkan dengan udara berbagai jenis tumbuhan, mengirimkan hujan, membuat makhluk hidup dapat terbang di dalamnya, dan menyeimbangkan tekanan cairan dalam tubuh manusia dengan tekanan udara di luar tubuh manusia.

 Apakah Anda menyaksikan?

  • Hikmah agung dalam penciptaan manusia yang membutuhkan udara yang karenanya Allah swt telah menciptakan dan menyediakan udara yang sesuai dengan kehidupannya dalam jumlah yang amat banyak.
  • Penentuan kadar kepekatan udara yang amat sempurna dan unik sehingga mampu membakar komet dan meteor sebelum sampai ke bumi. Kadar tekanan udara yang pas dengan tekanan cairan yang ada dalam tubuh manusia, tekanan udara yang membuat burung dan pesawat terbang dapat bergerak di dalamnya.
  • Angin yang bergerak melakukan penyerbukan tumbuh-tumbuhan, memancing terbentuknya awan dan menggiring awan ke tengah daratan, juga membantu berjalannya perahu layar sejak dulu.
  • Penyediaan udara dalam jumlah yang amat banyak yang mencukupi kebutuhan semua makhluk hidup dan mudah didapatkan di seluruh permukaan bumi.
  • Keseimbangan yang amat detil dan sempurna antara oksigen yang amat baik bagi manusia, dengan karbondioksida yang telah rusak.
  • Alat-alat pernafasan yang sempurna yang selalu bekerja tanpa henti, detil dan amat ringan dirasakan oleh manusia baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.
  • Lalu siapakah pemilik kebijaksanaan yang agung ini? Pemilik ketetapan, pengaturan, keseimbangan serta penyusunan yang amat sempurna ini?
    • Apakah berhala yang tuli, buta, tidak mampu memberi manfaat atau mudharat, dan tidak memiliki daya serta upaya?!
    • Apakah alam yang bisu dan buta serta mati yang tak punya kebijakan dan kehendak?!
    • Ataukah ketiadaan yang tidak melakukan apapun?!
    • Ataukah semua kebijaksanaan, ketetapan, pengaturan, keseimbangan serta penyusunan itu adalah saksi di depan setiap yang berakal bahwa ada Rabb yang Maha Bijaksana, Pencipta yang Maha Besar, Zat yang berkehendak, Maha Tahu dan Melihat, Pencipta yang Maha Penyayang, Dialah yang telah menciptakan udara yang menyelimuti bumi kita dengan ketetapan yang bijaksana, kreasi yang amat lembut, dan Dia bukanlah makhluk yang diciptakan, Dialah Allah swt.

  

Nikmat Perabot Rumah Tangga dan Rumah Sebagai Tempat Ketenangan

Tanya: Apa maksud firman Allah swt:

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.” (An-Nahl (16): 80).

Jawab: Maksudnya bahwa rumah-rumah kita adalah tempat peristirahatan, ketenangan, dan tempat tinggal di kala lelah, dengannya kita berlindung dari teriknya panas, menusuknya hawa dingin, serangan binatang buas, tiupan angin, dan derasnya hujan. Maka rumah kita adalah tempat bernaung bagi kita, istri dan anak-anak. Dengan rahmat Allah swt dan ketetapannya kita menemukan di dalam rumah kita tempat kembali dan beristirahat serta berlindung dari berbagai bahaya yang mengancam.

Jika Dia menghendaki Dia dapat membuat rumah kita tidak kuat bertahan dan kita harus berpindah-pindah karena tiupan angin yang terlalu kencang, atau karena petir dan tsunami, atau karena tanah longsor. Namun Allah swt menjadikan rumah kita dapat bertahan dan kokoh berdiri.

Allah swt telah memudahkan bagi kita alat-alat bangunan dan semua sarananya:

  • Dia anugerahkan untuk kita akal yang berpikir merancang, dan merencanakan dan membuat arsitektur bangunan, memberikan mata yang kita gunakan untuk melihat, telinga untuk mendengar pengalaman dan informasi berharga. Dia pula yang memberikan tangan yang dapat bekerja, kaki yang dapat berjalan dan yang sangat penting adalah ilmu yang dengannya kita dapat mengatasi kesulitan.
  • Allah swt juga telah memudahkan kita memperoleh dan menggunakan bahan-bahan bangunan. Bagaimana bebatuan diambil dari gunung-gunung dan gunungpun tunduk tanpa perlawanan, begitu pula berbagai jenis kayu. Demikian pula halnya  dengan tanah, besi, dan semen, semuanya telah ditundukkan untuk kita.
  • Allah swt menjadikan bumi (tanah) yang kita pijak ini sebagai tempat yang menetap dan stabil, tidak amblas atau goncang, rotasi dan revolusi bumi tidak membuat rumah kita beterbangan ke udara karena Allah swt membekali bumi dengan gaya gravitasi.

اَللّٰهُ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ قَرَارًا

Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap… (Ghafir (40): 64).

Perabot Rumah Tangga dan Tempat Tidur

Tanya: Adakah nikmat Allah swt yang lain terkait dengan tempat tinggal kita?

Jawab: Rumah tanpa tempat tidur dan perabot lainnya tidak akan lengkap sempurna. Allah swt telah menyediakan semua bahan-bahan untuk tempat tidur kita dengan menumbuhkan pohon kapas di perkebunan, menumbuhkan rambut dan bulu di kulit ternak yang dengannya kita dapat membuat karpet, sajadah, sprei, bed cover, jaket, berbagai jenis pakaian bahkan kemah yang dapat kita gunakan melindungi tubuh kita dari udara dingin.

Di daerah padang pasir yang tidak terdapat bebatuan atau kayu kulit-kulit binatang dan bulunya berubah menjadi kemah, tempat tidur, perabot dan pakaian. Hal ini juga dilakukan oleh para prajurit yang tidak menetap di tempat tertentu (sering berkemah).

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ جُلُوْدِ الْاَنْعَامِ بُيُوْتًا تَسْتَخِفُّوْنَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ اِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ اَصْوَافِهَا وَاَوْبَارِهَا وَاَشْعَارِهَآ اَثَاثًا وَّمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ

Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). (An-Nahl [16]: 80).

Dengan tempat tidur, perabot rumah, bumi yang tenang dan laik huni serta rumah yang aman manusia benar-benar telah merasakan anugerah Allah swt berupa ketenangan dan keamanan.

Tidakkah Anda menyaksikan:

  • Hikmah dan kebijaksanaan yang nyata dalam penyiapan bumi agar dapat menjadi tempat yang tenang dan damai untuk ditinggali, bukan sebaliknya?
  • Potensi fikriyyah dan amaliyyah yang amat besar yang telah diberikan Allah swt kepada kita sehingga kita dapat memakmurkan bumi, membuat dan tinggal di dalam bangunan yang kokoh. Itu adalah saksi bahwa ada Pencipta yang Maha Memberi, Maha Pengasih dan Penyayang.
  • Taskhir (ditundukkannya) semua makhluk yang ada di bumi untuk manusia adalah saksi bahwa dia adalah perbuatan Raja yang Menguasai dan Maha Berkehendak yang telah menjadikan anak Adam sebagai khalifah dan mengokohkannya di bumi.
  • Tadbir (perencanaan dan pengaturan) yang tepat dan bijaksana dalam menyeimbangkan antara gravitasi bumi dengan kekuatan yang yang dapat melontarkan semua benda di permukaan bumi karena rotasinya, sehingga ia tidak terbang dan tetap tenang di posisinya. Ini adalah bukti bahwa ada Zat Maha  Berkehendak,  Maha Bijaksana, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.
  • Taufir (penyediaan kecukupan) bahan-bahan untuk membuat tempat tidur, dan perabot rumah tangga dari tumbuh-tumbuhan dan kulit serta bulu hewan sehingga manusia dapat merasakan istirahat dan ketenangan. Itu semua adalah bukti perbuatanZat yang Maha Mulia dan Penuh Kasih Sayang.

 Renungkan

Siapakah Yang Maha Bijaksana Rab kebijaksanaan itu?

Siapakah Maha Pemberi yang telah menganugerahkan semua potensi kepada manusia?

Siapakah Raja Yang Maha Berbuat di bumi yang telah menundukkan gunung, pohon, bebatuan dan makhluk lain untuk kepentingan manusia?

Siapakah Pengatur yang telah menyeimbangkan antara kekuatan yang melontarkan kita dari permukaan bumi akibat rotasi dengan gaya gravitasi?

Siapakah Maha Mulia dan Penuh Kasih Sayang yang telah menciptaan untuk manusia bahan-bahan perabot rumah tangga, tempat tidur dan menjadikan manusia mampu dengan mudah membuatnya?

  • Apakah ia adalah berhala yang tak berakal dan tak bergerak?!
  • Apakah ia adalah alam yang tidak dapat mengatur, dan tidak punya kehendak sedikitpun untuk dirinya?!
  • Atau apakah ia adalah ketiadaan yang tak punya wujud sama sekali?!
  • Atau apakah kebijaksanaan, anugerah, perbuatan, perencanaan dan kemurahan itu hanyalah bukti keberadaan Sang Maha Pencipta, Maha Bijaksana, Maha Pemberi, Maha Pemilik, Maha Berbuat, Maha Mengatur,Maha Mulia, dan Maha Penuh Kasih Sayang… Dialah Allah swt.

  

Kisah Nyata Berjuta Hikmah

 

1.    HIDAYAH MELALUI ANAKKU

Sahibul hikayat dalam kisah ini adalah warga Madinah Nabawiyah, ia menuturkan sebagai berikut, “Aku adalah seorang pemuda umur 37 tahun, telah berkeluarga dengan beberapa anak. Aku telah banyak melakukan yang diharamkan Allah. Jarang sekali shalat berjamaah, kecuali pada momen-momen tertentu saja, sekedar formalitas di mata orang lain. Hal itu disebabkan karena aku merasa sebagai orang jahat. Syetan selalu mengikatku setiap saat. Anakku berumur 7 tahun, namanya Marwan, ia tuli dan bisu, tetapi ia telah banyak mereguk nilai-nilai keimanannya dari isteriku.

Pada suatu malam aku dan Marwan sedang berada di rumah, aku mulai merencanakan apa yang akan aku lakukan malam ini bersama teman-teman, dan di mana lokasinya.

Saat itu selepas sholat Maghrib, dengan bahasa isyarat anakku mengatakan sesuatu, aku sangat faham kalau dia mengingatkan diriku untuk shalat, “Mengapa Bapak tidak shalat?” begitu kira-kira yang ingin dikatakannya. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke langit, lagi-lagi dengan isyarat ia mengultimatum bahwa Allah akan melihatku.

Terkadang aku kepergok anakku sedang berbuat kemunkaran, aku takjub dengan bahasa isyaratnya, ia menangis di depanku, lalu aku segera merangkulnya, tapi ia lari dariku, ia segera lari ke tempat wudhu, lalu datang kembali menghampiriku seraya memberi isyarat agar jangan pergi dahulu, tiba-tiba ia shalat di depanku kemudian ia bangun dan bergegas mengambil mushaf dan meletakkannya di hadapanku, lalu ia membukanya dengan hanya sekali buka, kemudian jari telunjuknya menunjuk kepada salah satu ayat dalam surat  maryam :

يٰٓاَبَتِ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يَّمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ وَلِيًّا

“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syetan.” (QS. Maryam: 45)

Setelah itu anakku langsung menangis, dan akupun spontan ikut menangis, lalu ia bangun dan mengusap air mataku, kemudian ia mencium kepala dan tanganku, dan lagi-lagi dengan bahasa isyarat ia berkata kepadaku, “Wahai ayahku shalatlah sebelum engkau dimasukkan ke dalam liang lahat, dan engkau akan menuai adzab.” Demi Allah aku sangat takut dan gemetar, tak ada yang mengetahui keadaanku saat itu kecuali Allah, aku segera bangun, aku seperti orang bingung keluar masuk kamar, sementara Marwan, anakku, terus menguntit sambil terus menatapku dengan tatapan yang aneh, lalu ia berkata, “Ayo, ayah ke masjid besar!” maksudnya masjid Nabawy. “Tidak ah, ke masjid dekat rumah saja” bujukku kepadanya. Anakku tetap bersikeras mengajak ke Masjid Nabawy, akupun segera manggandeng tangannya menuju masjid Nabawy, aku masih takut dan gemetar, sementara anakku seperti tidak berhenti sekejap pun menatapku.

Sesampainya di masjid Nabawy, aku segera menuju Raudah yang saat itu telah penuh sesak dengan manusia menjelang shalat Isya. Pada saat shalat Isya aku mendengar sang Imam membaca salah satu ayat berikut:

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syetan. barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Aku tak mampu menguasai gelora jiwaku, aku tak kuasa menahan tangisku, aku menangis dan Marwan pun ikut menangis karena mendengar tangisku, di tengah shalat. Marwan mengeluarkan sapu tangan dari saku bajuku lalu mengusap air mataku. Selepas shalat aku masih tetap menangis, sementara Marwan terus mengusap air mataku, tidak terasa aku telah bersimpuh di masjid Nabawy selama satu jam penuh, sehingga anakku berkata, “Sudahlah Ayah…, jangan takut!” Kami pun bergegas pulang ke rumah, malam itu terasa malam yang paling indah dalam hidupku, aku sperti dilahirkan kembali ke dunia, isteriku pun kemudian hadir di dekatku, juga anak-anakku. Kami semua menumpahkan tangis, meski anak-anakku yang lain tidak mengerti apa yang terjadi. Lalu Marwan berkata, “Ayah tadi shalat di Masjid Nabawy.” Kulihat isteriku gembira karena buah tarbiyahnya terbukti.

Aku ceritakan kepada isteriku apa yang telah dilakukan Marwan terhadapku, aku katakan kepadanya, “Demi Allah aku ingin tanya kepadamu, apakah engkau telah mendikte Marwan membuka Mushaf dan menunjuk salah satu ayat dalam surat Maryam yang ditunjukan kepadaku?” Tetapi isteriku bersumpah “demi Allah” sampai tiga kali. Kemudian isteriku berucap, “Alhamdulillah atas segala hidayah ini.” Malam itu adalah malam yang paling berkesan. Sejak saat itu aku pun tidak pernah tinggal shalat berjamaah di masjid. Dan aku mulai memisahkan diri dari teman-teman burukku dan telah merasakan kelezatan iman. Seandainya anda melihatku saat itu anda akan dapat melihat hal itu dari wajahku.

Sejak peristiwa itu hidupku terasa bahagia, penuh cinta dan harmonis antara aku, isteri, dan anak-anakku, khususnya anakku Marwan yang tuli dan bisu. Cintaku sangat besar kepadanya. Bagaimana tidak!, dari kedua tangannyalah tersuguhkan kepadaku hidayah Allah swt.

Akhukum Abu Marwan

Madinah Al-Munawwarah

Disadur dari kitab Al-‘Aiduna ilallah

---oo0oo---

  1. TAUBAT AHLI MAKSIAT

Kisah ini diambil dari majalah “Al-Ummah Al-Qatriyyah” No. 70, dari kolom bertajuk “TAUBAT”, ditulis oleh Husein Uwais Mathar.

Sunguh sahabatku telah berubah, tertawanya renyah lembut menyapa setiap telinga, laksana fajar menyingsing menyambut pagi. Padahal sebelumnya tertawanya seringkali memekakkan telinga dan menyakiti perasaan. Kini pandangannya sejuk penuh tawadhu. Sedangkan sebelumnya penuh dengan pandangan yang destruktif. Ucapan yang keluar dari mulutnya kini penuh dengan perhitungan, padahal sebelumnya sesumbar kesana kemari melukai dan menyakiti hati orang, tidak peduli dan tidak ada beban dosa. Wajahnya tenang diliputi cahaya hidayah setelah sebelumnya terkesan garang dan tidak ada belas kasihan.

Aku tatap wajahnya, dia paham apa yang aku inginkan, lalu ia berkata, “Sepertinya engkau ingin bertanya kepadaku. Apa yang membuatmu berubah?”  “Ya, itu yang aku ingin Tanya kepadamu”, tandasku, wajahmu yang kulihat beberapa tahun yang lalu berbeda 180 derajat dengan wajah yang kulihat sekarang.

سُبْحَانَ مُغَيِّرِ الأَحْوَالِ

“Maha suci Allah yang Maha merubah keadaan,” katanya penuh rasa syukur. “Hmm… pasti di balik semua itu ada kisah menariknya,” komentarku.  “Ya, kisahnya bila kukenang, selalu menambah keimananku kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, kisahnya melebihi khayalan, namun tetap sebuah kenyataan yang telah merubah arah hidupku, sekarang aku akan ceritakan semua kisah ini.”

Ketika aku sedang mengendarai mobil menuju Kairo, di salah satu jembatan yang menghubungkan kota tersebut, tiba-tiba seekor sapi dan seorang anak kecil melintas di depanku, aku kaget dan tidak dapat mengendalikan kendaraan. Tanpa sadar mobilku terjun ke sungai, dan aku sudah ada di dalam air. Aku angkat kepalaku ke atas agar bisa bernafas, tetapi mobilku terus tenggelam dan air nyaris memenuhi dalam mobilku, tanganku segera menjamah gagang pintu, tapi pintunya terkunci. Saat itu aku merasa akan segera mati, yang terbayang adalah perjalanan hidupku yang penuh dengan dosa dan noda. Segalanya seperti gelap, seperti berada di terowongan yang dalam dan gelap, panik mencekam dan batinku berteriak, “Yaa Rabb… Selamatkanlah aku, bukan dari kematian yang sebentar lagi akan kualami, tapi selamatkanlah aku dari segala dosa yang telah melingkupi diriku, aku merasa jiwaku seperti melayang dan mohon ampun kepada Allah sebelum menemui-Nya, lalu aku mengucap dua kalimat syahadat, aku mulai merasa akan mati.

Aku berusaha menggerakkan tanganku untuk menggapai sesuatu, tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu yang bolong, aku ingat!, bolongan tersebut berasal dari kaca bagian depan, yang pecah sejak tiga hari yang lalu, tanpa pikir panjang lagi, aku dorong sekuat tenaga badanku keluar dari kaca bolong tersebut, aku kembali melihat cahaya terang, aku lihat masyarakat menyaksikan dari tepi sungai seraya saling berteriak keras agar ada salah seorang yang menolongku, lalu terjun dua orang dari mereka ke sungai dan membawaku ke tepinya, dengan fisik yang lemah lunglai aku masih merasa tidak yakin bisa selamat dan kembali hidup, dari kejauhan kulihat mobilku perlahan-lahan terbenam ke dalam air. Sejak detik itu aku merasa sangat ingin meninggalkan masa laluku yang penuh dengan dosa, hal itu langsung kubuktikan sesampainya di rumah, langsung kurobek-robek gambar dan poster para selebritis pujaan dan gambar wanita setengah telanjang yang sengaja kupajang di dinding rumahku, lalu aku masuk ke kamar dan menghempaskan badanku di atas kasur sambil menangis, baru pertama kali ini aku merasa menyesal terhadap dosa-dosa yang telah kuperbuat, semakin keras tangisku dan semakin deras air mataku bercucuran, sementara badanku gemetar. Saat itulah aku mendengar azan, seakan-akan aku baru mendengarnya pertama kali. Aku langsung bangkit berdiri dan segera bergegas mengambil air wudhu. Di masjid, setelah aku menunaikan shalat, aku menyatakan taubat dan mohon kepada Allah agar mengampuniku; Sejak itulah sebagimana yang engkau lihat sekarang wajahku berubah karena taubat.”

Aku tertegun mendengar ceritanya lalu aku katakan kepadanya :

هَنِيْئًا لَكَ يَا أخِيْ وَحَمْدًا للهِ عَلَى سَلاَمَتِكَ لَقَدْ أَرَادَ اللهُ بِكَ خَيْرًا وَاللهُ يَتَوَلاَّكَ وَيَرْعَاكَ وَيُثَبِّتُ عَلَى الْحَقِّ خُطَاكَ

“Berbahagialah engkau hai saudaraku, segala puji bagi Allah atas keselamatanmu, sungguh Allah telah menghendaki kebaikan terhadapmu, Allah akan selalu melindungimu dan menjagamu, serta mengokohkan langkahmu di atas kebanaran”.

---oo0oo---

3.    TAUBATNYA ARTIS SYAMS AL-BARUDY

Kisah ini diambil dari buku yang ditulisnya sendiri, dengan judul

رِحْلَتِي مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ

“Petualanganku dari kegelapan menuju cahaya.” Pada satu kesempatan wawancara dengan wartawan, ia menjelaskan panjang lebar sebab-sebab mendapatkan hidayah.

“Petualanganku berawal dari masa remajaku, ayahku –dengan karunia Allah- adalah seoarang yang religius, walaupun menjalankannya biasa-biasa saja, begitu pula ibuku, semoga Allah merahmatinya. Aku masih menunaikan shalat meskipun tidak disiplin. Terkadang beberapa waktunya aku tinggalkan begitu saja, tanpa merasa berdosa karena meninggalkan kewajiban shalat. Sayangnya aku tidak mendapatkan pelajaran agama yang cukup di sekolah, karena pelajaran agama bukan pelajaran pokok dan pengetahuan mendasar dibanding dengan ilmu-ilmu duniawi lainnya.

Ketika aku menamatkan Sekolah Lanjutan (SMA/Aliyah) aku bimbang antara meneruskan ke Fakultas Hukum atau studi senirupa, namun akhirnya aku memutuskan masuk ke akademi seni rupa jurusan acting dan peran. Tetapi aku tidak sampai menamatkan studi, karena aku sudah cukup menguasai ilmu acting dan peran, hanya beberapa saat saja hidupku seperti mimpi, karirku di dunia film dan teater terus meroket, ketenaran namaku dengan usia 16-17 tahun membuat cemburu banyak insan telivisi, perfilman, dan jajaran artis lainnya. Di tengah-tengah puncak karirku aku mulai merasakan adanya penolakan dari dalam diriku sendiri, hampir 2-3 tahun aku tidak terjun lagi ke dunia film, sebagian menyangkaku telah mengasingkan diri, aku mulai menolak beberapa skenario yang ditawarkan kepadaku, yang hanya memanfaatkan kecantikan yang Allah berikan kepadaku, sejak saat itu kegiatan aktingku mulai berkurang, bahkan hilang dari peredaran. Aku merasa ada pertentangan yang hebat antara kepribadianku dan kenyataan yang aku hadapi. Aku merasakan bahwa aktingku tidak memberikan ibroh (hikmah) yang berarti, semuanya hanya penuh dengan kepura-puraan dan terlalu dibuat-buat.

Aku baru mulai terjun lagi ke dunia film setelah aku menikah. Aku bermain bersama suamiku Ustadz Hasan Yusuf dalam satu skenario yang pas untuk diriku. Di saat shooting aku selalu menyempatkan diri untuk shalat, kalau terpaksa sampai meningalkannya aku selalu mengqodonya seraya banyak beristighfar kepada Allah, hal itu senantiasa membuatku sedih sekali. Di samping itu aku belum kemitmen dengan identitas dan tampilan yang islami.

Sebelum menikah aku telah membeli perlengkapan busana muslim di salah satu butik modern, namun setelah aku menikah aku diajak suamiku shooping ke luar negeri untuk membeli pakaian musim panas dan musim dingin. Aku tambah sedih karena hal itu akan memasygulkan hatiku. Kemudian aku mulai memilih-milih baju yang cukup mewah, jika aku tertarik dengan busana yang pendek, aku selalu membeli jaket untuk menutupi bagian tubuhku yang mungkin masih kelihatan. Keinginan ini datang dari dalam jiwaku sendiri. Akupun mulai senang dan gandrung dengan hijab. Bersamaan dengan itu aku mulai gemar membaca Al-Qur’an, meskipun aku belum pernah menamatkannya. Aku pernah menamatkannya dahulu bersama teman-teman di sekolah, tapi sayang teman-temanku juga tidak komitmen dengan penampilan islami.

Sementara aku tetap menekuni dunia film bersama suamiku, terkadang aku bermain bersamanya. Atau ia yang membuat skenarionya dan aku yang memerankannya.

Kalau aku bercerita sekarang ini bukan berarti yang kuceritakan adalah sesuatu yang indah dalam hidupku, tapi justru aku ingin berbicara tentang satu fase dalam hidupku, yang apabila kuingat-ingat, ingin rasanya hal itu terhapus dari lembaran hidupku. Seandainya jam kehidupanku dapat dimundurkan kembali, aku tak ingin menjadi insan film terkenal, aku hanya ingin menjadi muslimah yang komitmen dengan ibadah kepada Allah swt., sebagaimana firman Allah,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Komitmen beribadah kepada Allah dalam pengertian yang kaffah tidaklah mudah dan terasa berat menjalankannya, tetapi dengan karunia Allah jualah segalanya menjadi mudah dan ringan, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. dalam hadits Qudsi,

وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَى ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ باَعًا، وَمَنْ أتَانْيَ يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Barang siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, dan barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan dekat kepadanya sedepa. Siapa yang mendatangiku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”

Bacaan favoritku saat itu adalah  tulisan Jean Paul Sarter dan Sigmund Freud dan berbagai karya filsafat lainnya, aku masuk dalam kelompok diskusi filsafat, aku juga memiliki perpustakaan. Aku gandrung dengan bacaan-bacaan tersebut tanpa sebab yang jelas.

Saat itu aku juga berkeinginan untuk menunaikan umrah, tetapi aku berkata pada diriku sendiri, bahwa aku belum sanggup menjalankannya kecuali bila nanti aku telah berhijab dengan baik. karena dalam benakku tidak logis bila aku mengunjungi rumah Allah (Ka’bah) sementara aku belum komitmen dengan identitas dan penampilan yang islami. Namun demikian seorang temanku mengatakan bahwa hijab bukanlah sarat untuk menunaikan umrah. Tidak berhijabnya mereka hanya karena ketidaktahuan mereka terhadap tuntunan Islam, bahkan mereka tetap saja tidak berubah meski telah menunaikan umrah.

Akhirnya suamiku saja yang berangkat umrah, aku tidak turut serta karena khawatir sepeninggalku anakku terbengkalai pelajarannya. Tetapi selama suamiku umrah, anak perempuanku sakit, lalu menyusul anak laki-lakiku dan akhirnya akupun juga terkena sakit, sehingga aku bertiga dan kedua anakku seluruhnya sakit. Mungkin ini teguran dari Allah, karena aku urung berangkat umrah. Tahun berikutnya (1982) aku pun berangkat umrah, tepatnya bulan Pebruari. Bulan Desembernya aku baru saja kembali dari Paris dengan oleh-oleh gaun dengan model terbaru dari salah satu butik terkenal. Tetapi ketika aku membeli gaun perlengkapan umrah, pertama kali aku membeli gaun putih polos tanpa asesori apapun. Tetapi ketika aku kenakan gaun itu bahkan tanpa make-up di wajahku, aku melihat diriku justru lebih cantik.

Baru kali ini aku bepergian tidak dibarengi dengn rasa was-was dan khawatir dengan anak-anak yang kutinggalkan, padahal kepergianku sebelumnya selalu dihantui rasa cemas terhadap anak-anakku, bahkan aku seringkali mengajak mereka turut serta.

Ketika aku menginjakkan kakiku di masjid Nabawy, entah mengapa tiba-tiba aku ingin membuka mushaf meskipun aku tidak banyak memahami maknanya. Tiba-tiba teman serombonganku menegurku, “Apakah kamu mau berhijab (berbusana muslimah)?” “Entahlah, aku serahkan semua ini kepada suamiku, apakah dia akan menyetujuinya atau tidak,” jawabku. Sementara aku tidak tahu kalau tidak boleh taat dan tergantung kepada siapapun dalam hal maksiat kepada Allah swt.

Di Masjidil Haram aku dapati beberapa akhawat muslimah mengenakan hijab, sementara aku lebih mengutamakan i’tikaf sambil tilawah Al-Qur’an. Suatu ketika saat keberadaanku di Masjidil Haram antar Ashar dan Maghrib, aku bertemu dengan seorang akhawat dari Mesir yang menjadi warga negara Kuwait, namanya Arwa, dia membacakan untukku satu puisi yang ditulisnya sendiri, tiba-tiba aku menangis. Aku merasa puisinya sangat menyentuh perasaanku saat itu yang selalu ingin segera berhijab, tetapi banyak orang berkata kepadaku, “Tunggu!.... tanyakan dulu ke suamimu, jangan terlalu terburu-buru, engkau kan masih muda, dst….dst….” Tapi keinginanku semakin menggebu setelah mendengar bait demi bait puisinya Arwa. Adapun puisinya sebagai berikut :

لاَ وَربِّي لَنْ أبَالِي

وَحَبَّانِي بِالْجَلاَلِ

وَاحْتِشَامِي هُوَ مَالِي

عَنْ مَتَاعٍ لِزَوَالِ

أَطْلُبُ السُّوْءَ لِحاَلِي

فِي حَدِيْثٍ أَوْ سُؤَالِ

فَلْيَقُوْلُوْا عَنْ حِجَابِي

قَدْ حَمَانِي فِي دِيْنِي

زِيْنَتِي دَوْمًا حَيَائِي

أَ لأَنِّي أَتَوَلَّى

لاَمَنِي النَّاسُ كَأَنِّي

كَمْ لَمَحْتُ اللَّوْمَ مِنْهُمْ

 

Mereka berkomentar tentang hijabku

Tidak! demi Allah aku tak peduli

Allah telah melindungi agamaku

Dan menjadikan aku cinta keagungan

Rasa malu perhiasan hidupku selalu

Kemuliaan adalah harta kekayaanku

Apakah karena aku berpaling

Dari kesenangan dunia yang sirna

Banyak orang mencemoohku

Seolah penampilanku hanya mencari sial

Berapa banyak celaan kudapti dari mereka

Baik lewat pembicaraan maupun pertanyaan

Aku selalu menangis manakala mengingat puisi ini, sangat menyentuh kenyataan hidupku. Setelah itu aku menjalankan manasik umrah dengan melakukan thawaf dan sa’i, setelah selesai malam itu aku tidak bisa tidur. Aku merasakan sesak dan gelisah di dadaku. Seakan aku ditimpa gunung yang menghambat nafasku. Seakan dosa-dosaku selama menjadi insan film dengan segala aktingnya telah mencekik leherku. Kemegahan dunia hasil profesiku yang selama ini kunikmati seolah seperti kain melilitku. Tiba-tiba ayahku yang ikut umrah bersamaku menanyakan kepadaku tentang kegelisahanku. Lalu aku katakan kepadanya, “Aku ingin pergi ke Masjidil Haram sekarang!” Padahal saat itu telah larut malam, tidak biasa bagi wanita ke masjid, akupun minta ditemani ayahku. Sesampainya di Haram aku shalat Tahiyyat masjid, setelah itu aku melakukan thawaf, di putaran pertama Allah memberikan kemudahan kepadaku mencium hajar aswad, ketika itu doaku hanya satu, untukku, suami, anak-anaku, dan seluruh keluargaku agar diberikan kekuatan iman. Tak terasa air mataku bergulir terus mengalir tiada putusnya, sepanjang putaran thawaf aku tak henti-hentinya memanjatkan do’a tadi. Setelah selesai putaran yang ketujuh aku shalat di dekat Hajar Aswad dan menciumnya. Aku juga shalat di dekat maqom Ibrahim as. Selesai shalat aku membaca surat Al-Fatihah. Anehnya Al-Fatihah yang kubaca begitu terasa lain dalam hatiku seakan-akan aku belum pernah membacanya selama hidupku. Aku merasakan keagungan-Nya. Tangisku semakin bertambah dan perasaanku bergoncang. Di sela-sela thawaf tadi seakan para malaikat berada di sekeliling Ka’bah menungguku. Aku belum pernah merasakan keagungan seperti ini dalam hidupku.

Kemudian aku shalat lagi dua rakaat menjelang fajar di Hijir Ismail. Setelah itu ayahku memberi isyarat kepadaku agar segera pindah ke tempat shalat khusus wanita. Saat shalat Fajar aku merasakan diriku telah berubah dan telah menjadi manusia baru yang sempurna. Beberapa jamaah wanita bertanya kepadaku,

“Apakah sekarang engkau berhijab wahai ukhti Syams?” “Dengan idzin Allah,” jawabku singkat.  Sejak saat itu aku benar-banar merasa telah berubah bukan hanya penampilanku tapi juga suaraku ketika berbicara terasa berubah total. Itulah yang terjadi pada diriku.

Sepulangnya dari umrah aku kembalui ke Mesir. Setelah itu aku tidak pernah melepas jilbabku. Setelah enam tahun aku dilanda keraguan untuk merubah gaya hidupku. Aku hanya berdo’a kepada Allah agar aku, suamiku, keluargaku, dan umat Islam seluruhnya mendapatkan husnul khatimah di akhir hidupnya.

---ooo0oo---

  1. SUZY MADZHHAR BERTAUBAT DI TANGAN WANITA EROPA

Suzy Madzhar adalah salah seorang dari sekian banyak artis dan selebritis yang bertaubat, ia mengisahkan perjalanan taubatnya sebagai berikut:

“Aku adalah alumni fakultas adab jurusan jurnalistik dari sebuah Univrsitas di Mesir, aku hidup bersama nenekku, ibu dari pamanku aktor Ahmad Madzhar. Aku habiskan banyak waktuku di keramaian jalan, aku terbiasa mendatangi pub dan club malam, seakan-akan aku ingin selalu menunjukan dan memamerkan kecantikanku di depan mata laki-laki yang jalang tanpa belas kasihan, semua itu kulakukan atas nama kebebasan dan peradaban.

Nenekku sudah tua, tidak mampu berbuat apa-apa terhadapku, termasuk bapak dan ibuku. Aku buta dengan ajaran Islam kecuali hanya kalimatnya saja. Akan tetapi meskipun aku bergelimang harta dan popularitas aku takut terhadap sesuatu yang bersumber dari api dan listrik. Aku membayangkan Allah akan membakarku atas segala kemaksiatanku kepada-Nya. Aku berkata kepada diriku sendiri, jika nenekku yang sakit-sakitan saja masih shalat, bagaimana aku bisa selamat dari adzab Allah. Kalau ingat itu aku justru buru-buru memalingkan perasaanku dengan tidur atau pergi ke pub dan diskotik.

Selepas pernikahanku, aku pergi ke Italia berbulan madu bersama suamiku, di sana aku mengunjungi Vatikan Roma. Ketika aku hendak memasukinya, aku melihat banyak para pegawai dan penjaganya memakai pakaian kebesaran agamanya. Bila mereka begitu menghargai identitas dan syiar agama mereka yang menyimpang, maka aku bertanya-tanya dalam hatiku, mengapa kita sebagai muslim tidak menghargai agama kita sendiri?

Dalam gemerlap duniawiku yang semu, aku berkata kepada suamiku bahwa aku ingin shalat sebaga rasa syukur kepada Allah atas nikmat-Nya, “Bagiku apapun yang kau inginkan adalah kebebasan individu,” jawab suamiku. Aku segera menuju salah satu Masjid Raya di Paris dengan mengenakan baju panjang dan tutup kepala. Setelah menunaikan shalat aku bergegas keluar, sesampainya di pintu masjid aku melepas baju panjang dan tutup kepalaku seraya memasukkannya ke dalam tas, tetapi tiba-tiba seoarang wanita Prancis bermata biru – aku tidak pernah bisa melupakan hal ini sepanjang hidupku – dengan hijabnya yang kaffah mendekatiku, lalu ia memegang tanganku dengan lembut dan tangannya yang satu lagi menepuk bahuku seraya menyapaku dengan lembut,

“Allah… Kenapa anda melepas hijab anda? Bukankah anda tahu itu perintah Allah?”

Aku tertegun mendengarkan sapaannya. Ia terus menggandeng tanganku seraya mengajakku kembali masuk ke masjid, sebenarnya aku berusaha ingin menolaknya, tetapi kesantunan dan kelembutan tutur katanya membuatku tak berdaya menolak. Di dalam masjid ia kembali bertanya kepadaku,

“Bukankah anda telah menyatakan bahwa aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, apakah anda mengerti maksudnya? Sesungguhnya pernyataan itu tidak cukup diucapkan dengan lisan saja, tetapi harus dibuktikan dengan amal.”

Sungguh aku telah mendapatkan pelajaran yang paling berharga dalam hidupku dari wanita bule tersebut, hatiku bergetar, perasaanku luluh karena ucapan-ucapannya tadi. Kemudian ia menjabat erat tanganku seraya berkata,

“Hai ukhti, bantulah agama ini.”

Sekeluarnya dari masjid aku tak habis-habisnya merenung, sampai aku tidak menyadari banyak orang di sekitarku. Sampai di suatu ketika aku menemani suamiku ke suatu tempat di mana laki-laki dan wanita berpakaian setengah telanjang. Kelakuan mereka seperti hewan, bahkan hewanpun tidak sampai melakukan hal itu. Mereka melepas baju mereka satu persatu sambil mendengarkan musik. Aku benci mereka, aku juga benci diriku yang telah tenggelam dalam kesesatan.

Aku tidak ingin melihat mereka, aku tidak perduli orang-orang di sekelilingku, aku minta suamiku untuk keluar agar bisa menghela nafas, kemudian setelah itu aku kemabali lagi ke Mesir. Sesampainya di Mesir aku memulai langkahku untuk mengenal Islam, meskipun aku memiliki gemerlap kehidupan dunia, tetapi aku belum merasakan ketenangan dan ketentraman, tetapi aku merasakannya justru ketika shalat dan membaca Qur’an. Aku mulai meninggalkan kehidupan jahiliyah di sekitarku, aku banyak bersimpuh membaca Al-Qur’an siang dan malam, aku pelajari kitab Ibnu Katsir dan Sayyid Qutub, serta kitab dan buku-buku lainnya. Aku selalu luangkan banyak waktuku untuk membaca dengan penuh semangat dan antusias. Aku telah membaca banyak buku dan mulai meninggalkan kehidupan dunia gemerlap yang menyesatkan. Aku mulai berinteraksi dengan para akhawat muslimah.

Semula suamiku menentang aku mengenakan hijab dan isolasiku dari kehidupan jahiliyah. Aku mulai meninggalkan ikhtilath dan bersalaman dengan lawan jenis baik teman dekat maupun yang lainnya. Ini semua adalah ujian dari Allah, tetapi ujian keimanan yang pertama adalah berserah diri kepada Allah dan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih aku cintai dari selainnya. Kesulitan yang aku hadapi setelah itu adalah hubunganku dengan suamiku. Akan tetapi alhamdulillah Allah menetapkan Islam berada di rumah mungilku. Allah memberi hidayah kepada suamiku masuk Islam, bahkan sekarang ia lebih baik dariku. Ia menjadi da’i yang ikhlas terhadap agamanya. Aku kira demikian adanya. Tanpa bermaksud melampaui Allah dalam menilai seseorang. Meskipun penyakit dan berbagai musibah duniawi menimpa kami setelah itu, kami tetap merasakan kebahagiaan, sepanjang musibah itu menimpa dunia kami bukan agama kami.

Disadur dari kitab Al-A’idaat ilallah (Mereka yang kembali ke jalan Allah). Karya Muhammad bin Abdil Aziz al-Musnid.

---oo0oo---

5.    PUTRI PENDETA MENJADI DA’IYAH

Aku tidak mengenal sedikitpun tentang Islam, bahkan selama hampir duapuluh tahun, sampai aku kuliah di jurusan informatika Universitas Timbell Philadhelphia. Pertama kali aku melirik Islam berawal ketika beberapa dosenku menyampaikan informasi tentang Islam. Mereka menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang merusak (destruktif). Hal ini menggugahku untuk lebih banyak membaca literatur tentang Islam. Setelah aku mengkajinya ternyata aku dapati semua itu hanyalah tuduhan palsu, zalim dan penuh kebencian. Akupun segera –tanpa ragu– menyatakan diri masuk Islam. Sejak itu aku ganti namaku menjadi Laila Ramzy.

Aku dilahirkan di New England pada bulan Januari tahun 1959, Ayahku seorang pendeta yang mengabdi di sebuah gereja. Sudah lama aku banyak meragukan gereja, terlebih setelah Ayahku ingin agar aku menjadi misionaris. Akan tetapi Allah swt. menghendakiku sesuatu yang lebih baik dan kekal. Sementara sejak kecil aku sama sekali tidak mengenal tentang Islam. Hal ini terus berlangsung hingga usiaku 20 tahun dan mulai melanjutkan kuliah di Universitas. Di samping itu aku juga mendapat kuliah tambahan tentang strategi politik wilayah Timur Tengah, ternyata kuliah ini menjadi pintu kebaikan dan kebahagiaan untukku.

Dari mata kuliah itu aku banyak mengetahui tentang negara-negara Arab-Islam. Ternyata apa yang aku dapatkan sebelumnya informasi tentang Islam sangat jauh dari kenyataan. Karena sejak 1400 tahun yang lalu Islam telah mewarnai kehidupan sosial politiknya dan telah mengukir sejarahnya dengan gilang genilang. Aku bertanya kepada diriku, “Anda lihat mengapa mereka sengaja mendelet Islam dan menjauhkan para mahasiswa dari pemahaman yang benar terhadap Islam?” Dampaknya para mahasiswa menganggap Islam sebagai agama yang berbahaya bagi struktur pemahaman dunia Barat umumnya dan bagi pemikran kaum muda Nasrani khususnya.

Meskipun ditentang oleh Ayahku, aku mulai terus membaca literatur tentang Islam. Sehingga aku dapatkan prinsip-prinsip agama yang agung ini menghunjam dalam hatiku dan mendomonasi pikiranku. Aku mulai memahami akidah Tauhid dan meyakini bahwa Isa adalah manusia biasa seperti Musa, Ibrahim, dan Muhammad. Aku juga mulai mengerti bahwa khamr, zina, dan, judi adalah sesuatu yang diharamkan. Hal ini amat kontras dengan kehidupan yang berlangsung di Eropa dan Amerika. Akupun mulai semakin banyak mempelajari ibadah dalam Islam; seperti shalat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu.

Aku mulai mengumumkan keislamanku. Meskipun ayahku marah dan sedih aku memutuskan untuk pergi ke Mesir agar bisa hidup di sana bersama umat Islam. Di sanalah aku mempelajari Al-Qur’an lebih dalam. Di Kairo aku juga bertemu dengan pemuda muslim yang memiliki komitmen kuat dengan agamanya, ia menawarkan dirinya untuk menikahiku, akupun menerima dan menyetujuinya, dan perkawinanku dengannya telah berlangsung dua tahun. Allah telah menganugrahkan kepadaku seorang anak yang kuberikan nama islami, Toha. Aku berdoa kepada Allah Azza wa jalla agar ia tumbuh menjadi anak yang baik, dan menjadi penyedap pandanganku dan suamiku.

Laila berkeinginan untuk meneruskan studi Islamnya, menghapal Al-Qur’an dan hadits nabi agar memperoleh maslahat dari pengetahuan dan wawasannya yang sahih.

Disadur dari kitab At-Taa’ibuuna ilallah, Syaikh Ibrahim bin Abdillah Al-Hazimy.

---oo0oo---

6.    TAUBATNYA SEORANG LAKI-LAKI DI BANGKOK

Bangkok, negeri yang bobrok dan rusak, negeri yang penuh dengan dosa dan nista, negeri yang kotor dan amburadul. Ratusan pemuda bahkan orang tua pergi ke Bangkok memburu kesenangan yang diharamkan. Lalu mereka kembali dengan keadaan merugi. Rugi agama dan dunia, rugi tidak merasakan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya, bahkan sebagian mereka kembali dengan kerugian dunia akhirat. Kembali terbujur kaku menjadi mayat, meninggalkan dunia ini dengan akhir yang jelek (suu’ul khatimah).

Berikut ini kisah seorang laki-laki yang mulai senja usia dengan uban di rambutnya. Pergi ke sana (Bangkok) meninggalkan isteri dan anak-anaknya. Akan tetapi di penghujung usianya ia mulai sadar. Mari, kita simak kisahnya:

“Aku tidak malu dengan uban yang memenuhi kepalaku. Aku tidak sayang kepada masa depan anakku yang tengah menunggu pemuda yang datang mengetuk pintu untuk melamarnya. Aku tidak perduli dengan senyum-tawa anak perempuankau yang kecil, yang selalu memenuhi isi rumah dengan keceriaan dan kebahagiaan. Akupun tak perduli dengan anakku yang telah menginjak usia 15 tahun. Ia adalah cermin masa kecilku, obsesi masa mudaku, dan mimpi masa depanku. Lebih dari itu semua aku tak menghiraukan tatapan mata isteriku yang bercampur antara sedih dan senang ia selalu bertanya kepadaku tentang kepergianku. Pada saat itu hanya satu yang terlintas dalam pikiranku. Aku harus segera menyiapkan tasku, memenuhi mimpi dan anganku. Alangkah keringnya jiwaku yang hanya dipengaruhi oleh kesenangan semata. Alangkah nistanya menelususri perjalanan yang tak jelas tujuannya, yang hanya memenuhi panggilan syetan, itulah aku.

Aku masih saja belum cukup dengan perlakuan isteriku. Ia wanita yang baik yang telah menjual kehidupannya untuk membeli kefakiranku. Ia telah kenyang menelan segala tipudayaku. Ia lewati hari-harinya dengan berusaha menutupi kebutuhan hidup keluarga, karena pendapatanku tidak bisa diandalkan. Ia bersabar dalam kemiskinan. Banyak mengeleuhkanku sampai bersimpuh di atas kakiku. Tetapi aku terus mendaki duniaku di atas titian pengorbanannya. Aku lupa ia adalah seorang wanita yang cantik dan mungil. Banyak pria kaya raya yang menginginkannya, tetapi ia justru memilihku. Pada saat aku mesti istirahat di rumah bersama isteriku justru aku meninggalkannya demi memenuhi ambisiku.

Aku mulai hari pertamaku di Bangkok. Wajah isteriku selalu terlintas dalam anganku. Setiapkali aku akan “jatuh”, tapi hal itu tidak cukup kuat utnuk menanahn diriku. Syetan telah membutakan pandanganku. Aku terus menerus “jatuh” dan tenggelam dalm kesia-siaan. Setiap hari aku keluar untuk membeli “kehancuran”. Aku jual agama, kesehatan, masa depan anak-anak dan kesejahteraan keluarga. Aku mengira bahwasanya aku beruntung, padahal aku merugi dan sia-sia, baik umur maupun jiwa, aku hidup dengan perilaku hewani, aku memasuki saat-saat kehancuran di Bangkok seakan-akan aku tengah menenggak racun dari gelas kematian. Setiap kali kakiku tergelincir dalam kubangan kerusakan. Aku tidak menghiraukan nasihat dan akalku jauh dari hikmah. Tidak terasa seminggu telah kulewati hari-hariku di Bangkok. Aku tenggelam dalam dunia gemerlap penuh dosa, aku telah hilang nilai kemanusiaanku dan tidak lagi memiliki naluri kebapakan.

Terbayang wajah anakku yang telah memasuki usia pernikahan. Seolah-olah ia mengumpatku seraya berkata, “Apa yang membuatmu melakuakan semua ini terhadap diri kami dan dirimu sendiri?”

Bayangan inilah yang membuatku segara mengemas pakaianku dan kembali ke negeriku dengan perasaan hati yang teriris-iris. Aku mulai menengadahkan kepala untuk dapat melihat wajah isteriku. Aku mohon kepada Allah agar mau menerimaku dan melupakan apa yang telah aku perbuat terhadap hak-haknya dan hak anak-anaknya.

---oo0oo---

7.    TAUBATNYA SYAIKH SAID BIN MUSPIR

Dalam kesempatan dialog terbuka dengan Syaikh Said hafidzahullah, sebagian audien memintanya untuk bercerita perihal asal mulanya mendapat hidayah. Iapun mulai menuturkan kisahnya seraya berkata,

لِكُلِّ هِدَايَةٍ بِدَايَةٌ

"Setiap hidayah pasti ada asal mulanya.”

Secara fitrah aku beriman kepada Allah. Ketika masih kecil, aku selalu menekuni ibadah. Tetapi setelah aku dewasa aku mulai kendur dan menyepelekannya, khususnya shalat. Aku hanya ingat shalat ketika ta’ziyah atau setelah mengantarkan jenazah ke kuburnya, atau setelah mendengarkan ceramah dan ta’lim di masjid. Setelah itu imanku bertambah, sehingga aku mulai shalat dibarengi dengan amalan-amalan sunnahnya, tetapi setelah sepekan dua pekan aku mulai tinggalkan yang sunnahnya. Lalu sepekan dua pekan berikutnya meninggalkan yang wajibnya, sampai menunggu lagi momen berikutnya. Setelah aku sampai usia dewasa dan akil baligh akau semakin jauh dari shalat. Tetapi setelah aku menikah aku terkadang shalat, terkadang meninggalkannya. Meskipun demikian aku tetap beriman kepada Allah.

Pada satu kesempatan ketika aku bersama Al-Akh fillah Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Fayi’ –semoga Allah memberkahinya-, ketika aku mamakai pakaian olahraga, aku bertemu dengannya di depan pintu maktab ta’lim, setelah aku mengucapkan salam kepadanya akupun segera pamit dengannya, “Mau ke mana?” tanyanya kepadaku. Waktu itu bulan Ramadhan. Aku katakan kepadnya bahwa aku hendak pulang, seperti biasanya aku pulang untuk tidur hingga Magrib. Aku sering bolong shalat Ashar, kecuali jika aku terbangun sebelum magrib, padahal saat itu aku sedang puasa. “Sebentar lagi datang waktu Asar, bagaimana kalu kita jalan-jalan sejenak?” Aku menyetujuinya dan kamipun berjalan ke arah bendungan danau Abha. Di sana tempatnya sejuk penuh dengan rindang pepohonan dan semilir angin. Kami duduk-duduk di sana hingga tiba waktu Asar, lalu kami berwudhu dan shalat Asar.

Dalam perjalanan pulang tanganku digandenganya. Lalu ia menyampaikan kepadaku sebuah hadits yang cukup masyhur dan aku pernah mendengarnya. Tetapi ketika itu aku seperti belum mendengarnya. Ketika aku mendengar hadits tersebut hatiku mulai terbuka seakan-akan aku baru mendengarnya pertama kali. Hadits tersebut dibawakan oleh Al-Barra bin Azib ra. diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya dan Abu Daud dalam Sunan-nya, Al-Barra’ berkata,

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الأنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدُ فَجَلَسَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ وَكَأَنَّ عَلَى رُؤُوْسِنَا الطّّيْرُ وَفِي يَدِهِ عُوْدٌ يَنْكَتُ فِي الأَرْضِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: اسْتعِيْذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ - قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا - ثُمَّ قَالَ: " عَنِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعِ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلاَئِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيْضُ الْوُجُوْهِ…" الْحَدِيْثُ

Kami keluar bersama Nabi saw. mengantarkan jenazah seorang laki-laki Anshar hingga kami tiba di komplek pemakaman. Tatkala jenazah dimasukkan ke liang lahat, Rasulullah duduk dan kami pun duduk disekitarnya, seakan di atas kepala hinggap seekor burung. Sambil menancapkan ranting kayu ke dalam tanah, beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur.” – beliau mengulanginya dua sampai tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Seorang hamba mukmin apabila akan meninggal dunia menuju alam akhirat, seorang malaikat berwajah putih bersih dari atas langit menemuinya.” (HR. Imam Ahmad).

Aku berkata kepadanya,  “Ya Akhi, dari mana kau dapatkan hadits ini?” “Hadits ini terdapat dalam kitab Riyadussalihin”, jawabnya singkat. “Lalu kitab apa lagi yang anda baca?” tanyaku lagi. “Aku sedang membaca kitan Al-Kabair, Imam Adzdzahaby,” jawabnya. Setelah berpisah dengannya aku segera bergegas ke toko buku terdekat untuk membeli kedua kitab tersebut. Itulah kitab yang pertama kali aku miliki. Di tengah perjalanan menuju rumah batinku berkata, “Kini aku berada di simpang jalan, di depanku terbentang dua jalan; jalan pertama jalan iman yang menagarah ke surga, jalan yang kedua jalan kufur, nifaq dan maksiat yang mengantarkan ke neraka. Kini aku berada di persimpangannya, jalan manakah yang hendak kupilih?”

Akalku menyuruhku untuk mengikuti jalan yang pertama, sedangkan nafsu jahatku,

اَلنَّفْسُ الأمَّارَةُ بِالسُّوْءِ

“Nafsu yang memerintahkan kepada kejahatan.”

Menyuruhku untuk mengikuti jalan yang kedua sambil berbisik kepadaku, “Engkau masih muda, pintu taubat masih terbuka lebar sampai hari Kiamat. Masih banyak waktu untuk bertaubat di kemudian hari.” Pikiran dan was-was seperti ini selalu terngiang dalam benakku, sementara aku terus melangkah menuju rumah.

Sesampainya di rumah aku berbuka puasa, shalat Magrib, shalat Isya dan shalat Tarawih. Seingatku, itulah shalat Tarwaih terlengkap rakaatnya yang pernah aku lakukan. Sebelumnya aku tarawih hanya dua rakaat saja, atau bila aku melihat ayahku shalat Tarawih juga hanya empat rakaat, setelah itu aku pergi. Selesai tarawih aku pergi ke rumah Syaikh Sulaiman, aku jumpai beliau baru keluar dari masjid. Sesampainya di rumahnya ia membacakan untukku kitab Al-Kabair, awal pembahsan kitab tersebut menjelaskan tentang empat dosa besar; pertama syirik kepada Allah, kedua sihir, ketiga meninggalkan shalat. Dan tidak terasa kajianku bersama Syaikh Sulaiman sampai menjelang sahur.

“Bagaimana sikap kita terhadap materi ini?” tanyaku.

“Semua ini telah termaktub dalam kitab para ulama, kita saja yang lalai,” jawabnya.

“Tetapi orang-orang juga banyak yang lalai dari padanya, karena itu kita harus sampaikan kepada mereka materi ini,” komentarku.

“Kalau begitu siapa yang menyampaikan materi ini?” tanyanya padaku.

“Ya antum dong!” sergahku.

“Tidak, antum saja!” desaknya padaku.

Akhirnya akupun menyanggupinya.

Pada hari Jum’at pekan itu juga, selesai shalat jum’at aku sampaikan materi dosa besar meninggalkan shalat di sebuah masjid jami’. Al-hamdu lillah, itulah awal istiqomahku, aku mohon kepada Allah agar aku dan antum sekalian diberikan tsabat dalam agama-Nya. Sesungguhnya Allah maha Mendengar lagi maha Mengabulkan do’a.

---oo0oo---

8.    AWAL CAHAYA MENYINARI KEHIDUPANKU

Assalaamu‘alaikum wahai umat terbaik, aku seorang mahasiswa pada fakultas hukum semester III. Tinggal di wilayah perkampungan, hobiku olahraga, postur tubuhku cukup tingi, karena itu aku bercita-cita ingin menjadi pemain basket. Aku berobsesi ingin menjadi bintang lapangan, akan tetapi kenyataannya ketika aku pergi ke sebuah hall yang besar aku menjadi minder karena aku berasal dari perkampungan, mereka bukan levelku. Sejak itu aku selalu berkeinginan ingin menaikkan levelku agar sama dengan mereka. Aku mulai mencoba memasuki dunia gemerlap (dugem), berkenalan dengan pemuda sebaya dan para gadisnya, kami saling berlomba dalam hal otomotif, dan merokok.

Aku tertegun sejenak ketika salah seorang temanku menwarkan rokok yang bukan rokok biasa (ganja), aku mulai memasuki kehidupan lain, studi bukanlah hal penting. Tetapi yang penting adalah penampilan dan menghabiskan waktu di jalan-jalan hingga larut malam, aku sedih tidak memiliki cukup uang agar bisa seperti yang lain. Aku terus tenggelam dalam pesta minuman keras, tubuhku yang dulu kekar berisi, kini ringkih dan sakit-sakitan. Dalam hatiku jauh sudah harapan bisa menjadi orang yang baik-baik.

Tetapi pada suatu hari ketika aku berada di rumah sekitar jam tiga pagi. Aku termenung menatap dinding rumahku, lalu hatiku berkata mengapa aku menjadi sombong. Aku abaikan keluargaku yang bersahaja yang telah mendidik dan merawatku, “Ya Tuhan kenapa Engkau ciptakan aku?” Tiba-tiba terdengar suara radio sayup-sayup aku dengar dari kejauhan sepenggal ayat al-Qur’an yang menggoncangkan batinku,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Setelah itu spontan aku sujud dan menangis sampai tidak terasa hingga lewat fajar, lalu aku bangun mandi dan berwudhu. Sejak saat itu aku merasakan keajaiban, merasakan begitu dahaga kepada Allah swt. yang telah kutinggalkan sejak lama dan  merasa ada secercah cahaya yang menyinari Kehidupanku.

Aku mulai ber-mu’ahadah (berjanji)  kepada diriku, bahwasanya bila aku berbuat dosa, maka aku akan menggantikannya segera dengan ketaatan kepada Allah, seperti bila aku merokok lagi, aku akan mengiqob diriku dengan puasa sehari. Aku merasa seperti sedang membangun kembali kepribadianku, menguatkan azamku. Sekitar dua tahun sudah berlalu aku berusaha memperbaiki diriku. Tidak ingin lagi jauh dari masjid dan aku memohon kepada Allah semoga diberikan tsabat di atas jalan yang lurus ini.

Saudaraku tercinta di jalan Allah, inilah kisah seorang pemuda Mesir. Hadaanallahu wa iyyaakum. Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.

---oo0oo---

9.    TERBEBAS DARI ONAK DAN DURI

 بسم الله الرحمن الرحيم

Untuk Allah segala puji yang banyak, baik, suci, dan berkah. Sebagaimana yang layaknya bagi Kemuliaan Wajah-Nya dan keagungan Kuasa-Nya. Shalawat dan salam untuk Nabi Al-Musthafa yang dipilih Tuhannya untuk menyampaikan risalah yang dengan itu beliau menjadi tinggi martabatnya.

Ikhwani fillah, sebelum aku mulai menuturkan kisah ini, penghormatan dari hati yang tulus dengan seluruh perasaan yang penuh dengan cinta yang suci-murni kepada setiap muslim yang telah mengenali jalan Tuhannya, dan yang berjuang demi mencapai ridhan-Nya, bergembiralah sebagaiamana Allah telah menyampaikan berita gembira :

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad di jalan kami, kami tunjukan jalan-jalan kami”

Ikhwani fillah, di dunia ini terdapat surga, barang siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti, ketahuilah! Surga yang dimaksud adalah surga ketaatan. Kumulai jalan hidupku sebagai seorang pemuda yang enerjik penuh dengan dinamika, bagaikan penguasa dunia yang bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah. Hal itu karena aku berasal dari keluarga yang cukup mapan. Pada awal studiku di perguruan tinggi jiwa mudaku mendorongku untuk berkenalan dengan salah seorang teman mahasisiwi, sungguh ia adalah yang tercantik di antara yang lainnya, waktu itu aku belum tahu antara kecantikan fisik dan agama pada seorang wanita.

Hubungan di antara kami terjalin begitu cepat, kami kerap bertemu di sekitar kampus, kaset-kaset lagu-lagu melankolis membuat jiwa kami semakin bergelora. Kami mulai saling meminjamkan kaset. Kami merasa memiliki hobi yang sama, bersamaan dengan waktu berlalu hubungan kami semakin erat.

Di akhir tahun perkuliahan, saat liburan tiba. Aku merasakan hari-hari libur menjemukan. Karena ia pergi berlibur bersama keluarganya. Aku ingin liburan segera selesai, sehingga bisa kambali ke kampus dan berjumpa lagi dengannya. Ayahku telah membaca gelagatku yang telah menjalin hubungan dengannya. Ayahku sangat merestui hubunganku dengannya. Dan dalam waktu dekat keluargu sepakat untuk segera melamarnya. Setelah proses lamaran selesai aku merasakan kebahagian yang luar biasa dalam hatiku, seakan-akan aku telah menggenggam dunia dengan tangan kananku. Jiwaku mulai tenang karena telah mendapatkan wanita pujaanku.

Setelah kepuasan jiwaku terpenuhi aku mulai menyempurnakan kebahagiaanku dengan memperdalam ilmu agama, aku mulai rutin shalat jamaah di Masjid dan aku mulai berinteraksi dengan teman-teman yang baru. Bersamaan dengan kebiasaanku yang sering ke masjid aku semakin mencintai teman-teman baruku dibanding dengan teman-teman lamaku sebelumnya. Aku mulai memahami sesuatu yang dahulu belum pernah kupahami, tetapi aku lupa sesuatu yang tak kalah pentingnya, bagaimana aku dapat mengajak wanita pinanganku agar dapat seiring sejalan dengan kecenderungan baruku. Aku mulai menerjuni pergulatan dakwah, aku mulai menempuh awal perjalanan bagaiamana di satu sisi aku tidak ingin merugikan agamaku dan di sisi lain aku tidak mau kehilangan gadis pinanganku. Aku ingin keluar dari pergulatan ini dengan dua kemenangan sebagaimana tertuang dalam kisah-kisah romantis.

Sebenarnya aku telah berupaya maksimal, aku mencoba memberikannya kaset rekaman dan aku mendengarkannya terlebih dahulu sebelum aku berikan kepadanya. Aku juga memberikan buku-buku dan membacanya terlebih dahulu sebelum aku berikan kepadanya, hikmahnya aku menjadi bertambah bacaanku dan pengetahuanku. Tetapi sayang ia tak bergeming dengan ajakanku dan menolak segala upayaku, padahal aku telah melakukan yang paling utama. Setiap upaya yang aku lakukan aku merasa bahwasanya aku semakin dekat kepada Allah, sementara pinanganku semakin jauh dariku. Subhaanallah, ternyata hal itu menjadi penyebab semakin mantapnya aku melangkah di jalan Allah dan aku merasa telah mendapatkan keberuntungan akhirat. Setelah sebelumnya aku merasa telah memperoleh  keberuntungan dunia. Subhanallah, hatiku semakin penuh dengan cinta-Nya.

Suatu ketika pinanganku terus terang berkata kepadaku, “Terus terang aku tidak bisa hidup dengan agama terus menerus.” Aku kaget ia berkata seperti itu, dan aku jadi bertanya-tanya, apakah yang ada dalam benaknya hanyalah kesenanagn sahwat semata. Akhirnya aku harus menentukan pilihan untuk “putus” dengannya. Tetapi sungguh, ini perpisahan yang tidak menyedihkan, justru perpisahan yang dibarengi dengan kebahagiaan dengan lembaran kehidupan yang baru, kebahagiaan bersama Allah (Ma’iyyatullah). Setelah aku menyelesaikan studi di perguruan tinggi, aku melanjutkan kembali studi ke Ma’had I’daaduddu’aat, dan Alhamdulillah aku dapat menyelesaikannya dengan baik. Sejak saat itu Alhamdulillah aku mulai aktif  menulis, ceramah dan mengikuti kajian ilmiah. Kini aku telah menjadi bagian dari kafilah para da’i, semoga Allah senantiasa menyertaiku dan saudara-saudaraku para da’i semuanya. Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

---oo0oo---

10.  DI RUMAH KAMI ADA PUTRI DARI SURGA

Bismillaahirrahmaanirrahim, di rumah kami ada seorang anak penghuni surga, demikian sahabatku menuturkan kisahnya, air mata kesedihan bergulir dari kedua belah matanya, sungguh hal itu membuat hatiku terenyuh. Sahabatku berkata, “Aku tidak menerima apa yang dikatakan oleh dokter anak.” Sungguh aku menjadi lemas ketika anakku yang cantik divonis menderita kelainan fisik dan keterbelakangan mental. Aku menolak vonis dokter tersebut dan tidak dapat membenarkannya. Bahkan kuat dugaanku bahwa vonis itu salah. Aku berazam untuk membawa anakku ke klinik pengobatan alternatif (Natural Medicine). Namun di sana pun aku mendapatkan informasi bahwa anakku memang benar-benar mengidap kelainan fisik dan mental. Mendengar hal itu, hatiku bak disambar petir dan aku mengalami stres berat dan kegelisahan yang serius. Sepanjang malam aku terus memikirkan anakku, dunia ini terasa bukan dunia yang kuketahui, hidupku terasa hambar.

Aku jadi merasa berdosa kepada anakku, ketika aku mengandungnya aku sering marah dan menangis, mungkin musibah ini balasan atas dosaku. Namun aku berusaha memupus rasa sedihku. Aku terus berusaha melatih putriku dengan sebagian keterampilan yang bermanfaat bagi hidupnya. Tetapi sayangnya keterbelakangan fisik dan mental anakku tergolong yang paling parah, sehingga sulit untuk dilatih dan diajarkan, aku mulai putus asa dan hanya bisa pasrah, bahkan aku cenderung menerlantarkan diri sendiri, rumahku dan anak-anakku. Aku meninggalkan perasaan yang negatif pada diriku, sehingga aku seperti mengidap sikap yang aneh, malas, jenuh, putus asa, depresi, suka menyendiri, dan dihantui was-was dan perasaaan yang aneh dan tertekan, apa yang membuatku seperti ini?

Kemudian perasaanku juga mengatakan bahwa ada yang hasad (berbuat teluh) kepadaku atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadaku. Karena itu aku harus mencari “orang pintar” yang dapat mendeteksi musibah yang menimpaku, bagaimana caranya agar aku bisa selamat dari musibah ini. Tetapi aku berpikir mengapa aku tidak pergi menemui seorang da’iyah Fulanah sepanjang ingatanku ia orang yang sangat baik. Aku pergi menjumpainya dan menceritakan kepadanya musibah yang kualami karena ada orang yang hasad kepadaku, lalu ia berkata kepadaku.

“Anti yaa...Ukhti!, tidak ada yang hasad kepada anda sebagaimana yang anda kira. Sesungguhnya yang menimpa anda disebabkan oleh lemah iman.”

“Tidak, aku tidak lemah iman. Aku muslimah dan masih menunaikan shalat,“ sanggahku. “Tapi apa yang anda keluhkan itu menunjukkan jauhnya diri dari Allah dan lemahnya keimanan. Jika anda ingin keluar dari problem ini anda sebaiknya kembali kepada Allah dan taubat yang sungguh-sungguh kepada-Nya. Lalu penuhilah hati anda dengan cinta kepada Allah dan menyerah secara totalitas kepada-Nya. Apakah anda tahu bahwasanya menyerah secara total itu adalah sikap konsisten kepada Allah dan ibadah kepada-Nya sebaik mungkin. Shalatlah dengan khusyu’ dan qiamullail, berpuasalah karena Allah, carilah ilmu yang bermanfaat, ridhailah terhadap apa yang telah ditakdirkan terhadap anda dan bersabarlah,” demikian ia menasihatiku.

Anda benar wahai da’iyah yang tulus ikhlas, aku memang harus bersabar dan ridha terhadap qada dan qadar, sejak saat itu aku mulai melangkah menuju Allah, bertaubat dan beribadah kepada-Nya. Mushaf Al-Qur’an menjadi penghibur musibahku, zikir menjadi temanku di kala aku menyendiri, mengadu kepada Allah menjadi kebanggan dan kelezatanku. Dan hari-hariku yang sebelumnya gelap gulita, kini terang benderang dengan cahaya iman dalam jiwa. Alangkah lezatnya aku merasakan semua ini, sungguh sebelumnya aku tidak pernah mengetahui cita rasa kehidupan yang bahagia seperti yang aku rasakan sekarang ini. Ya, aku telah melihat kehidupan ini dengan pandangan iman, aku alihkan perasaan marah dan kesal dengan ridha kepada qada dan qadar-Nya, aku yakin bahwa musibah ini bukan untuk menyalahkan diriku, aku percaya dengan sabda Rasulullah saw.,

حُلْوَةُ الدُّنْيَا مُرَّةُ الآخِرَةِ , وَمُرَّةُ الدُّنْيَا حُلْوَةُ الآخِرَةِ

“Manisnya dunia pahitnya akhirat, dan pahitnya dunia manisnya akhirat”

Jiwaku mulai tentram, hatiku mulai tenang, aku berenang dalam lautan iman dan ilmu syar’i. Aku yakin sepenuhnya dengan rahmat Allah swt., bahwasanya musibah tidak selalu berarti balasan terhadap dosa saja, tapi terkadang untuk meninggikan derajat. Bahwasanya semua itu adalah nikmat dari Allah untukku. Musibah ini memberikan inspirasi kepadaku untuk membuka lembaga pendidikan khusus bagi anak-anak pengidap keterbelakangan fisik dan mental, alhamdulillah sekolah yang kudirikan banyak memberikan manfaat bagi umat Islam. Semoga Allah menerima amal kebaikanku, semua ini telah membuatku bahagia meskipun anakku belum dapat mengambil manfaat dari sekolah yang kudirikan, karena keterbelakangan termasuk kategori yang sangat parah, tetapi setiap kali aku melihat putriku aku selalu berucap,

اَلْحَمْدُ للهِ فِي بَيْتِنَا طِفْلَةٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Alhamdulillah di rumah kami ada putri dari surga”

---oo0oo---

11.                   WANITA PHILIPINA MASUK ISLAM KARENA SUJUD

Ikhwan dan akhawat fillah, ini bukan kisah pribadiku, tetapi kisah yang dituturkan oleh salah seorang akhawat Philipina, yang mendorongku untuk menyadurnya. Semoga kita dapat mengambil ibroh dan manfaat darinya. Wanita tersebut adalah salah seorang mahasiswi theologi, berasal dari keluarga yang teguh agamanya, yang sangat berkeinginan menanamkan ajaran Masehi kepada anak satu-satunya. Karena itu ia dipaksa masuk ke fakultas theologi. Dengan harapan kelak ia akan menjadi misionaris dan penginjil. Setelah lulus ia melanjutkan studinya ke sekolah perawat. Setelah itu ia mengajukan lamaran ke kantor penyalur tenang kerja. Akhirnya ia diterima bekerja di Australia, hal ini sangat menyenangkan kedua orang tuanya, karena gaji perawat cukup besar di sana.

Sehari sebelum keberangkatannya ke Australia, ia meraskan berat hati karena ia harus berpisah dengan orang tuanya, sedangkan ia anak satu-satunya. Tetapi tiba-tiba salah seorang temannya memberitahu bahwa ia juga diterima di Saudi Arabia. Entah mengapa, tanpa pikir panjang lagi ia memberitahu temannya bahwa ia memilih bekerja di Saudi Arabia. Orang tuanya marah besar kepadanya seraya berkata,

“Kamu tinggalkan Australia yang terbuka, tapi kamu lebih memilih Saudi arabia yang tertutup?” Ia tetap tidak memperdulikan orang tuanya. Ia sendiri tidak tahu kekuatan apa yang ia rasakan saat itu, sehingga ia berani mengutarakan kepada orangtuanya perihal kekukuhannya untuk bekerja di Saudi Arabia.

Dengan hanya berbekal satu kopor ia akhirnya terbang ke Saudi untuk bekerja di Rumah Sakit Raja Fahd. Pada hari-hari kerja pertamanya, ia melihat dari celah jendela kamar perawat, para pegawai muslimnya sedang menunaikan shalat Dzuhur. Ia kaget melihat umat Islam bersujud, untuk siapa mereka bersujud? Dan siapa yang berhak disujudkan? Ternyata hal itulah yang mendorongnya ingin tahu banyak tentang Islam. Dan sekarang ia telah memeluk Islam dan menjadi salah seorang juru dakwahnya bersama suaminya. Ia berhasil mengislamkan beberapa wanita Philipina lainnya. Inilah kisah seorang akhawat kita dari Philipina, semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya.

---oo0oo---

12.  AKU BUKANLAH AKU

Bismillaahirrahmaanirrahim

Aku memulai ucapanku dengan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw. Adapun kisahku secara pribadi mungkin tidak terlalu menarik untuk dilirik, karena aku hanya seorang muslimah yang biasa-biasa saja, mengerjakan ibadah yang wajib dan sedikit yang sunnah. Adapun kisah yang ingin aku sampaikan di sini adalah kisah ibuku yang menolak keras bila kisah ini dipublikasikan, karena ia tidak ingin membanggakan dirinya dengan sesuatu yang dianugrahkan Allah kepadanya.

Kisah ini bermula dari wafatnya nenekku, ibu dari ayahku. Ia sesungguhnya wanita yang baik kepada keluarga, banyak yang menyaksikan hal ini, dan Allah menjadi saksi atas apa yang aku ucapkan. Ketika nenekku berbaring sakit pada detik-detik terakhir kehidupannya, ia menolak siapapun yang duduk di sampingnya -termasuk anak-anaknya-, kecuali ibuku. Padahal ibuku penganut Nasrani. Dia duduk di dekat nenekku seraya memegang tangannya, ibuku tidak diterima oleh keluarga bapakku karena ia non muslim.

Yang mengherankan, ayahku tergolong orang yang sangat kuat komitmennya dengan Islam. Akan tetapi ia tidak memaksakan kepada isterinya untuk meninggalkan agamanya dan agama kedua orang tuanya. Sebelum ia berusaha meyakinkannya dengan dinul Islam. Tentu saja ayahku sangat kaget dengan sikap nenekku terhadap ibuku, lalu ayah berusaha untuk bertanya kepada seorang tokoh agama tentang sikap ibunya tersebut. Setelah diceritakan segalanya, tokoh agama tersebut menjelaskan bahwa sikap tersebut menunjukan kebiasaan orang-orang saleh sebelum wafatnya, yang ingin menyerahkan wasiat kebajikan kepada seseorang yang pantas menerimanya dengan memegang tangannya dan menjabatnya dengan erat, namun bagaimana jika wewenang tersebut diberikan kepada wanita non muslim seperti ibuku.

Ternyata wasiat kebaikan itu perlahan-lahan tampak dari raut wajah ibuku dan perilakunya. Pada hari ketiga kematian nenekku, ibu berbicara kepada ayah seraya meminta kepadanya untuk pergi ke pengadilan agar status agamanya dirubah secara resmi dan memiliki legalitas hukum. Ya, ibuku telah menyatakan keislamannya. Terus terang semula ayahku tidak mempercayainya, lalu aku berbicara empat mata dengan ibuku dan menanyakan kepadanya mungkin ada yang memaksanya, karena aku tidak ingin ibuku menjadi lemah keislamannya karena dipaksa. Aku ingin keislaman yang kuat dan sempurna, tetapi ternyata aku dapati ibuku memiliki potensi keimanan yang cukup besar, karena ketika kecil ibuku selalu melatihku hapalan Al-Qur’an juz 30. Ibuku ingin sekali dapat membacanya kembali menikmatinya dan menghapalnya, ia mulai merasakan manisnya Al-Qur’an. Hatinya telah dilembutkan oleh Al-Qur’an, ia telah berhsil menghapal surat Al-Baqarah, bahkan sampai ke surat Yusuf, dan hapalannya terus bertambah, semakin tambah hapalannya, semakin bertambah keimanannya.

Akan tetapi di suatu pagi, setelah bangun dari tidurnya, ibuku mencari-cari ayahku ingin membicarakan sesuatu kepadanya, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting. Seusai ibuku berbicara kepada ayahku dan setelah kulihat keadaan ibuku mulai tenang. Aku bertanya kepada ibuku ada masalah apa sebenarnya? Akhirnya ibuku bercerita bahwa ia mimpi dirinya meninggal dunia, lalu ia berwasiat kepada ayahku bila kelak ia meninggal dunia, ia minta dimakamkan di tempat ibu mertuanya (nenekku). Dan ayahku menyetujuinya. Di kemudian hari –ia melanjutkan ceritanya- pada saat ia meninggal dunia, orang-orang mulai menggali makam nenekku untuk menempatkan jenazahnya di atasnya. Ketika makam nenenku mulai digali dan jasad neneku mulai ditemukan tiba-tiba ada secercah cahaya besar terpantul nyaris membutakan mata, semua yang hadir saat itu berucap “Maa syaa Allah, maa syaa Allah,” ia (nenekku) benar-benar wanita shalihah.

Kemudian setelah itu jasadnya (Ibuku) diletakkan di atas jasad nenekku, tiba-tiba muncul kembali kilatan cahaya yang besar yang tidak didapati oleh manusia biasa, orang-orang yang hadirpun berucap lagi dengan nada yang tinggi, “Ma syaa Allah, ma syaa Allah”, wanita salihah di atas wanita salihah, ketika ibuku selesai menceritakan semua mimpinya. Tiba-tiba kami sama-sama menangis. Aku berkata dalam hatiku bahwasanya jika Allah ingin memberikan kepada seseorang derajat tertentu, maka Allah akan memberikan isyaratnya ketika masih hidup di dunia. Dan tanda-tanda yang berbeda dengan yang lainnya, tetapi kisah ini belum berakhir, sebab perlu diketahui keislaman ibuku belum sempurna, meskipun telah hapal Al-Qur’an dan berpuasa.

Pada bulan Ramadhan aku shalat Subuh sendirian, ayahku shalat di masjid sedangkan ibuku tengah kuhsyu menghapal Al-Qur’an. Sebelum shalat Subuh aku shalat sunnah terlebih dahulu, selesai shalat tiba-tiba ibuku memintaku mengajarkannya shalat. Betapa senangnya aku, tapi aku tak ingin menunjukan kegembiraanku karena hal itu memang sudah kewajiban. Tetapi yang aneh di hari berikutnya ketika aku mengajaknya shalat Subuh ibuku sepertinya enggan, mungkin karena belum merasakan nikmatnya shalat. Secara logika tidak mungkin Allah menghalanginya dari kenikmatan shalat bila ia menyenanginya. Ibuku tidak pernah membaca Al-Qur’an di siang hari, sejak masuk Islam ia lebih memilih membaca Al-Qur’an di malam hari karena lebih khusyu’ dan tenang. Pada suatu malam ia membaca Al-Qur’an sampai pada salah satu ayat dalam surat yunus yang berbunyi,

وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (Yunus: 61).

Setelah membaca ayat tersebut ia keluar dari kamarnya sambil menangis, tidak ada seorangpun di dekatnya waktu itu, kecuali penjagaan (ri’ayah) dari Allah swt. Kemudian ia teringat bahwa beberapa malam lalu ia bermimpi berada di satu tempat yang tidak diketahui apakah di bumi atau di langit, tempatnya terasa hampa dan sunyi. Lalu ia mendengar suara yang indah dan lirih berkata kepadanya, “Hai, Fulanah engkau menghapal Al-Qur’an tapi engkau hanya mendapatkan lelahnya saja, engkau butuh sesuatu yang dapat membuat hapalanmu membuahkan pahala, bila tidak maka apa yang engkau lakukan hanya banyak melelahkan diri saja.” Mimpinya pun berhenti sampai di situ. Ibuku terus menangis, ia tidak tahu apa yang harus diperbuat, ia mencoba bangun untuk shalat, tetapi kedua belah bibirnya terasa berat ketika membaca Al-Fatihah. Selesai shalat ia tetap terus menangis. Ia terus beristighfar dan bersumpah di hadapan Allah swt. dan berjanji tidak akan meninggalkan shalat lima waktu.

Setelah itu, alhamdulillah ibuku mulai tekun menunaikan shalat. Tidak hanya yang fardu tetapi juga shalat sunnah lainnya. Tetapi kisah ibuku belum selesai, sebab ibuku belum mengenakan hijab (jilbab) dengan baik dan belum menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Aku menyadari ibuku yang baru dua tahun memeluk Islam tentu belum bisa menunjukan keislamannya secara kaffah, dibandingkan aku yang telah memeluk Islam sejak lahir. Aku berharap di masa mendatang akan bertambah kisah tentang kebaikan-kebaikan ibuku dalam menjalankan Islam secara sungguh-sungguh dan kaffah. Aku yakin Allah Mendengar dan Maha mengabulkan harapan dan keinginan hamba-Nya. Amin yaa Mujiibasssaailiin.

---oo0oo---

13.  APAKAH AKU BOLEH TAMAK TERHADAP RAHMAT ALLAH

Assalaamu ‘Alaikum, terus terang, aku ragu-ragu untuk menyampaikan semua ini, ini pertama kali aku merasa kuat untuk menceritakan perihal diriku. Mengenang saat-saat yang mengenaskan yang membuat diriku berubah menjadi “manusia” yang lain. Aku seorang pemuda yang diuji oleh Allah swt. hidup di tengah suasana yang jauh dari agama di salah satu negeri di kawasan Teluk. Di depan mataku teman-teman di sekelililingku selalu menganggap indah kemaksiatan, demikian pula halnya pada keluargaku dan teman-teman kuliahku. Aku banyak menghabiskan waktu di depan internet. Melalui internet aku banyak memiliki kenalan baik pria maupun wanita. Di antara mereka yang kukenal ada seorang gadis yang kebetulan tinggal sekota denganku, hubunganku cukup dekat dengannnya, bahkan aku merasa kehidupanku hampa bila tidak berkomunikasi dengannya baik melalui internet atau telepon.

Suatu hari aku bersepakat dengannya untuk bertemu di pusat perbelanjaan, aku ingin menunjukinya tempat membeli CD komputer. Begitulah aku pergi bersamanya dengan mudah tanpa halangan yang berarti. Di hari lain aku pergi bersamanya ke suatu tempat, –meskipun aku merasa salah dengan kepergianku bersamanya, tapi aku hanya menganggap hubunganklu dengannya hanyalah teman biasa-, Dalam perjalanan pulang aku tidak sadar tiba-tiba di hadapanku melaju kendaraan besar dengan kecepatan tinggi hampir menabrak mobilku, tapi aku segera berusaha menghindar, namun aku lepas kendali karena remnya tidak berfungsi, mobilku menghantam trotoar dan terus melaju di atasnya sepanjang kurang lebih 50 meter. Saat itu aku merasa hidupku tidak lama lagi, dan waktu itu aku terbayang bagaiman aku harus bertemu kepada Allah (meninggal) dalam keadaan seperti ini? (berduaan dengan wanita yang bukan mahram).

Aku berusaha sekuat tenaga keluar dari mobilku, ketika aku hendak mengeluarkan kepalaku, api setinggi satu meter mulai menyala di bagian depan mobil. Menakutkan sekali, aku terbayang dengan api neraka yang siap menyergapku. Saat itu aku tidak ingat lagi apakah aku menangis, berteriak, aku tidak tahu. Yang penting aku tidak mau mati saat itu. Atau paling tidak aku tidak mau mati dalam keadaan dilumat api. Baik api dunia mupun api akhirat. Akupun sadar bahwa aku tidak sendirian di dalam mobil, teman wanitaku tidak sadarkan diri, namun berkat kasih sayang Allah jualah aku berhasil membawa temanku keluar dari bagian belakang mobil tersebut. Aku tidak tahu mengapa aku memiliki kekuatan yang besar saat itu.

Antara sadar dan tidak aku lihat banyak orang berkerumun di sekelilingku. Setelah itu aku benar-benar tidak ingat apa-apa lagi. Aku baru tersadar kembali ketika sudah berada di tempat tidur sebuah rumah sakit. Dari sinilah aku mulai penderitaanku. Aku tidak masuk kuliah beberapa pekan, 50% luka-lukaku mulai sembuh. Pada saat itulah aku dijenguk oleh teman sekuliahku, ia memberiku hadiah sebuah kaset. Aku heran ingin terus mendengakannya, kaset tersebut adalah kaset Al-Qur’an. Setiap kali aku hidupkan kaset itu, aku merasakan ayat-ayat Al-Qur’an tertuju kepadaku. Aku mulai membenci diriku sendiri, aku telah banyak menghabiskan umurku dengan mengabaikan Al-Qur’an.

Setelah pulih aku kembali ke kampus dan bertemu kepada teman yang telah memberiku kaset. Tiba-tiba dia memberitahukan kepadaku sebuah berita yang menakjubkan, katanya ia pernah bermimpi bahwa aku butuh pertolongannya. Maka dari itu ia memberikan kepadaku hadiah kaset Al-Qur’an. Aku bersyukur kepada Allah Yang telah menolongku dan memantapkan (tsabat) diriku kepada kebenaran. Sesungguhnya sejak saat itu aku berjanji akan meninggalkan teman-teman jahatku, memperhatikan aturan-aturan Allah, dan menjauhkan hal-hal yang diharamkan. Semoga kisahku ini menjadi hikmah bagi siapa saja yang membacanya agar lebih mengedepankan rasa takut kepada Allah sebelum bertindak dan berbuat. Semoga Allah memberikab tsabat dan rahmat-Nya kepada kita semua. Amin.

---oo0oo---

14. TIDAK MENGURANGI HAK ALLAH DEMI MENYENANGKAN ORANG LAIN

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Pertama kali aku ingin menekankan bahwa peristiwa yang indah ini menggambarkan kepada kita semua, bahwa betapa hidayah bukanlah sesuatu yang jauh, tapi dekat dengan kejadian kita sehari-hari. Aku ingin memulia kisah yang sederhana ini, kisah yang mungkin telah banyak terjadi. Ini bukan kisah hidayah bila dilihat dari muatan nasihat dan pelajaran yang harus diambil oleh seorang pemudi kaitannya dengan sosok suaminya mendatang.

Pada awalnya aku adalah seorang pemudi yang tertarbiyah dengan akhlak yang terpuji. Aku selalu menjaga diriku. Tidak mau berhubungan dan terikat (menjalin cinta) dengan siapapun, kecuali dalam kontek khitbah (dilamar). Meskipun telah banyak orang yang menginginkanku, karena dalam pandangan mereka parasku cukup menarik. Tapi aku menolak siapapun yang “mendekat” (pedekate) kepadaku bila hanya untuk mengikat (pacaran) bukan untuk menikah.

Setelah selesai kuliah, orang yang pernah kutolak sebelumnya datang untuk menghitbahku. Pada awalnya, ia menunjukan sikap yang simpatik, menyenangkan dan penuh kelambutan. Ia terus “pedekate” kapadaku. Sebagai seorang wanita aku pun mulai cenderung kepadanya, karena ia adalah laki-laki pertama yang mendekatiku. Akan tetapi lama kelamaan sifat aslinya mulai kelihatan. Meskipun ini adalah isyarat dari Allah untuk tentang keburukan orang tersebut. Sebagaimana saat aku sering berdiskusi dengannya, dengan nada ingkar ia berkata kepadaku,

“Sudahlah, jangan berpikir lagi tentang hijab.”  Aku mulai curiga dengannya, tetapi aku tetap menjalin hubungan dengannya. Hubungan yang diinginkannya cenderung kepada hal-hal yang melampaui batas, walaupun tidak sampai kepada dosa besar. Aku selalu berusaha menolaknya. Lama kelamaan ia mulai menjauhiku dan aku dapati dia telah menjalin hubungan dengan wanita lain. Tanpa menunda-nunda waktu lagi aku batalkan khitbahnya terhadap diriku..

Aku bersyukur kepada Allah yang telah menyelamatkan diriku dan hijabku. Benar ia telah menjauhiku tapi hal itu justru kenikmatan dari Allah untukku. Aku hanya mengambil hikmahnya, mungkin bila kuteruskan hubunganku kepadanya akan terjadi hal-hal yang tidak terpuji di kemudian hari. Kerena itu aku menghimbau kepada teman-temanku sesama wanita, agar benar-benar selektif dalam memilih pasangan hidup. Jangan sampai menjalin hubungan yang mendatangakan murka Allah. Sebab hubungan seperti itu akan manjauhkan keduanya dari keberkahan Allah, dan tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ya Allah berikanlah hidayah kepada siapa saja yang melakukan maksiat kepada-Mu, ya Rabb!

---oo0oo---

15. DAN JIKA HAMBAKU MEMINTA KEPADAKU........

Ini kisah nyata!, bukan fiksi. Jam menunjukan angka 4 pagi. Suasana hening. Tak ada yang bergerak kecuali dedaunan pohon yang ditiup oleh angin malam hari. Ujung-ujuang dahan merangkul jendela rumahku. Tiba-tiba alarm berbunyi. Khadijah langsung mematikan alarm. Bangun dan bergegas ke kamar mandi. Langkahnya begitu berat karena ia tengah mengandung 8 bulan. Perutnya semakin membesar dan kakinya membengkak. Mudah lelah, nafasnya berat dan wajahnya pucat, matanya membengkak karena banyak menangis.

Ia tetap bangun malam itu, padahal adzan subuh masih satu jam lagi. Khadijah adalah teman dekatku, usia perkawinannya sekitar tiga tahun. Pada saat diberitakan positif hamil, ia dan suaminya sangat girang membayangkan segera dapat menggendong anak pertamanya. Namun pada beberapa bulan usia kehamilannya di saat visit ke dokter spesialis kandungan, setelah mendapatkan pemeriksaan sebagaimana biasa, lalu dokter tersebut mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya mengalami kelainan organik, hanya memiliki satu ginjal! Subhaanallah, ini terjadi di negeri Barat, yang ilmu kedokterannya sangat maju. Tetapi para dokternya tidak memiliki perasaan manusiawi sedikitpun, salah satu korbannya adalah temanku Khadijah yang secara psikologis menjadi takut dan mencekam setelah mendengar vonis dokter perihal bayinya.

Khadijah keluar dari pemerikasaan dengan wajah yang layu. Seperti orang yang linglung tidak tahu bagaimana bisa sampai ke rumah, kelahiran pertama dengan bayi yang hanya memiliki satu ginjal? Apa yang harus dilakukan? Ataukah dokternya yang salah mendiagnosa? Khadijah dan suaminya tetap berikhtiar ke dokter lain, tetapi tetap saja mereka menjelaskan diagnosa yang sama, satu ginjal!!! Setiap kali visit ke dokter harapannya semakin tipis, hingga akhirnya ia pasrah menerima kenyataan. Dokter terakhir yang menjadi langganannya mengatakan bahwa hendaknya ia jangan membuat dirinya menjadi lelah dan stres, karena hal itu tidak akan merubah keadaan anaknya. Setelah itu ia sadar bahwa tidak ada yang dapat diperbuat olehnya melainkan menghadap Allah dengan do’a. Sejak saat itu ia selalu bangun di sepertiga malam untuk tahajud dan mendoakan anak yang kelak akan dilahirkannya, ia yakin dengan firman Allah,

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ اِلَّا هُوَ ۗوَاِنْ يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan dia sendiri. Dan jika dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. An-An’am: 17)

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ

“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Ghafir: 60)

Juga Rasulullah saw. bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا, حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنْي فَأُعْطِيهِ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنْي فَأَغْفِرُ لَهُ" (رواه البخاري ومسلم)

“Setiap malam Allah Ta’ala turun ke langit dunia, ketika datang sepertiga malam terakhir, lalu Allah berfirman, “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, Aku berikan, siapa yang memohon ampun kepada-Ku Aku ampuni”. (HR Bukhari Muslim).

Khadijah yakin tidak ada tempat untuk mengadu kcuali kepada-Nya, karena itu ia tidak ragu-ragu untuk selalu bangun satu jam sebelum fajar atau lebih. Meskipun kehamilannya menyebabkan lelah dan kurang tidur. Setiap malam selalu bangun di sepertiga akhirnya, sujud di tempat shalat dengan penuh khusyu, seraya memohon kepada Allah agar dikaruniai seoarang putri yang sehat dengan ginjal normal (dua ginjal). Ia terus berdo’a dengan suara yang lirih. Tangisnya membasahi alas sujudnya. Tidak luput semalampun dan tidak bosan sedikitpun dari sujud dan ruku’. Meskipun melakukannya dengan susah payah, ia tidak surut dari usahanya dan tidak mengeluh sedikitpun. Setiap kali dokter kandungan memberitahukan hasil pemeriksaan, semakin bertambah semangatnya untuk qiyamullail di sepertiga malam terakhir.

Suaminya sangat iba kepadanya setiap malam bangun untuk bermunajat, sang suami khawatir isterinya depresi ketika putrinya lahir dengan satu ginjal. Namun ia sadar bahwasanya Allah swt. terkadang mengabulkan do’a di akhir (last minutes), sebagaimana Rasulullah saw. bersabda dari Abu Said Al-Khudry,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ الله بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يُدَخَّرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يُصْرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلِهَا قَالُوْا إِذًا نُكْثِرَ قَالَ اللهُ أَكْثَرُ" رواه أحمد

“Tiada seorang muslim berdo’a dengan do’a yang tidak mengandung unsur dosa dan memutus silaturrahmi, melainkan Allah berikan kepadanya tiga kemungkinan: dipercepat pengkabulan do’anya, ditangguhkan pengkabulan do’anya sampai di akhirat nanti, atau dihindarkan dari keburukan sebanding dengan kebaikan yang diminta. Para sahabat berkata, “Kalau begitu kita minta sebanyak-banyaknya.” Nabi bresabda, ”Allah lebih banyak lagi (karunia-Nya).” (HR. Ahmad).

Ia selalu mengingatkan suaminya bahwa tidak ada jalan baginya kecuali meminta kepada Allah. Jika tidak meminta kepada Allah, kepada siapa lagi kita meminta? Sebagaimana syair mengatakan :

لاَ تَسْأَلَنَّ بَنِي آدَمَ حَاجَـــةً  #      وَسَلِ الَّذِيأَبْوَابُهُ لاَ تُحْـــجَبُ

اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ   #     وَبَنِي آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Jangan meminta sesuatu kepada anak Adam

Mintalah kepada Yang pintu-Nya tak tertutup

Allah marah jika anda tidak meminta-Nya

Sedang anak Adam marah jika diminta

Bagaimana anda tidak meminta kepada Allah swt., sementara Rasulullah telah meriwayatkan dari Tuhan melalui hadits qudsi,

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْر

“Hai hambaku, seandainya yang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalian, seluruh manusia dan jin berdiri di satu tempat, lalu mereka meminta kepadaku, maka akan aku kabulkan permintaannya masing-masing, tidak ada yang berkurang sedikitpun dari-Ku, kecuali seperti berkurangnya air laut ketika jarum dimasukkan ke dalamnya lalu diangkatnya” (HR. Muslim)

Dua pekan sebelum kelahirannya, Khadijah datang ke rumahku. Ketika masuk waktu Zuhur kami shalat berjamaah. Ketika aku bangun dari shalat, tangannya merengkuh tanganku seraya berkata bahwasanya ia merasakan sesuatu yang aneh. Lalu kami segera pergi ke rumah sakit, ternyata hal itu adalah tanda-tanda akan melahirkan. Aku berdiri di sampingnya. Ia terus banyak berdoa dan memohon semoga anaknya yang lahir selamat dan normal dengan dua ginjal. Setelah berjuang antara hidup dan mati, putrinya pun lahir, ia memberinya nama “Fatimah”. Fatimah lahir dengan berat badan yang kurang, posturnya kecil, akibat dari hanya satu ginjal yang dimilikinya. Khadijah menangis dan akupun tak kuasa menahan tangis, karena membayangkan bagaimana Fatimah dapat hidup dengan hanya satu ginjal?

Tiba-tiba dokter datang dan yang mengejutkan dokter tersebut berkata bahwa ternyata Fatimah kondisinya sehat dan yang lebih mengagetkan lagi dokter menyatakan bahwa ternyata ginjalnya dua (normal). Kami terhenyak sejenak seperti tak percaya dengan semua ini. Subhaanallah! Alangkah Penyayangnya Allah kepada makhluk-Nya. Kini Fatimah berumur 5 tahun, semoga Allah melindunginya dan menjadikannya sebagai penyedap mata bagi yang memandangnya.

---oo0oo---

Tafakur Tentang Kecukupan Udara